Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
88. Keadaan Brigitta (2)


__ADS_3

"Bagaimana kondisi kak Yol?" Tanya ku sekali lagi.


"Kalau ingin tau kenapa gak liat aja sendiri huh? Berdiam disini itu jelas menunjukkan kalau kamu gak peduli tentang kak Yolan!" Tatapnya tajam.


Bukannya aku tidak mau kesana, tapi Jasson tidak mengizinkan. Apa Boleh buat aku harus mematuhi perkataan suamiku.


"Tidak bisa jawab kan! Udah lepasin tangan aku!"


"MOR." Ucap ku menekan. Mata ku sudah berkaca kaca. Aku ingin sekali tau apa yang terjadi pada kak Yolan.


"Kak Yol histeris lagi. Sama seperti saat bertemu pertama denganmu. Tapi ini jauh lebih parah! Sudah? Kau belum puas?"


"Apa sebenarnya yang di derita kak Yolan?"


"Hem.." morisa menghelah nafas. Aku menunggunya yang akan bercerita.


"Apa itu penting buat mu? Lagian kenapa banyak nanya sih. Kak Yol juga bukan siapa siapa bagimu!"


Ada perasaan yang tidak bisa di gambarkan dalam hatiku. Ada perasaan sedih yang kuat dan kesal saat morisa mengabaikan ku saat menanyakan tentang k Yolan


"Ya sangat penting, aku mengkahwatirkan kak Yolanda!" Ucap ku lantang.


" Kak Yolan amnesia. Sudah 10 tahun dia terpisah dengan keluarga nya. Kak Yol kecelakaan pesawat dan kehilangan ingatan! Sudah? Lepaskan tanganku!"


Dengan keras Morisa menghentakkan tangan ku agar terlepas.


Morisa berlari menuju kamar nya.tanpa menunggu ku yang tengah diam menimang perkataannya.


"Sepuluh tahun yang lalu? Kecelakaan pesawat? Amnesia?"


Apa mungkin dia kak Yolanda ku? Tapi bukannya kak Yol sudah tiada?


Apa hanya mirip saja? Cerita Morisa sangat mirip dengan cerita saudaraku yang lama hilang.


Aku berbalik dan segera menuju kamarku.


Aku bahkan sangat sulit memejamkan mata memikirkan semua ini.


Tiba tiba ponselku berbunyi aku dengan cekatan terbangun dari posisi tidurku.


Aku menghela nafas karena ternyata tidak sesuai harapan. Jeni dialah yang menghubungi ku tengah malam begini.


Dia menayakan file dan berkas kantor.


Aku menekan kening ku.


Mengingat berkas dan file itu berada di kontrakan lama. Aku menghubungi yang punya kontrakan dan aku merasa senang saat kontakan yang kutinggalkan tidak ada yang mengisi. Aku berinisiatif akan pergi besok pagi saja.


Tanpa terasa aku benar benar tertidur. Paginya aku terjaga. Walaupun tidur tidak nyenyak dan sangat tidak nyaman aku berusaha bangkit dari tidur dan membersihkan wajah saja dan menggosok gigi.


Singkat cerita kini aku sudah berada dalam kontrakan.


Aku sangat senang bisa kembali merasakan suasana di tempat yang menjadi saksi perjuanganku selama ini aku cari terlebih dulu apa yang kuinginkan tapi ketika aku membuka laci kecil dalam lemari tidak sengaja menjatuhkan pakaian yang ada disana.

__ADS_1


Dengan satu tarikan nafas aku tersenyum. Hal ini tidak jarang aku alami selama berada disini. Laci ini memang bermasalah.


Aku berbicara sendiri sembari memasukkan pakaian kendalam katong plastik besar tapi aku terkejut saat menemukan syall yang terlipat rapi di dalam lemari aku menariknya dan membentangnya nya. Mengingat aku pernah melihat ini sebelumnya tapi bukan milik ku melainkan milik kak Yolanda. Ya. Aku yakin sekarang ini adalah jawaban dari yang di atas. Aku sangking senangnya memanggil supir untuk membantuku mengangkat semua kantong plastik ke dalam mobil aku dengan cepat mengunci pintu dan menuju RS.


Sampai disana aku sangat terkejut mendapati suamiku yang terlihat sangat acak, dan terlihat rapuh.


Setelah mendengarkan dia bicara dan mendengarkan ku bicara dia memelukku dalam pelukannya.


Dia menenangkanku. Aku sanngat nyaman dalam pelukannya dan tutur kata bahasa yang lembut itu. Akhirnya setelah ia mengusap air mata di pipiku kami masuk bersama ke dalam ruangan kak Yol.


Aku rapuh dan sedih, aku mulai menyapanya dengan gentir tanpa terasa air mataku mengalir, dia segera mengusap pipiku yang basa.


Aku sangat cengeg aku benci diriku yang ini.


Setelah mencoba bicara demi sedikit untuk membantu kak Yol ingat akan diriku. Aku mengeluarkan syall yang kubawa sedikit demi sedikit dengan paksaan dan sakit yang ia rasa dia ingat dengan bunda yelsin dan kak Bisma tapi, aku? Kenapa? Kenap kak Yolan tidak ingat. Aku mencoba terus mengubar umbar cerita masa lampau berharap dia ingat namun alhasil kak Yolan histeris.


Aku takut dan sangat khwatir.


Aaaahhhh, perutku sedikit bereaksi. Sakit tapi aku tahan dan terus membujuk kak Yol agar tidak menariki rambutnya. Hingga akhirnya suamiku pergi memanggil dokter.


Aku memegang perut yang sakit. Tapi setelah pintu kembali terbuka aku melepaskan tangan yang memegang perut aku memegang tangan Jasson.


Aku takut dengan kondisi kak Yolan.


Kami keluar dari sana membiarkan kak Yolan di tangani dokter.


Perut yang tadi merasa keram lambat laun mereda.


Dokter keluar dari ruangan dia menceritakan kondisi kak Yolan yang membuatku putus harapan.


Aku menagis, dalam pelukannya. Ku merasa hilang harapan.


Aku menyalahkan diri. Ini salahku seharusnya aku tidak memaksakan kak Yolan untuk mengingat diriku.


Tapi Jasaon sangat baik dia selalu memberikan kepercayaan padaku.


Tak lama morisa datang dia menatap ku tidak suka. Dia lebih terkejut setelah mendengar penuturan Jasaon.


Dia menatapku dan berjalan mendekat dengan kasar dia memakiku dan menjambak rambut ku.


Sakit ya jelas saja. Sangat sakit. Dengan cepat Jasaon melepaskan tangan morisa dan menariknya menjauh dariku.


"Apa yang kau lakukan? Sudah gila ya!! Ini rumah sakit jangan membuat keributan. Jangan menuduh sembarangan, dan satu lagi dimana sopan santun mu?"


Kalimat jasson, dia terus membelaku.


"Apa? Sopan santun? Kak aku tau pasti ini semua gara gara ini orang yang selalu kakak bela. Kemarin kak Yol sudah lebih baik. Kenapa sekarang tambah menjadi? Dasar wanita *#+¥@#;!("!#¥£¥"


Segala umpatan Morisa lontarkan.


Dengan cepat Jasson membekap mulut itu.


Aku hanya bisa menyaksikan keributan kakak beradik yang membuatku semKin pening.

__ADS_1


"Jika kamu ingin membuat keributan disini, lebih baik kamu pulang saja Sa!"


Seketika morisa diam dan menatap kesal padaku.


"Maafkan aku, ini semua memang salahku, tidak seharusnya aku memaksa kak Yolan untuk mengingat ulang memori otak nya."


Ucapku menagis.


"Kan, apa aku bilang kak Jas, dia ngaku sendiri! Dasar Gila. Udah tau salah malah sok jadi jagoan. Emang kamu siapa mau bantu kak yol ingant masa lampau? Keluarga? Tidak kan! Jadi kenapa harus buat ulah Segala!!"


"Morisa cukup!! Jika kamu gak tau apa apa lebih baik jangan bicara sembarangan! Lebih baik kamu pergi! Sekarang!! Jangan sampai aku berbuat kasar Mor!"


"Kak Jas-"


"Morisa!!"


Morisa menghentakkan kakinya dan berlalu pergi dengan bisikan kecil yang masih bisa kudengarkan.


"Sayang, ini bukan salah mu! Jangan menangis! Jangan masukin ucapan morisa dalam hati. Kamu tau kan dia memang seperti anak kecil. So, agap saja angin lewat."


"Tapi yang dikatan Morisa benar, aku yang buat kak Yol seperti itu. Jika aku tidak terlalu bersemangat untuk menceritakan semuanya mungkin kak Yol gak akan histeris lagi!"


Aku benar benar bodoh.


Tapi Jasaon menenagkanku. Dan memberi semangat dalam hidupku.


Tiba tiba kepalaku pening dan perutku seolah meronta ingin mengeluarkan isinya.


Aku membekap mulut sendiri.


"Ada apa?"


Aku menggeleng.


Melepaskan bekapan dan mencona terlihat baik baik saja. Tapi aku bemar benar ingin muntah. Ini adalah kebiasan pagi yang mungkin tadi terlewatkan saat bagun. Biasanya pagi hari setelah bangun gita akan mual tapi entahlah tadi dia tidak merasakannya dan malah sekarang perutnya bereaksi.


"Sayang aku ke toilet sebentar!" Ucap Gita.


"Kau baik baik saja? Apa aku perlu menemanimu?"


"Tidak usah! Aku bisa sendiri." Ucapku dan dengan cepat beralih menuju kamar mandi. Dan yang membuatku semakin kesal. Kamar mandinya ternyata rusak. Aaaaaa Aku semakin tak tahan gumpalan sudah serasa berada di kerongkongan. Aku membekap mulut sembari berlari keluar dari Rs. Aku tidak tau dena Rs itu. Aku tidak tau dimana saja toilet berada dari pada mencari lebih baik aku keluarkan di luar saja.


Aku berlari menuju tempat yang sepi di pinggiran jalan. Aku berjongkok di bawah pohon dan memuntahkan isi perutku. Setelah legah aku berdiri. Dan membersihkan mulutku dengan tisu yang biasa aku bawa kemanapun.


Sembari aku mengusap bibirku. Aku menatap lurus ke arah depan. Aku sangat syok mendapati morisa di bekap di ujung sana. Aku ingin berlari mengejar tapi aku memutar otak. Mana mungkin terkejar dengan jarak sejauh ini. Aku lebih memilih berlari ke arah parkiran Rs. Dan menyuruh supir untuk mengikuti Morisa. Sangking paniknya aku lupa akan Jasson. Di tengah jaunya jalan aku baru menyadari tas yang aku gunakan ternyata aku letakkan di kursi tunggu. Aku memukul jidat. Ponsel ada disana bagaimana bisa dia seceroboh ini.


To be continued 🌷


Next part selanjutnya. Eits...


Like dulu dan jangan lupa vote ya Beste 🤩


Laura akan Up 3 bab hari ini😗❤️

__ADS_1


Bye bye 😘


__ADS_2