Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
64. Panggilan Baru


__ADS_3

"Okeh sayang!" Ucap Monik menatap sebentar.


"Kak Yol! Kok malah pergi sih?" Teriak morisa saat Yolan dan gita hendak berjalan.


"Kamu disana aja! Habisin tuh baca novel. Nanti setelah selsai taruh di kamar kakak ya. Soalnya ingin baca juga!" Ucap Yolan mencoba menarik perhatian Morisa.


"Baiklah!" Ucap Morisa kembali membalikkan halaman selanjutnya.


"Ayo.." ucap Yolan, menatap Gita yang masih berdiam. Dengan santai mereka memasuki lift menuju lantai paling atas.


"Suka tempat ini?" Tanya Yolan yang menatap Gita menikmati sepoy sepoy angin malam yang berhembus di atap itu.


"Hem, aku suka. Tapi aku lebih suka di lantai 3 sih kak." Ucap Gita. Entahlah walau Waktu itu Yolan tak sempat mengiyakan saat ingin memanggil kakak. Namun rasanya sangat nyaman saja mengatakan kakak untuk yolan.


"Apa kau ada masalah dengan Jasson?" Tanya Yolan mencoba akrab.


Gita mengerutkan keningnya.


" Aku dengar kau menikah terpaksa dengan Jasson!"


Apa maksudnya membahas ini?


" Kenapa kakak menanyakan ini?"


" Apa kau menyukai Jasson?" Tanya nya lagi, menghiraukan ucapan sebelumnya.


"Apa aku boleh tidak menjawab?"


"Jika kau tidak keberatan kau boleh cerita. Tapi kalau tidak, juga gak papah!" Ucap Yolan sedikit sedih. Berjalan mendekat pinggir menatap indahnya pemandangan dari atas itu.


Tidak berani cerita itulah Gita. Dia belum yakin bagaimana sifat Yolanda itu. Dia wanita baik atau wanita ular seperti Morisa.


"Kemarilah!" Ajak Yolan.


Gita mendekat dan duduk di pinggiran.


"Aku dan Jasaon adalah sahabat dan Jasaon mengaggapku sebagai saudara. Jadi jangan pernah berpikir yang aneh ya, saat aku dekat dengannya." Gita menatap Yolan.


Kenapa dia menafsirkan begitu?


"Aku tidak pernah berpikir yang aneh saat kalian bersama." Ucap Gita mengalihkan pandangannya menatap pemandangan di hadapannya.


"Apa aku boleh bertannya?" Ucap Yolan.


Gita menatap, seolah ingin mendengar pertanyaan.


"Apa kau mencintai pria lain? Em, maksud ku apa kau memiliki kekasih?"


Gita mengerutkan keningnya. Kenapa dia berkata seperti itu?


"Jangan tersinggung. Aku hanya ingin tahu saja. Kau kan cantik pasti banyak laki laki yang menyukai mu. Aku hanya penasaran melihat mu yang tak terlalu peduli pada Jasson sepertinya ada hati yang kau jaga."


Gita makin tidak mengerti dibuat nya.


"Kau kan menikah secara terpaksa, apa sebelumnya kamu udah punya kekasih?"


Gita diam dan menatap serius pada Yolan.


"Hehe maafkan aku jika bayak bertanya," tawa Yolan sedikit merasa berlebihan.


"Sebelumnya aku memang memiliki kekasih namun itu sudah sangat lama. Mungkin 6 atau 7 tahun yang lalu." Jujur gita.


Tapi kenapa pria itu masih menyimpan fotonya.


"Emang kenapa Kak Yol?"


"Tidak, aku hanya ingin tahu saja." Senyum yolan.


Waktu cepat berlalu Yolanda terus asyik bercerita.


"Apa kau tidak ingin menceritakan dirimu? Aku sudah banyak cerita tentang Jasson loh." Ucap Yolan yang sudah sedikit mengantuk.


"Lain kali aja ya kak. Soalnya aku udah ngantuk, dan kelihatannya kakak juga ngantuk." Senyum Gita yang melihat wajah Yolan kusut.


"Baiklah, aku akan menunggu waktu itu." Senang yolan. Seperti ada rasa yang berbeda sangat nyaman itu saja.


Ceklek.


Gita membuka pintu kamar itu. Menatap Jasaon yang sudah tidur di kasur dengan Ponsel yang melekat di perut.


"Pasti ketiduran." Gita menatap jam weker.


23.01. Tidak percaya selama itu Gita diluar?


Gita mengambil pelan ponsel milik Jasson dan meletakkan di atas nakas. Memperbaiki selimut Jasaon hingga dadanya.


"Pasti dia sangat lelah," tanpa menyentuh Gita beranjak ke sisi samping dan ikut merebahkan tubuhnya di atas kasur itu dengan pelan.


Baru saja Gita memejamkan mata, tapi ada sebuah benda yang seperti menimpah perutnya. Gita membuka mata menatap tangan Jasson yang sudah melingkar sempurna memeluknya.


" Kau dari mana saja? Posisi menyamping masih menutup mata.


Apa dia bermimpi? Apa belum tidur?


Gita memutar kepalanya ke samping.


Menatap Jasson yang dengan nyamannya tidur.


Pasti mengigau pikir Gita.


"Kenapa menatap ku? Tidurlah, apa kau tidak mengantuk?"


Ternyata belum tidur. Apa dia menungguku?


ha ha ha, aku terlalu percaya diri! renges


Gita membenarkan kepalanya dan mulai masuk ke alam mimpi.


Triing... Triingg..


Setelan alaram Gita berbunyi.


Sedikit mengeser tubuh itu dan mematikan alaram yang menunjjuk 04.50.

__ADS_1


"Kenap rasanya malas bangat untuk bangun." Gita mengucek mata pelan.


Melirik kesamping menatap Jasson yang dengan tenang nya masih menaruh sebelah tangan di atas perut Gita.


Gita mencoba melepas karena serasa sesak aja.


Namun entahlah pelukan itu semakin erat.


"Apa dia sudah bangun?" Gita menatap Jasson yang masih menutup mata.


"Astaga!" Gita mencoba melepas pelukan itu.


"Aaaahhhh..." Teriak Gita saat tiba-tiba badannya tertarik semakin mendekat pada Jasson hingga badan itu bersentuhan.


"Apa kau sudah bangun?" Tanya Gita menatap Jasson masih menutup mata itu.


"Lepaskan aku. Aku ingin beres beres." Ucap Gita.


"Kenapa buru buru? Aku masih ingin memeluk mu!"


Kenapa?


"Tapi aku.."


Jasaon membuka mata.


"Apa kau boleh berhenti mencari alasan? Apa kau tidak suka aku peluk?"


"Bukan seperti itu, aku hany-"


Jasaon menghentikan ucapan Gita dengan menekan leher bagian belakang Gita dan menempelkan kedua bibir itu.


Awalnya Gita terkejut dan ingin melepaskannya, namun saat Jasaon menahan dan mulai memainkan nya, rasanya aneh saja, gita malah ikut membalas.


Ciuman yang semakin lama semakin panas hingga menimbulkan hasrat lebih.


Jasson mulai menjalarkan tangganya pada bagian tubuh Gita.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Gita menatap Jasson.


"Aku menginginkan mu!"


"Tapi, ini sudah pagi. Kau dan aku akan pergi bekerja."


"Masih subuh, lagian olahraga seperti ini sangat bagus dilakukan di pagi hari."


"Olahraga apanya? Ini akan menyakiti ku!"


"Kita pelan pelan baby." Jasaon kembali mencium bibir itu. Mulai menanggalkan pakaian milik Gita sambil memainkkan tangganya.


Jujur saja Gita tidak bisa menolak atas sikap lembut Jasson, Apalagi sepertinya Jasaon sudah lebih ahli dari kali pertama mereka melakukannya, Cara Jasson juga tidak terlalu menyakiti Gita.


Kedua kalinya dia melakukan ini padaku, tapi kenapa masih terasa ngilut.


tahan Gita sedikit menggerakkan badannya.


Gita menatap Jasson yang menatap dirinya indah.


Menyibak selimut itu dan hendak berdiri.


"Mandi."


Ucap Gita dan turun dari kasur itu.


"Kenapa buru buru kita masih melakukan nya sebentar," jelasnya menahan tangan Gita.


"Lihat jam, suamiku. Sudah jam 06.00 kita melakukan nya sudah satu jam, bukannya itu sudah lama?" Gita melangkahkan kakinya yang terasa ngilut di bagian intimnya.


" Apa kau masih kesakitan?"


Kenapa masih bertannya, jelas saja sakit.


"Apa perlu aku bantu."


"Tidak!!" Ucap Gita menggas yang di balas tatapan aneh dari Jasson. Jelas saja dia tidak mau kejadian seperti dulu. Bukannya membantu malah mengambil kesempatan untuk melakukannya lagi.


"Kenapa berteriak?"


"Aku bisa sendiri, ini hanya sakit sedikit." Ucap Gita melangkah.


Namun Jasson tidak bisa sabar melihat Gita yang berjalan sedikit menahan.


"Aku juga ingin membersihkan badan!" Jasson menyibak selimut yang menutupi badan Gita. Hitungan detik Tubuh Gita terangkat dalam gendongan Jasson.


"Turunkan aku, aku tidak ingin lagi. Aku ingin cepat beres beres, bagaimana jika nanti aku terlambat!"


"Apa yang kau pikirkan? Aku hanya ingin membantu mu, agar waktunya tidak terbuang banyak." Jasson melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi meletakkan Gita pelan dalam bathtub.


"Jangan masuk!" Ucap Gita.


Jasaon menghelah nafas, untuk apa juga dia masuk.


"Otak ini isinya apa sih!" Kevin menyentil pelan kening Gita.


"Aku tidak ingin kau melakukan seperti dulu!"


"Cepat mandilah, aku akan mandi menggunakan shower."


Gita jadi sedikit malu. Dan mulai menggosok badannya.


Sedangkan Jasson masuk ke dalam bilik yang ada disana.


..


"Lebih baik kau izin saja hari ini!" Ucap Jasson menatap Gita yang mengeringkan rambutnya.


"Tidak, aku baik baik saja!" Gita mematikan pengering rambut. dan mulai sedikit merias wajahnya.


"Kenapa kau keras kepala!"


Ucapnya sambil mengancing kemeja bagian terakhir.


"Aku baik baik saja!" Gita melangkahkan kakinya mendekat ke arah Jasson.

__ADS_1


"Lihatlah aku tidak papah, tadi itu hanya sakit sebentar aja." Lagian selsai mandi Gita mengoleskan salep untuk meredakan nyeri pada areanya.


Gita Merapikan kemeja Jasaon dan memasang dasi itu.


Hanya menatap Gita dengan Indahnya.


" Kenap kau tidak cerita jika kau melakukan presentasi di Yudayana Group?"


Gita menatap Jasson setelah selsai pada Dasi itu.


"Apa itu penting untukmu?" Tanya Gita pelan.


"Apa maksud mu? Semua yang kau lakukan harus kau ceritakan padaku! Kau tidak boleh menyembunyikan apapun, aku berhak tau!


Apalagi itu bersangkutan dengan Kevin." Ucap Jasaon pelan pada kalimat terakhir.


"Kamu tau dari mana?"


"Tidak penting. Aku hanya mengingatkan mu, agar jaga sikap dengan laki laki lain."


"Aku tau dimana posisi ku! Tanpa kau ingatkan aku bisa menjaga diriku!" Ucap Gita tersenyum dan hendak berbalik.


"Sepertinya kau melupakan sesuatu."


Apa maksudnya morning kiss, bukannya tadi susah bahkan lebih.


"Tadi kan sudah!" Ucap Gita.


Berbalik dan menatap Jasson.


"Itu berbeda."


Jasson menunjuk bibirnya mengisyaratkan agar gita menyentuh nya.


" Kenapa diam saja, Waktu terus berjalan, apa kau ingin terlambat kerja?" Menatap arloji di tangganya.


Gita melangkah dengan cepat menyentuh bibir itu sekilas, ingin segera melepas namun Jasson Tahan pada bagain belakang leher. Sedikit menggigit bibir bawah bagian dalam lalu melepaskan nya.


"Ah, Apa yang kamu Lakukan suamiku!" Tanya Gita. Menyentuh bibir nya.


"Salah sendiri. Kenap kau hanya menyentuh sekilas." Jasson merapikan pakaiannya dan menyambar Jasnya.


"Kan jadi perih!" Ucap Gita pelan namun dapat menghentikan langkah itu.


"Apa aku perlu mengobati nya, aku bisa melakukannya lagi."


"Tidak suamiku. Tidak ada yang sakit."


"Oh, aku sudah bosan dengan panggilan itu, Ganti saja! Dengan panggilan lain." Tersenyum dan melangkah ke luar.


"Apa maksudnya, apa aku akan memanggil nya dengan Tuan lagi?" Gila, dia selalu tidak bicara jelas. Apa salahnya jangan berliku liku.


Gita sedikit berlari dan mengikuti Jasson.


Mempercepat langkahnya sebelum pintu lift tertutup.


" Panggilan apa yang kau maksud tadi?" Tanya Gita pelan tanpa menatap Pria di sampingnya.


"Terserah mu, tapi lebih santai saja. Jangan begitu formal dan menegangkan."


Tidak formal berarti bukan tuan? Mas? Tapi dia tidak suka! Suamiku? Katanya menegagkan. Jadi apa aku panggil nama?


"Jasson?" Panggil gita pelan seperti menanjak bukit, sambil menatap Jasaon.


Jasson menatap ke samping nya.


"Apa kau akan memanggil suamimu dengan tidak sopan?" Ucapnya mendekat kan wajah pada Gita.


"Jadi aku harus memanggil mu dengan apa?" Tidak mungkin kan aku memanggilnya dengan panggilan manis seperti sayang, baby, Honey. Itu menjijikkan dan jika ia marah bagaimana?


"Apa kau tidak pernah melihat pasangan lain? Mereka memanggil dengan kata kata manis." Ucap Jasson sedikit gugup dan membenarkan posisi berdirinya.


"Apa?"


Gita saja sangat canggung mengatakan kata seperti itu, bagaimana mungkin bisa dia mengatakan itu.


Ting.


Pintu lift terbuka.


"Ayo, kita sarapan lebih dulu!" Jasson mendekat dan menggandeng tangan Gita.


"Apa yang dilakukannya, kenapa dia melakukan ini? Aneh sekali." Sambil melangkahkan kaki mengikuti langkah Jasson.


"Wah, pemandangan yang jarang ya, Pa. Romantis sekali!" Ucap Monik sambil menatap Janes sesekali melirik Gita dan Jasson yang melangkah mendekat sambil bergandengan.


"Duduklah!" Jasson menarik kursi untuk Brigitta. Semakin aneh. Kenapa dia seperti ini.


Gita hanya sedikit kaku namun ngikut saja.


"Cih, begitu saja sudah senang!" Ucap Morisa pelan yang hanya bisa didengar oleh Gita yang tepat berada di sampingnya.


Gita hanya menghela nafas.


"Yolanda mana? Dia tidak ikut sarapan?" Tanya Monik.


"Kak yolan udah berangkat pagi pagi Ma, katanya ada Operasi darurat." ucap Morisa.


"Jadi dokter pasti melelahkan." Ucap Monik.


"Semua pekerjaan itu melalahkan ma." Ucap Janes tidak setuju, karena tiap harinya juga ia selalu kelelahan.


"Kapan kita akan sarapan?" Tanya Morisa yang seperti tersinggung.


Gita segera menyiapkan sarapan ke piring setiap orang.


Mulai dari Papa Janes, mama monik dan Adik ipar yang menyebalkan.


"Kamu mau sarapan yang mana sayang?"


Tidak ada yang salah dengar kan? Sukses kata kata itu menarik perhatian penghuni.


To be continued 🌷

__ADS_1


🍁 Jangan lupa like and vote 🍁


__ADS_2