Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
8. Wanita cantik


__ADS_3

" Ini tuan makanan Anda."


Gita meletakkan makanan itu sambil berdiri di samping Jasson.


"Ganti!"


Gita menatap Jasson. Ganti maksud nya lauk nya.


"Apa kau tuli?"


Gita segera mengambil makanan yang baru.


"Ini Tuan makanan Anda."


"Ganti. Apa kau tidak bisa memilih sarapan yang benar?"


"Astaga apa sarapan yang biasa ia makan." Bahkan pelayan yang kemarin tidak ada disana. Hanya ada Jasson dan Gita. Janes juga tidak ada disana karena biasanya Janes akan berangkat jam 8 pagi.


"Tuan sarapan mana yang anda sukai?" Tanya Gita hati hati.


"Terserah!"


Astaga kalau salah lagi aku tidak tau apa yang akan terjadi.


"Ini Tuan."


"Aku tidak berselera!"


"Ini Tuan." Ini menu makan terakhir yang ada di meja itu.


"Apa kau gila? mana mungkin aku sarapan dengan makanan mengandung lemak tinggi seperti ini." Jasson menggeser makanan itu dengan kasar, untung saja Gita dengan cepat menahan piring itu agar tidak terjatuh kelantai.


Baik baik akan ku ganti lagi.


"Ini tuan." Sarapan dengan menu yang pertama ia berikan karena tidak ada menu lain lagi.


Dengan cepat tangan Jasson meraih makanan yang didepannya.


Huh dia tidak marah? Apa dia lupa itu makanan yang kuberikan di awal. viks dia mempermainkan ku.


"Cuci semua piring yang kotor ini. Jangan meminta bantuan pelayan." Jasson segera pergi setelah minum segelas susu, padahal masih tersisa makanan disana.


Gita menggeleng gelengankan kepalanya Bukan karena banyaknya piring yang kotor tapi,


"Sayang sekali makanan ini di buang. Padahal diluar sana banyak orang yang kelaparan."


Gita membereskan meja itu. Membawa piring kotor ke dapur yang tidak jauh dari tempat itu.


"Nyonya, apa yang anda lakukan disini? Biar saya saja nyonya yang mencucinya."


"Tidak usah Bi. Aku tidak masalah. Lagian ini bekas piring suami saya. Jadi tidak apa apa."


"Tapi Nyonya ini tugas kami. Jika tuan melih..."


"Bi, Aku bisa sendiri. Bibi tidak akan di marahi karna ini. Aku yang akan marah jika bibi memaksa ingin membantu ku.


Pelayan tersebut hanya menunduk dan berlalu pergi.


TING


Suara Ponsel gita bergetar, kini gita sedang di dalam kamarnya merapikan buku yang berserakan.


+62....


Photo


Apa ini no nya?


Benar itu no Jasson. Jasson menyuruh Lico untuk mengirimkan foto benda itu melalui Handphone miliknya kepada Gita.


Segera Gita menuju Gudang belakang.


"Huh dimana sih ini benda?" Kotak kecil kayu berwarna cokelat itulah yang tengah dicari oleh gita.


Jam terus berputar tak terasa sudah pukul 08.00.


"Ah kenapa jam ini cepat sekali berputar." Sambil menatap jam di pergelangan tangan nya.


"Lico.."


"Iya Tuan Jasson?"


"Bagaimana dengan Yolan, apa dia sudah sampai di bandara?"


"Belum Tuan, belum ada kabar soal nona Yolan"


Jasson hanya mengangguk dan kembali menatap Laptopnya.


"Ah benar kan ini barangnya?" Gita menyalakan ponselnya menatap foto kotak tersebut.


"Hem benar. Lucu sekali kotak ini, apa isinya?" Ah masa bodoh buat Gita, Dia segera meniup debuh yang menempel sambil menepuk kotak itu pelan.


Gita segera keluar dari gudang itu. Gudang yang tadinya rapi kini sudah sedik berantakan.


"Nyonya anda mau kemana?"


"Saya ingin kekantor Jasson Tuan." Terlihat penjaga pintu itu tidak percaya.


"Kalau begitu mari saya antar anda kedepan anda boleh pergi dengan supir pribadi Nyonya."


"Supir pribadi?" Kapan aku punya supir pribadi.


"Iya Nyonya, Tuan besar yang meminta."


"Hem baiklah."


Segera Gita mengikuti pelayan tadi menuju halaman depan.

__ADS_1


"Nyonya tunggulah disini jangan kemana mana saya akan Panggilkan supir pribadi Nyonya."


"Terimakasih Tuan."


"Nyonya maaf. Tolong jangan panggil saya Tuan. Pangil saya Andi, Nyonya adalah atasan saya jadi tidak pantas Nyonya memanggil saya seperti itu."


"Baiklah Pak Andi." Andi menatap Gita. Ah sudahlah jangan diperpanjang.


Mobil Hijau segera berhenti didepan Gita.


Dengan cepat supir itu keluar dan membukakan pintu belakang untuk Gita.


"Nyonya silahkan!'


"Kenapa repot repot Pak. Aku bisa sendiri."


"Tidak apa apa Nyonya, ini sudah tugas saya."


Hem Gita segera masuk dan merebahkan tubuhnya di kursi mobil.


"Pak bisa cepat sedikit ini sudah hampir jam sembilan!"


"Tapi nona ini sudah kecepatan normal." Kota besar dan kemacetan sudah hal yang wajar. Tapi saat di waktu penting seperti ini bisakah tidak macet!


"Pak kenapa jalanya tambah pelan?"


"Macet nyonya."


"Astaga! Sepuluh menit lagi!" Perjalan mereka juga masih jauh.


Ya Tuhan bantu lah aku.


"Pak apa macetnya masih panjang?"


"Saya tidak tau Nyonya. Maafkan saya Nyonya saya salah pilih jalan. Saya pikir jalan ini akan sepi!"


Pantasan saja saya merasa jalan ini cukup aneh. "Hem Gak papah Pak fokus ke jalan saja." Ternyata Gita belum pernah lewat jalur itu.


"Mati lah aku!" Sudah jam 09.12


"Pak tolong ngebut yah. Ini perintah Tuan Jasson!" Ucap Gita setelah jalan mulai longgar. Dan gita membawa bawa nama Jasson agar supir tidak membantah.


Kini sampailah Gita di Gedung besar. Saat Gita ingin memasuki life menuju ruangan jasson seseorang menghentikan langkahnya.


"Maaf nona anda mau kemana?"


"Saya ingin keruangan Tuan Jasson. Dia ada disana bukan?"


"Benar, tuan Jasson ada disana. Tapi apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?"


"Janji? Maksudnya?"


"Apa anda sudah meminta izin untuk bertemu dengan Tuan Jasson?"


Gita melirik jam tangannya.


"Maaf mbak tapi saya harus masuk sekarang!" Ucap Gita seraya menekan tombol life.


"Nona anda tidak boleh masuk sebelum membuat janji!" Wanita itu menghadang langkah Gita.


"Tapi dia yang menyuruh saya menemuinya. Untuk menghantarkan ini. Jika tidak percaya tanyakan saja sendiri!" Gita mengeluarkan kotak dari tasnya dan menunjukan pada wanita itu.


"Baiklah kalau begitu saya akan mengantar nona ke atas!"


Sampailah kini mereka di lantai ruangan Jasson. Wanita itu mengetuk pintu ruangan Jasson. Lico membuka pintu.


"Selamat pagi Tuan Lico. Ada yang ingin menemui Tuan Jasson."


"Siapa?"


"Nyonya mendekatlah." Gita mendekat dan memposisikan tubuhnya tepat disamping wanita itu.


"Nyonya Gita? Kenapa Anda lama sekali! Tuan jasson sudah menunggu Anda."


Gita menatap wanita yang mengantarnya.


"Maaf Tuan Lico. Saya.."


"Pergilah!!


Nona Gita mari masuk."


Lico langsung menutup pintu itu.


"Berani juga kau menampakkan wajah itu, setelah membuat masalah."


Jasson berdiri dari duduknya dan mendekat kearah dimana Gita masih berdiri mematung dan menunduk setelah mendengar ucapan Jasson.


"Maaf Tuan tadi di jalan macet dan di lantai bawah..."


"Siapa yang menyuruh mu bicara!"


Jasson berdiri satu langkah dari hadapan Gita.


"Apa kau tidak lihat jam berapa sekarang? Untuk apa kau punya jam tangan jika tidak digunakan!"


Bahkan sekarang sudah jam 10.10.


Tidak tau lagi seberapa besar kemarahan Jasson yang belum meluap.


"Hei jangan menunjukkan wajah wajah seperti ini! Kau pikir aku kasihan!"


Jasson mengangkat wajah Gita untuk menatap wajahnya.


"Kau pikir kau siapa? Kau membuatku menunggu sampai satu jam lebih."


Jasson menghempaskan wajah gita kasar.

__ADS_1


"Mana benda yang ku inginkan?"


Gita mengambil benda itu dengan cepat dari tas selempang nya.


"Ini.." belum sudah gita bicara Jasson langsung merampas kotak itu dari tangan Gita. Jasson segera duduk di sofa ruangan itu. Ia membuka kotak itu perlahan.


Syall


Jasson pikir isinya apa teryata syall rajutan tangan, dan terdapat nama kecil yang dirajut pula disana.


Jasson mengambil Syall itu dari kotak dan memeriksa apa ada yang rusak.


"Untung saja masih bagus kalau tidak hari ini mereka tidak akan bernapas!" Ucap jasson menatap Lico. Lico menatap ngeri pada Jasson karena jasson tidak pernah main main pada perkataannya.


Jasson sangat marah setelah tau kotak itu di taruh di gudang oleh para pelayan saat merenovasi kamar jasson. Sebenarnya dulu Jasson memang menyuruh para pelayan untuk menyimpan barang batang yang tidak penting ke gudang. Siapa sangka kotak itu juga ikut terbawa oleh pelayan itu.


Gita masih menatap syall itu tampa kedip.


"Heh kenapa! Apa kau tertarik dengan syall ini? Mata mu hampir keluar."


Syall itu. Kenapa aku tidak asing, sepertinya aku pernah melihatnya. Batin Gita.


"Hei gadis bodoh!!"


Gita tersadar saat Jasson melempar buku yang ada di meja itu tepat di dada gita yang hampir menyentuh bagian leher.


"Apa kau ingin aku berteriak teriak diruangan ini? Ambilkan buku itu dan letakkan disini!"


Gita tidak berani mengelus dadanya yang sedikit, nyeri karna pukulan buku itu lumayan kuat. Dia segera meletakkan buku itu di atas meja.


Jasson melipat syall itu lagi lalu memasukkan kedalam kotak itu dan menutup nya.


"Kenapa kau masih berdiri disana?" Tatap Jasson tajam pada Gita.


Lico yang mengerti langsung mengajak Gita keluar.


"Nyonya mari saya antar ke depan. Tugas nona sudah selsai."


Gita tidak menjawab dan pergi menuju pintu keluar diiringi oleh Lico.


"Tuan Lico apa saya boleh bertannya?" Kata Gita saat mereka sudah diluar ruangan Lico.


"Nyonya tolong jangan terlalu formal. Panggil saya Lico, saya tidak nyaman dengan panggilan itu dari Nyonya muda."


"Kenapa semua berkata seperti itu. Bukankah posisiku tidak lebih dari seorang pelayan?"


"Tapi Nyonya jika tidak bersama tuan Jasson anda bisa memanggil saya Lico. Karena ini sudah peraturan dari Tuan besar!" Ucap Lico.


"Baiklah. Jangan bahas itu lagi. Tadi aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa kau tau syall itu milil siapa?" Tanya Gita sedikit berbisik.


Lico menaikkan sebelah alisnya.


Dia sendiri juga tidak tau masalah kotak itu. Karena jasson tidak pernah menyinggungnya.


Dari tatapan Jasson tadi juga, sepertinya dia baru melihat nya.


"Jika kau tidak ingin memberitahu tidak masalah. Kalau begitu aku pergi sekarang." Ucap Gita yang melihat Lico hanya diam saja.


Setelah Gita tidak terlihat lagi Lico memasuki ruangan Jasson.


"Kenapa lama sekali! Apa kau mengantarnya sampai mansion?"


"Tidak tuan. Hanya saja tadi Nyonya Brigitta bertannya tentang syall itu?" Ucap Lico jujur.


Lico tidak pernah menyembunyikan apapun dari Jasson jika dia sampai ketahuan menyembunyikan sesuatu maka tidak ada kesempatan untuk Lico menjabat sebagai asisten kepercayaan dan sekaligus sekertaris untuk Jasson.


"Syall?" Jasson menatap wajah Lico meminta penjelasan.


"Saya tidak tau Tuan kenapa Nyonya Brigitta menanyakan syall itu. Tapi sejak anda membuka kotak syall perilaku nyonya sedikit aneh. Seperti nya dia pernah melihat syall itu.


"Mana mungkin dia pernah melihat syall ini." Karena jelas jelas syall itu bukan barang yang di produksi untuk diperjual belikan. Karena memang syall itu dibuat khusus.


Saat tengah menekan tombol life pintu itu sudah teebuka lebih dulu dan memperlihatkan wanita cantik dengan tubuh tinggi langsing dan paras wajah yang terlihat sempurna di setiap mata yang memandangnya.


Wanita itu tersenyum ramah kepada Gita dan melewatinya begitu saja. Gita masih melongo dan matanya bergerak mengikuti gerak gerik wanita itu yang memasuki ruangan jasson.


Gita tersadar setelah wanita itu telah masuk kedalam ruangan Jasson.


Siapa dia? Cantik sekali, senyuman itu damai sekali. Apa dia kekasih Jasson? Entah kenapa Gita merasa senang.


Apakah sebentar lagi kami akan pisah? Semoga saja! Batin Gita sembari menekan tombol life kembali.


"Jasson..." Wanita itu masuk tampa mengetuk pintu sebelum nya Lico ingin marah tapi saat melihat siapa yang datang langsung terseyum dan menunduk.


"Yolan.."


Kini Jasson menatap wanita yang berparas cantik itu berjalan mendekat kearahnya.


"Jason aku merindukanmu." Jason berdiri dan yolan langsung memeluk badan kekar itu.


"Kenapa tiba tiba." Jasson melepaskan pelukannya dan menatap Lico tajam.


"Jas, ini bukan salah Lico. Aku sengaja tidak menghubunginya dan ingin memberi kejutan untuk mu." Katanya sambil tersenyum.


"Hem, bagaima kabar mu. Apa sudah mulai ada kemajuan?"


"Kabarku baik baik saja. Tapi keadaan ku masih seperti biasa aku belum ada kemajuan." Kini wajah ceria itu berubah jadi sedih.


"Jangan sedih dan patah semangat. Aku yakin kamu pasti bisa." Jasson memegang pipi manis itu dengan lembut.


Jasson beralih ke meja sofa dan mengambil kotak itu dari sana.


"Yolan.." Jasson menunjukkan kotak itu dan tersenyum.


.....


To be continued

__ADS_1


🍁 Jangan lupa like and komen ya guys 🍁


__ADS_2