
Happy Reading :)
^^^
Malam harinya di mansion kediaman Germani. Sejak kejadian tadi pagi membuat Fania memutuskan untuk kembali pergi ke luar negri bersama dengan Davidto.
Tinggalah Ana dan Zeno serta pembantu baru di mansion tersebut. Tapi Ana belum mengetahui bahwa orang tuanya itu sudah kembali pergi ke luar negri dan hanya Zeno yang mengetahui.
Clekk ...
Ana keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju meja makan. Sejak tadi perutnya terus berdemo minta di isi.
" Kau siapa? " Tanya Ana ke wanita paruh baya yang tengah menata makanan di meja makan.
" Selamat malam nona, saya asisten rumah tangga baru disini. " Ujar wanita paruh baya itu yang tak kalah ramah dengan Bi Ina.
" Pembantu baru? Terus dimana Bi Ina? " Tanya Ana dengan mengepalkan tangannya.
Siapa yang berani-berani memecat Bi Ina?, Apakah mamihnya atau papihnya?.
__ADS_1
" Saya kurang tau nona. Saya hanya di suruh bekerja disini menggantikan pembantu yang sudah di pecat. " Ujar wanita paruh baya itu.
" Huhh menyebalkan, siapa nama ibu? " Tanya Ana dengan sopan dan duduk di bangku yang biasa dia duduki.
" Perkenalkan nama saya Zilona, nona bisa panggil saya Lona. " Ujar Bi Lona dengan tersenyum.
" Hmm, kemana semua orang? Kenapa sepi. " Ujar Ana dengan menyendokkan nasi ke piringnya.
" Nyonya dan tuan sejak sore tadi berangkat kembali ke Paris nona. " Ujar Bi Lona dengan menuangkan air minum ke gelas Ana.
" Huhh, kau terlalu bermimpi Ana. " Gumam Ana dengan menertawakan dirinya sendiri.
Ana pikir sejak dia berbicara begitu dengan Fania. Mamihnya itu akan berubah menjadi lebih baik dan bisa meluangkan waktu untuk dirinya. Tapi ternyata tidak?, sangat menyedihkan bukan.
" Hmm, siapkan. " Ujar Zeno dengan dingin dan duduk di bangku depan Ana.
Bi Lona pun langsung menyiapkan makanan untuk tuan mudanya itu. Ana tidak perduli kakaknya itu sedang menatap ke arahnya. Gadis cantik itu masih sibuk dengan makanannya.
" Tinggalkan kami berdua. " Ujar Zeno dengan menyuruh Bi Lona pergi dari meja makan.
__ADS_1
" Baik tuan muda, kalau begitu saya permisi. " Ujar Bi Lona dengan membungkuk dan pergi meninggalkan keduanya.
Saat tengah asik makan, pertanyaan yang di lontarkan Zeno membuat gadis itu keselek dan menatap tajam ke arah Zeno.
" Sejak kapan kau menjadi ****** disana? " Tanya Zeno dengan santai walaupun di tatap tajam oleh adiknya itu.
Zeno malah asik memakan makanannya tanpa merasa bersalah dengan apa yang dia katakan.
" Apa maksud kakak? " Ujar Ana dengan sudah tidak mood lagi memakan makanannya.
" Kau pasti tau, kau kan yang melayani pada malam hari itu. " Smirk Zeno membuat Ana terdiam.
Padahal Zeno tau adiknya itu pasti menjemputnya bukannya bekerja disana. Tapi namanya juga Zeno, tidak bisa sedikit pun dia berdamai dengan adiknya itu. Selalu aja ada masalah yang dia lakukan kepada adiknya itu.
Sejak kejadian lima tahun yang lalu sangat merubah sosok seorang Zeno. Yang awalnya lembut dan penyayang terhadap Ana. Kini berubah menjadi sosok yang kejam dan dingin kepada adiknya itu.
" Kakak jangan asal bicara ya! " Ujar Ana yang sudah tersulut emosi.
" Ohh ya kah? Terus kenapa kau ada di bar malam itu, hmm? " Ujar Zeno dengan terus mencari masalah dengan adiknya.
__ADS_1
" Terserah apa yang kakak katakan, aku kesana hanya ingin menjemput seorang pria yang mabuk-mabukkan karena di tinggal tunangan oleh wanita yang di cintainya. Cih, kasihan bukan? " Ledek Ana yang berhasil membuat Zeno tersulut emosi dan
~Bersambung~