
~ Happy Reading ~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Ana yang di peluk Davidto pun membalas memeluk pria paruh baya itu. Pelukan ini sangat di rindukan Ana, pelukan hangat dan penuh kasih sayang dari papihnya yang tidak pernah dia rasakan.
" Putri papih apa kabar? " Ujar Davidto yang sudah melepaskan pelukannya dan mengusap pucuk kepala Ana dengan penuh kasih sayang.
" Alhamdulillah, baik pih. Papih sama mamih gimana kabarnya? " Ujar Ana dengan tersenyum.
" Alhamdulillah seperti yang kau lihat sekarang ini, kita baik-baik saja. " Ujar Davidto dengan tersenyum.
" Dan kau Son, kenapa tidak beritahu sejak tadi saja ke mamih mu kalau wanita yang kau bawa itu Ana. " Ujar Davidto yang geram dengan putranya itu yang tidak memberitahukan semuanya ke istrinya.
" Gimana Zeno mau beritahu mamih, mamih nya aja udah marah-marah duluan. " Ujar Zeno yang tidak ada kesempatan buat berbicara di tengah-tengah kemarahan sang mamih.
" Huhh, ya sudahlah. Kalian istirahat saja dulu, biar papih yang beritahukan mamih mu. " Ujar Davidto.
" Tidak usah pih, biar nanti malem saja. Sekalian ada yang mah Zeno beritahukan. " Ujar Zeno yang membuat Davidto penasaran.
" Apa? Beritahukan saja sekarang, kenapa nunggu nanti malem. "
Zeno terkekeh melihat papihnya yang sudah tidak sabaran. Davidto yang melihat putranya tersenyum dan tertawa kecil membuat dirinya ikut tersenyum bahagia. Mungkin benar pikirannya selama ini, hanya kehadiran Ana lah yang bisa membuat hidup putranya kembali berwarna.
" Nanti malem saja, ayo Ana kita ke kamar. " Ujar Zeno yang ingin menarik Ana tapi langsung buru-buru di tahan Davidto.
" No, kalian belum menikah. Ana kau tidur di kamar mu dulu dan kau Zeno tidur di kamar mu sendiri. " Ujar Davidto yang melarang putranya itu yang kini tengah menatap malas ke arahnya.
__ADS_1
" Ayo sayang biar papih antarkan, kalian bawa koper putri ku. " Ujar Davidto yang menyuruh para pelayan membawakan koper Ana ke kamarnya.
" Baik tuan. " Ujar dua orang pelayan yang ingin membawakan kedua koper Ana, lebih tepatnya sih satu koper Ana dan satu koper Caca.
" Ayo sayang. " Davidto menggandeng tangan Ana memasuki lift dan di susul para pelayan yang juga ikut masuk kedalam lift meninggalkan Zeno yang masih tercengang di aula utama.
" Tua bangka menyebalkan. " Ujar Zeno yang kesal dengan papihnya yang menganggu kesenangannya.
Padahal niat awalnya dia ingin tidur satu ranjang dengan Ana dan putri kecilnya dan memeluk Ana saat tidur.
" Uhh menyebalkan, kalian bawakan koper saya! " Ujar Zeno yang memilih menaiki anak tangga daripada lift untuk menghilangkan kekesalannya.
Gara-gara papihnya itu. Dia tidak jadi tidur sambil memeluk Ana, tapi tidak papa kan masih ada putri kecilnya, Penyemangat dan cahaya hidupnya.
Di dalam lift David terus mengajak Ana mengobrol, dari mulai kemana Ana pergi dan tinggal dimana.
" Ana selama ini ke kota S, pih. " Ujar Ana dengan tersenyum canggung, dia masih canggung dengan papihnya itu. Mungkin karena selama ini dia tidak terlalu dekat dengan David dan David juga jarang-jarang ada di rumah yang membuat kecanggungan diantara mereka.
" Kota S? Bukannya itu kampungnya Bi Ina? " Ujar David yang baru ingat disana kampung mantan pembantunya.
" Iya pih, Ana tinggal bareng Bi Ina. "
David terkejut mendengarnya. Jadi selama ini mantan pembantunya itulah yang menjaga putrinya?, Dia sangat berterimakasih kepada Bi Ina yang telah menampung putrinya dan menjaganya.
" Nanti temenin papih ya kesana, papih mau berterimakasih sama Bi Ina yang sudah mau menampung kamu dan merawat serta menjaga kamu. " Ujar David yang ingin memberikan sesuatu sebagai tanda terimakasih nya kepada mantan pembantunya itu.
" Iya pih, nanti Ana temenin. " Ujar Ana dengan tersenyum, dia sangat terharu mendengar perkataan papihnya yang ingin berterimakasih kepada Bi Ina yang telah menjaga dan merawatnya.
" Ana, bolehkah papih nanya satu hal lagi? " Ujar David yang ragu-ragu untuk menanyakan sesuatu hal yang mengingatkan dengan masalalu.
__ADS_1
" Boleh pih, tanyakan saja. " Ujar Ana dengan tersenyum.
" Waktu itu, saat kau pergi. Kau sedang mengandung bukan? Dan dimana cucu ku itu? " Ujar David yang membuat Ana terdiam.
Ana terkejut mengetahui bahwa papihnya tau tentang kehamilannya. Apa setelah ini mereka akan mengusirnya dan mengambil putrinya?. No, Ana tidak akan pernah membiarkan itu terjadi.
Tingg ...
Pintu lift pun terbuka di lantai dimana kamar Ana berada. Ini kesempatan Ana untuk menjauh dari pertanyaan Davidto. Dia belum siap mengatakannya, walaupun nanti mereka pasti mengetahuinya dan di tambah lagi putri kecilnya juga berada disini.
" Maaf pih, Ana capek mau istirahat dulu. Bisakah nanti saja kita bahasnya? " Ujar Ana dengan menunduk.
Davidto menyadari bahwa putrinya itu belum siap membahas hal ini. Dia mengangguk sambil mengusap kepala Ana dengan tersenyum.
" Ya, kita bahas kapan-kapan saja. Sekarang pergilah ke kamar mu, kau perlu istirahat setelah menempuh perjalanan yang begitu jauh. " Ujar David yang tidak ingin memaksakan kehendaknya seperti dulu.
" Terimakasih, kalau gitu Ana istirahat dulu. "
David mengangguk tersenyum dan mencium kening Ana yang dulu tidak pernah dia lakukan lagi saat Ana menginjak usia remaja.
Ana terdiam mendapatkan kecupan di keningnya. Lagi-lagi dia sangat merindukan kebiasaan David sejak saat dia kecil yang tidak pernah dia dapatkan lagi saat dia menginjak remaja.
" Maaf ya papih gak bisa antar Ana sampai kamar. " Ujar David yang menatap Ana yang tengah mematung terdiam. Mungkin Ana terkejut mendapatkan hal seperti tadi yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya.
" A-ahh, iyaa gak papa pih. Kalau gitu Ana duluan. " Ujar Ana yang langsung buru-buru keluar dari lift diikuti kedua pelayan yang membawa kedua kopernya.
" Maafin papih yang dulu sayang, papih janji sekarang papih akan membuat mu selalu bahagia di sisa-sisa umur papih, I love you my Princess papih. " Ujar David bersamaan dengan pintu lift yang kembali tertutup.
~Bersambung~
__ADS_1