Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
66. Tarik Hatinya


__ADS_3

"Kita akan bicarakan ini setelah mama sembuh!"


Aditya mengelus bahu Kevin.


Bukan bermaksud Kevin untuk tidak patuh terhadap Mama dan Papanya. Tapi dia sangat shock, sejauh ini dia belum pernah mendengar kata kata Pernikahan dari mulut Aditya.


Aditya selalu bicara bisnis dan bisnis.


"Pa, aku keluar dulu. Jika mama sudah siuman hubungi Kevin." Lemas, dan berlalu keluar. Serasa sesak saja berada di ruangan itu. Dia ingin pergi mencari sejuknya alam luar.


Mama, menjodohkan ku. Jadi Gita? Bagaimana? Aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Seandainya saja Gita belum menikah dia pasti berpikir yang dijodohkan adalah Gita. Melihat situasi sekarang ini sungguh tidak memungkinkan. Orangtua nya saja sudah tau jika Gita menikah dengan Pengusaha ternama, Jasson Lakeswara. Mendengar nama Belakang saja sudah merinding.


Brukkkk.. tabrakan yang mengharuskan Kevin mengeluarkan Tenaga untuk menopang tubuh itu.


Menatap kosong dan menstabilkan posisi.


"Kau mencariku? Apa Ibu mu sudah siuman?" Menaikkan alisnya, sebelumnya dia baru saja bicara dengan suster dan berbalik arah namun Kevin yang sudah ada dibelakang langsung tertubruk hingga hilang keseimbangan.


Kevin hanya menggeleng dan mengabaikan Yolan. Tetap berjalan ke arah luar.


"Aneh.." Yolan memasukkan kedua tangan ke jas putih dokternya dan berjalan ke ruangannya yang ada di sebrang.


Dret.. Drettt..


📞Morisa


"Halo Sa?"


"Kak, jam berapa kakak pulang?"


"Belum tentu Sa, Kakak masih ada pasien."


"Padahal aku ingin makan malam bareng kakak. Ini sudah Jam 7 kak. Kakak udah makan belum." Jelas saja tidak, Mulai dari siang dia belum makan apapun karena operasi tadi.


Sungguh jadi dokter itu tidak mudah.


Dan seenak yang kalian bayangkan. Harus bisa mengorbankan waktu dan tenaga yang banyak.


"Belum, kamu Kenapa belum makan?"


"Tidak ada orang. Papa dan mama pergi jalan jalan. Aku tidak tau kemana." Untuk merilekskan pikiran karena selama sakit Monik tidak pernah keluar lagi. Dia ingin sekali Jalan jalan menikmati alam. Tidak tau saja, mungkin saja maha pencipta akan membawanya dalam waktu dekat yang jelas tidak tau kapan atau masih memberikannya kesempatan untuknya hingga memiliki banyak cucu.


"Tumben sekali Tante dan Om pergi ke keluar."


"Permintaan Mama. Kak,


pasti kakak belum makan kan. Ayolah kak luangkan waktumu untuk adek mu ini."


"Brigitta dan Jasson?"


"Kak Jasson belum pulang. Kalo kakak ipar tidak tau dimana." Ucapnya malas.


"Hem, bagaimana jika kau datang saja kesini. Kita makan di RS. Soalnya Kakak pesan banyak makanan." Untuk dibagikan pada semua Suster dan semua yang ikut menjalankan operasi tadi. Dan pastinya makanan itu pasti akan lebih.


"Apa aku di izinkan? Jika aku menggagu bagaimana?"


"Tidak, ini jam istirahat kami Sa. Segeralah datang sebelum kehabisan nanti." Ucapnya terkekeh.


"Aaa, Sisakan sama ku kak. Aku akan segera kesana." Morisa mematikan ponsel dan segera mengambil Hoodie hitam dan tas selempang nya.


Menggunakan sepatu pansus Supaya cepat tinggal slip.


Tidak lupa mengambil karet rambut memasukkan ke dalam tas mininya.


Berlari keluar sedikit tergesa.


"Morisa!" Panggil seorang menghentikan langkahnya.


"Apa??" Tanya nya ketus menatap Gita.


"Mau kemana malam malam begini?" Gita melihat sambil menautkan alisnya.


"Bukan urusanmu!" Morisa berlalu sedikit berlari.


"Anak itu! Jika jatuh bagaimana." Melihat Morisa yang lari tak tentu.


"Sudahlah, yang penting dia pergi bersama supir." Brigitta berjalan menuju kamarnya.


"Kenapa Jasson belum pulang?" Melirik jam weker di atas nakas. Berjalan menuju balkon.


"Apa dia lembur? Tapi kenapa tidak menghubungi ku!" Begitu juga kan Brigitta cemas. Jelas saja tidak ada seorang pasangan yang membiarkan pasangannya dikuar sana tanpa ada kabar.


Keluar balkon membuka tas kerja mengeluarkan laptop.


"Ah, rumit juga kerja kantoran.


Uh, apa yang ku bicarakan ini adalah cita cita ku." Bukan karena itu. Namun ada rasa khwatir sekarang. Tidak henti Gita menatap jam dan Laptopnya.


..


"Ini adalah keberuntungan ku. Astaga.." Morisa merapikan pakaiannya. Mengikat rambut agar terlihat rapi.


"Eh, tunggu. Kenapa dia? Terlihat menyedihkan." Morisa terseyum mencoba memikirkan sesuatu.


"Pangeran aku akan datang untuk menghibur mu!" Berharap bisa lebih dekat lagi dengan pria yang membuatnya menggila.


Ya, tebakan kalian benar dia Kevin. Duduk di kursi taman menikmati indahnya tanaman yang terlihat jelas oleh pancaran lampu yang berjejer banyak.


"Ekhem." Morisa mencoba agar pria itu meliriknya.


Kevin menatap ke arah samping.


Mengerutkan keningnya seperti bertannya ada apa.


"Apa aku boleh duduk disini?" Tanya morisa lembut.

__ADS_1


Kevin melirik kursi lain yang masih ada di samping sana.


Morisa yang mengerti sedikit khwatir jika Kevin mengusirnya.


"Duduk saja." Kata kata itu membuatnya tersenyum dan langsung duduk.


Dia tidak mengingat ku?


"Em, sepertinya kita pernah bertemu?" Ucap Morisa menatap Kevin.


Kevin menatap kembali memastikan apakah dia pernah bertemu atau tidak.


"kamu yang tidak sengaja aku tabrak kan?"Ucapnya setelah mengingat lama


"Hem, kupikir Anda tidak akan mengenal saya."


"Apa kau perlu sesuatu, apa ada masalah karena ku tabrak?" Soalnya kenapa Dia tiba tiba datang dan duduk di samping Kevin padahal disana masih banyak kursi yang kosong. Dan berada di rumah sakit kan aneh saja.


"Tidak," perhatian bangat sih..


"Saya hanya ingin berkenalan dengan anda. Apa boleh?"terseyum semanis mungkin.


Tidak ada jawaban hanya tatapan yang sepertinya mengartikan boleh.


"Nama saya Morisa," ucapnya menyerahkan tangan.


"Kevin." Ucapnya menerima jabatan tangan.


Wah, akhirnya aku bisa menyentuh tangan ini. Morisa terseyum Pepsodent.


Kevin segera melepaskan jabatan itu. Aneh pikirnya melihat Morisa yang tersenyum sendiri.


"Anda sakit? Atau ada keluarga?" Tanya Morisa memulai pembicaraan.


Kevin hanya menggaguk.


"Anda sakit?"


"Tidak, Mama ku." membenarkan perkataan lawan bicaranya.


Ah, kesempatan aku harus menghibur nya.


"Semoga cepat sembuh. Saya tau bangat bagaimana rasanya. Soalnya mama saya juga sakit." Ucap Morisa sesih menggingat ibu nya yang dulu pernah terbaring lemah.


Uh, kenapa dia diam saja. Morisa menatap Kevin yang menatap kosong ke arah depan seperti banyak bangat beban pikiran yang melanda. Berpikir pasti kevin tidak memperhatikan Ucapn Moris barusan.


"Ada masalah?" Tanya morisa hati hati.


Kevin mengalihkan pandangannya menatap Morisa.


"Tidak." Ucapa Kevin dan kembali menatap depan.


"Mungkin anda bisa cerita ke saya." Belum sempat Morisa melanjutkan ucapannya dia langsung di tatap oleh kevin.


"Aku tidak bermaksud, tapi kakak saya pernah bilang jika ada masalh lebih baik di ceritakan pada seseorang, itu bisa meringgankan beban."


Kevin kembali menatap.


"Jika tidak berniat juga tidak apa sih. Mungkin anda juga berpikir bahwa anda tidak mengenal saya." Morisa cengingisan menatap memegang tali tasnya.


"Kamu ngapain disini? Berobat?" Tanya Kevin mengalihkan pembicaraan.


Ah, iya Morisa sampai lupa jika ia datang untuk makan malam bersama Yolanda.


"Ah, iya kakak saya kerja disini. Jadi aku ingin menemuinya."


"Sudah ketemu?"


Morisa tersenyum kikuk karena belum menemui Yolan lebih dulu.


"Belum, ini aku tadi ingin menemuinya."


kevin hanya beroh ria.


"kalau begitu aku duluan. Semoga ibu anda cepat sembuh, berdoa adalah cara yang ampuh. tetap semangat jangan lupa makan malam jika belum." ucap Morisa tersenyum dan berlalu pergi.


Bukan siapa siapa tapi rasanya sejuk bangat ada yang bersikap peduli pada kevin.


Kevin menatap kepergian Morisa yang sedikit buru buru memasuki RS.


Tidak disangka sudut bibir Kevin terangkat sedikit ke atas memperhatikan Morisa.


"Lucu." ucapnya tanpa sadar.


..


"Kak Yol..." Morisa mendorong pintu itu.


"kenapa tidak mengetuk dulu Sa, kan kaget!" ucapnya mengusap dada.


"Lagian kakak serius amat. perasaan tadi kakak bilang lagi istirahat, kok sibuk dengan layar monitor?"


Morisa duduk di sofa ruangan itu.


"Menunggu mu! Bosan bangat jika kakak harus diam seperti patung, lebih baik lanjut kerjaan dulu. lagian kok lama Sa? ke salon dulu?"


"mana mungkin, lihat penampilan ku saja biasa biasa."


Yolan melirik dan berdiri menuju sofa.


"Nih, untuk mu!"


menyodorkan makanan.


"wah, enak tuh. Lapar bangat kak!"

__ADS_1


"Same!"


makan malam bersama sambil bercerita kecil di sela selanya.


"Kenyang.." Morisa meletakkan gelas nya dan memegang perut.


"Rasanya makan malam ini sangat enak sangat nikmat."


"Tumben. biasanya gak pernah ngeritik makanan. kalau seperti ini sih, ada sesuatu nih!"


Morisa mengingat pria tampannya sambil tersenyum senyum.


"Kak, tadi itu aku gak sengaja ketemu pangeran."


"pangeran?" Ada ada saja.


"Iya kak, dia tamvan, imut baik lagi. Hem, tapi tadi terlihat sangat menyediakan, ibunya sakit. Tadinya aku ingin nemani saja disana berlama lama. Eh aku ke ingat sama kakak. Jadi gak jadi deh!"


"Apa, kakak gak salah dengar kan? Sejak kapan kau perhatian dengan laki laki? Kamu suka?"


"Sejak aku ketemu dia, dan aku sangat menyukainya."


Yolan segera menaruh telapak tanga dikening morisa.


"Kakak..


aku baik baik saja! Aku memang jatuh cinta padanya!"


Gak percaya, Yolanda tau betul Morisa anti Cowok. liat cowok aja serasa teman satu genre. tak nafsu dan tak pernah mengagumi laki laki. Liat laki laki saja kata kata pedas yang keluar sebuah hinaan dan kritikan abal.


"Gak yakin aja Mor, Kakak jadi penasan cowok seperti apa yang buat kamu bisa membuka mata?"


"Maksud kakak, selama ini mataku tertutup?"


"Tidak, jika liat laki laki kan mata mu tertutup!" ngakak Yolan.


"Ih, kakak.."


"Emang ia, Dulu kakak kenalin cowok, kamu bilang dia kayak cewek. cowok lemah lah, kalo gak cowok matre lah, si pendek, si tinggi, muka datar


, si jelek. dll. kamu selalu ngehina gak pernah muji."


"Aku pernah kok muji Papa dan Kak Jasson."


itu kan lain cerita, jelas saja di puji orang jelas jelas Jasson Kakaknya dan Janes Papa nya!


"Aku berharap, semoga dia adalah takdir ku!" Ucap Morisa berdoa.


Yolanda hanya tersenyum geleng geleng.


"Ah, sepertinya aku terobsesi deh kak. Dia selalu terbayang bayang di otak ku. wajahnya aduhai menyegarkan semuanya."


"Jangan terlalu Bucin. Awas nanti jadi sakit hati. Nanti bisa benci gak ke obat loh Sa!"


"Gak bakal. Aku akan mengejarnya sampai ke ujung Samudera raya sekalipun."


ucapnya mantap.


"Terbalik Mor, biasanya yang cowok yang harus bilang seperti itu!"


"Aku tak peduli.." Ucapnya menggoyangkan kepalanya.


"Hadeh.." geleng geleng dan merapikan bekas makanan yang kotor.


"Kak, Balik Yok udah malam bangat!"


Morisa melirik Yolanda yang masih menulis sambil menatap Monitor.


"Liat apaan sih kak, kok tugas dokter malah ngetik gitu bukannya rawat pasien."


"Ini data pasien yang harus kakak cek Sa. Lagian jam segini pasien udah tidur."


"Yaudah, waktunya kita tidur juga kak!"


"Hem, lebih baik kamu balik duluan, pasti udah di cari orang Mansion."


"Tapi, kakak?"


"Aku akan lembur jika gak sempat akan istirahat disini. Nanti masih ada jadwal operasi Sa!"


"Jadi dokter pasti melelahkan!" Morisa menatap seduh pada Yolan.


"Terbiasa, itu menyenangkan Mor!"


"Yaudah deh kak, Morisa pulang duluan. Jaga kesehatan kakak loh! Awas sakit lagi!"


Yolan menatap dan terseyum.


"Makasih adek kakak. Hati hati di jalan ya. Plus jangan sering sering mikirin si pangeran, awas jadi bosan!"


"Gak bakal kak, dia sudah terkunci disini!" memegang dada bersikap Alay.


"Sudah, jangan menglebay disini!"


"yele, kaka iri ya! Makanya kakak cepat cepat tuh Nikah. Biar gak sendiri lagi. Liat tuh di rumah satu pangeran sudah di rampas oleh Wanita Gila!"


ucapnya sinis.


"Wanita Gila?"


"Eh, salah ucap. Gak ada kak! Aku pamit bye bye kK. Umma." ucap nya seolah mencium di udara.


Uh, keceplosan untung saja cepat keluar jika tidak bisa habis aku dapat ceramah dari kak Yol.


"Jalan Pak!" ucap Morisa yang sudah di dalam mobil.

__ADS_1


To be continued 🌷


Maaf baru up ya Guys soalnya ada halangan😭🙏


__ADS_2