Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
39. Aroma Maskulin


__ADS_3

Pagi pagi Morisa sudah membuat keributan di taman belakang Mansion.


" Apa matamu buta? Kau tidak melihat ku sebesar ini, disini?"


"Maafkan aku, tapi aku benar benar tidak melihat mu disana!" Lagian air yang di siram Gita tidak kena, ngampin juga harus marah marah. Salah sendiri kenapa jongkok di balik tumbuh tumbuhan itu.


" Bilang saja kau sengaja iya kan!" Morisa mendekat ke arah Gita.


" Aku benar benar tidak melihat mu!" Gita sedikit menegaskan ucapannya.


" Halah...


Bilang saja kau tidak terima, karena aku tidak menyukaimu. Jangan bangga bisa menikah dengan kakakku! Kau bukanlah tipenya!" Morisa menatap Gita dari kepala sampai ujung kaki.


Menggeleng dan berdecis..


Dia saja tidak menyukai wanita, mana mungkin dia punya tipe wanita idaman!


" Apa!


Kau menatapku seperti itu? Sudah merasa hebat ya! Kau bukan siapa siapa tanpa Keluarga kami! Jadi ngaca diri!" Morisa menyenggol lengan gita kuat dan berlalu pergi.


Emang siapa diriku! Aku tau aku tidak lebih dari seorang pembantu! Tapi tak seharusnya juga dia bersikap seperti itu


Gita melanjutkan aktivitasnya menyiram tanaman, dia tidak terlalu peduli dengan ucapan morisa yang tidak jelas.


..


"Kakak..


Kita jadi kan pergi jalan jalan?"


Tidak ada jawaban. Jasaon masih asik mengetik laptop nya di ruang santai itu.


"Kakak...."


Jasson berhenti sejenak menatap Morisa.


"Nanti, okey!"


Lanjut lagi pada laptop.


"Hem... Pekerja keras bangat sih. Uang udah banyak begitu masih aja susah susah untuk kerja!"


Morisa langsung berlalu dengan wajah bete.


Jasson hanya bisa menggeleng gelengan kepala melihat sikap Morisa.


Morisa berjalan Gontai di tengah jalan ia bertemu lagi dengan...


"Hei, buat kan aku minuman!" Perintah Morisa pada Gita.


Gita seolah cuek dan terus melanjutkan langkahnya.


"Hei, kurang ajar!"


Morisa menarik kunciran rambut Gita kuat.


Sontak tubuh gita juga tertarik mundur.


"Aaah.." mengerang kesakitan.


"Kau tuli? Kenapa mengabaikan ku!"


"Kamu memanggilku?" Gita menarik rambut yang di pegang morisa dan membenarkan posisi berdirinya.


" Kau pikir siapa lagi?"


" Aku punya nama, dan aku kakak iparmu! Dan kamu tidak memanggilku dengan benar!"


Lagian disana banyak pembantu lalu lalang. Jadi Gita gak merasa kalau dia yang dipanggil.


" Kakak ipar? Ha ha ha ha


Lucu sekali aku memanggilmu dengan sebutan itu? Jangan mimpi!"


Gita memandang Morisa lekat.


Benar-benar nenek sihir! Batin Gita saat melihat Morisa tertawa berbahak bahak.


"Cepat ambilkan aku minum! Sebelum aku menjambak rambut mu lagi!"


Morisa mendorong bahu Gita agar cepat melakukan perintah nya.


"Bik..." Panggil Gita melihat satu pelayan wanita yang berdiri di pojok membersihkan guci besar. Gita tidak sengaja melihat pelayan itu menatapnya.

__ADS_1


"Iya Nyonya ada apa?" Tanya nya gemetar. Dia takut jika dia di hukum karena telah mendengar ucapan majikannya padahal tidak sengaja!


" Tolong ambilkan minuman untuk Morisa ya Bi!" Mendengar itu Morisa membulatkan matanya.


"Tanya langsung sama Morisa, dia mau minum apa, oke Bi!" Ucap Gita dan langsung berlalu dengan santainya.


"Wanita kurang ajar!!! Pergi kemana kau! Aku belum selsai bicara! Dan minumanku!! Bawakan padaku!"


Teriak Morisa sekuat tenaganya. Untung saja area itu bagian dapur mansion jadi gak sampe ke ruang utama.


Dasar kekanakan! Dia pikir aku akan takut sama anak nakal sepertinya? Gita tersenyum seringai. Entah kenapa dia sangat berani pada Morisa,,,


"Nyonya anda mau minum apa?" Tanya pelayan wanita itu. Terlihat jelas wajah Morisa kesal masih menatap punggung Gita dari kejauhan.


Tanpa menjawab Morisa langsung pergi dari tempat itu.


"Lihat saja nanti! Kau berani bermain denganku! Kau pikir kau siapa?"


Morisa menggepal tangganya sambil melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Hei.." teriak Jasaon saat melihat Gita yang dengan santainya melewati tanpa menyapa dan senyam senyum sendiri.


Gita tau Jasaon pasti memanggilnya. Segera dia menatap Jasson menetralkan mimik wajah dan berjalan mendekat.


"Iya, suamiku..


Apa ada yang bisa saya bantu?"


"Aku haus!"


Kalo haus ya minum kenapa mengatakan nya pada Gita?


"Anda mau minum apa?" Tanya Gita seolah dia sudah tau jika haus berarti ingin minum.


" Seperti biasa!"


Ucap Jasson kini matanya kembali pada layar laptop di depannya.


"Baiklah..." Gita berlalu.


Tadi, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi kenapa gak jadi? Ucap Gita menebak dari raut wajah jasson tadi.


..


"Suamiku ini minumannya." Gita meletakkan minuman itu di ataa meja.


"Ha, iya?" Gita heran kenapa harus duduk? Jelas jelas Jasson sangat sibuk dengan Laptopnya.


"Apa kau tuli?" Tanya jasson saat gita masih diam berdiri.


Jasson memberhentikan kerjanya menatap Gita tajam dengan cepat Gita menjatuhkan bokongnya di sofa itu.


" Kenapa saya harus duduk disini?" Tanya Gita karena Jasaon masih sibuk dengan Laptopnya.


Jasaon menepuk bahunya menatap Gita.


Gita merasa bingung. Apa maksudnya pikir Gita.


"Kenapa anda seperti itu?" Tanya Gita karena Jasson masih menatapnya dan menepuk nepuk bahunya.


" Tidak peka! Punggung ku ngilut!"


Ya, ngilut? Kenapa harus memberitahu Gita?


Dengan cepat Gita berpikir.


"Maksud anda, saya akan mengurutnya?"Jasson hanya menatap diam.


" Kau tidak bisa?" Tanya Jasaon menatap tajam.


"Aah, bisa! Saya bisa kok!" Ucap Gita gelagapam menatap jasson yang seram.


Gita mendekatkan tubuh kepada Jasaon.


"Suamiku, miringkan badan anda, agar saya bisa."


Ucap Gita mengangkat dua tangganya.


Karena jika dari belakang sofa tidak bisa karena punggung sofa itu sangat tinggi.


Jasson mengangkat kedua kakinya ke atas sofa dilipat nya dengan baik. Gita berdiri, sebelah lututnya berada di atas sofa.


Jasson kembali fokus pada laptop nya sambil merasakan sentuhan dari tangan Gita.


"Kuat kan sedikit, tidak terasa !"

__ADS_1


Padahal aku udah kuat ini!


Gita menambah kekuatannya.


Lumayan pikir Jasaon


55 menit kemudian....


"Tuan, apa sudah?" Tanya Gita karena mulai dari tadi tangan itu sudah lemas, namun jasson tidak memberhentikan nya.


" Belum!" Ucap Jasson masih fokus pada laptop nya.


Astaga sudah berapa lama aku disini! Tenagaku juga sudah lemah? Apa dia masih bisa merasakannya?


Gita memijat mijat punggung itu dari bawah ke atas lalu pada bahu.


Karena sudah lemas Gita memijat punggung bagian belakang itu dengan menutup mata dan tertunduk.


Lelah sekali. Terus memijat.


Tanpa aba aba jasaon segera menurunkan kakinya dan membenarkan posisi duduk.


Dan...


Alhasil gita yang tidak ada tenaga karena berdiri saja dengan sebelah kaki akhirnya dia terjatuh pada dada Jasaon untung aja tanggannya dengan cepat menagkap bahu itu jika tidak dia akan jatuh terpingkal ke tangan sofa.


Wangi sekali aroma tubuhnya.. Gita masih terdiam pada dada itu. Posisinya sungguh sangat tidak jelas. Kakinya saja entah bagaimana posisinya sekarang.


" Bisakah kau membenarkan posisimu!" Jasson menatap ke bawah, tangan kiri menahan badan gita, tangan kanan memegang Laptop. untung saja Laptop itu sudah tertutup. Dan Jasson sangat terkejut melihat Gita dengan santainya menghirup aroma tubuh itu tersenyum.


"Apa kau sangat nyaman berada di pelukan ku?"


Gita dengan cepat membenarkan posisinya.


"Aaaa, kenapa anda tiba tiba memutar badan?"


"Karena aku merasa sudah enakan,"


Jasson dengan santainya menaikkan kedua alisnya.


" Apa kau tidak jadi pergi?"


Oh, iya aku sampai lupa


"Jadi, setelah memijat anda saya akan pergi.


Em, kalau begitu saya permisi."


Gita hendak berbalik tapi dia merasakan sesuatu yang aneh di belakang.


"Apa yang anda lakukan?" Tanya Gita memegang bagian belakang nya. Menatap Jasson dengan wajah tajam.


"Jangan berpikir negatif, aku merapikan baju mu."


Uh, benarkah? Sungguh memalukan!


" Anda tadi melihat apa?" Tanya Gita, maksud nya bagian mana yang terlihat tadi.


"Apa maksud mu?"


"Itu tadi dibelakang ku, em, apa yang terlihat.." Gita memelankan suaranya sambil memegang bagian baju belakang.


Jasson terseyum..


"CD mu!" Ucap Jasson menahan tawa, padahal bukan CD yang terlihat melainkan baju itu agak terlipat ke atas.


Oh my God, memalukan. Seharusnya aku tidak menayangkannya


Gita menundukkan kepalanya.


"Kalau gak salah warna nya tadi.." Ucap Jasson seolah berpikir.


"Uh, tidak perlu..


Saya permisi!"


Gita segera berlari dengan wajah memerah menahan malu.


Jasson tersenyum menatap Gita..


Sungguh Gemas sekali pikir Jasson.


"Cuman CD aja, ekspresi nya sangat aneh. Apalagi jika yang lainnya?" Jasson mengingat wajah Gita yang memerah tadi. masih sangat lucu dipikirannya.


To be continued.

__ADS_1


...❤️❤️❤️...


🍁 Jangan lupa like and vote ya Beste 🍁


__ADS_2