
Pintu kamar mandi terdengar tertup ternyata Gita sudah selsai mandi. Dia menatap ruang utama kamar itu Jasson tidak ada dia berjalan menuju ruang pakaian di sebrang sana. Dia tidak tau Jika Jasson menetap punggung Gita yang berjalan memasuki ruang pakaian menggunakan Handuk selutut itu.
"Apa dia gila. Ngapain dia berjalan dengan santai menggunakan handuk itu. Apa dia tidak lihat aku disini?"
Jasson memperhatikan Gita dari atas sampai bawah hingga tubuh Gita sudah tak terlihat karena pintu ruangan pakaian itu di tutup.
Gita keluar dengan piyama tidurnya. Sesekali mengosok rambut itu dengan handuk. Matanya langsung membulat saat melihat Jasson menatapnya tajam.
Apa sedari tadi dia disana? Kenapa? Apa yang dilihatnya, kenapa tatapannya sangat aneh?
Gita mencoba tidak melihatnya dan berjalan ke arah ruang rias.
Sedangkan Jasson terus saja menatap. Sampai Gita duduk di depan cermin itu. Gita mulai mengeringkan rambutnya namun dia ingin sekali melirik ke samping apa jasson masih .
menatapnya.
Gita segera tertunduk dan segera berlalu ke arah yang tidak terlihat dari ruangan Jasson.
Namun...
"Kemari!!" Jasson sedikit berteriak.
Untuk apa dia memanggilku?
"Iya Tuan, Apa anda membutuhkan sesuatu?"
Jasson tersenyum. Hal itu membuat Gita semakin menjadi gila. Benar dia Takut setengah mati.
Apa itu, dia tersenyum?
"Aku haus.." Ucapnya sambil mengusap keroncongan.
Gita mengerutkan keningnya.
"Ah, ia baik Tuan saya akan ambilkan." Gita segera beelalu. Dipikirannya Jasson pasti menginginkan teh hijau.
Secepat kilat ia membawa teh itu.
"Ini Tuan.." Gita meletakkan teh itu di atas meja Jasson.
"Kenapa ini? Apa tadi aku meminta teh hijau?" Jasson memandangi Gita.
"Em, bukannya anda biasanya meminum ini?"
"Ganti. Aku ingin minum es." Gita mengaguk dan keluar dari kamar.
"Astaga aku lupa. Dia mau minum es apa?"
Gita kembali ke kamar.
"Tuan anda mau minum es apa?"
"Es jeruk sepertinya enak?..."
"Baiklah aku akan ambilkan." Belum sempat Jasson melanjutkan ucapannya Gita sudah pergi dari kamar itu.
"Ini tuan minuman anda." Ucap Gita sedikit ngos ngosan.
"Mood ku tidak baik. Bukankah minum es tidak baik malam malam? Aku ingin cofe saja." Ucap Jasson lagi.
"Tuan.. Apa anda mengerjai saya?" Spontan Gita bertannya padahal tadi ia akan bicara dalam hati. Dengan cepat Gita menutup mulut.
"Eum, Tidak aku tidak mengerjai mu. Ini hanya hukuman untuk mu." Kata Jasson sambil hendak berdiri.
Hukuman? Apa karena aku pulang telat?
"Aku akan ambilkan cofe untuk Tuan." Ucap Gita saat Jasson sudah hampir mendekat ke arahnya. Segera gita beelari meninggalkan kamar itu.
Jasson hanya bisa tersenyum melihat tingkah itu. Namun ia langsung tersadar dan duduk kembali pada kursinya.
__ADS_1
Menatap map yang diberikan Lico tadi.
Terlihat jelas kevin menatap aneh pada map itu. Sedikit menggepal tangganya namun segera redah saat terdengar langkah Gita mendekat.
"Tuan ini cofe anda." Gita menaruh cofe itu di atas meja.
"Lain kali jangan mengulangi kesalahan! Jangan membuatku marah. Kau tau aku bahkan lebih kejam dari yang kau pikirkan!!" Ucap Jasson sambil membuka laptopnya.
Aneh sekali padahal sebelumnya sifat Jasson biasa saja tapi setelah membaca map itu dia jadi bersikap judes lagi..
Apa sebenarnya isi map itu? Identitas siapa yang ada disana??
"Baik Tuan. Terimakasih.." Gita segera pergi keluar kamar dia berencana akan pergi ke ruang musik. Namun di tengah jalan, langkahnya terhenti saat melihat monik yang baru saja keluar kamar.
"Mama. Mama mau kemana?" Ucap gita menghadang jalan Monik beserta pelayan yang memegang kursi roda.
"Mama mau ke teras sebentar."
"Udah malam ma. Ngapain kesana? Kan dingin."
"Hanya sebentar, mama gak bisa tidur."
"Em, Gita temani ya ma?"
Monik hanya menganguk setuju.
"Bi, biar saya aja yang antar mama. Bibi boleh pergi." Ucap Gita tersenyum sambil mengambil ahli mendorong kursi roda itu hingga keteras. Tepat di samping mension itu ada lamapu yang terang berbaris disana sangat indah.
"Gita.."
"Iya ma." Gita berjalan ke hadapan monik dan berjongkok di depan kaki itu. Di teras itu hanya ada Monik dan juga Gita. Pelayan yang tadi berada disana sudah pergi karena Perintah Monika.
"Mama sudah banyak dengar dari pelayan mansion... Hubunganmu dengan Jasson tidak baik ya?"
Gita mengerutkan keningnya, kenapa Monik tiba tiba menanyakan hal ini?
"Hubungan Gita dengan Jasson baik kok ma." Ucap Gita sambil tersenyum gentir.
Gita terdiam. Dia tidak mungkin berbohong lagi.
"Tadi kamu dari mana Gita?" Tanya Monik.
Gita melebarkan matanya.
"Aa, tadi Gita dari makam Orangtua Gita ma." Ucap Gita jujur.
"Kenapa pulang dengan keadaan terluka. Lihat tanganmu!"
"Tadi aku tidak sengaja bertemu preman di jalan ma......."
Gita menceritakan semua yang dia alami pada Monika.
"Kamu tidak kenapa napa kan?" Terlihat jelas wajah panik monik setelah mendengar ungkapan Gita.
"Tidak ma. Gita baik baik saja."
"Gita bisakah mama meminta bantuan mu?"
Saat Monik sudah tenang dia melanjutkan pembicaraan lagi.
"Tentu saja ma. Gita akan membantu mama."
"Apa kamu yakin?" Ucap Monik lagi.
Gita hanya tersenyum lebar dan mengguk.
"Mama ingin kamu menaklukkan hati Jasson. Mama sangat tau bagaimana Jasson, dia tidak pernah tertarik pada wanita, dan mama pikir hubungan kalian bisa seperti ini mungkin karena itu"
Mana mungkin. dia saja memiliki kekasih? Tadi mama bilang dia tau semua,
__ADS_1
tapi kekasih jasson yang jelas Jelas datang menemui nya saja dia tidak tau.
"Gita.." monik memegang tangan Gita.
"Em,mm"
"Mama tau kamu juga pasti tidak mencintai jasson kan? Tapi seorang yang sudah memiliki ikatan. Haruslah menumbuhkan cinta agar pernikahan itu bisa bertahan. Jika tidak ada cinta mama takut akan terjadi hal yang tidak mama inginkan."
"Ma, Jujur saja saat berada di dekat Jasson aku sangat takut. Bagaimana caraku menaklukkan nya? Gita pasti tidak bisa ma."
" Mama paling tidak suka dengan jawaban seperti ini! Kamu belum mencobanya tapi sudah menyerah."
Mama tidak tau saja bagaimana jantung ini selalu meluap saat di dekatnya. Lebih baik aku mati dari pada menaklukkan nya. Itu sama saja aku memberikan hidupku untuk di tekram secara terang terangan.
"Gita kenapa diam?"
"Apa tidak ada yang mau mama sampaikan lagi?" Gita mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Gita kau belum menjawab mama. Bukankah tadi kau bilang kau akan membantu mama?"
Gita berpikir lagi.
"Tapi bagaimana caranya ma. Menyentuh sedikit saja aku pasti akan di marahi."
"Benarkah? Apa Jasson sekejam itu padamu?" Tanya Monik tidak percaya dia pikir Jasson hanya diam saja selama ini dan tidak terlalu peduli.
"Mama akan menghukum nya sekarang!!" Monik menampakkan wajah emosi.
"Jangan ma jangan." Gita memegang tangan itu.
"Dia benar benar kurang ajar. Mana mungkin memegang sedikit dia marah jadi apa yang kalian lakukan selama ini?
Sekarang Mama mau tanya apa selama ini kalian belum pernah...?
Gita mengerti kemana arah pembicaraan ini dia segera menggeleng.
"Gita.. gita. Jangan bilang kalian tidur terpisah!" Gita menggaguk.
"Astaga.. mama sudah habis pikir dengan kelakuan kalian. Bagaimana mungkin bisa? Jasson benar benar bengkok. Apa dia tidak tertarik dengan tubuh indahmu ini?"
Gita menggeleng.
Monik lagi lagi menghela nafas.
"Sudahlah, antar mama ke kamar. Kepala mama tiba tiba pusing." Monik menekan pelan kepalanya.
Gita dengan hati hati mendorong kursi roda itu memasuki kamar Monika.
Dengan bantuan Gita Monik menyandarkan tubuhnya di atas kasur besar itu.
"Mama istirahatlah, Gita mau balik ke kamar."
Gita hendak berbalik namun Monik menahan tangan itu.
"Berjanjilah pada mama. Kau harus menaklukkan hati Jasson. Kau harus membuktikan bahwa Jasson benar benar laki laki atau tidak." Ucap Monik.
"Laki laki atau tidak? Maksud mama?"
....
To be continued
π *Jangan Lupa Vote sebanyak banyaknya dan Juga Follow ya Beste*π₯° π
.
.
.
__ADS_1
*Sampai jumpa π*