
Happy Reading :)
^^^
Setelah selesai menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang kakak. Ana langsung meletakkan dua piring nasgor di atas meja makan.
" Di makan kak. " Ujar Ana yang langsung menarik bangku di depan Zeno dan langsung menyuapkan satu sendok nasgor kedalam mulutnya.
Zeno pun juga sama langsung memakan nasgornya.
" Nanti malam layani aku. " Ujar Zeno membuat Ana yang mendengarnya tersedak.
" Uhukkk ... uhukkk. " Zeno langsung menuangkan air kedalam gelas sang adik.
" Minum. " Ujar Zeno dengan tatapan datarnya.
" Maksud kakak? " Ujar Ana yang sudah meminum airnya.
" Kau pasti tau dan aku tak ingin menerima penolakan. " Ujar Zeno dengan tatapan datarnya.
" Tidak! Ana gak setuju. Kakak pikir Ana budak sexs kakak! Hikss. " Tanpa terasa buliran bening jatuh di pipi gadis cantik itu ehh ralat wanita itu.
" Ck, kau dengar baik-baik. Mulai hari ini dan seterusnya kau adalah budak sexs ku. " Ujar Zeno yang langsung bangkit dan meninggalkan meja makan.
Ana yang mendengarnya langsung terduduk lemas di bangkunya. Ana sangat membenci kakaknya itu dan entah kenapa kakaknya itu sangat-sangat berbeda dari lima tahun yang lalu.
__ADS_1
Ana kangen dengan sikap kakaknya yang selalu memberikan kasih sayang kepadanya, selalu memanjakannya, selalu membuatnya tersenyum dan selalu memberikan kehangatan untuknya. Ana sangat-sangat merindukan itu semua dari sosok sang kakak.
" Hikss, Tuhan aku salah apa? Kenapa kak Zeno begitu jahat kepadaku Tuhan. " Gumam Ana dengan terisak.
Sedangkan Zeno kini sudah pergi meninggalkan rumah adiknya. Entahlah pria itu ingin pergi kemana, tapi tujuannya dia ingin menjauh dari adiknya. Saat melihat adiknya menangis, entah kenapa hatinya juga ikut merasakan rasa sakit.
Cittt ...
Zeno memberhentikan mobilnya di salah satu jembatan layang, pria itu keluar dari mobilnya dan berdiri di ujung jembatan tersebut.
Zeno memandang lurus kedepan, sesekali pria itu menatap kebawah. Dimana air di bawah jembatan itu terus mengalir deras.
" Argghhhhhh!!! " Zeno berteriak keras meluapkan rasa sesak di dadanya.
" Seandainya kau bukan pelakunya, aku mungkin akan mencintai mu, adik ku. " Ujar lirih Zeno dengan menunduk.
Mungkin menurut orang lain, dia gila atau tak waras menyukai adiknya sendiri. Tapi itu lah kenyataannya. Bahwa dia menyukai adiknya sendiri sejak kecil.
Zeno terus menunduk memandang air yang terus mengalir deras sambil mengingat momen dimana dia menyukai adiknya sendiri.
Flashback On
" Kakakkkk!!! " Teriak gadis kecil berumur 3 tahun yang terus berlari mengejar Zeno yang mengambil boneka kesayangannya. Gadis kecil itu yang tak lain ialah Ana.
" Wleee! " Zeno menjulurkan lidahnya meledek Ana sambil terus berlari menjauhi adiknya yang terus mengejarnya.
__ADS_1
" Awww. " Zeno yang mendengar ringasan sang adik langsung menengok ke belakang dimana adiknya menangis sambil duduk di lantai.
" Anaaa!! " Teriak Zeno yang refleks menjatuhkan boneka kesayangan adiknya saking paniknya dan langsung berlari kencang ke arah adiknya.
" Hikss, hikss, kakak akitt!!! " Teriak Ana dengan tambah kencang menangisnya.
" Cup, cup, cup. " Ujar Zeno dengan meniup luka adiknya dan memeluknya.
" Hikss, mejanya nakal kak, huaa. " Ujar Ana dengan masih terus menangis.
Bughhh ...
Zeno memukul meja yang menyebabkan lutut adiknya berdarah.
" Dah kakak pukul, shutt diamlah. Jangan menangis lagi, nanti cantiknya ilang. " Ujar Zeno dengan menghapus air mata adiknya yang jatuh dari kedua pelupuk mata Ana.
" Hikss, Ana sayang kakak. " Ujar Ana dengan memeluk erat Zeno.
" Kakak juga, cupp. Sudah jangan menangis lagi. " Ujar Zeno dengan mencium pipi gembul Ana kecil.
Ana yang mendapatkan ciuman di pipinya langsung tersenyum dengan manis dan membuat Zeno terdiam mematung memerhatikannya.
" Manis, mulai sekarang kau milikku Anastasia Germani. " Batin Zeno dengan sudah mengklaim adiknya menjadi miliknya.
Flashback Off
__ADS_1
Hallo👋
Author dah balik lagi nihh🤭 Sesuai janji besok aku up lagi😘 Dan buat kado spesial Author buat kalian di malam minggu ini, aku up satu bab nihh😉😁 Jangan lupa ya likenya😘 kalau bisa votenya juga, hehehehe😂See you😘