My Bastard Brother

My Bastard Brother
Episode 134


__ADS_3

~Happy Reading~


Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗


°°°


Setibanya mereka di mansion. Caca langsung berlari masuk untuk menemui grandpa dan grandmanya. Dia ingin memberitahukan bahwa dia sebentar lagi punya adik laki-laki. Ya, walaupun dia lebih suka adik perempuan agar bisa menjadi temannya bermain. Tapi dia juga senang mendapatkan adik laki-laki yang bisa menjadi pelindung untuknya disaat kedua orang tuanya tidak ada.


" GRANDMA, GRANDPA!!! " Teriak Caca dengan gembira.


Ana dan Zeno berjalan santai mengikuti putri mereka sambil tersenyum. Ana senang melihat putrinya begitu senang mendengar bahwa adiknya seorang laki-laki. Dia kira Caca tidak akan senang memiliki adik laki-laki, tapi ternyata tidak.


" Apa yang membuat cucu Grandma sebahagia ini, hmm? " Tanya Fania setelah cucunya itu berdiri di depannya.


" Sebental lagi, Caca bakal punya adik laki-laki grandma. " Ujar Caca dengan antusias.

__ADS_1


" Benarkah itu Ana? " Tanya Fania menatap Ana dan Zeno yang baru tiba.


" Bener, Mih. " Ujar Ana dengan tersenyum.


" Akhirnya papih punya penerus juga. Kalau dia dah dewasa bakal papih ajarin dia bisnis supaya bisa menerusin perusahaan papih, papih juga pengen menikmati masa tua papih berdua sama mamih di rumah. " Curhat Davidto karna putranya Zeno tidak mau nerusin perusahaannya.


" Zeno bukannya gak mau, cuma papih tau sendiri pekerjaan Zeno banyak banget, belum lagi ngurusin perusahaan di luar negri. Kalau Zeno tambahin ngurusin perusahaan papih, bisa-bisa Zeno gak ada waktu dirumah sama keluarga. " Terang Zeno dengan duduk disofa depan papih, mamihnya.


" Papi paham, papih juga gak mau egois mementingkan diri papih sendiri dan malah bikin kalian gak ada waktu kumpul bareng. " Ujar David.


" Bantu apa, mom? " Tanya Caca menatap momnynya.


" Bantu grandpa urusin perusahaan. " Ujar David.


" Tapi Caca gak minat sama bisnis grandpa, Caca hanya minat menjadi model telkenal. " Ujar Caca membuat Fania berubah menjadi datar.

__ADS_1


Ana, David dan Zeno melirik Fania yang tampak terdiam dengan menampilkan ekspresi datarnya.


" Cucu grandpa kenapa pengen sekali jadi model, hmm? " Tanya David.


" Jadi model enak grandpa, kita bisa cuma fans banyak, dikagumi banyak orang dan pastinya nama kita bakal terkenal di seluruh penjuru dunia. " Ujar Caca dengan tersenyum manis.


" Jadi pembisnis juga bisa tenar, di kagumi banyak orang karna usaha kita yang melejit dan yang pastinya bakal buat kita di kelilingi banyak fans. " Terang David dan diangguki Zeno, Ana dan Fania. Fania juga ikut mengangguk setuju, dia ingin pola pikir cucunya berubah yang tadinya ingin menjadi model berubah jadi pembisnis.


Ya, walaupun dia ingin cucunya menjadi orang biasa-biasa saja seperti putrinya, Ana. Menjadi seorang pembisnis bukanlah hal yang buruk, hanya saja sama-sama memiliki musuh. Musuh tercipta disaat kita berada di tingkat paling tinggi.


" Tidak, Caca pengen jadi model saja. Biar adik Caca saja yang jadi pembisnis. " Ujar Caca dengan tersenyum.


" Jadi model gak muda loh sayang, kita harus melewati banyak seleksi dan rintangan. Caca yakin bisa melewati semua? Mendingan jadi pembisnis saja seperti grandpa dan daddy. " Ujar Fania yang harus turun tangan sendiri.


" Caca yakin, malah seribu persen yakin bisa melewati semua seleksi itu dan menjadi model terkenal. " Ujar Caca dengan tersenyum. Fania menghela nafas melihat cucunya yang kekeh ingin menjadi model.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2