
~Happy Reading~
Sebelum atau sesudah membaca biasakan selalu menekan Like, Fav, Rate 5 Bintang, karena semua itu GRATIS loh 😊😗
°°°
Setelah puas berbelanja. Kini keduanya sudah kembali ke mansion Germani dan saat mereka melangkahkan kakinya melewati ruang tengah, mereka melihat Ana dan Zeno sedang menatap kearah mereka.
" Mamih ajak Caca kemana? Mamih tau kan Caca habis sembuh dari demam semalam. Kenapa diajak keluar. " Ujar Zeno dengan melipatkan tangannya di dada sambil memandang mamihnya yang tengah terkekeh kearahnya.
" Putri kalian juga butuh refresing kali. Mamih ajak sebentar ke mall, lagian Caca seneng diajak shopping, ya gak sayang? " Ujar Fania meminta persetujuan ke cucunya.
" Iyaa, Caca suka shopping dad, mom. " Ujar Caca yang berjalan mendekati mommynya dan duduk disebelah mommynya.
" Ini buat mommy dari grandma. " Ujar Caca dengan memberikan satu paper bag ke mommynya.
" Buat mommy? " Caca mengangguk mengiyakan dan Ana pun langsung membukanya.
Ana menganga tidak percaya dengan isi di dalam paper bag itu yang ternyata sebuah cincin berlian biru. Dia suka dengan model cincin berlian itu.
" Gimana suka gak? " Tanya Fania yang juga ikut duduk disebelah putrinya, jadi Ana duduk di tengah-tengah Caca dan Fania.
" Suka banget mih, makasih ya. " Ujar Ana memeluk Fania.
" Sama-sama sayang, mamih seneng kalau kamu suka dan kamu tau gak? Ini semua tuh pilihan cucu mamih. " Ujar Fania melirik ke arah Caca yang tengah tersenyum manis.
__ADS_1
" Benarkah ini pilihan kamu sayang? " Tanya Ana dan diangguki Caca.
" Pilihan anak mommy bagus banget, mommy suka. " Ujar Ana mencium pipi putrinya.
" Sayang, kamu jangan mau di sogok gitu. Mamih tuh sengaja kasih kamu itu biar gak jadi marah. " Ujar Zeno yang menghampiri istrinya dan duduk di sofa depan istrinya.
" Suudzon aja kamu, mamih tuh beliin ini sengaja dari hati mamih yang paling dalam, bukan buat nyogok Putri mamih. " Ujar Fania dengan sewot.
" Alah, bisa aja ngelesnya. " Ujar Zeno dengan sinis.
" Daddy iri kan karna gak di beliin sesuatu sama grandma. " Ujar Caca membuat Ana dan Fania menahan tawanya.
" Gak ya, lagian daddy juga bisa beli sendiri tanpa di beliin grandma. " Ujar Zeno yang langsung pergi meninggalkan mereka yang kini sudah menertawai dirinya.
" Hahaha, daddy iri sama mommy grandma. " Ujar Caca dengan tertawa.
" Sudahlah, Caca dah makan? " Ujar Ana yang menghentikan tawanya.
" Sudah mommy, tadi sebelum pulang grandma ajak makan Caca ke restoran favorit grandma sama grandpa. "
" Ohh ya?, mamih gak pernah tuh diajak kesana. " Ujar Ana dengan cemberut.
" Besok kita kesana lagi, sekalian mamih mau beliin buat si dede. " Ujar Fania sambil mengelus perut Ana yang masih rata.
" Wahh, maacih grandma. " Ujar Ana dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
__ADS_1
Fania terkekeh mendengarnya.
" Ya sudah, sekarang Caca mandi habis tuh istirahat. Mommy gak mau Caca sakit lagi. " Ujar Ana.
" Siap mommy, kalau gitu Caca ke kamar dulu ya mommy, grandma. "
Ana dan Fania mengangguk mengiyakan dan setelah kepergian Caca. Fania langsung membicarakan sesuatu yang dikatakan cucunya di restoran tadi.
" Oh ya sayang, mamih mau bicara sesuatu tentang Caca. " Ujar Fania membuat Ana menatap serius ke arah Fania.
" Apa mih? " Tanya Ana.
" Tadi di restoran, kami bertemu salah satu model dari agensi mommy yang sekarang sedang naik daun. Nah Caca yang lihat dia di kerubungi orang-orang yang meminta foto sekaligus tanda tangan, membuat Caca ingin menjadi sepertinya. " Ujar Fania membuat Ana terkejut mendengarnya.
" Caca pengen jadi model? " Fania mengangguk mengiyakan.
" Mamih udah bilang ke dia, kalau jadi model bukanlah suatu hal yang menyenangkan, apalagi kalau sudah berada di puncaknya, pasti ada saja yang iri dan tidak suka. Mamih hanya tidak pengen suatu saat nanti Caca memiliki banyak musuh karna dia menjadi seorang model, cukup mamih papih dan suami mu saja yang banyak musuh. "
Selain nantinya memiliki banyak musuh. Dunia model juga sangatlah keras, kita dituntut menjadi sempurna. Bahkan kita di suruh melakukan apapun yang diminta agensi kita agar nama kita terus bersinar dan Fania tidak mau karna itu membuat cucunya bakal memiliki banyak scanda yang akan membuat harga diri cucunya nanti jatuh di mata publik. Fani hanya ingin cucunya itu menjadi orang biasa saja seperti mommynya.
" Ana paham mih, tapi kita juga gak bisa larang Caca buat mengubur cita-citanya itu. Lagian juga Caca masih kecil, keinginannya juga nanti pasti berubah-ubah. " Ujar Ana mencoba menenangkan mamihnya.
" Semoga saja begitu. " Ujar Fania dan diangguki Ana.
~Bersambung~
__ADS_1
Likenya jangan lupa😘