
Brakkk Jasson Menutup pintu kamar dengan kencangnya. Setelah mendengarkan penuturan Papanya, Jasson merasa senang namun disisi lain juga tidak senang.
Ada apa dengannya kenapa dia terlihat sangat marah? Apa salahku?
"Kemari kau gadis bodoh!" Jasson kini mencekram kedua pipi Gita.
" Jangan berpikir setelah merawat mamaku kau beranggapan dekat selayaknya menantu. Kau merawat mamaku tidak lebih dari seorang pelayan! Apa kau paham?" Jasson menghempas pipi itu dengan kasar.
Gita memanggut anggut kepalanya.
"Selama Papa di luar negeri. Kau tidak akan bebas lagi. Tiap hari kau harus membantu pelayan. Jangan ber leha-leha selayaknya majikan!!"
Jasson menunjuk nunjuk Gita.
Gita menundukkan kepalanya sambil menahan sedikit sakit.
Bukankah setelah aku berada di tempat ini aku sudah tidak bebas apa dia lupa?
"Dan Malam ini kau tidak boleh tidur di sofa tidurlah di lantai. Itu hukuman untuk mu karena telat." Jasson berjalan memasuki ruang kerjanya.
Jasson selalu melakukan apa yang ia inginkan tampa ada penolakan. Bahkan isteri sendiri di suruh tidur di lantai. Bukankah jika Gita sakit ia juga yang akan direpotkan?
"Sayang.." Janes membelai rambut isterinya itu dengan lembut.
"Hem, kenapa? Wajah mu terlihat sedih, apa kau baik baik saja?"
Janes menggeleng gelengankan kepalanya.
"Ada apa, apa yang terjadi Mas?"
"Aku akan pergi ke negara z besok pagi. Minggu depan kami ada proyek baru. Proyek itu sangat besar. Misi ini bisa mengembangkan bisnis kita di negara z."
"Bukannya kau harusnya bahagia mas? Tapi kenapa wajahmu begitu sedih?"
"Bagaimana aku tidak sedih sayang. Aku tidak akan bertemu denganmu selama dua minggu."
"Dua minggu waktu yang singkat. Bukankah tiap harinya kita bisa melakukan panggilan Vidio?"
"Bagiku satu jam jauh dari mu, sudah seperti satu bulan sayang. Apalagi Dua minggu."
"Kenapa Alay sih Mas. Bukankah kamu sudah sering keluar balik negara ini?"
"Ah, sudahlah kamu tidak akan mengerti."
"Haaha kamu ya, kayak anak ABG aja. Ingat Mas udah Lansia hahha."
Janes cemberut dan memeluk Monika masih dengan posisi duduk di kursinya. Janes menenggelamkan wajahnya dileher Monik.
Bisa bisanya mas, kamu seperti anak kecil yang ngambek sama mamanya hahah.
Pagi pun datang, segera Gita membuka matanya merasakan badanya sedikit ngilut.
"Ah, untung saja dia belum bangun." Semalam Gita harus tidur jam 11.13. Dia harus menunggu Jasson tidur barulah ia bisa membaringkan tubuhnya di lantai dekat sofa itu.
Gita segera bangkit dari lantai itu dan mulai melangkah.
Terimakasih God, kaki ku sembuh."Gita berjalan dengan normal.
Kemarin dia memang rutin untuk menggosokkan minyak itu pada kaki dan pinggang nya dia juga tidak lupa minum obat. Walupun pagi hari nya dia lupa. Tapi siang dan malam ia meminum nya.
Pagi ini Janes akan berangkat ke negara z menggunakan jet pribadi.
Jasson ikut mengantar sampai bandara. Sedangkan Gita harus menemani Monik di Mansion.
"Mama. Apa mama ingin sesuatu?"
"Mama ingin jalan jalan ke taman belakang. Bisakah kau menemani mama? Mama bosan berbaring di kamar terus."
"Hem tentu saja ma. Matahari pagi juga sangat baik untuk kesehatan."
Gita membantu Monika duduk di kursi roda dan dengan hati hati Gita mendorong pelan kursi itu menuju taman belakang.
"Wah lihatlah bunga itu tampak cantik." Semua bunga disana mekar dan segar.
"Sebentar ya ma!"
Gita memetik satu tangkai bunga itu.
"Ma. Cantik bukan?"
Gita memberikan setangkai bunga itu pada Monik.
"Wah, cantik sekali."
Gita hanya bisa tersenyum menatap Monik begitu bahagia.
"Gita.." panggil monik dengan singkatan nama itu.
__ADS_1
"Ia mama?"
"Dulu, taman ini adalah tempat favorit mama. Waktu itu mama yang selalu berkebun disini. Tempat ini juga tempat bermain Jasson dan Morisa." Monika menatap taman itu keseluruhan.
"Oh iya, mama belum cerita ya. Kalo Jasson punya saudara perempuan?"
"Sebenarnya Papa sudah cerita ma. Tapi saat pernikahan kenapa aku tidak melihatnya?"
"Morisa sedang menyelesaikan studinya nya di negara tetangga." Sebenarnya Morisa tidak pulang karena dia malas menghadiri pernikahan Jasson tampa cinta itu. Morisa tidak suka kalau Jasson menikah terpaksa. Jadi Morisa berpikir habis habisan waktu saja kalau akhirnya pernikahan dibatalkan.
Ternyata pernikahan kali ini berlangsung mulus. Tapi morisa tidak kecewa karena tidak bisa ikut dia tau pernikahan ini juga terpaksa.
"Apa Morisa tidak menyukai ku ma?" Tanya Gita sedikit takut.
"Tidak sayang. Morisa orangnya baik walaupun sedikit keras kepala tapi dia sangat baik." Ah, semua anak pasti baik Dimata seorang ibu bagaimana pun sikap anaknya.
"Lico bagiamana dengan Yolan? Apa dia betah tinggal di apartemen?"
"Nona Yolan baik tuan. Tidak ada masalah."
Setelah Jasson mengantar Janes dia segera melajukan mobilnya ke kantor.
"Lico apa hari ini ada meeting?"
"Jam 11.00 nanti tuan ada satu meeting."
"Siapkan semua yang dibutuhkan nanti. Jangan sampai ada masalah!"
"Baik Tuan."
"Ma, sepertinya matahari tambah panas kita masuk kedalam ya ma." Ucap Gita lembut.
"Baiklah. Tapi mama ingin ke ruang musik apa kau bisa mengantar mama ke atas?"
"Maaf ma bukannya Gita tidak mau, tapi apa mama tidak ingin istirahat dulu?"
"Mama baik baik saja. Lagian disana mama bisa istirahat bukan?"
"Iya juga sih. Kalau gitu kita jalan sekarang ya ma!"
Tak berapa lama kini mereka memasuki ruangan musik besar itu.
Terdapat banyak alat musik disana.
Dari wajah Gita dia tidak heran lagi melihat semua itu. Karena sebelumnya ia sudah pergi kesini.
"Gita, tolong bawa mama kesanah." Monika menunjukkan Piano besar yang ada didekat jendela kaca besar itu.
"Duduklah. Mama akan memainkan nya untuk mu."
Monika mulai mengerakkan jari jari lentiknya itu mengeluarkan bunyi yang indah dan menyenangkan.
Prok prok prok
Setelah bunyi berhenti Gita bertepuk tangan sambil tersenyum.
"Wah mama hebat juga."
"Mama hanya bisa sedikit. Kemampuan mama tidak seperti dulu lagi. Sekarang mama sangat mudah lelah."
"Apa mama tidak apa apa? Apa mama kecapean? Kenapa dengan wajah mama?"
"Mama tidak apa apa."
"Gita bawa mama kesanah ya." Gita mendorong Kursi roda itu menuju sofa yang ada di ruangan itu.
"Mama berbaring lah. Gita akan mengambil air minum."
Gita segera berlari mengambil air minum.
"Ini ma." Monik segera meneguk air itu perlahan.
"Mama seharusnya tidak memainkan piano itu. Kan mama jadi kecapean. Sini tangan mama."
Gita menarik tangan itu dan memijatnya pelan.
"Mama tidak apa apa Gita. Mama juga senang melakukan ini. Lihat mama tidak apa apa lagi." Monik menggakat kedua tangganya.
"Tapi tadi wajah mama tiba tiba pucat."
"Sekarang kan tidak lagi. Jadi jangan kahwatir. Selama kamu ada di dekat mama. Mama tidak akan kenapa-kenapa. Gita tolong bantu mama duduk di kursi roda!"
Gita segera memapah Monik untuk duduk di kursi roda.
"Kenapa mama percaya sekali sama Gita. Bukankah mama baru mengenal Gita?" Gita berjongkok sambil memegang tangan Monik.
"Karena mama bisa merasakannya sayang. Mama tau kau anak yang baik."
__ADS_1
Kenapa mama mengatakan semua orang baik. Dia tidak tau saja bagaimana sikap Jasson.
"Ma. Apa mama mau aku mainkan Pianonya untuk mama?" Ucap Gita membuyarkan pikiran buruknya terhadap Jasson.
"Apa kamu bisa?"
"Emm, Gita akan coba." Jawab gita sambil berjalan mendekat ke arah Piano.
"Ah, sudah lama sekali aku tidak menyentuh benda ini." Gita memandangi Piano itu sembari mengingat kenangan di masa lampau.
"Sayang? Apa kau bisa." Ucap Monik yang melihat Gita masih bengong.
"Gita..."
"Ah, ia ma." Gita duduk di kursi kecil itu dan mulai memainkan Piano sambil bernyanyi.
Alunan musik yang indah dan suara gita yang merdu serasa menyentuh hati. Gita sungguh menghayati lagunya.
Monik memutar ban kursi rodanya mendekat kearah Gita.
"Sayang kenapa kau menangis?" Setelah Gita selsai memainkan Pianonya dia terdiam sesaat dan tidak sadar air mata itu terjatuh tampa meminta izin kepada si pemilik.
Karena Melihat itulah Monik mendekat.
"Sayang.." Monik menghapus air mata itu.
"Eh, mama. Maaf tadi mama ngomong apa?" Gita menghapus air matanya.
"Kamu kenapa menangis?"
"Aah, Gita hanya terbawa perasaan saja oleh lagunya ma. Tidak terjadi apa apa." Gita tersenyum.
"Mama tau kau menyembunyikan sesuatu. Mama tau pasti ada kisah dari lagu yang kau bawakan. Mulai dari kau memaninkan Pianonya kau sudah terlihat jelas merasakan sesuatu. Benar bukan?"
"Mama bicara apa hahaha. Gita tidak apa apa. Eh, ma sudah jam 12.00 Kita makan siang ya ma." Ucap Gita sembari mendorong kursi roda Monik pelan.
Mama tau kamu pasti tidak ingin membahasnya! Monika tidak melanjutkan kata-katanya lagi mungkin ini sebuah privasi itulah yang dipikirkan Monik.
Setelah sampai di kamar. Gita membantu Monik untuk naik keranjangnya.
Tok tok tok
"Masuk." Teriak Gita.
"Nyonya, astaga. Aku sendari tadi mencari kalian. Kalian dari mana Nyonya." Ucap pelayan wanita itu terlihat cemas dan ketakutan.
"Kami dari lantai atas Bi. Dari ruang musik. Apa bibi tidak mendengarkan musik?"
"Ruangan itu kedap suara nyonya."
"Oh, pantasan. Kenapa bibi mencari kami?"
"Sudah waktunya makan siang Nya."
"Tadinya juga kami turun untuk makan siang. Ia kan ma?" Ujar Gita sambil menatap Monik.
"Ia Bi. Bi Uni tolong siapkan makanan untuk ku dan juga Gita!"
"Baik Nyonya."
"Tunggu Bi." Kata Gita menghentikan langkah pelayan itu.
"Ma. Biar Gita saja ya," ucap gita sambil tersenyum.
"Baiklah. Terserah kamu."
Gita pun segera keluar bersama Bi Uni menuju dapur.
12.50 meeting akhirnya selesai dan semua berjalan lancar.
"Tuan Nona Yolan menelpon." Lico memberikan handphone Itu kepada Jasson. Selama meeting Lico selalu memegang handphone Lico agar jika ada yang menelpon, Lico bisa menjawabnya.
"Jasson. Apa kau sudah makan siang?"
"Belum."
"Bagus. Kamu makan bareng aku ya. Aku udah masak makanan kesukaan mu."
"Baiklah. Aku juga rindu masakan mu." Ucap Jasson tersenyum.
"Segeralah datang keburu makanan ini dingin."
Telepon terputus.
"Lico. Tidak ada meeting lagi kan? Antar aku ke apartemen sekarang."
....
__ADS_1
To be continued
🍁Jangan Lupa like and komen ya guys 🍁