Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
79. Sebenarnya siapa


__ADS_3

Kevin pikir pikir lagi, dia tidak boleh egois hanya karena berurusan dengan Lakeswara yang nyatanya Kevin tidak berhubungan baik dengan mereka, namun. Akhirnya dengan berat hati dia memulai panggilannya pada Morisa.


Panggilan pertama tidak dijawab dia mencoba menelpon lagi.


Dan akhirnya sambungan terhubung.


"Halo Morisa, ini aku Kevin." Tidak ada jawaban di seberang masih terkejut akan telpon yang diangkatnya. Tidak disangka laki laki yang dia udah mau lupakan tepatnya dalam satu minggu ini, dia bahkan mencoba menghindari dari yang namanya Kevin, eh tau tau di telpon lagi sama orangnya bikin pertahan yang udah kokoh berantakan lagi.


Karena tak mendapatkan jawaban Kevin segera bicara dia yakin di sebrang pasti mendengarkan nya.


"Kakakmu Yolanda sedang sakit, dia di rawat di RS J di ruang khusus." Tanpa menunggu jawaban Kevin mematikan ponselnya.


"Aneh sekali, kenapa dia diam saja?"


Disisi lain Morisa yang mendengarkan Yolan sakit segera turun dari kamarnya menuju lantai bawah. Tidak ada keluarga satu pun disana, sepertinya semuanya sudah pergi mengambil aktivitas seperti biasanya. Dengan cepat Morisa segera menuju halaman depan dengan teriak teriak akhirnya Morisa menaiki Mobil yang akan digunakan menuju rumah sakit.


"Hei, bisakah kau cepat sedikit!! Kenapa lama sekali? Ayo naikkan kecepatan nya!" Teriak Morisa tak hentinya.


"Nyonya ini sudah cepat!"


"Apa kau ingin dipecat sekarang? Kenapa membantah majikanmu?"


Dengan berat hati akhirnya supir tersebut melakukan yang diperintahkan Morisa.


πŸ•ŠοΈπŸ•ŠοΈπŸ•ŠοΈ


"Dimana ruangannya? Dimana dia?" Morisa yang maaih ngosngosan mencari keberadaan Kevin dan ruangan Yolanda.


"Sus apa ini ruangan khusus untuk Dokter Yolanda?" Tanya Morisa terpenggal penggal menunjuk pintu di depannya.


"Ya benar, apa anda keluarganya?"


"Ya, saya saudara nya."


"Anda boleh masuk ke dalam. Setelah dari sana dokter juga ingin bertemu debgan anda."


"Baik, terimakasih." Ucap Morisa dengan cepat memutar handle pintu.


"Astaga kakak..." morisa Berlari mengarah ke branker milik Yolanda.


Morisa menatap lekat wajah pucat itu.


Mengelus tangan Yolan dengan lembut.


"Kenapa kakak bisa seperti ini, apa kakak kambuh lagi? Kakak ayo bangun.." Ucap Yolan terisak.


"Kakak?" Morisa dengan cepat mengusap air matanya saat melihat Yolan mencoba bergerak.


"Kakak apa kau sudah siuman?" Morisa memegag pipi Yolan lembut.


"Sa, minum. Kakak haus.." Ucapnya masih menyipitkan matanya.


"Ah, iya sebentar kakak.." Morisa berlari menuju dispenser yang ada di dekatnya.


Berjalan cepat ke arah Yolanda.


"Ini kak." Morisa memberikan minum menggunakan sedotan.


"Tunggu sebentar ya kak, jangan bergerak aku akan Panggilkan dokter untuk mu!" Morisa segera keluar kamar itu dan menuju ruanagan dokter yang diberitahu oleh suster sebelumnya.


Kini morisa sudah duduk bersama dengan dokter yang menagani Yolanda. Sebelum dokter segera menuju ruangan Yolan Dokter tersebut lebih dulu menjelaskan kondisi Yolanda.


"Lebih baik kalian harus mencari keberadaan keluarga nya untuk lebih cepat untuk penyembuhan kondisinya. Jika berlarut untuk dibiarkan akan menjadi suatu masalah besar yang mungkin tak pernah di bayangkan!"


Itulah kalimat terakhir yang diucapkan dokter tersebut setelah sekian banyak penjelasan yang di lontarkan.


Morisa terdiam sesaat mendengar penjelasan dokter tentang masalah serius Yolanda dia sangat sedih. Dia tidak tau berbuat apa.


"Dok, tolong jaga rahasia ini. Jangan sampai ada yang tau bagaimana kondisi kak Yolan yang sesungguhnya. Aku tidak ingin karir kak Yol terganggu!"


"Tanpa anda perintahkan kami akan menjaga rahasia ini. Lagian kondisi pasien adalah rahasia antara pasien dan dokter yang menangani.

__ADS_1


"Saya percaya pada Dokter." Morisa dengan lemas pamit keluar ruangan itu menuju ruang tunggu karena Yolan akan melakukan pemeriksaan lagi.


πŸ•ŠοΈπŸ•ŠοΈπŸ•ŠοΈ


"Morisa, bagaimana kondisi Yolan, apa kamu sudah bertemu dengannya?" Tanya Kevin yang menghampiri Morisa di ruang tunggu tersebut.


Sebelumnya Kevin pergi ke ruangan mama Gresya ingin mengetahui kenapa Yolan bisa seperti tadi. Tapi sayangnya Sepertinya Gresya tidak mau bicara jujur. Hanya mengatakan dia tidak tau kenapa bisa terjadi.


Morisa menatap Kevin, entahlah hatinya tidak bisa konfromi sekarang untuk melihat Kevin.


Namun Morisa mencoba bersikap biasa dan menahan hati yang bergetar ini.


"Kak Yol, sedang di periksa di dalam. Sudah siuman." Ucap Morisa dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangan Yolan.


"Tadi dokter bicara apa?"


Tanya Kevin penuh selidik. Karena sangat aneh Yolan sampai berteriak histeris seperti itu.


"Hanya demam biasa, kak yol kecapean dan pingsan."


Kevin menaikkan kedua alisnya. Aneh kenapa semua orang penuh teka teki. Kenapa serasa ucapan morisa ini hanya sebuah kebohongan?


"Apa kau yakin?" Tanya kevin serius.


Morisa menaikkan kepalanya menatap Kevin.


Apa dia tidak percaya? Ah, apa sangat jelas kalau aku sedang berbohong?


"Jika tidak percaya kau bisa tanya langsung pada Dokter."


"Masalah nya aku sudah bertannya namun dia menyembunyikan nya. Jika hanya demam saja tidak mungkin Dokter merahasiakan nya bukan?"


Uh, untung saja dokternya pengertian.


Morisa menghela nafas.


"Kenapa?" Tanya kevin lagi.


"Tidak, lagian ini bukan hal yang penting bagimu. Terimakasih tadi kamu sudah bawa kak Yol dengan cepat untuk segera di tangani."


Morisa mendengar dengan sangat baik. Segera berdiri dan menatap Kevin lekat.


"Kak yol berteriak histeris di kamar orang tuamu? Jadi tadi dia bersama Orang tua mu?"


"Ya, dia memeriksa kondisi mamaku. Jadi apa salahnya kenapa wajahmu seperti itu?"


"Dimana kamar orangtua mu?" Morisa sudah langsung tangkap pasti hal ini ada hubungannya dengan mama Kevin. Pasti mereka bicara yang tidak tidak hingga menyangkut Yolan.


"Kenapa? Untuk apa kau menanyakan kamar mamaku?"


"Aku ingin bertemu, tolong antar aku kesana sekarang!"


Kevin hanya nurut saja walau dalam pikirannya sungguh aneh dan tak masuk akal apa mungkin Morisa akan menghajar mamanya karena berpikir Gresya yang telah membuat semua ini terjadi.


Sebelum membuka pintu Kevin menatap Morisa.


"Kamu tidak ingin membuat keributan kan? Mamaku baru saja pulih jadi aku minta tolong jaga sikap mu. Jika kau berpikir ini ada hubungannya dengan mama. Sebaiknya bicara dengan hati hati."


"Tenang saja. Aku hanya ingin bertemu dan membicarakan sesuatu!" Morisa antusias membuka pintu lebih dulu tanpa menunggu Kevin yang akan membukanya.


Kevin menarik nafas dalam semoga tidak terjadi apa apa.


Sepertinya aku pernah melihatnya. Batin morisa menatap Gresya yang menyandarkan punggungnya ke belakang sambil menutup mata.


Mendengar langkah kaki dan sepatu yang bergesekan dengan lantai membuat Gresya membuka matanya.


"Halo tante.." sapa Morisa ramah.


Benar ini tante yang kutemui dulu saat belanja di mall.


"Hi.. kamu morisa kan?" Tanya Gresya terseyum.

__ADS_1


Kevin yang baru mendekat terkejut dibuatnya.


"Mama kenal dengan Morisa?" Tanya Kevin menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, kami bertemu di mall mama hampir kecopetan, untung ada Morisa yang menyelamatkan mama. Apalagi saat itu copetnya membawa pisau."


"Mama tidak terluka kan?"


"Jelas tidak, Morisa nyelamatin mama."


"Tante apa Kita bisa bicara sebentar?" Tanya Morisa mengalihkan pembicaraan yang tidak terlalu penting dibandingkan masalah Yolanda saat ini.


"Hem, tentu. Kamu mau bicara apa Morisa?"


Senyum Gresya.


"Vin, apa kamu bisa keluar sebentar? Aku ingin bicara berdua dengan tante Gres!" Ucapnya serius.


"Apa masalahnya jika aku disini. Kalian bicara saja!"


"Vin, biarkan saja Morisa bicara. Lebih baik kamu keluar sayang!" Ucap Gresya memegang lengan Kevin yang berada di dekatnya.


"Tapi ma jika-"


"Morisa anak yang baik. Dia tidak akan melukai mama!"


"Hem, baiklah morisa tolong titip mama. Jika ada sesuatu segera panggil aku!"


Morisa hanya menganguk setuju.


Di ruangan itu tinggal Morisa dan juga Gresya.


"Kamu mau bicara apa Mor?"


"Tante tolong jujur ya, apa Tante mengenal kak Yolanda?"


Gresya mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu Dokter Yolanda?"


" Hem, dia kakakku. Dia tak sadarkan diri saat memeriksa tante, apa yang di katakan tante Hinga kak yol bisa sampai histeris?"


"Kakak? Yolan kakakmu?"


"Ya," ucap Morisa mantap.


"Aku mengenalnya tapi dia tidak memiliki adik dengan nama Morisa. Kamu bukan saudara kandung kan?"


"Tante tau darimana? Tolong jangan terbelit belit tan, tolong ceritakan semuanya."


"Sejak kapan kau mengenal Yolanda?"


"10 tahun yang lalu. Sudah sepuluh tahun kak Yol tinggal bersama kami. Kami sudah menggapnya seperti saudara kandung."


Gresya terseyum. Ternyata masih ada orang baik yang merawat Yolan."


"Kenapa tante terseyum?"


"Tidak, tante hanya merasa bersyukur kalian merawat Yolan dengan baik. Tante menyayanginya seperti anak sendiri."


"Tante keluarganya?" Syok morisa tidak menyangka bahwa Dia akan menemuka keluarga yolan.


"Hem, aku dan orangtua nya bersahabat." Senyumannya lagi. Tidak ada yang perlu ditutupi karena Morisa perlu tahu semuanya.


"Jadi orang tua kak Yol dimana sekarang?" Yanya Yolan terseyum senang.


"Almarhum ayah dan Bundanya sudah tenang di alam sana."


"Almarhum?"


.....

__ADS_1


To be continued 🌷


Dukungannya jangan lupa beri Like dan Hadiah πŸ’πŸ˜˜


__ADS_2