Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
54. Pulang?


__ADS_3

"Tidak, masalah Jas! Kita akan coba lagi!"


Ucap Janes menyemangati Jasson padahal hatinya juga sedikit kecewa.


Jelas saja 3 kali berturut-turut Kevin dan Aditya Yudayana memenang kan proyek kerja sama.


"Tidak Pa, Jasson tidak apa apa. Ini hanyalah hal biasa bukan? Mungkin di lain waktu kita bisa!" Ucap Jasson.


"Baiklah kau bersiaplah, nanti sore kita akan pulang!"


Janes berdiri dari duduknya melangkah ke luar dari ruangan Jasson.


Sudah dua minggu mereka disana dan hanya satu perusahan yang bisa mereka tangani. Itu adalah perusahaan no 1 di Negara tersebut.


"Tuan ini data data yang tuan inginkan!" Lico menyerahkan map pada Jasson.


Jasson membaca serta melihat beberapa lembaran photo disana.


"Aku benar benar tidak bisa mengerti jalan pemikirannya. Sungguh bodoh!" Jasson melemparkan berkas tersebut.


"Ini Tuan!" Lico menunjukan rekaman vidio pada Jasson.


"Kurang ajar!"


"Siapakah semuanya! Kita akan pulang sekarang!!"


"Tapi, tuan jadwal penebangan anda sore!"


"Jika aku bilang sekarang, ya sekarang! Apa perlu aku sendiri yang melakukannya?"


"Baiklah Tuan, saya akan siapkan!"


..


"Kerja bagus semua.


Perusahan kita sekarang sudah jau lebih baik. Semua produk yang dipromosikan laris dan jadi produk terkenal di kota ini. Aku sangat bangga atas kerja kalian semua."


Terlihat wajah yang ceria dan bahagia. Jelas saja sepertinya Gita membawa keberuntungan di kantor tersebut.


"Untuk merayakan ini. Kita akan adakan pesta malam ini! Saya harap semuanya akan hadir. Saya tidak suka jika ada yang menolak. Baiklah sekarang kalian bisa lanjutkan pekerjaan masing masing." Bram sebagai sekertaris Edandi segera pergi dari sana setelah mengatakan itu.


"Gi, apa nanti malam kau akan pergi? Kamu dengar tadi kan kalau kita wajib datang!"


"Lihat nanti saja Jen, jika aku bisa. Aku akan datang."


"Aku berharap kau bisa datang Gi!"


Jeni menepuk punggung Gita dan berlalu pergi.


Gita melanjutkan pekerjaannya, namun sedikit tidak fokus.


Ah untuk apa juga ia khwatir, Jasson juga masih belum ada tanda tanda pulang dari negara C. Lebih baik dia ikut saja.


Pikir Gita sedikit tersenyum.


..


"Gi, pulang barang yuk!" Ajak Jeni.


"Aku pulang sendiri saja Jen, udah ada supir yang jemput juga."


"Hem, nanti datang ya! Aku akan tunggu okeh!"


"Pasti!" Ucap Gita terseyum dan berlalu memasuki mobil.


Tak selang waktu akhirnya dia memasuki mansion itu. Berjalan santai sambil menenteng tas selempang.


Ceklek pintu itu terbuka Gita segera menutup nya sambil tersenyum Santai memasuki kamar. Tiba tiba langkah Gita terhenti. Aneh saja rasanya ada seorang yang memperhatikan nya sedari tadi.


Gita memutar kepala menatap ke arah meja kerja Jasaon.


Hikk tiba tiba cegukan.


Terkejut entahlah ini sungguh sangat tidak terencana. Gita tidak tau lagi mengambil sikap yang bagaimana.


"Jam berapa sekarang! Apa kau sudah puas bekerja? Apa kau sungguh sangat hobi untuk membuat ku marah?"


Jasson berdiri dan berjalan mendekat ke arah Gita.


Jujur saja dia sedikit merindukan Gita. Hanya sedikit okeh!


"Kenapa Anda disini? Kapan anda kembali?" Gita melototkan matanya tak percaya.

__ADS_1


"Kenapa? Kau tidak senang aku kembali! Bahkan kau tidak pernah menanyakan kabarku! Dan kau fokus pada pekerjaan? Berani sekali kau! Bahkan tidak meminta izinku!"


Apa? Jadi Morisa tidak? Ah anak itu.


"Kenapa kau sangat bodoh!!


Bisa bisanya kau di tipu oleh bocah kecil!"


Gita mengerutkan keningnya.


Bocah kecil.


"Aku tau apa yang kau alami selama ini, dan hubungan mu dengan Morisa! Aku diam bukan berarti aku mengizinkan mu ini itu!" Tapi Jasaon hanya ingin melihat seberapa pintar Gita melawan morisa. Apa dia bisa atau tidak! Jujur saja selama ini Morisa sudah dapat tanda merah di buku Jasaon.


Apalagi dulu saat tau Morisa hampir menjual Gita, saat itu sebenarnya para suruhan Jasson mengawasi Gita. Selalu ada orang yang mengawasi Gita Apapun yang dilakukan Gita. Jasson tau semuanya, mana mungkin dia diam saja tentang keluarga dan orang yang dekat di sekelilingnya.


Jadi dia tau apa yang kulakukan? Jadi saat aku jatuh dari tangga? Ah pasti pelayan sudah memberitahu pada Jasson.


Pikir Gita.


"Kau sudah di tipu Morisa Bodoh!!" Jasson mencentilkan jari di kening Gita yang bengong.


Terasa sakit namun Gita tahan.


"Kenapa kau bekerja! Aku sudah melarang mu keluar mansion. Kenapa kau keluar!"


"Aku hanya ingin mewujudkan impian ku!"


"Sekarang tugas mu bukan bekerja, aku bisa membayar mu lebih dari gaji ya kau dapat! Sekarang, kau seorang isteri! Kau harus nurut dan mematuhi ku!"


Bukan karena Bayaran, namun gita memang sangat menyukai kerjanya ini.


"Tinggalkan pekerjaan mu!" Ucap Jasson dengan santai nya.


Astaga dia Tidak berpikir satu kali saja. Orang juga menginginkan sesuatu. Terkadang mimpi kita gagal, namun jika diberi kesempatan kedua yang jelas terbuka lebar. Apa dia harus menyia-nyiakannya? Itu tidak mungkin lagi.


"Maaf, tapi anda tau surat tentang peraturan itu sudah di robek bukan? Dan tidak berlaku lagi, sejak anda menyentuh saya suamiku! Bukannya waktu itu anda berkata tidak ada peraturan paksaan lagi? Yang penting berarah ke jalan positif?"


Ucap Gita menegaskan! Karena Jasson pernah berkata tidak ada lagi peraturan!


"Tapi aku sudah bilang jika menginginkan atau melakukan sesuatu harus izin denganku atau beritahu aku lebih dulu? Tapi kau sama sekali tidak melakukan itu."


"Aku sudah lakukan! Morisa meminta agar di yang menghubungi Anda!"


Gita berpikir keras melihat jam di pergelangan tangan sudah 19.00.


Tiga puluh menit lagi acara pesta akan berlangsung!


"Suamiku, mungkin Morisa lupa! Tapi tolong izinkan saya bekerja. Ini adalah mimpi saya. Saya akan atur waktu agar tidak terhalang untuk melakukan kegiatan ku sebagai istri untuk mengurus kebutuhan anda."


Jasaon menatap Gita.


"Kenapa kau terus memandangi jam tangan mu? "


"Em, apakah aku bisa pergi malam ini? Kami memenangkan kerjasama tadi. Dan merayakannya keberhasilan. Apa saya bisa ikut pergi suamiku!" Ucap Gita memohon.


"Bahkan aku belum mengizinkan mu bekerja! Kau sudah meminta pergi lagi! Apa maksud mu! Kau benar benar tidak merindukanku? Bahkan kau tidak menanyaiku sedari tadi! Apa pekerjaan mu lebih penting dariku!!" Jasson menarik pinggang Gita mendekat.


"Jawab! Jangan diam saja."


Apa yang harus ku katakan.


Sebenarnya aku tidak merindukannya. Bahkan aku lebih nyaman hidup tanpanya.


Gita menatap Jasson.


"Apa yang harus aku katakan?"


"Apa!!!" Gita pasti sudah gila bisa bisanya di berkata seperti itu.


"Apa pekerjaan anda berjalan lancar? Anda dua Minggu lebih disana, apa mungkin ada kesalahan?"


Gita mencoba memilih pertanyaan.


Sedikit gugup sih dipandangi oleh pria yang beberapa hari ini tidak bersamanya.


"Hanya ini yang ingin kau katakan? Apa tidak ada yang lain?"


Apa lagi yang harus aku katakan. Apa aku harus berbohong.


"Aku merindukanmu, apa anda baik baik saja disana? Bagaimana dengan kebutuhan anda? Apa semuanya aman? Anda baik baik saja kan?" Ucap Gita selembut mungkin dan terseyum.


"Anda bertambah tampan saja pulang dari negara C." Tambah Gita.

__ADS_1


Dia pasti kekurangan kata kata saat ini. Ingin sekali ia memaki diri sendiri yang tak tau dirinya mengatakan hal aneh seperti itu.


"Benarkah? Kau merindukanku?" Tanya Jasson sedikit tersenyum. Dan malah mendekat wajah pada Gita dan mengecup bibir itu singkat.


"Kau, sudah pandai merayu sekarang?" Jasson terseyum memindahkan tangganya di belakang leher gita dan kembali mengecup bibir itu berkali kali.


Aku sudah pasti Gila, kenapa tubuh ku tidak bisa melawan kenapa aku ingin dia lebih melakukan nya. Aku benar benar tidak sehat sekarang! Ku mohon Gita sadarlah!


Tangan gita melingkar di leher Jasson. Membalas ciuman dari Jasson yang semakin panas.


Jasaon sesekali mengecup tengguk itu. Tanpa sadar gita mengeluarkan ******* yang aneh.


"Ah tidak, oh tubuh. Tolong! Jangan seperti ini!" Terlintas di pikiran Gita! Pesta!!


"Suamiku.." ucap Gita selembut mungkin.


"Saya, ingin membersihkan diri. Sangat gerah!" Ucap Gita menatap Jasson yang sudah berhenti melakukan tingkah anehnya.


Jasson tersadar. Melepaskan pegangannya.


Mengisyaratkan pergilah katanya.


Gita segera berlalu ke arah kamar mandi.


Jelas sekali dari wajah Gita Jasson tau jika Gita tidak merindukannya.


Jasson hanya menampakan wajah datar dan kembali duduk di ruang kerjanya.


..


"Gita mana jen? "


Tanya Efandi yang melihat Jeni masuk sendiri.


"Saya tidak tahu Pak. Tapi dia sudah bilang akan datang!" Ucap Jeni terseyum dan beralih ke tempat lain.


Ya ampun, kupikir dia sudah sampai! Jika Gita tidak datang aku tidak tau lagi. Bersikap bagaimana!"


.


" Suamiku, Izinkan saya pergi sebentar menghadiri pesta! Saya mohon."


Jasson menatap Gita.


Sungguh dia ingin sekali memarahinya namun ada bisikan lain yang mengatakan jangan marah.


"Aku izinkan tapi kau harus kembali sebelum pukul 22.00"


Gita tiba tiba tersenyum full tanpa paksaan.


"Aah, trimakasih suamiku!" Ucap Gita langsung berlalu ke ruang pakaian menganti piyama nya dengan dress selutut.


Berjalan keluar dengan hati hati menuju meja rias. Menggunakan mekup tipis memakai sepatu heels nya. Dan berjalan mengambil tas ala pestanya.


Terlihat cantik natural. Hingga jasson yang memandang sedari tadi terpaku sendiri.


Tidak pernah dia melihat Gita dengan rasa seperti ini. Biasanya secantik apapun Gita dia pasti akan menghinanya namun lihatlah kali ini Jasson berjalan mendekat ke arah Gita.


"Apa kau ingin menggoda laki laki di luar sana? Kenapa kau berdandan seperti ini?" Gita mengerutkan keningnya. Pakaian yang di pakai gita terlihat formal dengan lengan panjang. Rambut terurai apanya yang menggoda pikir Gita bertannya tanya.


"Kenapa anda berpikir seperti itu?"


Mekup gita saja sangat tipis.


"Jika kau pergi! Aku akan ikut, aku tak ingin kau menyebarkan rumor setelah kau pulang!"


Ucap Jasaon antusias.


"Tapi ini acara..."


"Aku tidak peduli! Tapi jika kau tidak ingin aku pergi. Kau juga tidak boleh pergi!"


Astaga! Kenapa dia bertingkah seperti anak kecil sih!


"Baiklah, tidak masalah!"


Jasson menyambar Jaket kulitnya dan berjalan lebih dulu keluar kamar.


"Muda mudahan tidak ada masalah. Semoga saja dia tidak membuat masalah nanti. Aaaa aku pasti sedang bermimpi!"


Gita sedikit berlari mengejar Jasson yang sudah tak terlihat lagi.


To be continued 🌷

__ADS_1


Jangan lupa like and vote ya Beste 🤩


__ADS_2