
" Apa dia masih merencanakan untuk melukaiku?"
" Tidak Boss, sepertinya Tuan Janes sudah berhenti. Tidak ada tanda tanda dia merencanakan sesuatu. Karena Sekarang dia sedang berfokus pada Bisnis yang akhir akhir ini merosot."
" Bagaimana dengan Jasson?"
" Dia sudah sadar Boss. Ini sala satu alasan Tuan janes tidak mencari anda lagi, karena ia menyerahkan masalah ini setelah Jasson pulih."
"Kenapa harus dia, seharusnya mereka berdua saja. Biar mereka mati bersama bukankah itu lebih baik? Mereka sudah menyiksa Brigitta di mansion besar itu. Harusnya Pria itu mati di tempat malam itu. Kenapa bisa dia selamat?" Mungkin karena Tuhan masih menginginkan Jasson hidup.
" Apa saya harus bertindak sekarang bos?"
"Tidak usah, kita tunggu saja bagaimana rencana mereka selanjutnya."
Benar sekali Kevin adalah orang yang hebat punya banyak cara untuk mengatasi masalah.
Janes seorang pengusaha terkenal dan orang yang sangat Dihormati dan disegani bisa dia labui dengan mudahnya.
Janes sudah mengerakkan pasukannya tapi nihil, tidak ada yang sukses menangkap Kevin. Dan malah berbanding terbalik, pasukan Janes sudah banyak yang tewas karena Ulah kelompok Kevin.
Karena rencana selalu gagal dan malah jadi rugi, Janes memberhentikan mengirim orang orangnya untuk melukaiku Kevin.
Jika mengandalkan pihak berwajib, mengandalkan hukum negara, tidak akan mungkin karena kelompok Kevin bekerja sama dengan pihak keamanan Negara. Jika mereka melaporkan bukan Kevin yang di tangkap malahan Janes. Lebih baik tidak disangkut pautkan dengan hukum dari pada menyesal nantinya.
***
Jasson berbaring di atas kasurnya. Semua alat medis yang melekat sudah di cabut.
Kondisinya saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya.
Ceklek
Pintu itu terbuka.
Gita berjalan sambil memegang nampan yang berisi makanan dan minuman.
" Suamiku.." panggil Gita setelah meletakkan makanan di nakas dan duduk di tepi ranjang.
"Suamiku.." panggil Gita lagi karena tidak mendapat jawaban.
Panggilan suami tidak janggal lagi buat Gita.
Jasson membuka matanya.
Melirik Gita di sampingnya.
"Makanan anda sudah saya siapkan!"
"Aku tidak berselera." Jasson hendak menutup mata kembali.
" Hem, Anda harus makan. Supaya kondisi anda cepat membaik."
Jasson diam saja dan masih setia menutup mata itu.
" Suamiku... Makanlah." Ucap Gita sangat lembut, kini mata Jasson terbuka lagi.
Gita memberanikan diri untuk terseyum.
" Saya yang memasaknya untuk anda, Cobah sedikit saja!"
" Kenapa kau, Jika ada sesuatu dimakannya bagaimana? Apa kau mau tanggung jawab?"
Gita menaikkan alisnya, yang benar saja selama ini Jasson makan di masak oleh Koki disertai ahli Gizi mengukur kesehatan pada makanan.
" Saya akan tanggung jawab, tidak usah khwatir!"
" Tapi, tetap aku tidak berselera!" Jasson membalikkan badannya membelakangi Gita.
" Astaga, dia seperti anak kecil saja. Susah sekali disuruh makan!"
Gita memegang punggung itu.
"Suamiku makanlah, keburu dingin. Lagian jika anda sehat anda bisa melakukan banyak hal bukan? Makanlah Agar Anda terlihat keren bisa berdiri tegap! Jika anda menggunakan setelan jas kerja anda terlihat tampan. Pasti banyak wanita yang menyukainya. Apa anda tidak mau? Apa anda akan selalu berbaring sakit sakit disini?"
Dalam hati Gita merutuki Ucapannya, untuk apa dia mengatakan itu.
Jasson berbalik menatap Gita menaikkan alisnya.
" Apa maksud mu?"
" Maksud saya? Ya itu." Gita menatap arah lain tidak ingin menjelaskan lagi.
"Apa?"
"Anda Tampan dan keren jika berdiri tegap mengenakan Jas. Apa anda tidak menginginkan banyak mata memandang anda takjub?" Gita bersikap biasa walau dalam hati menjerit.
" Benarkah? Kau mengakui ku tampan? Bukannya kau bilang aku sangat jelek?"
Jasson masih ingat Gita memakinya dan mengatai dia Jelek.
"Ah, itu, itu mungkin karena mataku sedikit kabur." Ucap Gita tertawa garing. Padahal dalam hati...
Kau memang sangat jelek tapi tergantung eksperesi wajahmu, jika kau marah dan dingin kau seperti orang hutan, tapi jika terseyum tulus kau sangat tampan.
" Kau tidak pernah lagi memakiku kenapa? Kau juga tidak pernah lagi mencium dan memelukku?"
__ADS_1
Apa? Kenapa dia mengatakan ini? Apa dia gila? Mana mungkin aku memakinya jelas jelas dia sudah sadar.
" Apa anda menyukai saat saya melakukan itu?" Tanya Gita sedikit tersenyum mengejek.
" Apa kau pikir aku Gila? Untuk apa aku suka di peluk dan dicium oleh mu!"
Kan, ini nih. Dia akhirnya marah.
"Tuan makanlah, Makanannya akan dingin."
Jasson menggerakkan badannya dan bersandar pada kepala kasur.
Akhirnya dia nurut juga.
Gita memberikan makanan itu.
"Ini suamiku, makanlah."
"Apa kau sudah tidak punya otak? Kau menyuruh ku makan sendiri?" Jasson melotot kan matanya.
Dengan cepat Gita menarik tangganya kembali.
" Ah maafkan saya, saya pikir anda sudah bisa makan sendiri." Secara suara anda mengatakan bahwa anda sudah kuat tanpa merasa lemah.
Gita memberikan suapan pada jasson setelah dia mendoakan makanan itu.
Jasson sudah mulai makan bubur selama dua hari ini, Dan Gita yang selalu menyuapi Jasson. Tapi karena tadi Gita kesal Apalagi melihat Jasson sudah mulai pulih dia berikan saja mangkuk itu, eh malah dapat marahan dari Jasson. Sedikit menyesal sih.
" Nanti ganti pakaian ku!"
Gita membalikkan badannya yang ingin melangkah keluar itu.
" Sa saya? Kenapa? Bukankah Dokter Arya selalu datang untuk memeriksa sambil Menganti pakaian anda?"
"Apa kau tuli? Apa tadi kau tidak mendengar ucapan Arya?" Arya mengatakan bahwa kondisi Jasson sudah jauh lebih baik. Dan Arya akan datang sekali seminggu untuk pemeriksaan.
" Tapi, bukankah anda sudah bisa Menganti pakaian sendiri? Tadi, kata Arya anda sudah lebih baik!"
" Apa kau lupa? Aku ini suamimu. Emang apa salahnya, bukankah setiap hari kau bisa melakukan nya? Baik aku sehat ataupun sakit, Karena itu sudah jadi kewajibanmu sebagai istri!"
" Tapi, anda mengatakan bahwa saya tidak boleh menyentuh anda!"
" Kau lupa lagi? Kau yang sudah melanggarnya lebih dulu! Kau memelukku tanpa seijin ku, kau menciumku dan lain lagi yang melanggar peraturan, sudah kau lakukan! Jika dihitung kau sudah mendapatkan sangsi serta denda akan itu. Dan Lico akan mengurusnya!"
" Maafkan saya tapi itu.."
"Aku tidak peduli lakukan saja yang kuperintahkan! "
" Tuan, bisakah beri saya kelonggaran, tolong jangan berikan saya denda! Saya tidak punya apa apa!"
"Caranya bagimana?" Tanya Gita namun Jasson sudah bersandar kembali dan membelakangi Gita.
Dengan malas Gita keluar dari kamar itu.
"Lagian dulu untuk apa aku mengatakan akan menunjukkan diriku sebagai istri, sekarang dia malah memojokkan ku pada kata kata istri." Gita turun kebawah menggunakan life. Malas sekali menuruni anak tangga yang sangat banyak itu pikirnya.
" Mama,,, kenapa mama disini?" Tanya Gita yang melihat Monika duduk di ruang utama mansion.
" Mama bosan dikamar!" Saat ini infus yang dikenakan Monik tidak ada lagi.
" Tapi kondisi mama kan belum.."
" Tidak, mama sudah lebih baik sekarang. Bagaima dengan Jasson?"
" Kata Dokter Arya Jasson sudah jauh lebih baik ma."
" Syukurlah Mama bahagia mendengar nya." Senyum monik.
"Mama udah makan?"
Monik mengangguk.
"Baguslah.. Em, Gita ke belakang dulu ya ma!" Ucap Gita tersenyum dan berlalu pergi.
Monik hanya tersenyum menatap Gita yang semakin menjauh dan tak terlihat.
***
" Halo Pa.."
" Aku sudah sampai di bandara, Jemput aku. Aku mau papa yang jemput, aku gak mau pelayan ataupun bodyguard dan asisten papa!"
"Baiklah, baiklah papa akan jemput kamu! "
Pria paruh baya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, anaknya bungsunya masih saja bertindak manja seperti ini tidak ada perubahan.
"Pa pa ..." Setelah pria paru baya sampai di bandara Gadis imut itu langsung berlari memeluknya.
"Aku merinduka Papaku.." Gadia itu sedikit meneteskan air matanya.
" Papa juga merindukan Putri papa yang imut ini." Melepas pelukannya dan mencubit pipi gembul itu pelan.
"Sakit pa.." cemberut memajukan bibirnya.
"Udah gede, masih ajah kayak anak TK."
__ADS_1
"Papa, apaan sih. Aku juga seperti ini cuman sama papa. Lagian aku rindu ..
Oh iya, bagaimana kondisi mama?"
" Em, gimana ya?" Ucapnya sambil bersikap seolah berpikir.
" Kenapa pa?" Tanya nya serius.
"Kepo? Let's go kita lihat mama langsung di mansion oke! " Pria paru baya itu langsung membawa putrinya memasuki mobil. Sedangkan Gadis itu masih mencernah ucapan papanya.
"Pa, mama baik baik saja kan?" Mulai cemas.
"Mama, sudah mulai membaik sayang. Kamu bisa lihat sendiri nanti!"
..
Mobil mewah itu memasuki halaman mansion.
Setelah mobil berhenti Gadis itu tanpa basa basi dulu langsung membuka mobil dan berlari cepat memasuki mansion.
Brukkkk
"Aauw." Gadis itu tidak sengaja menabrak seorang yang berjalan santai.
Mereka berdua terhempas dilantai itu.
" Maafkan saya!" Ucap mereka bersama. Tapi belum bertatapan, berdiri dan malah asik membersihkan pakaian satu sama lain.
"Anda siapa?" Tanya Gita heran, karena ia tidak pernah melihat Gadis itu sebelumnya.
Gadis itu menatap depannya. Menatap siapa yang dia tabrak. Melihat dari atas sampai bawah. Bukan ciri ciri pelayan mansion itu.
Pakaian Gita juga bagus, pakaian mahal dan hanya beberapa orang saja yang bisa memilikinya.
" Apa ini isteri kak Jasson? Kenapa sangat sederhana? Bukankah semua wanita yang di jodohkan dengan kakak wanita yang sangat waow? " Pikirannya dan menatap sinis pada Gita.
Kenapa dia tiba tiba menatapku seperti itu? Apa dia kesambet, sebelumnya dia biasa biasa saja kenapa sekarang?
" Anda siapa? Kenapa anda berlari di ruangan ini. Itu dilarang dilakukan disini!"
Tanpa menjawab gadis itu malah lari lagi mencari sang mama yang ia rindukan.
"Hei, anda sedang apa?" Gita ikut mengejar Gadis yang tidak punya sopan santun menurut Gita.
Saat ingin ke kamar sang mama dia melewati ruang Utama dan hal itu membuat Gadis itu berhenti.
Berjalan ngendap bgendap mendekati sofa ruangan itu.
Gita masih setia mengikuti aksi Gadis aneh itu.
" Jangan ngendap ngendap Begitu Gita! Mama tau!" Ucap Monik karena mendengar langkah kaki pelan.
Gita? Siapa dia?
Gadis itu membuang pertanyaan nya dan memeluk monik dari belakang.
" Gita.. Apa yang kau lakukan? Mama sesak Jangan memeluk seperti itu!"
Karena malas mendengar nama yang tidak dia kenal, gadis itu segera mendekati sang mama dan seolah mempertunjukkan dirinya.
"Tada... Morisa pulang!!" Ucapnya sedikit berteriak merenggangkan kedua tangannya.
"Morisa...." Ucapnya terkejut.
Gadis itu dengan cepat duduk di sofa dan memeluk mama tercinta.
" Mama, Morisa merindukan mama." Gadis itu meneteskan air mata memeluk Mamanya.
"Anak mama yang cantik, mama juga merindukanmu sayang." Pelukannya sambil menangis juga.
Sedangkan Gita masih diam membeku disana menatap adengan seperti ini sedikit terharu.
"Dia Morisa, oooh pantas saja dia bebas berlari tadi! Hem, menyenangkan sekali dipeluk mama seperti itu. Uh, teringat lagi kan!" Gita menghela nafasnya.
Pok
Seorang menepuk bahu gita pelan.
Sontak Gita terkejut setengah mati.
...
To be continued
...❤️❤️❤️...
🍁 Jangan lupa like, Vote, dan beri hadiah ya Beste 🥰🍁
.
.
.
Sampai jumpa 🍃
__ADS_1