
~Happy Reading~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Malam harinya, Fania dan Davidto tengah berbincang-bincang di ruang tengah.
" Mamih dah tau kan harus ngomong apa sama Ana? " Ujar David yang menanyai siasat istrinya nanti membawa Ana ke restoran tanpa di curagai putri mereka.
" Sudah, Intinya papih tenang aja. " Ujar Fania dan diangguki David.
Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki seseorang menuruni anak tangga dan berjalan mendekati ruang tengah.
" Mih, pih. Kalian lihat kak Zeno? " Ujar Ana yang tidak mendapati kehadiran kakak laki-lakinya di kamar maupun di ruang kerjanya.
" Baru aja pergi, emang kenapa sayang? " Ujar Fania menatap Ana yang kini duduk di sebelahnya.
" Ohh, gak papa mih. Cuma tumben aja malam-malam keluar. " Ujar Ana yang mulai mencurigai kakaknya itu.
" Hmm, mungkin ada urusan mendadak kali. " Kini giliran Davidto yang menyaut.
" Iya pih, mungkin. Ya udah kalau gitu Ana mau ke kamar nemenin Caca belajar. "
" Sayang tunggu sebentar. " Ujar Fania menahan Ana yang ingin pergi.
" Kenapa mih? " Ujar Ana yang tidak jadi bangun dan kini menatap sang mamih.
" Begini sayang, mamih kan ada arisan sama temen-temen sosialita mamih. Mereka mau bawa anak-anak mereka, kamu ikut ya nemenin mamih. " Ujar Fania dengan tatapan memohon.
" Gimana ya mih, kalau Ana pergi siapa yang jaga Caca? " Ujar Ana bingung, dia tidak ingin meninggalkan putri kecilnya sendirian, walaupun ada para pelayan, tapi tetap saja mereka sibuk dan tidak bisa memantau sang putri.
" Kamu melupakan ibu? " Ujar Bi Ina yang baru tiba kembali setelah menengok putrinya, Sekar.
" Ibu? Kenapa tidak bilang kalau pulang hari ini, kan Ana bisa jemput. " Ujar Ana bangkit mencium punggung tangan Bi Ina.
" Iya betul, kenapa gak bilang Bi? " Ujar Fania menatap Bi Ina yang sedang memegang tas gede berisi baju.
" Gak papa, Bibi gak mau merepotkan kalian saja. " Ujar Bi Ina yang masih merasa tidak enak dengan keluarga mantan majikannya ini.
__ADS_1
" Ngerepotin apa sih bi, kita sama sekali tidak merasa di repotkan. " Ujar Fania dan diangguki Ana serta Davidto serempak.
" Iya, terimakasih. " Ujar Bi Ina dengan tersenyum.
" Ya sudah sayang, kalau begitu kamu ikut mamih ya. " Ujar Fania yang merasa bersyukur juga dengan kehadiran Bi Ina kembali.
" Ikut saja, nak. Biar Ibu yang jagain Caca. " Ujar Bi Ina dengan tersenyum.
" Baiklah, kalau gitu Ana ganti baju dulu. "
Fania mengangguk mengiyakan. Setelah Ana pergi ke kamarnya. Fania menyuruh Bi Ina duduk di sebelahnya.
" Untung ada bibi, kalau gak semua rencananya gagal. " Ujar Fania dengan bernafas lega.
" Rencana apa, nya. Kalau boleh saya tau? " Ujar Bi Ina yang masih belum terbiasa memanggil majikannya itu dengan sebutan nama.
" Itu loh bi, Zeno mau melamar Ana. " Ujar Fania dengan sedikit berbisik.
" Alhamdulillah, bibi ikut seneng denger tuan muda mau melamar nak Ana. " Ujar Bi Ina dengan tersenyum bahagia mendengar kabar baik.
" Iya bi, alhamdulillah. Minta doanya ya bi semoga lancar nanti. " Ujar Fania dan diangguki Bi Ina.
" Pasti, nya. Kalau begitu keatas dulu ya mau lihat nona kecil. " Ujar Bi Ina dan diangguki Fania dengan tersenyum.
Drett ...
Drett ...
" Ponsel mamih bunyi tuh. " Ujar Davidto menatap ponsel sang istri yang berbunyi dan bergetar di atas meja.
" Iya pih, ini mau mamih angkat. " Ujar Fania yang melihat nama putranya yang tertera.
" Dari Zeno pih, ternyata. " Ujar Fania yang langsung mengangkat dan sebelum itu dia memastikan ke arah tangga bahwa Ana belum kembali dari kamarnya.
" Hallo kenapa Zen? " Ujar Fania dengan berbisik.
" Mamih dah berangkat? " Ujar Zeno.
" Belum, lagi nunggu Ana ganti baju. " Ujar Fania dengan berbisik takut tiba-tiba Ana turun.
__ADS_1
" Nanti mamih sama Ana langsung aja ke rooftop restoran. "
" Kenapa di rooftop? Kenapa gak di ruang privat aja? "
" Biar lebih romantis, sambil natap pemandangan gedung, udah intinya mamih ikutin aja. " Ujar Zeno yang langsung mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban mamih nya.
" Dasar anak kamu pih, main matiin aja. " Ujar Fania dengan mendengus kesal.
" Anak kamu juga mih. " Ujar David dengan terkekeh.
Tapp ...
Tapp ...
" Habis angkat telpon dari siapa mih? " Ujar Ana yang baru turun dengan menggunakan Dress berwarna pink selutut dipadukan dengan high heels berwarna putih.
" Ahh, i-ini dari temen mamih. Dia udah disana, jadi ayo kita berangkat. " Ujar Fania dengan gugup mendapati putrinya sudah berada di depannya.
" Ohh, ya udah ayo mih. Ana pake baju ini gak papa kan? " Ujar Ana melihat penampilannya.
" Gak papa sayang, kamu pake baju ini kelihatan cantik banget. " Ujar Fania memandang penampilan Ana dari atas sampai bawah, perfect.
" Mamih bisa aja, ya udah ayo mih keburu temen mamih nungguin nanti. " Ujar Ana dan diangguki Fania.
" Pih, mamih berangkat ya. " Ujar Fania memberikan kode untuk suaminya untuk nanti menyusul mereka.
" Iya, hati-hati sayang. " Ujar David dengan mengantuk tersenyum.
" Ana berangkat dulu ya pih. " Ujar Ana mencium punggung tangan David.
" Hati-hati princessnya papih. " Ujar David dengan tersenyum.
" Byee. " Ujar Fania dan Ana dengan serempak sambil berjalan bergandengan tangan menuju mobil Fania yang sudah terparkir di depan pintu utama.
Setelah memastikan mobil istrinya pergi, David langsung buru-buru mengambil jasnya yang berada di paper bag belakang sofa, untung saja tadi Ana tidak curiga kepadanya yang menggunakan kemeja putih dan langsung berangkat bersama supir menuju restoran.
~Bersambung~
Ku gantung dulu🤠Likenya jangan lupa ya😘
__ADS_1
Dress Ana👇