Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
50. Pergi


__ADS_3

"Besok adalah Jadwal penerbangan Anda Tuan!"


" Apa kau sudah persiapkan semua data datanya?"


"Sudah Tuan! Apa Tuan Jasson juga akan ikut Tuan?"


"Tentu saja! Dia harus bisa belajar bagaimana memimpin perusahaan yang baik dan benar, Aku tau dia sudah mahir namun dia harus punya pengalaman kerja yang luas!"


" Apa saya yang harus menyampaikannya Tuan? Atau Anda sendiri?"


"Dia sudah tau, Persiapkan saja semuanya. Jangan sampai ada masalah. Kau mengerti!"


"Baik Tuan." Alvaro segera berlalu dari ruangan Janes.


Sepertinya, misi kali ini akan berhasil. Mudah mudahan saja dengan adanya Jasson, Bisnis ini akan semakin berkembang!


Janes membuka laptopnya. mengetik disana dengan wajah serius.


..


"Lico..


Bagaimana dengan MB yang kau utus! "


"Sudah siap sedia Tuan. Mereka hanya menunggu perintah dari anda!"


" Lakukan setelah kita pulang dari negara C "


"Baik Tuan!"


" Kau siapkan juga bodyguard dan penjaga Mansion. Arahkan mereka agar lebih hati hati dan menjaga ketat pekarangan mansion. Jangan sampai ada masalah setelah kepulangan Nanti!"


" Baik Tuan!"


..


"Papa... Apa aku boleh ikut ke Negera C?" Morisa menggeliat di lengan Janes.


"Tidak bisa Morisa, Negara itu sudah ter cap dengan tidak aman. Kau tau disana sangat mengancam nyawa."


"Tapi pa..."


"Kamu harus disini, Siapa lagi yang menemani mama? Kau tidak akan mungkin kan membiarkan kakak ipar mu merawat mama sendirian!"


Benar juga. Jika aku disini, aku bisa lebih leluasa mengerjainya. Uh, sungguh ide yang cemerlang!


"Baiklah Morisa akan tetap disini!" ucap morisa pura pura lemas.


"Hem, ini baru anak Papa. Jangan manja oke!"


mengelus kepala Morisa.


Morisa hanya mengangguk dan tersenyum dipikirannya sudah timbul pemikiran/Rencana untuk mempermainkan Gita.


"Apa yang harus kulakukan padanya, agar di kapok dan lari Sendiri dari mansion ini?"Morisa Menaruh jari di dagu dan terus jalan bolak balik di depan Kaca kamarnya.


Beberapa minggu ini dia sudah mengerjai Gita namun tak satu pun yang berhasil. semua gagal dan malah balik padanya. Sungguh Morisa tidak terima akan semua ini.


"A ha!" Morisa menggakat tangganya seolah punya ide yang sangat bagus.


"Kita akan lihat, tidak ada lagi yang akan mengawasi nya. Aku akan memberikan pelajaran yang setimpal padanya!" Tersenyum merasa kesenangan dalam dosa.


...


Hari ini Jasson, Janes, dan beberapa orang kepercayaan akan melakukan penerbangan ke negara C


"Suamiku, ini semua barang barang yang akan Anda Gunakan!"


Gita mendorong koper kecil itu Ke arah Jasson.


Jasson menaikkan kedua alisnya.


"Sebenarnya ini tidak perlu. Tapi tidak masalah! kau juga sudah menyiapkan nya!"


Gita hanya tersenyum, karena Jasson tidak menolak pemberiannya.


"Berapa lama anda disana?" Tanya Gita sembari memasang Dasi untuk Jasson.


"Dua minggu. Tapi jika berjalan lancar hanya seminggu!"


Gita hanya menggaguk mengerti.


Gita mengambil Jas dan membantu memasang pada Tubuh Jasson.


"Selama aku disana. Jangan pergi kemana mana. Tetap di mansion saja. Jangan melakukan tindakan aneh! Kau mengerti!"


"Anda tenang saja. Aku tidak akan kemana mana." Gita melepaskan tangganya dari Jas yang sudah melekat rapi di tubuh itu.

__ADS_1


Jasson menarik pinggang ramping Gita.


Mendekat kan wajah nya Pada Gita.


Mulai ******* Bibir itu dengan lembut.


Jangan ditanya Gita masih belum ahli dalam bidang ini. Jujur saja dalam beberapa minggu ini Jasson hanya melakukannya Dua atau satu kali.


Jasson beralih pada tengkuk itu dan mulai meraba bagian Gita.


"Suamiku! ah, a hentikan!" ucap Gita sedikit mendesah.


Gita sedikit mendorong dada itu.


" Penerbangan mu bukannya jam 8? Ini sudah jam 07.40." Lirik Gita pada pergelangan tangganya dan sedikit menetralkan nafasnya.


Jasson diam, sedikit memasang wajah lemas. Entahlah dia tiba tiba pengen saja melakukan seperti yang dilakukan beberapa minggu yang lalu.


" Apa kau tidak ingin sesuatu?" Jasson mendekatkan wajahnya pada Gita. Seolah menyuruh Gita untuk menciumnya.


Gita menaikkan alisnya.


"Maksud anda?"


"Sudahlah kau tidak akan Paham!" Jasson melepas penggannya pada Gita.


Memperbaiki jas yang sedikit berantakan.


Jasson segera berlalu dengan wajah lemas itu.


"Apa tadi maksud nya.."


"Suamiku.. Tunggu!!" Jasson berhenti. Hanya berhenti tidak membalikkan badan.


Gita mendekat dan berdiri di depan Jasson.


"Mungkin kan ini?" Gita sedikit berjinjit memegang bahu Jasson dan mengecup singkat bibir itu.


"Sudah!" Ucap Gita memandang arah lain. jujur saja jantung nya tiba tiba berdetak tak beraturan.


Jasson tersenyum mendapatkan apa yang diinginkan nya.


"Kenapa pipi ini merah." Tanya Jasson mengelus pipi Gita.


"ah, ini. benarkah?" Ucap Gita memegang pipi yang memanas.


Diam, mematung, itulah kondisi Gita saat ini.


aaaa sungguh manis sekali. Apa dia benar benar Jasson. Ah pasti aku sedang bermimpi!


Gita sedikit memukul pipinya.


aah ini tidak mimpi terasa sakit! elus Gita pada pipinya.


Gita sedikit berlari mengejar Jasson yang menunggunya di depan lift bersama koper kecil.


"Lama sekali! Apa kau mandi dulu?" Ucap Jasson memainkan matanya.


"Tidak!" Ucap Gita sambil masuk duluan ke dalam lift.


Didalam lift, Hening. Tiba tiba saja Jasson mendekat Pada Gita.


Menarik ikatan rambut yang melekat.


Rambut itu tergerai seketika.


"Apa yang anda lakukan." Gita menjauh dan sedikit menyilang kan tangan di dada.


"Jangan melakukan yang aneh aneh suamiku Pintu akan segera terbuka!"


Ting


Benar saja pintu itu terbuka.


Jasson mendekat Pada Gita.


"Aku hanya membantu mu saja, agar kau tidak merasa malu dengan cap merah yang ada disana." Bisik Jasson ketelinga Gita yang membuat sedikit ngilu dan merinding.


Jasson keluar dengan menarik koper di tangan.


Gita memegang lehernya.


"Astaga benarkah?" Gita merapikan rambutnya kedepan. mencoba menutup bagian lehernya.


Sedikit berlari kecil mengejar Jasson hingga langkah mereka berdampingan.


Jasson menatap Gita. Sedikit tersenyum melihat Gita yang membuat rambut ikal itu kedepan.

__ADS_1


"Jasaon! Kau lama sekali!" Ucap Janes yang tengah berdiri diambang Pintu besar sambil menatap Arlojinya.


Mata Janes tertuju pada koper yang di bawa Jasson.


"Untuk apa kau membawa koper itu?"


Jasson menatap Gita. Mengisyaratkan pada Janes bahwa Gita yang memberikannya.


"Ah, Baiklah aku mengerti! Cepat lah!" Janes pergi memasuki mobil lebih dulu.


"Kau masih ingat kan yang kukatakan?" Tanya Jasson menatap Gita.


Gita terseyum sambil mengangguk.


"Jaga dirimu suamiku. Semoga pekerjaan mu berjalan lancar!"


Jasaon terseyum.


"Apa kau sangat menginginkan ku pulang cepat? Tidak usah khawatir, sepulang dari sana kita akan lanjutkan yang tadi." Ucap Jasson mengejek.


Gita yang tadinya tersenyum berubah wajah tampak heran.


...Astaga bisa bisanya dia berpikir ke arah sana....


Gita sedikit menyipitkan matanya.


"Suamiku!! Papa Janes memanggil!" Tunjuk Gita Pada Janes, menghentikan Pandangan Jasson yang aneh padanya.


Setelah menyalim punggung tangan Jasson Akhirnya Jasson masuk ke dalam mobil itu.


"Aku seperti seorang ibu yang merelakan kepergian anaknya untuk merantau!" Gita menggeleng gelengankan kepalanya dan sedikit tersenyum.


...


"Kakak!!!!" Teriak Morisa berlari keluar dari Mansion. Dia ketinggalan, jauh mobil itu sudah berlalu pergi.


"Astaga!! Kenapa tidak menungguku! Lagian kenapa tidak ada yang membangunkan ku


Aku jadi kesiangan kan!!" Teriak Morisa berjalan pulang menatap pelayan yang menatapnya takut.


"Aku bahkan belum memeluk kakak! " Morisa menghentakkan kakinya di lantai sambil berjalan masuk.


Sedangkan Gita yang tadi sudah melangkah beberapa langkah berhenti mendengar teriakan Morisa yang hampir memecahkan gendang telinganya.


"Apa! Kenapa menatap ku seperti itu! Apa kau senang ? kau merebut kakak dariku. Dulu kakak sangat menyayangi ku. Dan sekarang karena mu, dia lupa untuk pamit dari ku!" Morisa berjalan cepat sedikit menyenggol lengan Gita hingga berpindah tempat.


"Anak itu, selalu saja bertingkah aneh.


Apa dia akan melakukan hal buruk lagi setelah Jasson pergi?


Uh, aku tidak peduli. Selama aku mampu aku akan mengatasinya. Kita lihat siapa yang akan menang!" Tersenyum dan melanjutkan jalannya yang sempat terhenti.


..


"Kevin! Kau harus ikut! Papa tidak suka ada penolakan Kau mengerti!"


"Aku tidak bisa Pa. Aku dan anak anak akan melakukan Bakti sosial di beberapa kota!"


"Papa tau, itu hanya alasan saja! Tanpa Kau, mereka juga bisa menjalankan tugasnya. Jadi jangan membuat alasan yang tidak jelas."


"Pa, apa papa tidak lelah selalu memerintah ku ini, itu? Apa papa tidak bosan?"


Kevin merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu.


"Kevin, Papa melakukan ini untuk kebaikanmu juga. Ini sala satu cara papa mengajarkan mu bagaimana cara memimpin yang sesungguhnya!"


"Papa selalu mengatakan itu! Papa membiarkan ku menangani perusahan di negara P, aku bisa Pa. Apalagi yang harus ku lakukan bertahun tahun aku disana hanya karena kehendak Papa. Tolong Pa, Mengerti lah!"


"Tidak Kevin! Untuk Kali ini kau tidak boleh menolak, Kau harus ikut!"


"Apa papa bilang? Untuk kali ini. Huh, Emangnya Kevin pernah tidak mengikuti perintah Papa? Kevin selalu pa! Tidak pernah tidak!"


"Kevin, jangan pancing emosi Papa! Papa tunggu di bandara. Jika kau tidak datang, terpaksa papa akan mengirim mu balik ke negara P." Aditya berlalu pergi dari pandangan Kevin.


Benar benar kehabisan kata. Kevin tidak bisa berpikir lagi. Hanya bisa menghela nafas dan mengacak rambut frustasi.


Papa sangat egois. Aku juga ingin menikmati masa mudaku! kenapa Papa selalu mengekang seperti ini!


To be continued


🍁 Jangan lupa like and vote ya Beste 🍁


.


.


.

__ADS_1


Sampai Jumpa πŸƒ


__ADS_2