
"Almarhum ayah dan Bundanya sudah tenang di alam sana."
"Almarhum?"
"Ya, orangtua Biska sudah meninggal 6 tahun yang lalu."
Morisa menutup mulutnya baru saja dia senang langsung sedih lagi. Bagaimana mungkin kak yol bisa sembuh jika orang yang harus bertemu dengannya sudah tiada.
"Biska?"
"Hem, namanya Biska Yolanda Yarzar."
"Tapi apa kah mungkin kak Yol bisa sembuh sedangkan keluarga inti nya sudah tidak ada lagi?"
Ucap Morisa melemas.
"Dan tadi, apa yang tante katakan pada Kak Yol sampai dia seperti itu?"
"Tante mencoba mengingatkan bahwa tante sahabat Bunda nya."
"Bagaimana sekarang?"
Tanya Morisa serasa hilang harapan.
"Sebenarnya apa penyakit yang diderita Yolan hinga dia seperti ini?"
"Kecelakaan pesawat waktu itu, membuat kak Yol hilang ingatan. Bahkan nama sendiri tidak tau. Kaka Yol terus hanya berteriak dengan menyebut Bunda. Aku sangat kasihan melihat kak yol pada masa itu. Untung ada liontin dan syall yang bertulisan nama Yolan dan Yolanda. Jadi kami berpikir itu adalah namanya. Namun kami sudah mempublikasikan keberadaan kak yol di media namun tak ada yang mengakui kak Yolan." Jelas saja negara yang berbeda dengan tempat orangtua Yolan. Yang pasti berita itu tidak akan sampai pada telinga Keluarganya.
"Yolan punya saudara Mor." Ucap Gresya dengan cepat. Berpikir bisa saja setelah bertemu saudaranya mereka bisa lebih mudah membantu untuk memulihkan memori otak Yolan yang sudah kabur.
Morisa dengan cepat menatap Gresya.
"Saudara? Kak Yolan punya saudara? Siapa tan?"
"Ya, bahkan Yolanda punya saudara kembar namanya Bisma Yeriko Yarzar dan adik bungsunya-" belum sempat Gresya berucap pintu ruangan tersebut langsung terbuka yang menimbulkan suara yang lumayan keras karena sang pembuka sedikit mendorong kuat pintu tersebut.
"Morisa..
Yolan Sepertinya, dia membutuhkan mu. Dia berteriak di ruangannya!"
"Apa? Tante kita akan lanjutkan nanti. Aku akan keruangan kak Yol sekarang!"
Dengan berlari Morisa segera masuk ruangan Yolan disana sudah ada dokter dan beberapa perawat.
"Saudara Dokter Yolan?" Tanya dokter.
"Ya, saya saudara nya."
"Tolong tenangkan dokter Yol." Menatap yolan yang terus menyebutkan nama Bunda dan menagis menarik rambut yang ditahan oleh perawat.
"Kak Yol kak Yol ini aku Morisa. Tolong tenang lah kak!"
"Morisa, Bunda, dimana bundaku?"
Morisa berpikir apa yang harus dia katakan?
"Dok, lebih baik jangan paksa kak Yolan. Sebaiknya beri obat penenang saja." Ucap Morisa yang melihat kasihan pada Yolan.
"Baiklah jika itu keinginan anda. Tapi masalahnya obat ini akan lebih menggangu setelah sadar nanti."
"Aku akan cari cara agar membuatnya tidak histeris ." Ucap Morisa matang.
"Baiklah.
Sus.." Dokter tersebut meminta di racikkan obat penenang.
πππ
Kini Jasson sudah berada di rumah sakit setelah menerima kabar dari Morisa Jasson sampai meninggalkan meeting penting nya dan langsung menuju RS J.
Morisa sudah menjelaskan semua yang terjadi hari ini kepada Jasson.
"Jadi bagaimana? Siapa keluarga nya?"
" Keluarga nya sudah pulang. Mereka juga seminggu disini karena tante itu juga sakit dan hari ini mereka balik ke rumah mereka. Tadi aku tidak sempat melanjutkan obrolan karena kak Yol tiba tiba histeris kembali."
__ADS_1
"Siapa dia?" Tanya Jasson. Siapa tau dia mengenali nya.
"Tante Gresya."
"Siapa dia?"
"Entahlah aku kurang mengenal secara rinci keluarga mereka." Ucap Morisa merasa kalah. Kenapa tadi dia tidak menanyakan siapa Gresya.
"Tapi tante Gresya sudah menceritakan sedikit mengenai Keluarga kak Yol." Morisa menatap Jasson lekat.
"Kedua orang tua kak Yol sudah meninggal, kak yol punya kembaran dan adik perempuan."
" Meninggal?" Tanya Jasson serius.
"Iya almarhum sudah 6 tahun tiada."
"Dimana saudara kembar dan adiknya?"
"Aku belum sempat menanyakan itu kak, terakhir dia mengatakan nama kembarannya itu, kalau gak salah namanya Em, siapa ya. Ah iya, Bisma Yeriko Yarzar. Dengan mantap Morisa menatap Jasson. Yang seketika terkejut dan terheran apalagi mendengar nama Yarzar.
"Mor, kamu gak salah nama kan?" Tanya Jasson mengulangi sambil menatap Morisa
"Tidak kak dan nama adiknya,
Tante gres gak sempat di ucapkan lagi. Kenapa wajah kakak tegang sekali apa kakak kenal dengan Bisma Yeriko Yarzar?"
"Tidak mungkin kakak tidak mengenalinya, dia-" Jasson sangat ragu untuk memberitahukan pada Morisa. Apa harus dirahasiakan dulu?
"Siapa kakak?"
"Em, kamu akan tau, sebaiknya kamu pulang aku akan menjaga Yolan disini!"
"Tidak, aku tidak mau. Lebih baik kakak saja yang pulang. Pasti istri kakak sudah mencari kakak sekarang!"
Ah, iya Jasson sampai lupa mengabari Gita.
"Mama sama papa juga pergi ke negara U tadi pagi. Aku udah kabari tentang kak Yol. Mereka tidak bisa putar balik. Jadi mungkin dua hari lagi mama dan papa baru nyampai disini." Ucap Morisa memberitahu.
"Aku akan menelpon Gita. Sebaiknya kamu pulang. Sedari tadi kamu sudah menjaga Yolan. Kita gantian."
"MOR-" Baru Jasson ingin menasehati Morisa panggilan telpon membuyarkan semuanya.
"Aku tebak itu pasti isteri mu!" Ucap Morisa sinis.
Dan benar saja panggilan Dari Brigitta.
Jasson sedikit menjauh dari Morisa dan menerima telpon Gita.
"Sayang, kamu makanlah lebih dulu. Jangan menunggu ku. Aku berada di RS menemani Yolan."
"Yah, dia kambuh lagi! Jangan khwatir aku akan menjaganya disini. Berdoalah agar semua rencana berjalan baik. Kamu akan bahagia jika bertemu dengannya."
"Morisa akan pulang. Papa dan mama pergi ke negara U. Maafkan aku kamu harus sendiri malam ini."
"Terimakasih sayang kamu memang pengertian." Telpon terputus.
"Mor, pulanglah. Jangan membuat kakak harus mengeluarkan kata kata segit."
Morisa menghelah nafas. Menatap kakaknya malas kenapa sih tatapannya membuat semua orang bungkam?
"Lagian kakak ipar tidak takut sendiri Kak Jas, ngapain harus pulang?"
"Sebaiknya kamu jaga sikap dan lebih akrab dengan Gita. Jika kamu tau siapa dia kamu akan menyesal sudah berbuat demikian padanya. Lebih baik sekarang kamu pulang dan bila perlu kalian makan malam bersama atau istirahat bersama!"
"Iizz itu tidak mungkin dan tak akan pernah bisa aku akrab dengannya. Kakak tidak tau aja dia itu sama dengan ular berbisa dan kakak tau aku dan dia bagaikan Bumi dan Langit yang tidak akan pernah bisa nyatu"
"Morisa!! Jaga ucapanmu."
Morisa dengan cepat berlari meninggalkan Jasson. Jangan sampai dia di maki lebih dalam.
ποΈποΈποΈ
"Aku tidak nyangka Gita dan Yolan adalah saudara. Tapi kenapa Gita tidak mengenal Yolan jika benar dia saudaranya?" 10 tahun bukanlah waktu yang bisa untuk kita melupakan wajah seseorang apalagi dulu Yolanda sudah tamat SMA dan sangat jelas wajah SMA nya tidak jauh berbeda dengan wajahnya sekarang. Tapi kenapa Gita tidak mengenalinya?
Jasson tampak frustasi. Bagaimana caranya mengatakan siapa keluarga Yolan. Ini pasti akan jauh lebih sakit untuk memulihkan ingatan Yolan.
__ADS_1
"Apa mungkin aku menghubungi Bisma? Naluri saudara kembar pasti mujarab untuk membantu kesembuhan Yolanda."
Tapi kemana ia harus mencari Bisma yang jelas jelas tidak pernah ada kabar setelah usahanya maju dan berkembang Bisma serasa hilang di telan bumi.
ποΈποΈποΈ
"Kenapa kak Jasaon selalu berucap aku akan menyesal sih? Memangnya dia itu siapa? Keluarga nya saja tidak jelas asal nya dimana!"
Morisa pusing sendiri sambil berjalan menuju parkiran dia terus memaki maki.
"Uh, semoga saja kak Yol bisa segera sembuh! Semoga keluarga nya cepat ditemukan." Heran aja selama ini kak Yol kenapa tidak di cari keberadaan nya. Apa keluarganya gak sayang sama dia? Kasian sekali liat kak Yol histeris dan merasa sakit seperti itu.
Morisa menghempaskan tubuhnya ke dalam mobil. Dalam perjalan dia tak hentinya memikirkan Yolanda.
ποΈποΈποΈ
"Morisa..
Bagaimana keadaan kak Yol?" Tanya Gita setelah Morisa turun dari mobil.
"Aaahzz apaan sih. Gak usah sentuh aku. Aku ngantuk ingin tidur. Jangan menggangguku. Jangan sok Care!" Morisa menghempaskan tangan Gita yang memegang lengannya.
"Mor...
Bisakah kau bicara dengan sopan sekali saja!"
"Tidak aku tidak bisa!" Morisa berjalan melangkah, tangannya langsung di cekal oleh Gita.
"Bagaimana kondisi kak Yol?" Tanya nya sekali lagi.
"Kalau ingin tau kenapa gak liat aja sendiri huh? Berdiam disini itu jelas menunjukkan kalau kamu gak peduli tentang kak Yolan! Melainkan sok peduli" Tatapnya tajam.
Bukannya Gita tidak mau kesana, tapi Jasson tidak mengizinkan nya. Apa Boleh buat dia harus mematuhi perkataan suaminya. Dan tadi juga Morisa mendengarnya saat Jasson bicara di telpon Morisa aja yang sangat suka mencari masalah pada Gita.
"Tidak bisa jawab kan! Udah lepasin tangan aku!"
"MOR." Ucap Gita menekan.
"Kak Yol histeris lagi. Sama seperti saat bertemu pertama denganmu. Tapi ini jauh lebih parah! Sudah? Kau belum puas?"
"Apa sebenarnya yang di derita kak Yolan?"
"Hem.." morisa menghelah nafas. Malas sekali meladeni orang didepannya ini, tapi apa boleh buat. Gita menggenggam tangan nya dengan kuat jika dibiarkan lama pasti akan meninggalkan cap jari."
"Apa itu penting buat mu? Lagian kenapa banyak nanya sih. Kak Yol juga bukan siapa siapa bagimu!" Tidak tau kenapa mendengar Yolan masuk RS Gita sangat cemas.dan khwatir. Melihat morisa pulang dia sangat senang terburu-buru lari mendekat dan langsung menanyakan pada Morisa apa yang telah terjadi.
Ada perasaan yang tidak bisa di gambarkan dalam hati Gita yang terdalam. Ada perasaan sedih yang kuat dalam hatinya dia juga tidak mengerti kenapa Semarah ini saat morisa mengabaikan nya saat menanyakan tentang Yolan.
"Ya sangat penting, aku mengkahwatirkan kak Yolanda!" Ucap Gita lantang.
Morisa menatap tajam Brigitta, orang ini keras kepala. Sudah dibilangin juga!
" Kak Yolan amnesia. Sudah 10 tahun dia terpisah dengan keluarga nya. Kak Yol kecelakaan pesawat dan kehilangan ingatan! Sudah? Lepaskan tanganku!"
Dengan keras Morisa menghentakkan tangan Gita agar terlepas.
Tanpa menunggu jawaban dari Gita, Morisa berlari menuju kamar nya. Sudah sangat malas jika masih meladeni Kakak iparnya itu.
"Sepuluh tahun yang lalu? Kecelakaan pesawat? Amnesia?" Gita mengerutkan keningnya. Ada yang aneh. Terlihat janggal kenapa sama? Ini seperti cerita saudaranya yang hilang sepuluh tahun yang lalu, yang dikabarkan telah meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat yang sangat dahsyat.
Apa mungkin dia kak Yolanda ku? Tapi bukannya kak Yol sudah tiada?
Apa hanya mirip saja? Gita berpikir terus. Berjalan menaiki tangga.
To be continued π·
Jangan lupa like dan Vote sebanyak banyaknya.
Agar Ator bisa lebih semangat lagi πππ
.
.
.
__ADS_1
...Sampai jumpa π...