
"Kakak....
Buka pintunya!!" Teriak Morisa menggedor pintu.
Jasson membuka pintu.
"Ada apa?" Tanya Jasson melipat tangan di dada dan menaikkan alisnya.
"Kakak kau.." ucapan Morisa tiba tiba berhenti saat melihat pipi Jasson yang memerah.
"Kak, ini kenapa?" Tanya Morisa sambil memegang pelan pipi itu. Suaranya turun drastis.
"Tidak ada apa apa!" Jasson Menutup lebam itu dengan telapak tangan.
"Tidak ada apanya, jelas jelas membiru begitu! Kakak habis berantam? Tidak mungkin kan!" Jelas jelas Jasson tidak pernah disentuh oleh orang lain. Dia bagaikan benda yang paling berharga dan tidak boleh disentuh sembarangan.
"Tidak, ini hanya terbentur."
"Tidak mungkin! Kakak meninggalkan ku pasti karena ini kan!" Tunjuk Morisa pada pipi itu.
Jasson diam.
"Kenapa tidak memberitahuku. Kakak menghilang begitu saja. Meninggalkan ku bersama supir. Kakak tau, aku tadi jatuh! Lihatlah!" Morisa menunjukkan lututnya di preman.
"Ini karena aku mencari mu kemana mana!"
"Sudah di obati kan. Sebentar lagi sembuh.
Masih ada yang lain?"
Ucap Jasson lemas.
"kakak, kau sama sekali tidak mengkahwatirkan ku? kejam sekali!"
"Morisa, kau baik baik saja kan. Jangan memperbesar masalah kecil seperti ini!"
Morisa mengerucutkan bibirnya. Benar juga sih ini hanya goresan kecil pikir Morisa.
"Kakak kenapa sih, kok mukanya di tekuk. Ada masalah kak?"
"Tidak ada! Pergilah, aku ingin mandi!"
"Kakak..."
"Jangan manja Morisa."
"Jawab dulu. Kenapa bisa kakak berantam, ini ada hubungannya kan dengan wajah kakak."
"Pergilah, kau bau keringat. Cepat mandi sana!" Jasson seolah merasa bau dan menutup hidungnya.
Morisa mencium badannya ke kiri-kanan.
"Ini semua karena kakak! Lihat aku berkeringat begini karena berlari untuk mencari mu. Huh!!"
Morisa berjalan sedikit pincang meninggalkan Jasson yang masih berdiri di depan pintu.
"Hei.." panggil Jasson pada pelayan yang lalu lalang di jalan sana.
Dengan cepat pelayan itu berlari mendekat.
"Iya Tuan.."
"Apa kau melihat Brigitta?"
"Nyonya ada di ruangan Tuan besar, Tuan."
"Ngapain dia kesana?"
"Saya tidak tahu Tuan. Tadi Tuan besar memanggil Nyonya untuk menemuinya."
Jasson menaikkan kedua alisnya. Lalu pergi masuk ke dalam kamar.
Kenapa papa mencarinya? Untuk apa?
Jasson berjalan menuju kamar mandi.
***
"Pa, kalau begitu Gita balik ke kamar! Mungkin Jasson sudah mencari ku!" Gita terseyum seolah menggerakkan tangganya.
"Hem, Papa akan menunggu kabar baik itu datang darimu."
Gita tersenyum Paksa. Dan berlalu pergi.
Menekan tombol life menuju kamar.
Teringat Jelas ucapan Janes memenuhi kepalanya.
Bagaimana mungkin aku bisa memberikan kabar baik untuk hal beginian!
Gita memegang perutnya yang datar.
Mungkin kah, Aku akan mengandung anak Jasson suatu saat nanti. Atau rahim ini akan kosong selama lamanya? Mengingat sikap Jasson saja seperti tidak berselera menatap nya.
__ADS_1
Ting
Pintu life terbuka lebar.
Gita memasuki kamar. Menutup pintu itu dengan pelan.
Gita berjalan, matanya berlarian mencari satu sosok, namun tak dapat terlihat.
"Apa dia tidak di kamar?"
Dret dret dret
Dering ponsel Jasson di atas nakas membuat pandangan Gita mencari dimana bunyi suara tersebut.
Gita mendekat ke arah sumber suara.
"Handphonenya disini. Tapi orang nya dimana?" Gita menatap ponsel itu.
Lico college
"Lico?"
Gita hendak menyentuhnya namun..
"Apa yang kau lakukan!"
Dengan cepat Gita berbalik mendengar suara bariton.
Menatap Jasaon yang entah kapan ada disana.
Gita menelan salivanya saat Jasson berjalan mendekat dengan telanjang dada dengan handuk putih melilit disana.
"Ada panggilan dari Lico. Saya tidak melakukan apa apa sama sekali! Saya baru masuk!"
Gita memandang wajah Jasson dan sesekali memandang dada bidang mulus yang semakin mendekat.
Gita mencoba bergeser dari tempatnya namun tangan Jasson lebih dulu menghempas Gita dengan kuat. Gita yang tidak siap, tak mampu menahan hingga terjatuh ke atas ranjang besar itu.
Jasson berjalan dengan senyum di bibirnya.
Gita mencoba bangun namun Jasson lebih dulu mengunci tubuh Gita.
"Apa yang anda lakukan! "
Gita menahan dada Jasson dengan kedua tangan.
"Menurut mu apa yang akan kulakukan?"
Jasson tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.
" Kenapa aku harus menakutimu? Aku hanya ingin melihat dirimu!"
"Suamiku tolong benarkan posisi anda tangan saya tidak kuat menopang tubuh anda."
"Lepaskan saja jika kau tidak kuat! "
Mana mungkin Gita melepaskan nya. Jika ia, dia akan penyot jika sampai Jasson menindihnya dengan spontan.
"Kenapa? Kau tidak mau melepaskan?"
"Suamiku, pergilah pakai bajumu! Apa kau tidak malu?"
Jasson terseyum dan sedikit terkekeh.
"Untuk apa aku malu? Kau kan isteri ku."
Jasson tersenyum.
Sejak kapan anda mengakui saya isteri? Bukankah saya ini pelayan untuk anda?
"Lagian kau sudah pernah kan melihat semua bagian tubuh ku? Untuk apa aku malu?"
"Todak, aku tidak melihat semuanya. Aku menutup mataku saat membuka pakaian mu!"
Ucap Gita cepat membenarkan yang sebenarnya.
" Benarkah? Jadi kau belum melihatnya ya?" Senyum licik melebar disana.
"Suamiku tolong berdiri lah tanganku sungguh pegal." Gita menatap bawah sana.
"Kau hanya menggunakan handuk! Tolong pergilah pakai bajumu."
"Kau memerintah ku?"
"Aku tidak bermaksud, tapi ini sungguh memalukan!"
Jasson mengangkat sebelah tangganya. Menarik tangan Gita turun kebawah.
"Apa yang anda lakukan. Lepaskan tanganku!"
Sebelah tanggan Jasson menahan tubuhnya di atas kasur agar tidak menimpah Gita.
"Kau tidak merasa berat lagi kan?"
__ADS_1
"Tidak, tapi saya tidak nyaman!" Gita memalingkan wajahnya dari Jasson.
"Jangan palingkan wajahmu dariku!"
Gita menghela nafas dan memandang Jasson, sedikit senyuman paksa dia lontarkan.
Jasson menurunkan tubuhnya perlahan.
Menundukkan kepalanya hingga tepat di depan wajah Gita.
Gita ingin sekali mendorong namun tangganya di kunci oleh Jasson.
.
"Manis." Ucap Jasson dan segera membenarkan posisinya.
Gita mematung.
Apa yang dia lakukan? Dia tidak mengecup melainkan menggigit?
"Kenapa? Apa masih kurang?" Tanya Jasson melihat Gita yang masih diam terbaring disana.
Dengan cepat Gita berdiri. Dan berlari ke arah kamar mandi.
Memalukan!! Kenapa aku diam saja. Harusnya aku marah saja tadi saat dia menggambil ciuman di bibir ku!
Gita menatap diri di cermin memegang bibir yang tampak merah, terdapat bekas gigitan disana.
"Kurang ajar!" Gita menghentak hentakkan Kaki di lantai.
"AaA, kenapa denganku!" Gita memegang dada yang rasanya sangat aneh.
.
Jasson terseyum mengingat wajah Gita yang memerah. Dia menyentuh bibirnya sekilas dan berlalu keruang pakaian.
Malam ini seperti biasa keluarga Jasson makan malam di ruangan besar itu.
Tidak ada suara sampai acara makan berakhir.
"Aku kekamar duluan!" Ucap Morisa berlalu duluan.
"Ma. Papa antar ke kamar, atau ke ruang baca?"
"Ke kamar Pa, Mama sangat ingin istirahat."
"Baiklah. Jasson, Gita, Kami duluan ya!" Ucap Janes mulai mendorong kursi roda m
Gita dan Jasson hanya mengangguk sambil memperhatikan pasangan yang sangat romantis menurut Gita.
Gita teringat kembali, dengan kata kata Janes tadi.
Apa mungkin, kalau aku mengandung anak Jasson, Dia akan berubah? lebih memperhatikan ku?
Gita menatap Jasson yang dengan tampannya meneguk segelas air susu.
Ah, itu tidak mungkin!
Gita segera berdiri dan hendak berjalan.
"Kau mau kemana?" Ucap Jasson setelah meletakkan gelas di atas meja.
"Saya ingin ke lantai tiga Suamiku!"
Ucap Gita jujur menatap Jasson.
"Ngapain?"
"Hem, saya ingin melepas penat saja dengan memandang dari balkon atas."
"Maksudmu kau ingin bersantai?"
"Hanya sebentar, saya tidak lama suamiku!"Ucap gita cepat.
"Tidak, pergilah ke kamar tunggu aku disana!"
"Tunggu? Kenapa?" Tanya Gita spontan.
Jasson menatap Gita.
"Aah, iya, baiklah saya akan menunggu anda!"
Gita dengan cepat berjalan menuju anak tangga. Dengan langkah cepat ia menaiki satu persatu anak tangga itu.
"Uh, lelah juga kalau lari lari begini!" Gita melegakan nafasnya saat sampai di lantai tujuannya. Mengatur nafas agar normal. Setelah itu dia membuka pintu.
Ceklek.
Mata Gita pasti rabun, dia mengucek matanya. Menatap Jasson yang tengah berdiri di hadapannya.
Cepat sekali! Sejak kapan dia disini?
To be continued.
__ADS_1
...❤️❤️❤️...
🍁Jangan lupa ya Beste tinggalkan jejak 🍁