
Happy Reading :)
^^^
" Huekkk. " Ana terus merasakan mual dan bi Lona yang melihatnya hanya bisa mengusap punggung Ana.
" Nona kita ke rumah sakit aja. " Ujar Bi Lona yang sangat mengkhawatirkan nona mudanya itu.
Walaupun Bi Lona baru bekerja di kediaman Germani. Tapi wanita paruh baya itu sudah sangat menyayangi nona mudanya itu.
" Tidak bi, mungkin Ana hanya masuk angin biasa. " Ujar Ana dengan tersenyum kearah pembantunya itu.
" Baiklah nona, nona istirahat saja. Biar saya buatkan teh hangat. " Ujar Bi Lona yang membantu Ana berjalan menuju ranjangnya.
" Makasih ya bi. " Ujar Ana yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan di bantu Bi Lona.
" Sudah tugas saya nona, kalau begitu bibi kebawah dulu. " Ana mengangguk tersenyum.
Setelah Bi Lona keluar dari kamar Ana. Ana hanya bisa mengehela nafas sambil menutup kedua matanya.
Tinggg ...
__ADS_1
Bunyi notifikasi di ponsel Ana membuat gadis itu langsung mengambil ponselnya yang berada di meja samping ranjangnya.
" Kak Zeno. " Ujar Ana yang melihat ada chat masuk dari kakak itu dan dibukanya chat tersebut.
Ana hanya bisa mengehela nafas setelah membaca chat dari kakaknya itu. Disana tertulis bahwa Zeno menyuruhnya untuk bersiap-siap melayaninya malam ini.
Ana ingin sekali memberontak. Tapi gadis itu tidak bisa karena Zeno mengancam akan memberitahukan kedua orang tuanya dan memutar balikkan fakta bahwa dia menjadi wanita malam di sebuah bar.
Ana tidak ingin kedua orang tuanya itu makin membenci dirinya. Sudah cukup lima tahun ini kedua orang tuanya selalu membenci dan menyiksanya. Dia tidak ingin menambah kebencian kedua orang tuanya itu atas apa yang Zeno katakan nantinya.
" Hufftt. " Ana kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan meletakkan ponselnya di atas bantal sebelahnya.
Ana menatap Bi Lona yang membuka pintu kamarnya sambil membawakan segelas teh hangat untuk dirinya.
" Ini nona teh hangatnya di minum dulu. " Ujar Bi Lona yang meletakkan cangkir berisi teh hangat tersebut di meja samping ranjang Ana.
" Baik bi, terimakasih. " Ujar Ana dengan tersenyum sambil duduk di atas ranjangnya.
" Ini nona. " Bi Lona memberikan cangkir teh tersebut.
Ana langsung menerimanya dan meminumnya dengan perlahan-lahan.
__ADS_1
" Makasih bi. " Ujar Ana dengan memberikan cangkir teh tersebut kembali.
" Sama-sama nona, apa nona mau di pijat kepalanya? " Ujar Bi Lona dengan melihat wajah pucat nona mudanya itu.
" Tidak usah bi, paling nanti pusingnya ilang sendiri. " Ujar Ana dengan tersenyum.
Ana tidak ingin menambah pekerjaan Bi Lona. Karena Ana tau tugas pelayan di mansionnya sangatlah berat, di tambah hanya bi Lona saja yang bekerja seorang diri dan pastinya semua tugas itu di bebankan olehnya.
" Baiklah nona, kalau ada yang dibutuhkan nona panggil bibi saja. " Ana sekali lagi mengangguk tersenyum.
" Kalau begitu bibi kebawah dulu nona. " Ujar Bi Lona dengan membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan Ana seorang diri di dalam kamarnya.
Kini hanya tinggal Ana seorang diri, gadis itu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap ke arah langit-langit kamarnya.
Gadis itu menertawai takdirnya yang begitu menyedihkan. Dulu kehidupannya tidak seperti sekarang. Kedua orang tuanya dan kakaknya dulu sangat-sangat menyayanginya, tidak seperti sekarang yang terus menyiksanya dan membencinya.
Di tambah kakaknya itu sekarang menganggapnya seperti pemuas nafsunya. Setiap malam kakaknya itu selalu datang ke dalam kamarnya hanya untuk menuntaskan hasratnya dan pergi meninggalkan dirinya setelah puas tanpa memerdulikan rasa sakitnya atas permainan kakaknya itu yang sangat kasar dan brutal.
~Bersambung~
Maaf baru up, gak tau kenapa aku udah gak mood banget lanjutin nihh cerita😌 Seterah kalian mau like apa gak nihh episode yang penting aku dah up buat readers ku yang menunggu nihh cerita😊See you😘
__ADS_1