My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 87


__ADS_3

~Happy Reading~


Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗


°°°


Setelah kepergian dokter, Fania menyuruh putranya mencarikan kursi roda untuk Ana. Mengingat kondisi putrinya itu yang belum begitu membaik dan di takutkan jahitan di perutnya akan terbuka jika putrinya itu berjalan.


Setelah menunggu beberapa menit, Zeno kembali ke ruang rawat Ana sambil mendorong sebuah kursi roda.


" Ayo kita pulang. " Ujar Zeno menggendong tubuh Ana apa bridal style dan mendudukkannya di kursi roda.


" Mommy Caca pengen duduk juga. " Ujar Caca yang tiba-tiba ingin duduk di kursi roda juga seperti mommynya.


" Sini mommy pangku, kak tolong. " Ujar Ana menatap Zeno meminta bantuan untuk mendudukkan Caca di pangkuannya.


" Baiklah. " Zeno langsung mengangkat tubuh Caca ke atas pangkuan Ana.


" Trimaacih daddy. " Ujar Caca yang memeluk leher mommynya.


" You are welcome dear. " Ujar Zeno mengelus pucuk kepala putrinya dengan tersenyum.


" Ayo kita pulang, mommy sudah kangen pengen rebahan. " Ujar Fania dengan meregangkan otot-ototnya.


" Kaya anak kecil aja. " Ujar Zeno membuat Fania melototi dirinya.


" Biarin, sirik aja kamu. " Ujar Fania dengan sinis.

__ADS_1


" Sudah-sudah, gak dimana-mana selalu aja berantem. " Ujar Davidto menengahi istri dan putranya.


" Putra mu duluan, sayang. " Ujar Fania dengan memeluk manja lengan sang suami.


" Cih, sadar umur. Udah tua masih aja manja. " Ujar Zeno membuat Ana mencubit perutnya.


" Aww, sakit sayang, kenapa kau suka sekali mencubit perut ku. " Ujar Zeno dengan mencibik kesal.


" Biarin, siapa suruh kaya tadi. " Ujar Ana yang sudah berani terhadap Zeno.


Ana juga sudah tau kalau pernikahan Zeno dengan Veronica batal. Tapi dia belum tau penyebab kegagalan pesta pernikahan Zeno dan Veronica. Di tambah lagi dia juga belum mengetahui bahwa dirinya bukanlah putri kandung Fania dan Davidto.


Fania dan Davidto juga belum memberitahukan Ana tentang kebenarannya. Mereka berdua ingin mencari waktu yang pas untuk membicarakan semuanya. Di tambah Caca yang selalu dekat-dekat dengan mereka dan di tambah dengan kondisi Ana yang belum cukup membaik, membuat keduanya harus mengurungkan niatnya memberitahukan semuanya.


Padahal Zeno selalu memaksa kedua orang tuanya itu cepat-cepat mengatakan kepada Ana. Biar dia lebih cepat menyatakan perasaannya dan menikahinya.


" Iyaa-iyaa, maaf. " Ujar Zeno dengan ketus.


Fania yang melihatnya tersenyum penuh kemenangan. Zeno yang melihatnya tambah kesal dan ingin sekali membalas mamihnya itu.


" Maaf, Vero tidak bisa ikut. Ada urusan mendadak di perusahaan. " Ujar Veronica yang melihat notifikasi chat dari sekretarisnya bahwa perusahaan sedang dalam masalah.


" Tidak papa, nak. Lain kali saja mainnya. " Ujar Fania dengan tersenyum.


" Yahh, aunty tidak jadi dong mainnya sama Caca? " Ujar Caca dengan sedih.


" Caca sayang, jangan begitu. Kan aunty juga punya urusan, lain kali kan bisa main lagi sama aunty. " Ujar Ana yang mencoba memberikan pengertian kepada putri kecilnya itu.

__ADS_1


" Yahh sudah. " Ujar Caca yang masih menunduk sedih.


" Maafin aunty ya sayang, besok aunty janji bakal main sama Caca. " Ujar Veronica berjongkok di depan Caca sambil memegang kedua telapak tangan Caca.


" Iyaa aunty, aunty jangan capek-capek ya. Kerjanya harus ingat waktu, kan aunty butuh istirahat juga. " Ujar Caca membuat Veronica mengangguk tersenyum.


" Siap sayang, kalau gitu aunty pergi dulu ya. Aunty titip mommy ya. " Ujar Veronica dengan mengecup kening Caca.


" Siap aunty. " Ujar Caca dengan tersenyum.


" Om, tante, Ana, Zeno, bi ina. Vero pamit dulu ya, sekali lagi maaf gak bisa main. " Ujar Veronica yang sebenarnya ingin ikut ke mansion Germani dan bermain bersama Caca dan lainnya, tapi karna ada masalah di perusahaan yang harus dirinya turun tangan, mau tidak mau dia harus kesana menyelesaikannya.


" Ya, salam buat orang tua mu. " Ujar Fania dan diangguki Veronica.


" Pamit semua, assalamu'alaikum. " Ujar Veronica yang langsung pergi setelah mencium kedua punggung tangan Davidto dan Fania.


" Waalaikumsalam. " Ujar mereka serempak.


" Baiklah ayo kita pulang. " Ujar Fania dan diangguki Ana.


" Biar Zeno aja pih. " Ujar Zeno yang melihat papihnya ingin mendorongkan kursi roda Ana.


" Baiklah, ayo mih. " Davidto menggandeng tangan istrinya dengan mesra membuat Zeno yang melihatnya berdecih tidak suka melihat tingkah kedua orang tuanya yang seperti ABG.


Bi Ina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat keluar majikannya itu yang berubah drastis tidak seperti dulu. Tapi Bi Ina senang dengan kehidupan baru majikannya ini, yang bahagia, harmonis dan penuh kasih sayang.


~Bersambung~

__ADS_1


Jangan lupa likenya, maaf kalau menurut kalian muter-mutet🙏 tapi sebisa mungkin aku bakal cepat tamatin, sekalian aku juga mau kasih sedikit alur untuk kisah Caca nantinya🤭😘


__ADS_2