
"Aaaaww sakit!!!!"
Gita berteriak sekencang mungkin Sampai teriakan itu terdengar ke ruang sebelahnya. Ya jelas saja terdengar, satu dinding.
Bukannya penasaran Jasson acuh tak acuh, dan fokus pada pekerjaan nya.
"aaaaa awuu huhuhuhu." teriakan Gita terdengar lagi namun itu tambah kencang.
"Gadis gila! Dia pikir ini hutan?" Bisa bisanya Brigitta berteriak sekencang tidak.
"aaaah tolong!! sakit." Tidak habis pikir lagi Jasson berjalan memasuki ruangan itu dengan santai. Namun tak usah ditanyakan wajahnya sudah menahan emosi.
"Hei gadis bodoh dimana kau?" Tanyanya karena Gita tidak terlihat karena banyaknya rak buku yang berjejer.
"Awww huhuhu." Tangisan itu terdengar lagi.
Jasson mendekat ke sumber suara dan benar saja pada barisan ketiga tepat di tengah Gita memegangi pinggang dan kakinya sambil meringis kesakitan.
"Astaga apa yang kau lakukan! Apa kau lagi bersandiwara karena waktu mu habis hu?"
Gita tidak menjawab dia terus mengusap usap pinggang dan kakinya.
"Sakit sakit sekali." Apa dia buta?
"Berdiri!" Jasson mendekat.
Astaga bagaimana cara ku berdiri sakit sekali dan ini banyak buku berjatuhan apa dia tidak lihat.
"Hei apa kau tuli? Berdiri kataku!"
Sedikit beeusaha gita memegang rak di belakangnya mengunakan tangan kiri sambil mencoba berdiri dengan bantuan kaki kirinya
Karna kaki kanan dan pinggang sebelah kananya terasa sangat sakit.
Bruk dia terjatuh lagi.
"Awww." Sakit itu lah yang ia rasakan.
" Apa kau tidak bisa berdiri?"
Gita menggeleng gelengan kepala nya sambil tertunduk menyembunyikan air mata yang kini deras mengalir.
Tuan tolonglah. Kumohon hari ini punya hatilah.
"Dasar ceroboh, mengambil satu buku saja tidak bisa. Menyusahkan!"
Kini dengan cepat Gita serasa terbang diudara. Jasson secara ringan mengakut tubuh itu.
Sedikit terasa sakit saat tiba tiba di gendong tapi Gita tahan daripada dia dijatuhkan dari gendongan itu.
Kedua tangan gita berada di atas tubuhnya dia tidak berani merangkul leher Jasson. Sesuai peraturan Pihak kedua tidak diperbolehkan menyentuh pihak pertama.
Selama digendong Gita tidak berani menatap wajah itu tatapannya selalu kebawah.
Jasson membaringkan tubuh itu di tempat tidurnya. Baru kali ini Gita merabahkan tubuh disana.
"Tuan kenapa anda meletakkan saya disini?" Gita mencoba untuk turun dari tempat tidur.
"Jangan coba coba turun. Apa kau ingin menyusahkan ku lagi? Kalau kau terjatuh siapa yang akan menolong mu? Apa kau cari kesempatan untuk di gendong lagi?"
Dengan cepat Gita mengeleng gelengankan kepalanya.
Jasson segera mangambil ponsel yang berada di atas meja kerjanya.
"Lico Panggilkan Dokter Arya sekarang."
Tampa menunggu jawaban, Jasson mematikan telepon dan beranjak mendekati tempat tidur.
"Kenapa bisa seperti ini."
"Tadi saya memanjat rak nya Tuan."
"Apa kau sudah gila? Untuk apa kau memanjat rak buku bodoh!!"
"Buku yang anda inginkan berada di rak paling atas."
"Dasar buta disana ada kursi kenapa harus memanjat? Makanya kalau kerja pake otak!!"
Jasson segera pergi keluar kamar.
Baru saja ia samapi dibawah Janes tampaknya baru pulang dari kantor.
"Papa kenapa baru pulang?"
"Ia tadi ada meeting dadakan jadi papa pulang telat."
Jasson hanya menganggukan kepalanya.
Dan berlalu pergi.
Dia pergi kemana? Apa dia akan tidur di kamar tamu karena aku ada disini?
Kenapa dia lama sekaki?
Gita sedikit susah untuk mensandarkan punggung di kepala kasur.
Tak lama pintu itu terbuka.
Mata Gita langsung bergerak menatap kearah kanan.
"Oles ke kaki mu. Aku tak ingin kau berlama lama sakit dan menyusahkan ku."
Jasson tidak ada lembut lembutnya melempar botol minyak urut tepat di pangkuan Gita.
Gita hanya menghela nafas dan meraih botol itu. Belum juga botol itu terbuka ketukan pintu menggagalkan gerakan Gita kedua pasang mata itu secara bersama menatap ke sumber suara.
"Buka saja pintu tidak di kunci." Suara berat Jasson. Kini tampaklah seorang pria mengunakan pakian dokter sambil menenteng tas dan berlari mendekati jasson diikuti Lico yang berjalan santai di belakangnya.
"Jasson siapa yang sakit?"
"Apa matamu buta?" Jasson menatap Gita malas.
"Jangan ngegas bro." Arya adalah teman dekat Jasson. Mereka teman semasa SMA dulu. Dan sekarang Arya adalah dokter Pribadi Keluarga Lakeswara.
"Oho Istri cantik mu sedang sakit ternyata."
"Jangan bertele-tele cepat periksa dia!"
__ADS_1
Arya menghela nafas sambil mendekat ke arah Gita.
"Nona mana yang sakit?"
"Kaki dan ini" Gita menyentuh pinggang belakangnya.
"Tolong nona bersandar agar saya mudah memeriksa nya."
Dengan hati hati Gita membaringkan tubuhnya.
Arya memegang kaki kanan Gita. Dan sedikit menekan.
"Awuww"
Arya segera melepaskan pegangannya.
"Nona tolong sedikit menyamping."
Gita mematuhi ucapan Arya.
Kini Arya sedikit menarik baju Gita keatas dan memperlihatkan pinggang belakang yang yang membiru.
Arya memegang pinggang itu dan sedikit menekanya.
Gita sedikit tersentak menahan sakit.
"Pinggang Anda terbentuk kuat untuk saja tulang anda sehat dan kuat kalau tidak mungkin sudah retak."
Arya menarik kembali baju itu kebawa menutup pinggang yang membiru itu.
Gita segera membenarkan posisinya.
"Apa nona pernah mengalami benturan keras di kaki kanan sebelum nya?"
Gita mengaguk pelan.
"Pantasan saja. Kaki nona sangat lemah. Pasti kaki ini pernah tidak bisak bergerak." Kata Arya sambil memegang kaki Gita.
"Dari mana anda tau?"
Arya menatap Gita. "Karna saya seorang dokter."
Gita jadi malu mempertanyakan pertanyaan bodoh.
"Dasar bodoh!" Suara berat namun pelan.
Arya mengeluarkan obat dari tas dokternya.
Botol obat yang mirip dengan yang diberikan Jasson. Dan beberapa obat tablet.
"Ini diminum 3x sehari sampai besok malam. Obat ini untuk meredakan sakit bagian dalam. Dan ini untuk di oles pada bagian luar!"
Gita meraba kasur sebelah kiri botol itu tadi diletakkan disana benar saja botol itu sedikit masuk dalam baju belakang nya.
"Apa ini minyak yang sama?"
"Ya, dari mana nona dapatkan?"
Gita menatap Jasson.
"Itu minyak yang sering dipakai mama jika dia ingin diurut. Aku juga memakainya jika keseleo."
Jadi tadi dia dari kamar mama.
"Baiklah ini tidak perlu di buka." Arya meletakkan minyak yang masih baru itu dinakas dan mengambil minyak yang ada di tangan Gita.
Setelah menuangkan sedikit di tangannya Arya mengsokkannya di kaki Gita secara merata.
"Nona tolong miringkan tubuh anda!"
"Tidak perlu. Biarkan dia sendiri, dia punya tangan." Ucap jasson ketika Gita hendak memiringkan tubuhnya.
"Kenapa? Dia sedang terluka?"
"Sudahlah jika aku bilang tidak ya tidak!"
"Baiklah. Nona ini, nona bisakan mengosongkan nya sendiri?"
Hem
Gita menerima botol itu.
"Sudah kan, sekarang kau boleh pergi."
"Kau mengusir ku?"
Jasson menatap Arya tajam.
"Baiklah Tuan Jasson. Seperti nya anda tidak senang melihat saya menyentuh istri anda. Baiklah saya akan pergi."
Gita menatap Arya dan Jasson sambil menyimak maksud dari kata itu.
"Tak usah berpikir aneh! Cepat pergilah aku masih banyak pekerjaan!"
"Baiklah Tuan Jasson saya permisi. Tolong jaga istri anda dengan baik supaya tidak jatuh lagi. Dan menurut ku malam ini kau tak perlu bekerja di ranjang, ingat istri mu masih terluka!"
"Apa yang kau bicarakan!"
"Tuan Mari saya antar." Ucap Lico agar Arya segera keluar, sebelum Jasson berteriak lebih keras lagi.
Kini ruangan menjadi hening.
"Kenapa menatap ku? Apa kau memikirkan ucapan orang gila tadi?"
Dengan cepat Gita mengeleng.
"Oleskan minyak itu dipinggang mu jangan manja. Kau bukan ratu yang perlu dilayani."
Jasson segera melangkah menuju ruang kerjanya.
Siapa juga yang mau dilayani.
Gita segera menaikkan baju bagian belakang dan menurunkan sedikit celananya lalu mengoleskan minyak itu disana.
"Lama sekali dia kerja ini sudah jam sebelas malam. Aku sudah mengantuk."
Gita menatap jam yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
Padahal Jasson sudah tertidur di ruang kerjanyanya. Karena lelahnya Jasson ketiduran disana.
Astaga jam berapa dia tidur. Apa aku tidur saja. Tapi kalau nanti aku dihukum bagaimana?
Gita mencoba menahan matanya untuk tidak tertutup tapi karena sangat berat dia tidak tersadar sudah masuk ke alam mimpi
Kicauan burung sudah terdengar Gita membuka mata sambil memelas kedua matanya.
"Astaga jam berapa sekarang. Kenapa aku bisa tertidur disini? 04.50 Brigitta memang sudah biasa bagun jam 04.00 tapi kali ini hampir jam 05.00.
Ah, untung masih subu.
Dia dimana apa dia sudah bangun? Mati aku jika dia sudah bangun!"Masih dalam posisi berbaring sambil menatap sekeliling ruangan.
Brigitta dengan cepat mengambil posisi duduk.
"Minyak mujarab, pinggangku sudah mendingan sekarang." Menurunkan kaki dan hendak berjalan.
"Auw... " Kenapa kaki ini masih sakit sih!
Bisa bisanya dia terduduk lagi diatas kasur empuk itu. Namun kali ini dia mencoba pelan. Menahan sakit dan mulai berjalan. Sedikit pincang.
"Dimana Dia?" Berjalan mendekat kearah ruangan yang tidak punya pintu itu. Tepatnya ruang kerja Jasson.
Kenapa tidur disini? Eh, tapi kalau tidur wajahnya sejuk dan damai. Sangat berbeda jika dia bangun seperti monster.
Dengan pelan Gita berjalan menuju kamar mandi. Setelah mandi ia menyiapkan air hangat untuk Jasson.
Keluar kamar mandi memasuki ruangan disebelahnya tepatnya Ruang pakaian samping kanan sebelah pintu sudah memperlihatkan Jas bermacam warna, disampingnya kemeja, dibawahnya celana kerja, desamping bawahnya ada dasi.
Benar benar tersusun rapi. Belum lagi bagian lain penuh dengan lemari kaca hanya bagian bawah lemari yang tertutup tanpa kaca. Itu seperti laci besar dan ada kunci yang tergantung disana.
"Setiap masuk ruangan ini, aku sudah seperti berada di moll saja!" Untungnya kemarin salah satu pelayan rumah ini sudah menjelaskan seluruh bagian kamar besar Jasson. Sehingga Gita tidak bingung lagi untuk mencari kebutuhan Jasson.
Setelah mengambil beberapa pakaian kerja untuk Jasson Gita keluar dari ruangan itu. Meletakkan Pakaian di atas tempat tidur.
"Apa kaki mu masih sakit?"
Gita terkejut mendengar suara itu tiba tiba datang. Sebenarnya sendari tadi Jasson sudah memperhatikan Gita sejak keluar ruangan pakaian.
"Aku tidak peduli jika kaki mu sakit yang jelas kau harus patuhi semua aturan apapun keadaan nya!!"
Apa dia buta. Aku melakukan tugas ku kali!
"Apa kau dengar!"
"Baik Tuan."
Jasson berlalu memasuki kamar mandi. Dengan kaki pincang Brigitta meninggalkan kamar itu.
Kenapa ada sih aturan seperti ini? Kan aku jadi gak tau kapan dia selsai mandi. Astaga.
40 menit berlalu Brigitta mengetuk pintu.
"Masuk." Teriakan dari dalam kamar. Jasson berdiri di meja Rias sambil mengenakan dasinya.
Dengan cepat Gita memasuki Ruangan Pakaian mengembil sepatu dari rak sepatu.
Brigitta menunggu Jasson di sofa.
"Pagi sekali dia berangkat! Inikan masih Jam 6. Apa dia selalu seperti ini? Kalau ia, seharusnya aku bisa bekerja dong!"
"Hei apa yang kau pikirkan. Cepat pakaikan sepatu ku!"
Dengan cepat Brigitta berdiri dari posisi duduknya. Dan berlutut di depan kaki Jasson yang baru saja duduk di sofa itu.
"Nanti rapikan semua buku yang kau berantaki semalam. Gunakan kursi jika tidak sampai!"
"Baik Tuan." Kini Brigitta hendak ingin berdiri namun tangan Jasson lebih dulu mencekam pipi itu.
"Jangan pernah merasa jadi bagian keluarga ini. Dirimu tidak lebih dari seorang pelayan!"
Jason menghempas pipi itu.
"Lihat kesini jangan menunduk! Jangan pura pura lugu." Brigitta mengangkat kepalanya menatap mata tajam itu.
"Apa kau ingat? Kau pernah menampar pipi ini." Tunjuk jasson pada pipih sebelah kirinya. Jelas saja belum ada seorang pun yang menampar pipi itu selain Gita.
Brigitta lah orang yang dengan berani menampar pipi itu secara ringan.
"Bahkan aku bisa melakukan lebih dari itu terhadap mu. Jadi jangan pernah berteriak di hadapan ku lagi. Kau mengerti!!"
Brigitta menunduk
"Baik Tuan."
Jasson segera berdiri dari duduknya.
"Minggir, Aku malas sekali memandang wajah itu berlama lama. Sungguh menjijikkan." Sedikit mendorong lengan gita hingga merubah posisi sebelumnya.
Sabar Gita. Ini sudah biasa bagimu.
Tapi entahlah kenapa rasanya sangat sakit. Mungkin karena Jasson adalah suaminya. Seorang yang sudah menjadi teman hidup.
Saat Jasson mengambil Jasnya dia teringat sesuatu.
"Gadis bodoh kemarilah!"
Dengan cepat Gita berlari.
"Cari benda ini di gudang belakang dan antarkan ke kantor ku! Aku tunggu jam sembilan pagi."
Jasson hendak menarik Handphone yang ia tunjukkan pada Gita.
"Tunggu aku belum lihat jelas Tuan." Kini Gita refleks memegang tangan Jasson mengunakan kedua tangannya.
"Berani kau!" Sesuai peraturan tidak boleh menyentuh pihak pertama.
"Ma maaf tuan saya tidak sengaja."
Gita menarik tangan nya.
"Sekali lagi kau berani menyentuh ku. Makan tangan itu tidak bisa bergerak." Emosian sekali bahkan hanya menyentuh tangan saja Jasson sudah bereaksi seperti itu.
"Dasar wanita Gila!!" Jasson berlalu pergi menuju ruang makan......
To be continued
__ADS_1
π Jangan lupa like and komen ya guys π