
Happy Reading :)
^^^
Sesampainya di mansion. Zeno langsung berlari memasuki mansion kediamannya yang sangat sepi menuju kamar Ana. Saat Zeno membuka pintu kamar Ana terlihat kamar adiknya itu yang sangat sepi dan sunyi.
" Anaaa!!! " Teriak Zeno dengan frustasi terus mencari keberadaan adiknya itu.
Di carinya di kamar mandi, tapi nihil tidak ada keberadaan Ana disana.
" Wardrobe. " Ujar Zeno yang langsung menuju ruang wardrobe adiknya itu dan membuka salah satu lemari pakaian Ana dan seketika membuat Zeno mematung terdiam.
Kosong
Satu kata yang mewakili isi lemari pakaian Ana. Zeno yang melihatnya langsung terburu-buru mencari adiknya menuju stasiun dan mudah-mudahan saja Ana masih berada disana.
" Ku mohon Ana jangan pergi, maafkan aku. " Ujar Zeno dengan menambah kecepatan laju mobilnya tanpa memerdulikan makian dari para pengemudi saat mobilnya menyalip beberapa kendaraan di depannya.
Cittt ...
Zeno langsung memberhentikan mobilnya dan berlari memasuki stasiun mencari keberadaan Ana.
" ANA!!! " Teriak Zeno yang terus berlari mengitari stasiun tersebut, tidak perduli tatapan aneh para pengunjung menatap kearahnya.
" Hiks, kumohon jangan tinggalkan aku Ana. "
__ADS_1
Satu tetes air mata berhasil jatuh di kedua pelupuk matanya. Sungguh dirinya sangat menyesal telah membuat hidup adiknya menderita. Andai waktu bisa di ulang kembali, dia tidak akan melakukan hal menjijikkan dan tidak manusiawi itu kepada adiknya, ehh ralat adik angkatnya.
" ANA!!! KEMBALILAH!!! " Teriak Zeno dengan mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
" Tuan Zeno. "
Suara seseorang yang di kenalnya itu membuat Zeno menoleh ke belakang dan melihat Bi Lona yang menatapnya terkejut.
" KATAKAN DIMANA ANA?!! " Teriak Zeno dengan menatap memohon ke arah Bi Lona.
Baru kali ini Bi Lona menatap tuan mudanya itu yang sangat amat frustasi. Bisa di lihat tatapan penuh penyesalan yang terpancarkan di mata tuan mudanya itu.
Ingin sekali Bi Lona mengatakan bahwa nona mudanya belum berangkat dan sedang berada di salah satu bangku untuk menunggu waktu keberangkatannya menuju kampung Bi Ina.
" KATAKAN!!! " Bentak Zeno saat melihat Bi Lona yang masih menutup mulutnya rapat-rapat.
" Maaf tuan saya tidak tau, permisi. " Ujar Bi Lona yang ingin pergi tapi di tahan oleh Zeno.
" Jangan berbohong! Saya mohon katakan dimana Ana. " Ujar Zeno dengan tatapan memohonnya, dirinya tidak perduli lagi dengan harga dirinya yang terpenting dia tau dimana Ana sekarang.
" Hufftt, saya benar-benar tidak tau tuan. " Ujar Bi Lona yang masih berbohong dan menundukkan kepalanya.
" KATAKAN BRENGSEK!!! " Teriak Zeno dengan menarik kerah baju Bi Lona.
" ZENO!!! "
__ADS_1
Teriakkan dari arah belakangnya membuat Zeno menengok dan menatap mamih dan papihnya yang berlari ke arahnya.
" Lepaskan, Nak. " Ujar Fania yang mencoba untuk melepaskan cengkraman putranya itu dari kerah baju asisten rumah tangganya.
" Tidak! Sebelum dia mengatakan dimana Ana berada. " Ujar Zeno dengan tatapan tajam menatap Bi Lona yang tidak berani menatap kearahnya.
" Lepaskan! Kita bisa bicarakan ini baik-baik. " Ujar Davidto yang harus turun tangan melepaskan cengkraman putranya itu dari asisten rumah tangganya.
" Ck, katakan dimana Ana! " Ujar Zeno yang sudah melepaskan cengkramannya dari kerah baju Bi Lona.
" Bi saya mohon katakan dimana Ana sekarang. " Ujar Fania yang sangat-sangat berharap Bi Lona mau mengatakannya.
" Maaf nyonya, tuan, tuan muda saya tidak tau dimana nona Ana sekarang. " Ujar Bi Lona dengan menunduk.
" Terus bibi ngapain kesini kalau bukan nganterin Ana? " Ujar Fania yang tidak bisa di bohongi.
" Katakan saja bi! Biar masalah cepat selesai. " Ujar Davidto dengan tegas.
" Hufftt baiklah tuan, nona Ana sedang menunggu di kursi tunggu di sebelah barat. " Ujar Bi Lona dengan masih menunduk.
Zeno yang mendengarnya langsung berlari ke arah barat dengan tergesa-gesa.
~Bersambung~
Likenya jangan lupa ya😘
__ADS_1