
"Sepuluh tahun yang lalu? Kecelakaan pesawat? Amnesia?" Gita mengerutkan keningnya. Ada yang aneh. Terlihat janggal kenapa sama? Ini seperti cerita saudaranya yang hilang sepuluh tahun yang lalu, yang dikabarkan telah meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat yang sangat dahsyat.
Apa mungkin dia kak Yolanda ku? Tapi bukannya kak Yol sudah tiada?
Apa hanya mirip saja? Gita berpikir terus. Berjalan menaiki tangga.
Liontin, Apa kak Yol punya liontin seperti yang kumiliki? Bunda memberikan itu pada kami. Tapi sayang sekali, liontin Gita hilang di mansion ini. Sudah coba cari tapi tidak ketemu.
Bagaimana sekarang, apakah mungkin Gita bisa bertemu dengan saudara kandung nya?
πππ
Tengah malamnya setelah Kevin mengantar Gresya ke rumah, dia kembali ke rumah sakit atas perintah Gres. Dia ingin Kevin menemani Yolan di RS. Karena dia yakin pasti Morisa hanya sendiri disana jadi dia memerintahkan Kevin untuk datang ke RS.
Setibanya disana Kevin mendapati ruangan Yolan yang kosong.
Berjalan mendekati branker dan duduk di kursi yang didekatnya.
Menatap lekat pada Yolanda.
"Sebenarnya dia siapa? Kenapa aku merasa dia tidak asing." Apalagi jika di pandang lekat seperti ini. Seperti pernah bertemu sebelumnya.
Kevin menghelah nafas memandang sekeliling berharap melihat seseorang tapi nihil orang yang dicari tidak ada.
"Morisa dimana? Bukannya dia yang menjaga Yolan?
Ah sudahlah mungkin saja dia sedang mencari angin.."
Kevin berdiri dan hendak menuju sofa namun langkahnya terhenti saat Jasson masuk dengan suara beratnya.
"Apa yang kau lakukan disini!" Dengan cepat Jasson mencekram kera Kevin.
"Hei, hei, santai Bro...."
"Kurang ajar! Jangan pernah membawa keluarga ku dalam masalah kita!" Buuukk
Satu pukulan melayang tepat pada Pipi Kevin. Nafas Jasson sudah memburu. Dia merasa kevin datang membalas dengan cara mengancam dengan nama keluarga atau melukai keluarganya.
"Apa yang kau lakukan padanya?"
Tunjuk Jasson pada Yolanda.
Kevin terseyum seringai sambil menyentuh sudut bibir yang sudah berdarah.
Tidak ada niat sama sekali untuk membalas pukulan yang tidak bermakna itu.
"Apa matamu buta? Aku jelas disini hanya ingin mengecek kondisinya. Apa salah? Apa kau pikir aku se pengecut itu membawa masalah dengan melibatkan orang yang tidak bersalah?"
"Apa maksud mu?"
"Dia, dokter yang telah merawat Mama ku jadi, aku sebagai manusia yang punya Budi ikut prihatin akan kondisinya!"
"Kau pikir aku percaya dengan omong kosong mu? Jika terjadi sesuatu padanya, lihat apa yang akan kau terima."
"Jika tidak terjadi sesuatu apa yang akan kau lakukan? Apa harus berbanding terbalik? Akan terjadi sesuatu kepadamu?"
"Jangan menyelah ucapan ku!"
__ADS_1
"Aku mengatakan faktanya!"
"Jika benar kau hanya ingin mengecek kondisinya, sekarang pulanglah! Aku tidak ingin melihat wajah mu disini! Dan satu lagi kau tidak berhak untuk menemuinya lagi! Kau bukan siapa siapa!"
"Jika aku siapa siapa bagaimana?" Seringai Kevin.
"Kamu tidak akan jadi siapa siapa!"
" Jika terjadi apa kau akan-"
"Jika itu terjadi aku siap jadi babumu! Karena aku tau kau bukanlah siapa siapa jadi jangan pernah bermimpi!" Jasson dengan cepat menyela kalimat Kevin.
"Apa kau yakin jadi Babu?" Senyum Kevin.
"Ya, kau pikir kau siapa?"
" Aku pegang kata katamu!" Kevin segera berlalu sebelumnya dia menatap Yolan yang sangat lelap.
"Dasar pemikiran gila. Apa seorang mafia hanya bisa mengancam?" Ah Jasson duduk di kursi dekat brankar mengusap rambut Yolan dengan lembut.
"Untung aku segera datang jika terjadi sesuatu padamu aku tidak akan bisa memaafkannya akan kubuat dia tidak bisa menginjakkan kaki di bumi dan merasakan indahnya Ciptaan Tuhan yang ada dalam Bumi ini!"
ποΈποΈποΈ
"Kenapa aku mengatakan nya? Kenapa ada rasa yang aneh. Kenapa aku beranggapan kalau dokter Yolan adalah keluarga ku? Seperti keluarga yang hilang.." Kevin mengacak rambutnya sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Mama tidak akan marah kan jika aku pulang? Dan meninggalkan Yolan bersama orang gak jelas itu? Ah masa bodoh aku tidak peduli!" Kevin kembali mengacak rambutnya kenapa ada hal aneh yang seperti mengganjal. Dengan cepat ia menjalankan mobilnya keluar dari pekarangan RS.
"Halo max, ya aku akan kesana sekarang! Alat penyelidik yang sudah terpasang akan aku periksa pagi besok. Jadi hari ini cukup beberapa anggota saja yang ikut!"
malam ini seperti biasa Kevin dan anggota mafia lainnya bertugas mengamankan kondisi kota terpencil yang ada dalam negara tersebut. Karena seringnya gangguan ekonomi sosial akibat perampokan dan pembunuhan berantai mereka segera bertindak untuk melenyapkan keburukan dalam kota tersebut.
Jangan sampai masalah yang kecil terlihat besar dan menyebar luas.
Bukankah seperti pepatah mengatakan lebih baik mencegah daripada mengobati!
Malam itu menjadi malam menyenangkan dalam tim mafia yang berhasil meretes semua orang yang tidak berguna yang hanya menjadi bibit buruk dalam kota.
Sepuluh orang dinyatakan meninggal dan dua puluh orang diamankan dalam pihak berwajib.
Sudah biasa melakukan pekerjaan keras kevin sang ketua mafia hanya menggap hal tersebut hanya ngemil di mulut saja sebab lawan nya sangat tidak sebanding, apalai hanya mengandalkan omong kosong dan senjata yang tidak berguna.
ποΈποΈποΈ
Pagi pagi Buta Gita sudah pergi bersama sang supir tidak tau apa yang akan dilakukan nya dan kemana perginya. Namun dengan terpaksa sang supir harus bagun dari mimpi indahnya demi menemani Gita. Tadinya Gita ngendap mengendap namun penjaga pintu gerbang sangat ketat yang menyuruh nya harus menggunakan supir pribadi.
"Pak, stop!! Disini saja." Mobil itu segera berhenti.
"Kenapa tidak masuk kedalam Nya?"
"Itu akan menggagu. Jadi bapak tunggu disini aja! Saya hanya sebentar. Tapi jika saya lama, bapak bisa pulang duluan atau tidur di mobil. Disini aman kok pak!" Gita terseyum dan segera turun dari mobil masuk melalui gerbang sebuah rumah.
Rumah yang terlihat kecil lebih tepatnya sepertinya itu kontrakan yang kosong.
"Sudah lama aku tidak kesini! Untung saja belum ada yang mengisi tempat ini." Semalam Jeni menghubungi Gita agar mengambil file isi dokumen Kantor lamanya. Dulu Gita sangat ingat Bahwa file serta berkas tertinggal semua dalam kontraknya. Dia pun segera menghubungi Pemilik kontrakan apa masih barang barang nya aman sekalian Gita meminta agar kontrakan itu dibuka saja dan dinyalakan Lampunya.
Jika masih kosong dan belum pernah di sentuh.
__ADS_1
Gita membuka pintu kontrakan itu perlahan. Lampu sudah menyala jadi dia tidak akan pusing lagi untuk mencari saklar yang terletak di tengah kontrakan tersebut.
Gita membuka pintu kamarnya yang sangat sederhana. Menyalakan lampu kamar. Cahaya kamar yang menyinari kamar yang serba biru itu terkesan sangat indah di pandang mata. Walaupun sebagian tempat sudah berdebu namun keindahan dan kerapiannya sama sekali tidak ada yang menyentuh nya.
Berjalan ke arah meja tempat ia biasa mengerjakan tugas kuliah dan kantor nya.
Mencari berkas yang dibutuhkan dan semuanya masih lengkap. Menarik laci yang ada disana. Mata Gita berbinar menatap Buku harian berwarna pink masih terletak rapi.
"Wah, aku sampai melupakan mu manis." Gita mengambilnya dan meletakkan di atas meja segera menutup laci itu.
Membuka halaman awal. Tulisan rapi dan Indah.
Tertampang foto nya dan Foto kevin yang sangat akrab. Dengan kevin merangkul bahunya dengan Gita yang melipat tangan di dada menggunakan seragam SMA.
"Lucu, jika di ingat ingat ini adalah sala satu momen yang indah di masa SMA dulu." Gita mengusap foto itu.
Membaca tulisan itu sambil tersenyum.
Gita tidak menyangka dulu dia sangat banyak mengeluarkan unek unek di buku ini. Sangat jauh berbeda dengan Gita yang sekarang yang lebih memilih memendam sendiri perasannya.
Gita menutup buku itu dia berencana membacanya di mansion saja.
Dia beranjak menuju lemari pakaian. Membuka laci yang ada disana. Gita mengambil benda kecil dan merasa legah.
"Ah, untung aku masih ingat menyimpan mu disini. Jika tidak aku akan kena omelan dari si Jeni." Gita tersenyum sambil memasukkan plesdis kecil itu kedalam tas kecilnya. Mencoba menutup laci yang memang sudah sering bertingkah. Sedikit terasa nyakut untuk ditutup.
"Kumohon laci, aku sudah lama tidak kesini, sepertinya penyakit mu bertambah parah. Tapi cobalah untuk sembuh!" Gita yang sudah tak sabar dengan laci segera mendorong kuat agar laci itu masuk ke dalam habitatnya.
Dan alhasil almari yang bergetar membuat pakaian itu berjatuhan dari atas sana dengan santainya mengalir seperti air menimpah Gita.
"Astaga, kapal sudah pecah!" Pakaian milik Gita semuanya masih utuh disana. Dulu dia sama sekali tidak membawa apapun barangnya ke tempat Jasson. Hanya pakaian yang melekat ditubuhnya itupun sudah langsung dibuang oleh pelayan yang bertugas di londri mansion, itu semua atas perintah Jasson tentunya.
"Baiklah agap saja aku menyalami kalian semua sepertinya kalian rindu ingin menetap di tubuhku. Tapi sayang sekali jika aku memakai kalian lagi. Yang pasti kalian akan dibuang." Gita berpikir sebentar terlintas di benaknya dari pada tidak ada yang memakainya lebih baik disumbangkan pada anak anak jalanan yang membutuhkan.
Gita beranjak ke arah nakas mengambil beberapa kantong Plastik besar. Mulai menyusun pakaian itu kedalam plastik.
Setelah semua tersusun Gita berdiri. Mengambil beberapa pakaian yang masih tertinggal di lemari hingga potongan yang terakhir. Saat gita ingin melipatnya dia merasa tidak asing dengan kain itu.
"Ini?" Gita memperjelas tatapannya dan memutar ingatannya.
"Kan, benar aku pasti pernah melihat benda seperti ini. Pantas saja aku tidak aneh saat Jasson menunjukkan syall rajut itu." Gita melebarkan syal itu hingga jelas Namanya Terpampang disana. BRIGIT**A**
"Ini Rajutan Ibu, warna dan bentuknya sangat sama dengan milik Jasson. Dan disana ada tulisan sama juga namun nama itu YOLANDA Apa jangan jangan..."
Dengan cepat Gita menutup pintu lemari nya mengambil berkas dan buku harian. Berlari keluar dari kamar menuju mobil.
Mengetuk jendela kaca supir.
Dengan ligat Setelah dapat perintah dari Gita, supir itu masuk kedalam kontrakan menenteng kantongan besar yang berisi pakaian setelah semua terangkat dan dimasukkan ke begasi mobil Gita menutup Semua pintu hingga pintu luar kontrakan.
"Pak Kita Ke RS J sekarang!!"
To be continued π·
Jangan lupa Vote dan Hadiah nya ya Beste
tolong semangati Author π₯Ίπ₯ΊποΈποΈποΈ
__ADS_1