
Happy Reading :)
Sore harinya, Ana bersama dengan kedua sahabatnya sudah berangkat bersama dengan menggunakan satu mobil yaitu mobil Ana.
Selama di perjalanan mereka bercanda tawa dengan kekonyolan yang dilakukan Cecilia. Sesekali mereka juga bercerita tentang permasalah yang terjadi di hidup mereka.
Bercerita satu sama lain dan mencurahkan semua kesedihannya dengan para sahabatnya itu selalu mereka lakukan. Tak ada rahasia apapun yang mereka tutupi, karena mereka sudah berjanji akan membagi semua masalah satu sama lain dan mereka juga tidak ingin ada rahasia di dalam persahabatan mereka.
Karena seorang sahabat selalu ada saat kita sedih maupun senang. Jika salah satu dari sahabat kita ada yang tak peduli atau hanya ada saat kalian senang, itu tak cocok di katakan sebagai seorang sahabat.
" Sedih gua lihat bokap gua berubah drastis kaya gitu. " Ujar Cecilia dengan menunduk sedih.
Ana yang sedang mengemudikan mobilnya mencoba melirik Olivia yang duduk di sebelahnya.
" Lo yang sabar ya, Li. Mungkin bokap lo lagi stress ngurusin pekerjaan kantornya makanya kaya gitu, positif thinking aja. " Ujar Olivia yang mencoba memberikan pengertian positif kepada sahabatnya itu.
Walaupun Olivia dan Cecilia tak pernah akur dan selalu ribut setiap saat, tapi kalau soal seperti ini mereka selalu bisa menguatkan satu sama lain dan hal itu yang membuat Ana sangat nyaman bersahabatan dengan mereka.
Saat serius mereka akan berubah menjadi serius. Jika ada salah satu yang terluka mereka akan maju ber sama-sama dan jika ada yang mengusik mereka, mereka akan hadapi ber sama-sama. Itulah persahabatan.
" Mungkin lo benar, Liv. " Ujar Cecilia dengan tersenyum.
" Nahh gitu dong senyum biar gak jelek lagi. " Ujar Olivia dengan terkekeh.
" Bangsat lo. " Ujar Cecilia tapi dengan tertawa.
Ana yang melihatnya ikut tersenyum bahagia. Bersyukur sekali dia memiliki kedua sahabat yang selalu ada saat mereka sedang membutuhkan.
" An, nanti mampir dulu ke minimarket. Gua mau beli cemilan. " Ujar Cecilia.
" Okay. " Ujar Ana yang memasuki parkiran minimarket.
" Gua tunggu mobil ya. " Ujar Ana dan diangguki Cecilia.
__ADS_1
" Lo ikut gak? " Ujar Cecilia dengan menatap Olivia.
" Gakk dehh, gua mager. " Ujar Olivia dengan bermain ponsel.
" Ohh ya udah, berarti gua sendirian ya. Kalian tungguin, awas aja ninggalin. " Ujar Cecilia sambil membuka pintu mobil.
" Ya, bawel. " Ujar serempak Ana dan Olivia.
" Anjir lahhh. " Ujar Cecilia yang langsung memasuki minimarket tersebut.
...------------...
Sedangkan di tempat di selenggarakannya bazar besar-besaran itu. Ketiga pria tampan yang tak lain ialah Zeno, Hans dan Derel bersama dengan garis cantik yang tak lain ialah Veronica Zee itu sudah sampai di tempat tersebut.
" Sepupu lo mana? " Ujar Hans kepada Derel.
" Itu dia, SISKA!!! " Teriak Derel sambil melambaikan tangannya.
" Bangsat, gak usah teriak. " Ujar Hans dengan mengusap-ngusap telinganya.
Gadis cantik yang di panggil Derel tadi langsung menghampiri mereka berempat yang tengah berdiri di salah satu stan makanan ringan.
" Ehh Derel, gua kira lo gak dateng. " Ujar gadis cantik itu yang umurnya lebih tua dua tahun dari Derel.
" Hehehe, jadi dong kak. Ohh ya kenalin, ini sahabat gua kak, yang itu namanya Veronica nahh di samping kanannya itu Hans dan disamping kirinya yang wajahnya datar itu namanya Zeno. " Ujar Derel dengan memperkenalkan sahabat-sahabatnya.
" Lo punya sahabat juga, gua kira kagak. " Ujar Gadis cantik itu yang bernama Siska.
Siska merupakan kakak sepupu Derel. Anak dari kakak bokapnya, Siskan dan Derel sangat dekat sejak kecil dan itu yang membuat Derel sangat akrab dengan kakak sepupunya itu.
" Punya lah, lo kira gak ada orang yang mau temenan sama gua. " Ujar Derel dengan cemberut.
" Hahaha kirain, ayo ke tempat gua. " Ujar Siska yang mengajak Derel dan sahabatnya.
__ADS_1
" Yo lahh. " Derel mengikuti langkah kaki kakak sepupunya itu dan diikuti ketiga sahabatnya dari samping.
...--------...
Sedangkan di minimarket, Ana dan Olivia menunggu Cecilia yang lama sekali di dalam minimarket dan saat melihat sahabatnya itu keluar dari minimarket membuat mereka langsung mengenakan selt beltnya lagi.
Brugghhh ...
Cecilia menutup pintu mobilnya dengan kasar, tapi sambil menangis dan membuat Ana serta Olivia saling memandang satu sama lain dengan bingung.
" Lo kenapa, Li? " Ujar Ana dengan menghadap ke belakang.
" Hikss, Huaaaa. " Bukannya menjelaskan kenapa dia menangis, Cecilia malah bertambah nangis dan membuat kedua sahabatnya itu bertambah bingung.
" Tuh anak kenapa? " Bisik Olivia kepada Ana.
" Gak tau. " Bisik Ana dengan menggelengkan kepalanya.
Belum sempat Olivia bertanya, bunyi ketukan kaca mobil di samping Cecilia membuat ketiganya langsung menatapnya.
Mereka melihat seorang pria tua dengan mengenakan pakaian kerjanya yang ternyata ialah bokap dari Cecilia.
" Li, bokap lo tuhh. " Ujar Olivia dengan menatap Cecilia.
" Hikss, biarin aja. Ayo jalan. " Ujar Cecilia dengan masih terisak.
" Cecil! Buka pintunya!!! Papah mau ngomong sayang!!! " Teriak Tuan besar Johan Piter dengan terus mengetuk-ngetuk kaca mobilnya.
" Li, gak mau turun dulu? Kasihan bokap lo. " Ujar Ana dan diangguki Olivia.
" Gak usah, ayo jalan! " Ujar Cecilia dengan penuh penekanan.
" Ya udah dehh. " Ujar Ana yang langsung menyalakan mesin mobilnya dan melakukan mobilnya meninggalkan tuan Johan Piter yang menatap mobil mereka dari tempatnya berdiri tadi.
__ADS_1
~Bersambung~