Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
14. Pertemuan


__ADS_3

Untuk apa dia melakukan ini padaku.


Apa karena aku sangat jelek di matanya?


Saat ini kondisi gita sedang di pijat menggunakan lulur.


Baru kali ini ia merasakan perawatan Lengkap mulai dari rambut wajah dan seluruh bagian tubuh lainnya.


Setelah Gita selasai melakukan perawatan ia disuruh duduk di depan meja rias, terdapat kaca besar disana.


"Apa yang akan anda lakukan." Brigitta menutup kedua pipinya menggunakan telapak tangan nya.


"Untuk apa kalian merias wajahku."


"Nyonya ini perintah Tuan muda. " Kata Asisten pribadi Gita.


Untuk apa aku disuruh merias wajah di rumah? Apa dia gila?


"Nona buka tangganya. Supaya pekerjaan kami cepat selsai." Wanita itu menarik tangan Gita pelan.


"Jangan terlalu tebal kak! Bedak sangat panas di wajahku."


"Tenang Nona, kami akan melakukan yang terbaik untuk anda."


Kini wajah itu sudah tampak cantik dengan polesan mekup yang natural.


Rambut gita di luruskan.


"Untuk apa Anda meluruskan rambut ku? Apa rambut ku sangat jelek?" Tanya Gita sambil menatap dari kaca.


"Supaya lebih cantik Nona."


"Apa rambut ku jelek?"


"Tidak Nona rambut anda cantik. Tapi saya hanya mengubahnya supaya penampilan Anda sedikit berbeda."


...


"Nona mari ikut saya!"


"Mau kemana lagi? Bukankah sudah selsai?" ucap Gita ketus. Mulai dari tadi ia harus menuruti semua perkataan orang orang itu.


"Apa mungkin nona akan menggunakan handuk itu?" Astaga Gita lupa jika ia sekarang menggunakan baju handuk.


"Nona pakailah ini!" Wanita itu memberikan dress pink susu dibawa lutut.


"Untuk apa aku menggunakan pakaian ini di rumah? Bukankah Ini pakaian pesta?"


"Benar nyonya Ini pakaian pesta! Anda akan ke pesta malam ini." Ujar asisten pribadi Gita.


"Apa! Ke pesta? Untuk apa aku ke pesta?" Tanya Gita kaget.


"Untuk menemani suami anda Nyonya."


Suami. Sangat lucu dia saja tidak mengangapku sebagai isterinya.


"Nyonya pakailah ini segera. Waktu terus berjalan."


Gita meraih dress itu dan berlalu ke dalam kamar Ganti yang ada dalam kamar tersebut.


"Tuan mobil anda sudah siap." Kini Jasson sudah mengenakan jas hitam dan tengah duduk bersantai di atas sofa Kamarnya.


"Hem, tunggulah 5 menit lagi." Ucap nya sambil melirik arlojinya.


Tok tok tok


"Masuk!"


"Permisi Tuan. Nyonya mudah sudah selsai di dandan. Nyonya sudah menunggu di lantai bawah."


Jasson melangkah kan kakinya keluar kamar.


Sampai di bawah, Gita sudah menunggunya di depan pintu kamar bersama beberapa tukang spa tadi.


Jasson menatap Gita dari atas sampai bawah. Itu membuat Gita merinding dan merasa takut akan pandangan Jasson.


"Lumayan," ujarnya dengan raut wajah datar setelah itu dia langsung melangkah keluar tanpa mengajak Gita.


"Nyonya ayo ikut saya!" ucap Lico. Gita mengangukkan kepalanya dan mulai melangkah.


Saat ini mereka berada di dalam mobil suasana semakin dingin saja. Tidak ada percakapan di dalam, mulai dari mobil itu berjalan sampai perjalan yang sudah menempuh 3 kilo dari mansion. Jasson masih asyik dengan handphonenya sedangkan Lico fokus menyetir.


Astaga canggung sekali. Gita sesekali melirik Jasson kesamping.


"Kenapa!" Suara berat itu sukses membuat Gita terkejut.


Jasson mematikan Handphonenya lalu menatap Gita tajam.


God bantu aku. Batin Gita sembari menelan salivanya dengan tatapan fokus ke depan.


"Kenapa kau menatapku?" Jasson mulai dari tadi merasakan Gita selalu meliriknya dan menatapnya sekilas.


"Kenapa diam? Apa ada yang ingin kau tanya?" Jasson menarik badannya dari posisi berbaring di kepala kasur. Dia menarik dagu Gita menghadap pada wajahnya.


"Sedikit lebih baik, tapi tetap saja kau terlihat jelek! Kenapa ada wanita jelek seperti mu?" Mungkin mata Jasson benar benar Gelap hingga ia tidak bisa melihat Gita yang tampak bersinar cantik saat ini.


"Ingat! Di pesta nanti jangan membuat masalah. Jangan sampai kau mempermalukan ku, apa kau mengerti?"

__ADS_1


Jasson menarik tangganya dari dagu lembut itu. Gita segera menganguk setuju menunduk kan kepala nya.


Lico segera membukan pintu yang ada di samping Jasson, saat mereka telah sampai di halaman depan gedung tempat acara pernikahan. Disana sudah ada karpet merah yang menyambut setiap tamu undangan penting.


Segera jasson turun dan diikuti oleh Gita yang juga turun dari pintu yang sama.


"Gandeng tanganku!" Ucap Jasson pelan mendekat ke telinga Gita sambil memberikan lenggangnya. Gerakan itu membuat orang orang tersenyum tidak jelas mungkin saja baper....


Gita sedikit takut namun ia segera merangkul lengan itu dan mulai berjalan menginjak karpet merah.


Tibalah mereka di dalam Gedung itu Jasson dan Gita saat ini tengah menjadi pusat tatapan di Gedung itu. Ya, jelas saja tamu tamu yang tidak tau Jasson menikah segera membuka suara kemana kemari.


"Benar benar Jasson? Dia bersama wanita? Apa dia Jasson?"


"Dia isterinya? Sangat cantik bukan?"


"Jasson sudah menikah? Kapan? Kenapa tidak ada rumornya? Kenapa tidak di publikasikan di sosial media?"


"Yuuu, baru tau Jasson semanis itu mengandeng tangan wanita."


Masih banyak lagi yang lain


...


"Tuan Jasson. Terimakasih atas kedatangan anda. Kehadiran anda adalah suatu kehormatan bagi keluarga kami!" Ucap pengantin pria itu. Aneh sekali, bukannya Jasson yang mendekat tapi pengantin nya yang sedikit lari menghampiri Jasson lebih dulu.


"Selamat atas pernikahan anda!" Jasson menyalim tangan pengantin pria itu.


"Isteri tuan terlihat sangat cantik!" Ucapnya menatap Gita tersenyum.


"Terimakasih," ucap Gita tersenyum Gita mengulurkan tangannya kepada pria itu.


"Selamat atas pernikahan anda Tuan!" Kata 'Tuan' sukses membuat pria itu melototkan matanya.


"Terimakasih." Ucapnya sedikit melirik Jasson, namun jasson tidak bereaksi apa apa.


"Sayang... Kamu ngapain disini? Sebentar lagi acara akan mulai." Ucap pengantin wanita yang langsung merangkul tangan pria itu. Dan menatap orang yang bicara dengan calon suaminya itu.


"Tuan Jasson?"


Wanita itu membolakkan matanya menatap jasson dan wanita disebelahnya.


"Terimakasih Tuan atas kehadiran anda." Ucapnya sedikit menunduk. Dia jadi sedikit malu bersikap manja di depan calon suaminya tadi.


Apa harus seperti itu. Kenapa mereka sangat takut sekali menatap Pria ini? Gita menatap Jasson sekilas.


"Tuan Jasson, kami kesana dulu. Silahkan anda nikmati makanan yang sudah kami sediakan." Ucapnya sedikit menunduk lalu pergi.


" Jasson!!" Seorang sedikit berteriak memanggil nama itu.


"Sudah lama sekali. Kamu tambah cool saja bro!" Jasson hanya tersenyum. Dia juga merasa rindu dengan temannya yang satu ini.


Apa dia tersenyum?


Pemandangan ini tidak pernah ada sebelumnya, Gita tidak pernah melihat senyum setulus itu.


"Wao, apa ini kekasih mu?"


Pria itu menatap Gita tersenyum.


"Dia Isteri ku!" Kata jasson menatap Gita.


Gita terkejut dan menatap Jasson.


Isteri? Bukankah aku hanya seorang pelayan baginya?


"Isteri? Kapan kau menikah? Bahkan kau tidak mengundangku! Mungkin kah kau melupakan ku?"


"Mungkin." Ucap jasson sambil tersenyum.


laki laki itu hanya mendengus sambil menatap Jasson menggunakan mata sipit.


" Isteri mu sangat cantik!"


Mata pria itu tidak henti menatap Gita.


" Perkenalkan nama ku Chandra ." Chandra mengulurkan tangannya.


"Brigitta.." balas Gita menyalim tangan itu.


Sambil tersenyum. Semua itu tidak luput dari pandangan Jasson.


"Bro aku kesana dulu!" Pamit nya sambil tersenyum.


"Untuk apa kau ikut tersenyum. Jangan merasa hebat, di bilang cantik!" Jasson berlalu meninggalkan Gita menuju kearah meja makanan disana. Ia mengambil segelas wine.


Dia menghancurkan mood ku saja!


Gita berbalik berjalan ke arah yang berlawanan.


Brukkkk


Gita tidak sengaja menabrak seorang pria.


"Maaf maafkan saya Tuan!" Ucap Gita tanpa memandang wajah siapa yang dia tabrak. Dia sedikit menunduk menatap jas yang dikenakan pria itu.


"Makanya kalau jalan hat.." Pria itu berhenti setelah menatap wajah di hadapannya.

__ADS_1


" Bi.." ucap suara berat itu.


"Kamu Brigitta kan?"


Gita sontak menggakat wajahnya.


Dia mengerutkan keningnya mengingat wajah itu.


"Kevin.." Gita segara berbalik dan ingin kabur namun tangan itu sudah lebih dulu di tarik kuat hingga Gita spontan memegang dada bidang itu menggunakan sebelah tangannya. dan pria itu memegang pinggang Gita.


"Kenapa? Apa kau tidak merindukanku." Dia menatap wajah Gita lekat. Segera Gita melepaskan pelukan itu. Gita memandang arah lain. Dia benar benar tidak sanggup menatap wajah itu.


"Sekarang kau terlihat lebih cantik." Ucapnya tersenyum.


"Bi.. kamu kenapa? Apa kau tidak merindukanku? Bahkan kau tidak mau menatap wajah ini."


Gita masih diam. Dia sebenarnya rindu. Apalagi dengan sebutan 'Bi' Dia masih ingat kenapa Pria itu menyebutnya dengan sebutan itu.


"Hei, kenapa menagis." Gita mengeluarkan air mata itu setelah menatap pria di depannya.


Dengan cepat Kevin menghapus air mata itu.


"Jangan menagis, kenapa kau terlihat cengeng? Bukankah Gita yang ku kenal tidak pernah menagis seperti ini?"


"Ayo, ikutlah denganku. Kita bicara disana."


Gita menggaguk dan berjalan sejajar dengan kevin. Gita tidak sadar sedari tadi mata tajam sudah menatap dari ujung sana.


"Aku ingin bicara di luar. Disini sangat berisik!" Ucap Gita yang dianguki oleh Kevin.


" Bi, kamu benar benar tidak merindukanku? Mulai dari tadi kamu sepertinya tidak bahagia menatap diriku!" ucap kevin setelah mereka duduk di kursi taman itu.


"Aku sangat bahagia vin, tapi.." Gita menagis lagi. Entahlah ini bukanlah Gita yang kevin kenal.


"Kamu kenapa? Hei.." kevin mengelus pipi itu lembut.


"Setelah kau pergi. Hidupku benar benar hancur Vin. Kau tidak tau saja apa yang sudah ku alami selama kau tidak ada."


"Maafkan aku. Aku pergi meninggalkan mu. kamu tau sendiri bagaimana sikap papa."


Gita menangis sesenggukan.


"Jangan menagis coba ceritakan pelan pelan. aku tidak tahan melihat mu menangis seperti ini. Aku minta maaf jangan menangis lagi!" Kevin meraih tubuh itu dan memeluknya dalam dekapannya. Padahal Dulu Gita yang menyuruh kevin untuk nurut pada perintah papa kevin untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Bahkan Gita ikut mengantar Kevin ke bandara sambil tersenyum untuk menyemangati kevin..


" Ayah Bunda, vin.." Gita semakin menagis.


"Ayah Bunda kenapa Gita?"


"Ayah Bunda sudah per-gi ke surga.."


"inalilahi." Kevin melepas pelukannya.


"kenapa Bisa Bi?" Ucapnya menatap Gita yang kini berlinang air mata.


"Kecelakaan. Hidupku benar benar hancur. Kak Bisma bahkan tidak mempedulikan ku, sahabat ku saja pergi apalagi orang orang di sekelilingku Vin."


.....


Gita menceritakan semua yang ia alami selama ini kecuali tentang pernikahan. Dia belum siap untuk itu.


"Maafkan aku, seharusnya aku tetap disini. Maafkan aku Gita." Ucapnya sambil memeluk Gita.


Gita merebahkan kepalanya di dada kevin dengan posisi menyamping.


Mata Gita seketika membulat sempurna saat melihat Jasson menatapnya dari ujung sana dengan tatapan yang sangat mengerikan. Gita segera memperbaiki posisi duduknya.


Dia tidak berani menatap kesamping.


" Kamu udah mendingan sekarang?" tanya Kevin saat melihat Gita tidak lagi menagis melainkan sangat tegang.


"Bi Kamu kenapa?" Kevin memegang pundak Gita.


"ah, Aku tidak apa apa." Gita menatap Kevin tersenyum dan sedikit melirik ke samping. Karena tidak jelas Gita menatap lurus. Sekarang jasson tidak ada disana lagi.


Apa dia marah? Habis riwayat ku!


"Brigitta ..." panggil Kevin.


"Ah iya, setelah menceritakan semua padamu sekarang aku lebih baik."


Gita tersenyum.


"Nah, ini baru Gita yang kukenal." kevin tersenyum menatap wajah Gita.


"Maafkan aku,"Ucap kevin lagi.


"Ini bukan salah kamu Vin."


Saat ini pikiran Gita sudah berlarian. Dia sangat takut saat melihat wajah Aneh Jasson benar benar menyeramkan.


Ah, aku tidak peduli. Biarkan saja ia marah. Bukankah itu sudah biasa!


....


To be continued.


🍁 Jangan lupa like and komen ya guys 🍁

__ADS_1


__ADS_2