
~ Happy Reading ~
Setibanya di bandara, Zeno mulai membangunkan Ana yang masih tertidur lelap di atas ranjang king sizenya di samping putri kecilnya.
" Baby ayo bangun, kita sudah sampai. " Ujar Zeno yang duduk di tepi ranjang sambil mengelus-elus pipi wanitanya.
" Eughh. " Ana yang merasa terganggu tidurnya di usik itu pun mulai membalikkan tubuhnya membelakangi Zeno yang kini terkekeh melihatnya terusik di dalam tidurnya.
" Heyy, bangunlah sayang. Kita sudah sampai. " Ujar Zeno yang mengecup pucuk kepala Ana membuat Ana yang lagi-lagi di usik itu pun langsung bangun dan perlahan-lahan membuka matanya.
" Hoamm, kenapa kak? " Ujar Ana yang masih mengantuk.
" Kita sudah sampai, ayo cuci muka dulu sebelum turun. " Ujar Zeno yang merapikan rambut Ana yang sedikit berantakan sehabis bangun tidur.
" Hmm, iyaa. Aku bangunin Caca dulu. " Ujar Ana yang ingin membangunkan putrinya tapi di tahan oleh Zeno.
" Tidak perlu, nanti ku gendong saja. Kasihan kalau di bangunin. " Ujar Zeno yang membuat Ana mengangguk mengiyakan karena melihat putri kecilnya yang sangat pulas dalam tidurnya.
" Ya sudah, aku ke toilet dulu. " Ujar Ana yang berjalan dengan sesekali menutup matanya karena tak kuat merasa kantuk.
" Jangan merem sayang! Nanti jatuh!!! " Teriak Zeno yang melihat wanitanya sesekali menutup matanya.
__ADS_1
Teriakan itu pun membuat Ana langsung membuka matanya lebar-lebar dan memutar tubuhnya menghadap ke belakang dimana Zeno berada dan menganggukkan kepalanya sebelum dia memasuki toilet.
Setelah Ana masuk kedalam toilet, Zeno langsung menggendong tubuh putri kecilnya yang masih tertidur lelap keluar dari kamar pribadinya.
Ana yang sesudah mencuci mukanya itu langsung menemui Zeno dan putrinya di luar dan melihat Zeno yang tengah duduk sambil memainkan ipadnya.
" Sudah? " Ujar Zeno yang melirik ke samping dimana Ana berada.
" Hmm, sudah. " Ujar Ana mengangguk mengiyakan.
" Ya sudah ayo turun. " Ujar Zeno yang menggandeng tangan Ana menuruni setiap anak tangga di pesawat pribadinya dan di susul oleh beberapa bodyguard Zeno yang membawa koper-koper mereka.
" Tenanglah, ada aku. " Ujar Zeno yang seakan tau dengan kecemasan, ketakutan dan kegugupan Ana terlihat dari tangan Ana yang di genggamnya menjadi sangat dingin.
Ana hanya mengangguk mengiyakan sambil mereka berjalan keluar dari bandara menuju mobil mewah berwarna hitam milik Zeno yang sudah terparkir di pintu lobby bandara.
" Selamat datang kembali tuan. " Ujar supir pribadi Zeno yang menunduk hormat saat mendapati kehadiran tuannya.
" Hmm, langsung ke mansion Germani. " Ujar Zeno yang masuk kedalam setelah Ana masuk.
" Siap tuan. " Supir itu pun langsung menutup kembali pintunya dan berputar masuk kedalam kursi pengemudi.
__ADS_1
Mobil mewah hitam mengkilap itu pun langsung melaju membelah jalanan padat ibu kota di sore hari.
Selama di perjalanan suasana di dalam mobil itu hanya ada keheningan yang menyelimuti. Tidak ada satu orang pun yang berbicara untuk sekedar menghilangkan suasana hening tersebut. Mereka memilih sibuk dengan aktifitas mereka sendiri, dimana Ana yang tengah memandang keluar jendela menikmati pemandangan di sore hari dan Zeno yang sibuk dengan ipadnya sambil memangku Caca yang masih tertidur.
Sampai tak terasa mobil yang di tumpangi mereka pun tiba di mansion Utama. Ana yang melihatnya semakin jantungnya berdetak dengan cepat.
" Ayo turun. " Ujar Zeno yang sudah turun terlebih dahulu dan membukakan pintu mobil khusus untuk wanita tercintanya.
" Makasih kak. " Ana mencoba untuk menenangkan dirinya dan mulai turun dari dalam mobil.
" Percayakan semua pada ku Ana. " Ujar Zeno yang mulai berjalan sambil menggandeng tangan Ana di sebelah kirinya.
" Kau pasti bisa Ana. " Batin Ana yang menyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja.
~Bersambung~
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apakah nyonya dan tuan besar Germani menerima kehadiran Ana? Atau sebaliknya?
Nantikan jawabannya di Next Episode😘
__ADS_1