Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
72. Kisah Lampau


__ADS_3

"Ini milikmu, apa kau masih ingat kejadian dimana kau menolong seorang yang menyebabkan dirimu terluka?"


"Kenapa benda ini ada padamu? dan apa kamu bilang tadi? Menolong? Maksudnya?"


Flash Back


14.00 tepat pada hari sabtu.


Brigitta bersama keluarga sedang berlibur di suatu kota.


Bersama kedua saudaranya dan kedua orangtuanya.


"Gita sayang, kamu disini dulu ya, Bunda temani kakak ke toilet. Kamu jangan main jauh jauh."


~Bunda Gita.


Saat itu saudara perempuan/ kakak Gita ingin ke kamar kecil, karena asyik nya Gita dan ayah serta saudara laki laki nya ada dekat diantara Gita mereka bisa yakin untuk meninggalkan Gita di kursi taman itu.


"Baik Bunda, Gita tidak akan main jauh jauh."


Seru Gita terseyum sambil bermain di kursi tersebut.


"Mas, Gitanya di jaga ya! Bunda dan kakak kekamar kecil dulu!"


"Iya Bun, gak papa! Ayah liat kok!"


Balas nya.


Akhirnya Bunda dan kakak(saudara perempuan gita) pergi ke kamar mandi.


Saat asyik nya bermain di taman itu Gita yang masih berumur 7 tahun itu berjalan mendekati seseorang.


Dilihatnya anak yang lebih kecil darinya sekitar 5 tahunan, memegang bunga kesukaan nya, bunga dasiy putih.


Terlihat unik dan cantik yang membuat Gita tertarik ingin menyentuh nya.


Ditengah keasikan Ayah dan saudara laki laki Gita bermain, sampai lupa akan Gita yang sudah berjalan mengikuti anak kecil perempuan yang bergandengan tangan dengan anak laki laki yang umurnya sekitar 10 tahun.


"Bunga cantik." Ucap Gita sambil terus mengikuti kedua orang yang bergandengan tangan di depan Gita sambil membelakangi Gita. Hingga tiba saat menyeberang jalan.


Karena semakin jauh Gita karena langkahnya yang lelet di berlari mengejar. Saat tengah jalan raya itu Anak laki laki dan saudara perempuannya itu menyebrang karena kurang hati hati Hampir mereka ke tabrak.


Dan alhasil ternyata mereka terdorong oleh Gita dan terlentang ke rumput rumput yang ada di depannya.


Dan alhasil Gita mengganti kan mereka untuk menerima bala itu.


Bruakkkkk...


"Bunga dasiy..."


Ucapan terakhir dan akhirnya Gita tak sadaekan diri...


"Kakak.. sakit.." rengek anak perempuan itu karena terlempar ke semak.


Melihat kondisi dadakan Anak laki laki yang mengendong adek tersebut segera berlari mendekat ke arah Gita.


"Hei, bangun..." Mengoncang pipi itu perlahan...


Tampa membuka mata Gita melepaskan gepalan yang berisi mainan kecil berbentuk bunga dasiy tepat pada anak laki laki. Tersebut.


Tak lama karena melihat konsidi yang semakin ramai Ayah serta kakak Gita berlari ke arah kerumunan. Dan alangkah terkejutnya saat melihat Korban nya anak sendiri.


Secepat mungkin mencari pertolongan hingga akhirnya ditangani oleh dokter.


"Kakak.. aku takut.." ucap Gadis kecil memeluk kakaknya.


"Tenang Sa, tidak akan terjadi apa apa."


Memeluk adeknya erat.


Saat ini juga mereka ada di rumah sakit tersebut.


"Kak.. bagaimana jika kita disalahkan...


Aku takut."


"Tidak akan dek, kita harus berdoa supaya dia cepat sembuh. Jangan pikir yang lain lain."


Melihat pertengkaran kecil antara Bunda dan Ayah Gita yang saling menyalakan membuat gadis yang berumur 5 tahun itu memeluk erat tubuh kakaknya.


Sedangkan kedua saudara Gita dibawa pulang oleh asisten rumah tangga supaya tidak menambah keributan pikir sang ayah.


Saat ruang operasi sedikit terbuka di situ kesempatan untuk melihat pasien anak berusia sepuluh tahun dan lima tahun masuk ruangan tak ada yang melihat apalagi orang tua Gita yang masih asik bertengkar.

__ADS_1


"Kak, bagaimana jika mereka marah.."


"Ssttt jangan berisik makanya, ayo pelan pelan."


Sungguh sangat kebetulan ruangan operasi belum berjalan para dokter sepertinya sibuk menyiapkan alat dan lumayan sepi di tempat Gita berbaring.


"Hei.. bangun..


Kamu harus kuat dek. Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa kami." Ucap anak laki laki itu mengelus rambutnya.


Entahlah mungkin memang suatu kesempatan untuk mereka Gita tersadar sebentar.


"Bunga Daisy.."ucap nya pelan.


"Kakak sudah sadar.. lihat.." teriak anak perempuan.


"Pelan pelan Sa.."


"Dek kamu baik baik saja? Mana yang sakit? Maafkan kami.." dielusnya kepala yang masih nampak noda merah.


"Kak.. bunga Daisy nya masih ada?" Tanya Gita pelan.


"Bunga Dasiy? Ya, masih kamu mau? Aku akan bawakan yang banyak untuk mu tapi kau harus sembuh dek."


"Benarkah? Kakak akan berikan itu?"


Hem memanggut setuju.


"Kakak.. mana yang sakit.." tanya Anak 5 tahun.


"Adik imut, kamu baik baik saja kan?"


"Tentu saja, terimakasih ya kakak, udah nolongin kami. Nanti kalo kakak sehat akan aku bawa yang banyak bunga dasiy untuk kakak." Senyumnya memegang tangan Gita.


Aneh sekali, luka separah ini bukannya merasa sakit malah bertannya bunga? Apa bunga itu lebih penting dari nyawa nya? Jasson.


"Kakak Berjanji lah setelah aku pulih kau akan memberikan banyak bunga dasiy padaku."


"Iya kakak janji!"


Disaat itulah pintu operasi terbuka seperti akan segera terbuka dengan segera Anak laki laki itu mengendong adiknya keluar dari ruangan Melalui sela sela sebisa mungkin tanpa ada yang curiga.


Diluar


Kalian gak papah kan sayang..


Kalian kenapa bisa-" segera masuk dalam pelukan. Monik orang tua Jasson berlari segera memeluk anak anaknya.


"Kami baik baik saja mama, mama tau kakak cantik menolong kami. Dia di dia didalam sana, darah banyak sekali mama.." jelas Morisa gagap.


"Astaga kenapa bisa Jas.."melirik ke arah Jasson.


"Tadi ada anak kecil lebih tinggi sedikit dari Morisa yang nyelamatin kami Ma. Dan sekarang dia ada di dalam ruangan operasi."


"Tapi kalian baik baik saja kan?"


"Kami tidak luka ma, hanya tergores sedikit karena kedorong hingga terkejut tadi."


"Ayo, antar mama. Mama mau lihat bagaimana kondisinya sekarang."


"Ayo ma," jasaon dan Morisa segera berjalan menuju ruangan yang akan mereka kunjungi.


"Mana Jas?"


"Tadi orang tuanya disini ma, dan itu ruang operasi nya."


"Tapi kenapa sepi? Lihat lampu tanda operasi sedang berjalan saja tidak ada!"


"Tapi tadi disini ma, iya kan Sa?"


"Iya ma. Tadi disini."


Tiba tiba seorang suster keluar dari ruang operasi.


"Mbak.. Apa operasi nya sudah selsai?" Tanya Monik menghampiri.


"Kalian siapa ya Bu?"


"Kami hem, kami keluarga dari pasien yang baru saja kecelakaan dan katanya akan mengadakan operasi."


"Oh pasien anak kecil itu, dia sudah dibawa oleh Orangtua nya untuk melanjutkan pengobatan di luar negri, karena keadaan pasien sangat buruk. Semua dokter disini angkat tangan untuk menolongnya."


"Astaga... Ya God, tolong selamatkan!"

__ADS_1


"Saya permisi Bu." Ucap suster segera berlalu.


"Ma, tapi kami sempat masuk kesana dan kakak itu sehat dia bicara sama kami. Iya kan kak jas?"


Jasaon yang merasa adiknya sangat ember segera menunduk kikkuk.


"Maafkan Jasson ma, tadi masuk sembarangan ke dalam ruang operasi, tapi tadi kami sempat bicara kok!"


"Bagaimana mungkin bisa bicara orang pasien sangat droup! Kalian jangan ngada ngada. Lebih baik kita pulang. Kita akan suruh papa untuk menyelidiki kasus ini." Berpikir jika ada sesuatu masalah keluarga Lakeswara bisa membantu jika ada yang butuh.


"Kak bagaimana dong bunga dasiy nya?" Tanya Morisa.


"Kakak gak tau. Kita tunggu pemberitahuan dari Papa."


"Aku jadi kasian liat kakak tadi. Banyak darah yang mengalir tapi dia tetap tersenyum. Dia tidak menyalahkan kita kak."


"Kita berdoa saja supaya adik tadi cepat sembuh." Sembari merapikan pakaiannya Jasson melihat benda kecil yang nyangkut di baju itu. Ukiran Bunga Desiy yang sangat unik dan indah.


"Ini pasti miliknya yang tadi. Apa sih yang dilihat dari bunga ini, sampai sampai dia rela nyawa demi bunga ini." mengepal benda lucu yang kecil itu.


Hari semakin berlalu hingga tahun pun berganti namun tak dapat di temukan jejak keluarga Brigitta. Mereka sangat privasi hingga pencarian di berhentikan karena dianggap tidak penting lagi.


Flash off.


"Tapi sekarang kau ada disini kau ada di depan mataku. Lihat ini bunga dasiy yang kujanjikan untuk mu dulu."


"Jadi kakak dan adik yang lucu itu kalian? adik yang memegang bunga dasiy itu Morisa?"


"Iya sayang, terimakasih banyak kamu menyelamatkan nyawa kami. Aku tidak tau ini kebetulan atau memang tidak sengaja, tapi aku sangat bersyukur kau ada disana menyelamatkan kami, saat itu aku berjanji akan membantu mu untuk bisa sembuh dan akan menemani kamu. Namun kau tidak terlihat lagi setelah kami meninggalkan ruang operasi."


Jelas, setelah Dokter yang masuk Pada ruang operasi melihat Gita sudah sangat kritis.


Penangan yang mereka lakukan saja sudah sangat sulit di terima dan setelah persetujuan dari keluarga akhirnya Gita dibawa ke luar negri untuk mendapatkan penangan yang lebih baik.


"kamu tau melihat mu di tengah kesakitan seperti waktu itu membuat ku bertannya tanya, kenapa bisa kamu dengan santai masih menanyakan tentang bunga, apa nyawa mu tidak penting dari bunga itu?"


"Bukan seperti itu sayang, waktu itu aku benar benar sangat menginginkan bunga Daisy, sudah lama aku tidak memegang nya, terakhir kali untuk pemakaman Oma, setelah itu tidak lagi."


"Tapi kan, nyawa lebih penting dari setangkai bunga!"


"Aku tau, namun aku tidak mungkin membiarkan dua nyawa sekaligus melayang bukan? Apalagi adik kecil waktu itu sungguh menggemaskan mungkin kah aku menonton aksi kecelakaan tanpa berniat membantu?"


tidak bisa berucap lagi. Jasson memeluk tubuh Gita dalam dekapannya.


"Aku tau itu, kamu memang sangat baik. Maafkan aku selama ini aku banyak melakukan kesalahan dan menyakiti mu. Tolong izinkan aku untuk memulai rumah tangga yang baik tanpa adanya kebencian dan saling merendahkan. Kamu mau kan memaafkan aku?"


Jasson melepaskan pelukannya dan memandang Gita lekat.


"Aku memafkan mu, jujur saja setelah kau berbuat baik akhir akhir ini aku merasa sosok yang berbeda muncul. Dan aku sangat menyukai itu. Aku senang bahkan sekarang kau sudah bisa mengakui kesalahan mu! Terimakasih sayang." Gita kembali memeluk Jasson.


"Bagaiman dengan Janji ku dimasa lampau tentang bunga Dasiy. Lihat apa ini sudah cukup?


Gita mengangukkan kepalanya tersenyum.


"Apa aku bisa bawa bunga ini beberapa ke mansion sayang?"


"tidak perlu sayang."


"Kenapa? Aku menyukainya!" ucap Gita sedikit sedih.


"Biarkan taman ini cantik dan indah seperti mu. Jangan merusaknya."


"Aku tidak berniat merusaknya aku hanya ingin sedikit saja." ucapnya sedih lagi.


"Jika kamu ingin kamu bisa memiliki nya. Aku sudah menyuruh orang suruhanku untuk membawakannya ke mansion. Kamu bisa lihat sendiri nanti." Ucap Jasson tersenyum.


"Benarkah?"


"Ya, aku tidak mungkin membohongi Istri ku yang sangat cantik ini." Jasson mengeratkan pelukannya di pinggang Gita.


"Sayang, apa kau tidak risih sedekat ini?"


"Tidak, aku menyukainya." Jasson mengecup Pipi gita beberapa kali.


jelas hal itu membuat pipi itu bersemu merah.


Waktu semakin larut hingga akhirnya kedua Insan berencana untuk pulang kembali ke mansion.


Apalagi mengingat malam ini akan ada acara pesta yang di adakan di hotel yang baru di resmikan milik Lakeswara Group.


To be continued 🌷


Maaf buat semuanya πŸ˜’πŸ™

__ADS_1


Author baru hadir sekarang....


__ADS_2