
~Happy Reading~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Keesokan paginya, Caca yang sudah kembali sehat terus merengek ingin pergi ke taman. Ana bingung dengan tingkah putri kecilnya itu yang selalu ingin pergi ke taman, padahal disana tidak terlalu bagus dan tidak ada taman bermainnya juga, tidak seperti taman di mansion mereka.
" Mommy, Caca mau kesana!!! " Teriak Caca sambil menarik-narik lengan baju Ana yang tengah duduk di sofa.
Di mansion kini hanya ada Ana. Sedangkan David kembali melakukan perjalanan bisnis setelah tau cucu tersayangnya sudah sehat dan Fania sebagai istri yang baik menemani suaminya dan Zeno sudah kembali menjalankan rutinitasnya ke kantor.
Bi Ina masih berada di kampung. Ana sangat mengerti dengan kesibukan Bi Ina disana setelah tau Bi Ina bekerja membantu bu ustadzah mengelola toko kuenya.
" Dengerin mommy, kamu itu baru sembuh. Jangan keluar dulu sayang, kan disini ada taman juga, Yuk main kesana sama mommy. " Bujuk Ana yang tidak ingin melihat putri kecilnya kembali drop.
" Disini keasik, sepi! Disana rame, ayo kita kesana mommy. " Rengek Caca dengan terus menarik-narik lengan baju Ana.
" Jangan di tarik-tarik sayang, sekarang Caca sama mommy main di taman belakang dulu, nanti siang kita ke kantor daddy, kita bawain daddy makan siang, mau? " Ujar Ana dengan mengangkat tubuh putrinya duduk di pangkuannya.
" Gak! Caca mau kesana mommy. " Ujar Caca dengan cemberut.
Ana tidak mengerti dengan putri kecilnya yang terus memaksa ingin pergi ke taman. Padahal taman belakang mansion mereka lebih bagus dan indah di bandingkan dengan taman komplek mereka.
" Mommy ayo kita kesana, nanti dia keburu pergi. " Ujar Caca dan Ana langsung menatap putrinya itu yang berubah sedih.
__ADS_1
" Siapa yang pergi? Caca punya temen, hmm? " Tanya Ana dan Caca mengangguk mengiyakan.
" Ayo mommy keburu kakak ganteng itu pelgi!!! " Teriak Caca membuat Ana menghela nafas pasrah.
" Ya udah ayo, mommy ganti baju dulu. "
" Gak usah mommy, nanti lama, kebulu pelgi kakak gantengnya. " Ujar Caca yang langsung turun dari pangkuan Ana.
" Tapi sayang masa mommy pake baju ini. " Ujar Ana yang mengenakan baju santai, kaos panjang di padukan dengan celana jeans panjang berwarna biru dongker.
" Gak papa, udah cantik! Ayo mommy. " Ujar Caca yang menarik tangan Ana dan Ana hanya bisa pasrah mengikuti kemauan putri kecilnya itu.
Mereka berdua akhirnya pergi ke taman dengan diantar seorang supir dan dua bodyguard yang mengikuti dari belakang atas perintah Zeno pastinya. Karna Zeno tidak ingin istri dan putrinya kenapa-kenapa.
Setibanya di taman, Caca langsung turun dan pergi begitu saja tanpa menunggu sang mommy. Ana yang melihatnya langsung buru-buru turun dan berlari mengikuti langkah putri kecilnya.
Ana hanya bisa berdiam diri menatap putrinya dari jauh dan begitupun dengan kedua bodyguard yang berdiri di belakang nyonya mudanya.
" Maaf nyonya, lebih baik kita susul nona muda kesana. " Ujar salah satu bodyguard yang takut nona mudanya terluka nantinya.
" Tidak usah, kita tunggu disini saja. " Ujar Ana yang terus memerhatikan interaksi keduanya di bawah pohon rindang.
Sedangkan di tempat Caca sekarang. Gadis kecil itu sudah duduk di samping bocah laki-laki itu.
" Kakak tampan benel mau pelgi? " Tanya Caca dengan menatap bocah laki-laki itu.
__ADS_1
" Hmm, Caca jaga diri baik-baik. Jangan dekat-dekat sama laki-laki lain. " Ujar bocah laki-laki itu yang umurnya sekitar sembilan tahun.
" Kenapa tidak boleh? Banyak temen kan lebih bagus kakak tampan. " Ujar Caca dengan polos.
" Intinya gak boleh, sebelum aku pergi. Aku mau memberikan ini sama kamu. " Ujar bocah tampan itu dengan memberikan sebuah kalung.
" Buat Caca? " Tanya Caca memastikannya dan bocah laki-laki itu mengangguk mengiyakan.
" Aku pengen kamu terus pake kalung ini dimana pun kamu berada dan satu lagi jangan pernah kasih kalung ini ke siapapun. " Ujar bocah laki-laki itu sambil memakaikan kalung itu di leher Caca.
" Ya, Caca bakal pake terus dan jaga kalung ini. Kakak tampan jangan lama-lama pelginya ya. " Ujar Caca dengan wajah menggemaskannya.
" SAYANG AYO BERANGKAT!!! " Teriakan itu membuat keduanya menoleh dan menatap seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum ke arah mereka.
" Iya bund, Aku pergi dulu ya cantik. " Ujar bocah laki-laki itu dan diangguki Caca, walaupun gadis kecil itu merasa berat hati di tinggal kakak tampannya itu.
" You are mine. " Bisik bocah itu sebelum pergi meninggalkan Caca.
Caca yang tidak mengerti apa yang dikatakan kakak tampannya itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya memandang kepergian kakak tampannya itu.
Caca mengenal kakak tampannya itu saat dia tinggal di mansion keluarga Germani. Saat itu Caca yang pada dasarnya ceria dan mudah bertemen, melihat seorang bocah tampan yang tengah duduk termenung di bawah pohon rindang dan membuat dirinya tertarik menghampiri bocah tampan itu.
Awalnya kakak tampannya itu bersikap dingin, datar dan cuek kepadanya. Tapi Caca yang tipe orang yang tidak mudah menyerah terus mendekati bocah tampan itu dan membuat bocah tampan itu akhirnya luluh dan Caca menganggap mereka teman, tapi tidak dengan bocah tampan itu.
~Bersambung~
__ADS_1
Likenya jangan lupa ya😘