
"Sejak kapan anda disini?" Tanya Gita heran.
" Kenapa?"
Jasson menggunakan life jadi dia duluan nyampe deh.
"Kenapa terbalik. Seharusnya kau kan yang menunggu, kenapa jadi aku?" Jasson menaikkan alisnya.
"Apa, Anda menunggu saya?" Gita terheran menunjuk dirinya.
"Ya, bersiap lah. Lakukan kewajiban mu sebagai seorang istri. Kau sendiri yang mengatakan nya kan? Kau tidak lupa itu kan?"
"Maksud anda? Melakukan ke kewajiban seorang istri? Bukannya sudah saya lakukan? gugup plus khwatir yang Gita rasakan saat ini.
"Benarkah sudah kau lakukan? Apa saja yang sudah kulakukan padaku?"
" Saya, menyiapkan makanan, memberi anda baju ganti, menyiapkan air mandi, memakaikan sepatu me.."
"Cukup! Bukan itu maksud ku! Kau tau kan seorang istri harus melayani suaminya. Aku menginginkan dirimu sekarang juga!"
"Menginginkan ku?" Apa jangan jangan dia ingin melakukan kewajibannya sekarang? What kenapa, kenapa mendadak dia berubah.
Jasson mendekat ke arah Gita. Gita mundur satu langkah kebelakang dan terjebak pada pintu itu. Pintu sialan kenapa ada disini.
Jasson menarik pinggang ramping Gita hingga posisi mereka sudah berdempetan sekarang.
"Kau mengataiku Gay kan? Kau pikir aku tidak normal! yang benar saja! Lihatlah akan ku buktikan kalau aku pria normal." Tersenyum seringai.
" Lepaskan saya Suamiku. Saya benar benar tidak siap untuk ini!"
" Kau membiarkan pria lain memelukmu. Tapi kau marah dipeluk oleh ku! Kenapa?
Apa Kau lupa, aku lebih berhak atas dirimu di banding pria lainnya."
Jasson semakin mengeratkan pelukannya.
"Suamiku, tolong jangan seperti ini! Anda bisa memelukku. Tapi tidak begini caranya. Anda menyiksaku jika begini."
Jasson melonggarkan pelukannya.
Menaikkan dagu Gita dan menundukkan kepalanya.
Jasson memainkan bibir itu. Mencoba bermain di dalam namun Gita diam saja dan tidak memberikan cela untuk Jasson.
"Jangan menahan! Buka mulut mu!" Jasson kembali menyentuh bibir itu. Kini gita mencoba membiarkan jasson bermain tanpa membalasnya. Sesak itulah yang di rasakan Gita. Dengan cepat Gita mendorong dada Jasson.
"Uh, aku tidak bisa bernafas." Gita gelagapan dan mencoba menetralkan nafasnya. memegang dada dan mencoba menghirup udara banyak banyak.
Jasson mendekat.
"Kau benar benar tidak pernah melakukan nya? Kenapa kau tidak membalas ciumanku?" Jasson bertanya tanya, Kenapa Gita sangat polos untuk berciuman seperti ini?
"Saya sudah pernah katakan, saya tidak pernah berciuman. Dan waktu itu. Itu adalah ciuman pertama ku!" Ucap Gita masih memegang dada.
"Benarkah," jasson terseyum memeluk pinggang itu lagi. Merasa senang jika dia mendapat benda yang tidak pernah orang lain pegang.
Jasson hendak mencium gita.
"Suamiku, saya benar benar tidak bisa bernafas. Saya bisa mati jika Anda mengulangi nya!" Gita menahan dada Jasson yang mendekat.
"Kau tidak akan mati!"
Jasson menggakat tubuh gita ala bridal style.
"Apa yang anda lakukan? Turun kan saya!"
"Jangan berontak atau kau akan ku jatuhkan ke lantai!" Gita diam dan menatap kerah mana Jasson akan membawanya.
Jasson menjatuhkan Tubuh Gita ke kasur besar itu.
"Kenapa anda menjatuhkan ku disini." Gita hendak bangun. Namun jasson dengan cepat menindihnya.
" Jangan coba coba kabur. Kau harus menemaniku malam ini!"
__ADS_1
Jasson memulai ciumannya lagi.
Sesekali ia melepaskan agar Gita bisa bernafas. Kini dia berpindah pada leher jenjang Gita.
Meninggalkan cap merah disana.
Geli itu lah yang dirasakan Gita.
Sedikit ******* ia keluarkan ketika Jasson menciumi leher itu dengan lembutnya. Bisa bisanya Jasson sangat baik melakukan nya padahal dia tidak pernah berbuat hal itu sebelumnya.
"Suamiku, tolong hentikan! Aku bekum siap!"
Ucap Gita lemas.
Jasson tidak menghiraukan dan terus menciumi Gita.
"Suamiku ku mohon!"
Jasson berhenti. Menatap Gita sebentar.
wajah nya sungguh tidak terima Jasson melakukan itu padanya.
"Apa kau benar benar tidak akan melakukan tugas mu sebagai isteri? Apa kau akan membiarkan ku menahan hasrat yang sudah memuncak? Apa kau ingin aku melampiaskan pada wanita lain diluar sana? Kau sudah membangunkan hasrat ku sejak kau mengambil ciumanku. Dan aku masih bisa menahannya hingga sekarang. Dan tadi di mobil kau yang memulainya. Sekarang kau benar benar tidak ingin melakukannya? Kau benar benar berpikir aku Gay? Hingga kau melakukan hal hal seperti itu padaku!"
Jasson membenarkan posisinya dan duduk di pinggir kasur.
Ada rasa bersalah di hati Gita. Bagaimana pun. Dia sekarang seorang istri dia harus siap kapanpun, jika suaminya menginginkan nya dan bukan malah sebaliknya.
Gita bangun dari posisinya. Tapi aku benar benar tidak siap sekarang. Aku akan melakukannya jika aku dan dia sudah memiliki perasaan satu sama lain. Aku tidak ingin dia melakukannya hanya ingin memuaskan nafsu semata. Aku ingin dia dengan tulus dan rasa cinta melakukannya.
"Suamiku, maafkan aku!" Gita mendekat ke arah Jasson.
Jasson berdiri, tidak menjawab atau menatap Gita. pergi menuju ruang pakaian.
Dan keluar dengan stelan yang memukau setiap pandangan mata yang melihatnya.
"Anda mau kemana?" Tanya Gita khwatir jika Jasson benar benar akan melakukannya dengan wanita lain.
Gita turun dari kasur dan berlari menghadang Jasaon.
"Anda mau kemana?" Gita menghambat Jalan Jasson dengan merentangkan kedua tangannya.
" Apa aku harus memberi tahu padamu!"
" Ya, "
"Sangat tidak penting!" Ucap Jasson tersenyum seringai, dan mencoba lanjut berjalan.
" Tapi bagiku itu penting. Anda suami saya. Jadi saya harus tau anda kemana menggunakan style Begini!"
Gita menatap Jasson dari atas sampai bawah.
Jujur saja dia juga terkesan menatapnya.
"Kau mengakui ku sebagai suami? Tidak ada seorang suami yang dilarang menyentuh isterinya. Dan kau bukanlah seorang istri. Seorang isteri yang baik dan patuh pada suami. Harus memberikan semuanya pada suami termasuk melayani suaminya,,,"
Gita terdiam.
Mungkin dia benar benar lupa dengan tugasnya. Yang Seharusnya memang sudah ia lakukan dari dulu.
"Kau tidak bisa memberikan nya kan! "
Jasson berjalan namun...
Gita berlari memeluknya.
"Maafkan aku. Kumohon jangan pergi, jangan mencari wanita lain. Aku akan melayani mu. Tapi jangan pernah untuk bertindak melepaskan hasrat pada wanita diluar sana"
Benar saja walaupun Gita belum mencintai Jasson sepenuhnya. Namun isteri mana yang dengan bahagia membiarkan suaminya pergi untuk menemui wanita lain?
Jasson menaikkan kedua alisnya.
Kenapa Gita bicara seperti itu pikirnya.
__ADS_1
Pikirannya dan pikiran Gita berbeda saat ini.
Jasson melepaskan pelukan Gita. Berbalik badan dan menatap Gita yang sudah meneteskan air mata.
"Kenapa kau menagis? Dan apa maksud mu bicara seperti itu?"
"Jangan pergi. Aku akan melayani mu! Tapi tolong berikan aku waktu, aku benar benar tidak bisa sekarang!"
Aku? Gita sudah mulai bicara aku kamu?
"Tolong jangan pergi mencari wanita lain!"
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Kau pikir aku Gila bermain dengan wanita di luar sana? Aku akan pergi pertemuan dengan klien di luar."
Ada ada saja, mana mungkin Gita mengangap serius ucapan becanda Jasson. Mana mungkin juga seorang Jasson akan bermain dengan wanita lain. Jelas jelas Gita sudah tau Bagaimana kepribadian Seseorang Jasson.
"Tapi kenapa menggunakan style begini. Dan kenapa tiba tiba, kenapa tidak sejak tadi?"
"Apa aku perlu menjelaskan? Apa kau lupa Lico tadi menelpon? Tadinya aku ingin membatalkan namun karena mu, aku akan ambil. Jadi tidak perlu kau menawar diri lagi. Aku tidak berselera lagi!" Jasson berjalan meninggalkan Gita yang masih berdiri di sana. Sebenarnya dia sudah membatalkannya namun Jasson malas memberitahukannya.
"Dia ingin membatalkan kerja demi ingin menyentuh ku? Tapi aku melarang nya, uh, apa aku sangat kejam?" Pikir Gita.
Gita berjalan kenarah balkon.
Menatap mobil Jasson yang berlalu pergi meninggalkan halaman mansion.
"Maafkan aku."
Gita berlalu pergi ke kamar mandi.
Sebenarnya sala satu alasannya tidak mau disentu karena dia sedang kedatangan tamu. (Haid)
Gita keluar kamar mandi setelah mengganti pembalutnya.
Berjalan ke luar kamar menuju lantai atas. Entahlah sudah kebiasaan setiap malamnya Gita harus memainkan piano itu dan menatap pemandangan dari atas balkon.
**
" Tuan, kenapa anda kemari?" Tanya Lico setelah Jasson duduk di sofa apartemen Lico.
" Kau tau, aku sudah membatalkan kerja sama besar besaran tadi, tapi tidak mendapatkan apa yang kuinginkan!"
"Sebenarnya, kenapa anda membatalkannya, apa yang sudah terjadi Tuan?" Tanya Lico heran. Tumben sekali Jasson sampai datang ke apartemen Lico malam malam begini.
" Kau tau, aku baru saja di tolak."
Lico menaikkan kedua alisnya.
"Maksud anda Nyonya Brigitta?"
"Ya, aku tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Bisa bisanya dia menolakku! Dia dengan kurang ajar memeluk pria lain, dan saat aku memeluknya dia malah marah! Apa itu tidak kurang ajar? Membuat ku geram saja ingin melakukannya dengannya."
Yang benar saja, Tuan jasson sakit hati?
Cemburu?
Lico tidak habis pikir Seorang Jasson yang untuk pertama kalinya merasa cinta harus menerima penolakan plus sakit hati dan cemburu.
Sungguh cinta pertama yang menyedihkan. Cinta bertepuk sebelah tangan?
To be continued
...❤️❤️❤️...
🍁 Jangan lupa like and vote ya Beste 🍁
.
.
.
Sampai jumpa 🍃
__ADS_1