
WARNING‼️
Sebelum membaca episode ini di harapkan untuk terlebih dahulu membaca episode sebelumnya atau episode awal. Agar kalian mengerti dengan jalan ceritanya, terimakasih
Back to story ....
Selesai membersihkan tubuhnya. Ana keluar dari dalam kamar mandi dan melihat kakak gilanya sedang duduk di ranjang sambil menatap kearahnya.
" Kenapa kau masih disini? pergi!!! " Ujar Ana dengan berteriak sambil menunjuk Zeno.
Zeno yang melihatnya hanya tersenyum penuh arti. Ditatapnya tubuh adiknya itu yang sudah di tutupi pakaian lengkap dan berjalan mendekati adiknya yang tengah berdiri di depan ranjang.
" Tenang saja *****, aku akan pergi. Sebelum itu ku peringatkan jangan pernah memberitahukan hal ini kepada orang lain, atau akan ku buat hidup mu lebih menderita. " Ujar Zeno dengan mengelus wajah Ana.
Ana langsung menepis tangan Zeno dari wajahnya. Dirinya tidak sudi wajahnya di pegang oleh pria brengsek dan gila.
" Sampai jumpa nanti malam sayang. " Ujar Zeno dengan mencium bibir Ana sekilas sebelum berlalu keluar dari dalam kamar Ana.
Brakk ...
Zeno menutup pintunya dengan sangat keras membuat Ana terlonjak kaget.
" Sial! kenapa aku harus punya kakak seperti pria gila itu. " Ujar Ana yang seperkian detik langsung terjatuh di lantai sambil terisak menangis.
__ADS_1
Ana tidak habis pergi kakanya yang dulu sangat menyayanginya dan melindunginya malah berubah menjadi seorang laki-laki yang kejam dan tak berperasaan.
Di tambah kakaknya itu dengan tega mengambil mahkotanya yang selama ini dia jaga dan menjadikannya menjadi pemuas nafsunya.
" Hikss, aku lelah ya Tuhan. " Ujar Ana dengan menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya.
Tanpa di sadari Ana dan Zeno. Sejak sebelum Zeno keluar dari dalam kamar Ana, ada seseorang wanita paruh baya yang mendengarkannya yang tidak lain adalah Bi Lona.
" Jahat sekali tuan muda. " Gumam Bi Lona yang langsung kembali pergi ke dapur sebelum ada seseorang yang mengetahui keberadaannya disana.
...-------------...
Di posisi Zeno sekarang, pria tampan itu sudah siap dengan pakaian casual nya itu akan berangkat ke kampusnya.
" Tidak, saya sarapan di kampus saja dan pastikan wanita itu memakan sarapannya. " Ujar Zeno yang langsung melangkah pergi.
Setelah kepergian Zeno, Ana yang sudah siap dengan pakaian panjang dan celana panjangnya itu menuruni anak tangga menuju meja makan.
" Selamat pagi nona muda. " Ujar Bi Lona dengan tersenyum hangat.
" Selamat pagi juga bi. " Ujar Ana mencoba tersenyum.
Ana tidak ingin orang lain mengetahui kesedihannya. Cukup dirinyalah yang menyimpan kesedihannya dan masalahnya seorang diri. Dia tidak ingin masalahnya ini akan membahayakan orang lain nantinya.
__ADS_1
" Silahkan sarapan nona. "
" Tidak, terimakasih bi. Ana sarapan di sekolahan aja. " Ujar Ana yang langsung melenggang pergi darisana meninggalkan bi Lona yang berdiri sendiri di depan meja makan.
...----------...
Setibanya di dalam kelasnya, Ana langsung meletakkan tasnya di kursinya dan menaruh kepalanya di atas meja. Sungguh dirinya sangat lelah dengan keadaannya yang sekarang ini.
" Huhh, sepertinya takdir sedang bermain-main dengan ku. " Ujar Ana dengan tersenyum kecut.
" Takdir apa? " Ana langsung mengadahkan kepalanya dan melihat Olivia, sahabatnya yang sudah duduk di kursi sebelahnya.
" Kau mengagetkan ku saja. " Ujar Ana dengan langsung mengubah duduknya menjadi tegak.
" Apa yang sedang bermain? " Ujar Olivia yang masih saja bertanya.
" Tidak ada, ohh ya apakah ada PR? " Tanya Ana dengan mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Tidak, jawab dulu pertanyaan ku Ana! Kalau kau sedang ada masalah cerita jangan di pendam sendiri. Fungsinya kau punya sahabat untuk apa, hmm? " Ujar Olivia dengan panjang kali lebar menatap Ana yang sedang menunduk.
" Maaf, aku gak bisa sekarang. " Ujar Ana dengan menunduk sendu.
" Huuh, baiklah. Kalau kau sudah siap, aku selalu ada. " Ujar Olivia yang langsung memainkan ponselnya dan tidak lama kemudian para teman-teman sekelasnya serta Cecilia satu persatu memenuhi ruang kelas mereka.
__ADS_1
~Bersambung~