
Happy Reading :)
^^^^
Keesokan harinya, Ana mengantarkan Olivia pulang terlebih dahulu dan baru dirinya pulang ke mansionnya.
Hari ini adalah hari minggu. Ketiga gadis cantik itu sebelum berpisah memutuskan nanti sore akan shopping di pusat perbelanjaan milik Zeno.
Zeno tidak hanya memiliki perusahaan saja. Pria tampan itu bahkan mempunyai beberapa usaha lainnya salah satunya pusat perbelanjaan terkenal seasia itu.
Tidak ada satupun orang yang mengetahui bahwa pusat perbelanjaan terkenal di Asia itu milik putra dari keluarga Germani dan bahkan kedua orang tuanya serta adiknya saja tidak mengetahui bahwa dirinya sesukses itu.
" Lo gak mampir dulu? " Ujar Olivia, saat mereka sudah tiba di mansion keluarganya.
" Gak dehh lain kali aja, sama beritahukan permintaan maaf ku karena gak bisa nginep semalam. " Ujar Ana.
Padahal niatnya semalam Ana menginap di rumah Olivia. Tapi kedua gadis cantik itu memilih untuk menginap di mansion Cecilia karena melihat tatapan murung dari sahabatnya itu.
" Ya baiklah, Hati-hati di jalan. " Ujar Olivia dengan tersenyum.
" Siap, sampai jumpa. " Ujar Ana yang melambaikan tangannya sebelum dia kembali melajukan mobilnya.
" Sampai jumpa. " Ujar Olivia yang melambaikan tangannya sambil melihat mobil sahabatnya yang melaju meninggalkannya.
__ADS_1
...----------...
Di mansion kediaman Germani. Davidto, Fania dan Zeno sedang sarapan bersama dengan penuh keheningan. Sampai mereka selesai sarapan pun mereka semua masih terdiam.
" Mih, sudahlah jangan ngambek begitu. Pasti Ana nanti pulang, percaya dehh sama papih. " Ujar Davidto dengan membujuk sang istri.
" Hmm. " Fania hanya berdehem saja dan sedangkan Zeno hanya diam memerhatikan papihnya itu yang terus berusaha membujuk mamihnya.
Sampai mereka semua di kejutkan dengan kehadiran seorang gadis cantik yang menjadi sumber kekesalan Fania semalam dan sampai pagi hari ini.
Siapa lagi kalau Ana. Ana sempat menengok sekilas kedua orang tuanya serta kakaknya dan setelah itu kembali melangkahkan kakinya menaiki anak tangga.
" Berhenti disitu! " Ujar Fania dengan nada datarnya.
" Darimana kamu semalam, hahh? " Ujar Fania dengan berjalan menghampiri putrinya itu.
" Bukan urusan mamih. " Ujar Ana dengan ketus dan saat ingin menaiki satu anak tangga lagi. Fania sudah menariknya.
" Mamih belum selesai ngomong! Mau jadi wanita gak bener, hahh? " Ujar Fania dengan penuh amarah.
" Apakah anda peduli dengan kehidupan saya? " Ujar Ana dengan berbalik menatap Fania.
Plakkk ...
__ADS_1
" Jangan kurang ajar kamu! mamih gak pernah mengajarkan kau menjadi anak yang tidak punya sopan santun!!! " Bentak Fania membuat Ana terdiam sambil memegangi pipinya.
Davidto dan Zeno hanya bisa terdiam melihatnya. Kedua pria berbeda usia itu sangat aneh dengan sikap istri dan mamihnya itu. Tadi semalam marah-marah karena khawatir dengan kondisi Ana, tapi sekarang dirinya malah memarahi Ana?, sungguh aneh.
" Cihh, apa anda mengajarkan saya sopan santun? " Ujar Ana dengan sinis.
" Jangankan mengajarkan saya apa itu sopan santun, anda saja tidak pernah merawat saya dari kecil dan kemana anda selama ini, hahh?! " Teriak Ana dengan air mata yang mengalir deras.
" Bahkan saya selama ini tidak pernah merasakan rasa kasih sayang seorang ibu. Sangat miris bukan? Saya hanya mendapatkan rasa kasih sayang seorang pembantu dan malah saya sempat berpikir bahwa saya anak Bi Ina bukan anda! " Ujar Ana dengan menatap Fania dengan bercucuran air mata.
Fania yang mendengarnya terdiam. Ada rasa sakit di hatinya saat mendengar penuturan sang putri.
Fania sangat sadar dengan apa yang dia lakukan selama ini. Tapi itu semua dia lakukan untuk menjadikan putrinya menjadi sosok yang kuat di masa depan dan Fania tidak ingin di masa depan anaknya itu menjadi wanita yang lemah.
" Kenapa anda diam? Saya pikir kekasaran anda selama ini bisa berubah, ternyata nggak. Sangat miris bukan? " Ujar Ana dengan tatapan sendunya.
" Apa anda pernah merasakan gimana jadi saya? Bahkan saya selama ini sangat iri dengan sahabat-sahabat saya yang memiliki seorang ibu yang sangat kepadanya, tapi tidak dengan saya. Nasib saya begitu buruk. " Ujar Ana dengan tersenyum menertawakan dirinya sendiri.
" Selamat anda sudah berhasil membuat saya membenci anda. " Ujar Ana yang setelah itu dia pun berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Fania hanya bisa terdiam menatap ke arah putrinya yang berlari sambil menangis. Ada perasaan terluka saat melihat putrinya seperti itu.
" Apa selama ini aku sudah keterlaluan? " Ujar Fania dengan menatap sendu ke arah putrinya yang berlari meninggalkannya.
__ADS_1
~Bersambung~