
~Happy Reading~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Takk ...
Takk ...
Takk ...
Bunyi langkah kaki menuruni anak tangga membuat Zeno dan Davidto yang sedang berdiri menunggu Fania dan Ana langsung menoleh menatap sumber suara.
Zeno terdiam menatap wanitanya yang begitu cantik dengan gaun putih bersih dengan mahkota yang melingkar di kepalanya. Sungguh cantik dan elegan.
" Ekhemm. " Fania yang sudah berdiri di depan mereka berdua langsung pura-pura batuk melihat putranya yang tak berkedip menatap menantunya.
Zeno tersadar dari lamunannya. Dia langsung berdehem sambil merapikan jasnya. Fani dan David menahan tawa melihat putranya yang salah tingkah. Sedangkan Ana dia menunduk malu di tatap seintens itu oleh Zeno.
" Daddy kenapa pipinya melah gitu? " Ujar Caca dengan polosnya membuat Zeno yang mendengarnya bertambah malu.
Fania dan David refleks langsung tertawa. Mereka tidak bisa lagi menahan tawa mereka melihat tingkah putranya dan putrinya yang sam-sama malu.
" Yang satu malu karna di tatap, yang satu lagi malu karna tercyduk. " Ujar Fania dengan terkekeh.
" Malu-malu kambing mereka mih. " Ujar David dengan tertawa.
__ADS_1
Zeno menatap sinis kedua orang tuanya. Mereka sangat senang melihat dia malu seperti ini.
" Malu-malu kucing grandpa, bukan kambing. " Ujar Caca membuat Zeno dan Ana yang mendengarnya tertawa.
Kini mereka yang gantian menertawai David dan David yang mendengar koreksian cucunya langsung terdiam.
" Grandpa harus banyak-banyak belajar, masa gitu aja gak tau. " Ujar Caca yang makin membuat Ana dan Zeno tertawa kencang. Kedua pasangan pengantin itu sangat bahagia melihat raut wajah David yang memelas.
" Tau tuh, papih bikin malu aja. Masa kalah sama anak kecil. " Ujar Fania yang kini berada di pihak putra dan putrinya.
" Mamih kan di pihak papih, harusnya belain papih dong. " Ujar David yang kesal melihat istrinya berubah memihak putra dan putrinya.
" Caca gak ngapa-ngapain grandpa, kenapa halus minta di bela? " Ujar Caca yang membuat Fania ikut tertawa.
" Tau ahh. " David langsung berjalan keluar, dia mendingan masuk kedalam mobil daripada di tertawai begini.
" Mommy, Caca salah ya? " Tanya Caca dengan polosnya.
" Sudah-sudah ayo kita berangkat, nanti telat. Kalian sudah bawa baju gantinya kan? " Ujar Ana ke kedua pelayannya yang di tugaskan untuk membawa perlengkapan ganti keduanya selama disana.
" Sudah nyonya. " Ujar salah satu pelayan dengan menunduk hormat.
" Caca mau ikut di mobil grandma atau mommy? " Tanya Fania ke gadis kecil itu.
" Caca ikut mommy, daddy boleh? " Tanya Caca dengan imut.
" Boleh sayang. " Ujar Ana dengan tersenyum.
__ADS_1
" Caca sama mommy, daddy saja grandma. " Ujar Caca menatap grandmanya.
" Baiklah, ayo berangkat. " Ujar Fania yang berjalan duluan.
" Daddy gendong. " Ujar Caca merentangkan tangannya meminta di gendong.
" Baiklah, princess. " Ujar Zeno yang langsung menggendong putri kecilnya dan mereka pun berangkat menuju gedung.
...-------------...
Sedangkan di kediaman Zee. Veronica terus menatap keponakannya yang masih terus terdiam dengan pandangan kosong.
Kalian ingat bukan dengan kecelakaan mobil kemarin malam?. Ya, itu mobil yang dikendarai kakak angkat Veronica yang selama ini tinggal di luar kota dan saat ingin kesini, mereka mengalami kecelakaan dan menyebabkan mobil mereka terperosot ke jurang.
Untung saja keponakannya selamat dari kecelakaan itu. Tapi kini membuat gadis kecil itu terus terdiam dengan pandangan kosong. Mungkin masih merasa terpukul kehilangan kedua orang tuanya.
Jenazah kakak angkatnya dan suaminya sudah di kuburkan. Mereka memilih untuk di kuburkan di pemakaman yang tak jauh dari kediamannya, agar mereka bisa terus merawat dan menjaganya.
" Sayang, jangan sedih terus. Nanti mimih dan pipih disana sedih lihat Tata seperti ini. " Ujar Veronica dengan duduk di tepi ranjang.
Gadis kecil itu yang diketahui bernama Tania Bagaskara masih terdiam dengan pandangan kosong.
Gadis kecil berumur empat tahun itu masih sangat terpukul dengan kepergian kedua orang tuanya yang begitu cepat. Seharusnya anak seusia masih memerlukan figur orang tua, sedangkan dia? sudah harus kehilangan figur orang tua di usianya yang masih sangat muda.
Seharusnya dia sedang tertawa bahagia menemui aunty, oma dan oppanya. Tapi malah kesedihan yang dia dapatkan, kalau dia tau akan seperti ini, dia lebih memilih tetap disana bersama kedua orang tuanya.
Karna keinginan dirinya ingin berdua aunty, oma dan oppanya, membuat kedua orang tuanya pergi jauh darinya. Dia membenci dirinya sendiri yang menjadi penyebab kematian kedua orang tuanya.
__ADS_1
~Bersambung~
Likenya jangan lupa ya😘