Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
18. Sikap Biasa


__ADS_3

Tok tok tok


Gita menatap arah pintu.


"Tuan ada yang mengetok." Ucap Gita melihat Jasson yang masih asik dengan laptopnya.


"Aku dengar!" Jasson melangkahkan kakinya, membuka pintu itu.


"Mama, ngapain kesini?" Ucap Jasson yang menatap Monik bersama pelayan yang memegang kursi roda bagain belakang.


"Dimana isteri mu? Mama mau liat."


Jasson melebarkan pintu untuk memperlihatkan Gita.


"Astaga. Gita!" Pelayan itu mendorong kursi roda itu menuju ke arah Gita.


"Kamu kenapa sayang, kamu terlihat pucat." Monik memegang Pipi Gita.


"Gita gak papa ma." Ucap Gita sambil menatap Jasson yang berjalan menuju ruang kerjanya.


"Gak papa gimana. Kamu pucat begini!"


"Besok juga sembuh ma!"


Gita tersenyum.


"Mama tidak melihat mu dari pagi tadi, kamu kemana. Dan sekarang malah demam kamu ngapain aja?"


"Gita membersihkan kamar ma." Ucap Gita jujur.


"Kenapa harus kamu. Banyak pelayan di rumah ini kenapa harus kamu yang membersihkan?" Ucap Monik sedikit menekan.


Jasson menatap Gita


"Ehm, Gita. Ini kan kamar Gita dan juga Suami Gita ma." Kata 'Suami' sukses membuat Jasson terkejut dan membulatkan matanya menatap Gita. Sepertinya baru kali ini Gita mengatakan suami di depan Jasson tampa ada rasa takut.


"Di kamar ini juga banyak barang barang pribadi, dan tidak boleh di Sentuh sembarang orang. Aku gak keberatan ma membersihkan kamar ini sendiri Gita malah sangat bahagia. Gita bisa menyentuh barang barang yang ada disini." Monik hanya bisa menghela nafas.


.....


"Yaudah kamu tidur ya. Agar kamu cepat sembuh."


"Mama juga istirahat. Kondisi mama kan masih lemah." Ucap Gita memegang tangan Monik.


"Ia sayang ia."


Monika terseyum.


"Jasson.."


Jasson menatap Monika.


"Jaga Isteri mu. Bisa bisanya kamu membiarkan istri mu membersihkan kamar sebesar ini sendirian!"


Jasson hanya bisa menatap Monik dari ujung sana.


"Jas, apa kau dengar?"


"Ia ma, Jasson dengar!"


"Bi, ayo!!"


Monika akhirnya keluar dari kamar besar itu menggunakan life.


Gita menatap Jasson dari jarak jauh.


Jasson merasakannya.


"Ada apa? Kenapa tidak tidur? Kenapa malah memandangi ku?"


"Tidak, Maafkan saya Tuan. Maafkan saya sudah merepotkan Anda."


Gita segera menyampaikan badannya dan menarik selimut itu hingga lehernya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 Namun jasson masih duduk di kursi itu sambil menatap layar laptopnya.


Jasson berjalan sambil menguap dia menatap kasur itu terdapat wanita yang tengah berbaring disana.


Jasson mendekat menatap wajah itu, tangganya memegang kening itu menggunakan telapak tangan.


Entahlah apa yang dipikirkan Jasson saat menatap Gita, tatapan itu tidak terbaca.


Jasson melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju kamar tamu yang ada disamping kamarnya.


Jasson sangat malas tidur di sofa. Tubuh tinggi itu tidak akan muat disana.


Hari terus berlanjut. Tiga hari Gita hanya bisa berbaring di kasur itu. Semua kebutuhannya disiapkan oleh Asisten pribadinya. Sedangkan Jasson beberapa hari ini sangat jarang bicara dengan Gita dia bangun sebelum gita bangun dan pergi ke kantor tanpa sepengetahuan Gita. Pulang ke rumah saat Gita sudah tidur. Sekitar jam 21.00.


Hari ini Gita benar benar sudah pulih dan sehat normal seperti biasanya.


"Nyonya apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap Asisten pribadi Gita saat berada di ruang musik itu.


"Ini Bi. Aku cari kalung. Aku baru sadar kalau kalung ku hilang. 5 hari yang lalu aku membersihkan ruangan ini dan aku ingat bangat waktu itu aku menggunakannya."


"Saya bantu cari ya Nya." Gita tersenyum sembari mengiakannya menggunakan kepala.


Pelayan itu segera ikut membungkuk kan badannya mencari kalung itu.


..


"Nya sepertinya kalung itu tidak ada disini. Karena Setiap hari ruangan ini di bersihkan. Coba Nyonya ingat ingat lagi siapa tau tidak jatuh disini."


"Aku udah cari kemana mana Bi tapi hasilnya zonkk Bi." Gita mendaratkan bokong itu di kursi piano.


"Aku lelah mencari benda itu Bi. Padahal itu sangat berharga bagiku. Aku sangat ceroboh." Gita merebahkan kepalanya di atas piano.


Untuk saja piano itu tertutup kalau terbuka pasti akan mengagetkan.


"Kalau Nyonya kehilangan barang di mansion ini pelayan yang menemukannya akan menyerahkan pada ketua pelayan Nyonya, Jadi anda jangan langsung menyerah. Jika Nyonya tidak menemukannya Nyonya bisa bertannya kepada ketua pelayan.


Kalau begitu saya ke bawah dulu Nya. Masih ada pekerjaan yang harus saya bereskan."


"Oke Bi. Terimakasih." Pelayan itu tertunduk dan pergi. Tak lama kemudian Gita juga dengan cepat bergegas mencari ketua pelayan.


...


Bunda maafkan Gita. Gita kehilangan benda yang Bundah berikan untuk Gita.


Gita meneteskan air matanya. Padahal benda itu satu satunya yang di miliki Gita saat ini. Jika ia rindu dia akan selalu memegangi kalung itu.


Dan pastinya rasa rindu itu bisa sedikit terobati.


..


"Bubarkan Geng motor dari jalan x itu. Jika mereka tidak bubar. Maka nyawa mereka yang akan jadi taruhannya. Geng motor brandal seperti itu layak dimusnahkan." Pria itu mematikan ponselnya dan berjalan ke dalam baskem yang serbah Hitam Hijau itu.


"Selamat malam Bos. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Apa ada masalh hingga Bos datang kesini?" Tanya seorang yang bertubuh besar dan gagah itu pada Bosnya.


"Kenapa pekerjaan kalian tidak becus huh? Banyak brandal dan preman yang berhamburan di luar sana!! Apa kalian tidak bisa mengatasi masalah kecil saja? Apa perlu aku ikut turun tangan untuk itu?"


"Maafkan kami Bos."


"Tidak ada gunanya minta maaf jika kalian tidak melaksanakan tugas dengan benar."


Buuuk buukk


Bogeman kuat untuk 5 orang pria kekar disana.


Kelima pria itu secara bersama memegang pipi yang sudah berdara di sudut bibir.


"Dimana yang lainnya? Apa seperti ini pekerjaan kalian setiap harinya? Aku selalu memberikan kalian uang tapi kalian tidak becus dasar Brengsek!!"


Pria itu menyandarkan punggungnya di sofa besar itu.


Tak lama segerombolan manusia bertubuh tinggi dan gagah memasuki baskam itu sambil berbicara dan sesekali tertawa. Sampailah mereka di ruang utama. Serempak menatap ke lima manusia yang sudah bonyok.


"Hei ngapaian kalian sampai bonyok begitu?" Tanya seorang yang masih fokus menatap ke arah depan.

__ADS_1


Sedangkan pria yang duduk di sofa itu membelakangi segerombol manusia yang baru masuk.


"Hei bro kenapa wajah mu ini?" Pria itu berjalan sambil memegang pipi temannya. Sedangkan temannya itu masih tertunduk dan tak mau bicara. Seketika saat pria itu ingin menatap teman lainnya matanya terhenti saat melihat pria di hadapannya menatap nya tajam. Jelas saja tadi ia tidak lihat karena kursi yang diduduki pria itu sangat tinggi, hingga badan itu tertup dari belakang.


"Bos? Kapan Bos tiba disini?" Tanyanya sambil menunduk. Sedangkan segerombol orang yang mendengar kata 'Bos' langsung saling tatap menatap.


Pria itu berdiri dari duduknya.


Hingga kini semua manusia disana melihat Pria tegap itu.


"Kenapa? Kalian kaget? Untuk apa kalian kaget, bukankah kalian senang jika bos kalian berkunjung kesini?"


Semua tertunduk.


"Apa kalian semua sudah gila!!!! Apa pekerjaan kalian selama ini!!!" Kini wajah yang tadinya tersenyum seringai, kini tajam bagaikan pisau yang sangat menyeat setiap hati manusia yang berdiri disana. Suara itu juga sangat keras hingga semua merinding Mendengarnya


"Maafkan kami Bos. Tapi kami sudah melakukan tugas kami di beberapa kota lainnya." Ucap seorang yang mejabat sebagai pemimpin sementara di geng tersebut.


"Kota lain kalian amankan, kenapa di kota ini kalian hebohkan?" Ucapnya sambil mendekat.


"Kenapa akhir akhir ini banyak khusus yang tidak mengenakkan? Apa kalian tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jahat?" Ujarnya lagi.


"Bubarlah sekarang lakukan kewajiban kalian. Tanganku sangat lelah jika memukul wajah itu satu persatu. Keluarlah!!" Akhirnya manusia yang ada disana keluar. Kecuali dua insan yang masih berdiri disana.


"Kenapa masih disini?"


"Bos. Saya hanya memberitahukan kalau penyelinap yang mau menghancurkan bisnis anda sudah di ratakan! Semua sudah aman. Baik di negara ini dan di negar B."


"Aku sudah tau!! Tugas mu sekarang masalah kecil. Tapi kau tidak bisa membereskan nya dengan benar! Setelah kau beresksn masalh ini hubungi aku. Ada pekerjaan baru untuk kalian."


"Baik Bos."


Ucapnya berlalu dengan hormat.


Dan


Pria berbadan gagah itu keluar dari baskem nya dan memasuki mobil dengan harga Ratusan M itu.


Hari semakin larut saat ini pasti sudah banyak orang yang sudah terlelap dalan tidurnya.


Tapi di kamar besar ini dua insan belum juga tertidur.


"Tuan.." Ucap Gita sambil menatap Jasson yang dengan santainya memainkan ponsel di ruang kerjanya.


"Tuan.." panggilannya lagi karena sepertinya Jasson tidak mendengar.


"Ada apa?" Tanyanya namun mata itu masih fokus pada layar ponselnya.


"Apa besok saya bisa keluar mansion?"


Jasson meletakkan ponsel di meja dan menatap Gita. Melihat itu Gita jadi tidak mampu.


"Ah, jika tuan melarang, saya tidak akan bertanya lagi." Kata Gita dan hendak ingin berlalu.


"Emangnya besok kau mau kemana?"


Gita menatap Jasson kembali.


"Saya ingin ke makam orangtua saya. Besok adalah hari peringatan kepergian mereka." Ucap Gita menunduk.


Jasson baru ingat bahwa orangtua Gita sudah meninggal. Saat membaca kertas yang diberikan Lico dulu, ia tidak memperhatikan dengan jelas.


Pantas saja saat Jasson menyinggung soal orangtua Gita pasti marah besar.


"Hem, pergilah." Ucap Jasson datar lalu berjalan menuju tempat tidur.


Gita masih diam menatap Jasson.


Apa itu? Wajahnya tidak keberatan? Apa benar dia Jasson?


.....


To be continued

__ADS_1


🍁 Jangan lupa like, komen, vote dan beri hadiah. Oke beste🥰 🍁


__ADS_2