
" Tuan Kevin, senang bertemu dengan anda lagi. Saya tadinya mencari anda, dan ternyata anda disini!" Ucap Jasaon sangat santai plus terseyum. tidak tau maksudnya apa. Walau terlihat santai namun jauh di dalam lubuk hati Gita dia sangat was was dan merasa ada yang janggal dia sangat takut, jantung nya tidak henti hentinya berdetak amburadul.
Kevin menaikkan sebelah alisnya mencoba menganalisis setiap kata kata yang diucapkan oleh Jasson.
"Apa ada masalah? Kenapa sedari tadi anda tidak bergabung dengan kami? Kenapa malah bersama isteri saya! " Sedikit menekan kata isteri namun di tutupi dengan senyuman.
Apa yang direncanakan nya? Kenapa mencoba terlihat akrab?
"Sepertinya Tuan Jasson mendengar perbincangan kami. Jadi sepertinya saya tidak perlu jelaskan kenapa saya bersama isteri anda disini!"
"Ya, mungkin ia dan mungkin saja tidak. Karena saya hanya mendengar semar semar saja."
"Sayang aku yang akan menjelaskan!" Ucap Gita sambil memegang lengan Jasson.
Jasson menatap Gita tersenyum aneh.
"Aku yang akan jelaskan Bi! Sebenarnya Aku adal-" Jasson langsung menggakat tangganya tanda agar Kevin tidak melanjutkan ucapannya.
"Aku tau kamu itu mantan kekasih isteri ku! Hanya mantan iya kan?" Jasson kembali tersenyum sangat puas menekan kata hanya mantan.
"Aku dan Brigitta itu-"
"Anda tidak perlu jelaskan Tuan Kevin. Saya sudah tau semuanya, jika aku perlu lebih, aku bisa langsung menanyakan pada isteri ku tercinta!" Melirik Gita menguatkan pelukannya dan mencium ubun-ubun kepala yang tertutup oleh rambut.
"Sayang," Gita Segera melepaskan pelukan Jasson. Sangat risih, apalagi disana ada Kevin yang selalu memperhatikan gerak geriknya. Sangat terlihat jelas bahwa Kevin menahan api cemburu. Ingin sekali Kevin melayangkan satu Bogeman namun diurungkan.
Dipikir lagi, Gita bukanlah miliknya. Semua hidupnya milik yang maha pencipta yang dititipkan pada satu penjaga selama di Bumi.
Dia, suami yang akan menjadi tempat bersandar untuk isteri. Kepala keluarga yang membawa terang dalam keluarga dalam bentuk cinta dan kasih sayang.
"Kalau begitu, saya dan istri saya pergi dulu! Ingat Dia bukan milik anda lagi. Gita ku adalah milikku. Dan dia akan selalu dan selamanya akan jadi milikku. Tidak ada yang boleh menyentuh hatinya."
Senyum Jasaon dan segera membawa Gita ke arah keramaian.
Apa dia sakit? Astaga baru kali ini aku melihatnya banyak bicara di tempat umum dan tersenyum senyum seperti ini.
Ini jelas membuat Gita bertannya tanya apa yang direncanakan Jasson saat ini.
Apa ini tulus atau ada maksud lain?
"Sayang, apa kau baik baik saja?" Tanya Gita masih dalam gandengan Jasson berjalan ke arah kerumunan sambil menatap Jasson yang fokus mengambil jalan.
"Hem?" Jasson menghentikan langkahnya dan menatap Gita.
"Kamu tidak marah kan?"
"Marah? Untuk?" Jasson menaikkan kedua alisnya.
Kenapa Jasson aneh, dia benar benar gak marah? atau cuman sengaja mendam kemarahan?
" Sayang?" Panggil Jasson yang menatap Gita seperti orang yang penuh masalah.
"Ah, tidak. Aku hanya kecapean saja." Ucap Gita sedikit menekan pelepis mencoba merasa kelelahan padahal hanya mengalihkan pembicaraan saja.
" Kamu kecapean? Apa sebaiknya kita pulang saja sayang? Aku kahwatir kau kenapa napa nantinya!"
"Tidak, hanya sedikit saja kok. Lagian acaranya Baru mulai kan?"
__ADS_1
"Kamu kecapean, jika kamu sakit bagaimana. Lihat kamu saja menekan pelepis mu. Apa sakit? Katakan! Aku akan Panggilkan Dokter untuk mu!"
Astaga Kenapa dia gak liat jelas sih, kalau aku hanya pura pura aja. kenapa jadi serius sih. Astaga!
"Sayang, tidak perlu. Bagaimana jika kita duduk di sana aja! Pasti aku akan merasa nyaman disana!" Tunjuk Gita ke arah tempat yang memang sangat damai dengan pemandangan panggung dengan pertunjukan tarian dan dansa.
"Kamu benar gak perlu Dokter?" Ucap Jasson sambil menempelkan telapak tangan di kening Gita. Dengan suhu badan yang biasa saja alias normal.
"Aku gak papah, lagian gak panas/dingin juga. "
Gita menarik tangan Jasaon yang menempel sambil tersenyum.
"Baiklah, terserah padamu saja!" kembali Jasson menggandeng tangan Gita menuju tempat yang ditunjukkan Gita.
"Sayang, apa aku boleh bertannya sesuatu?" Tanya Gita setelah mereka sudah sangat nyaman di tempat itu menatap ke arah depan.
"Tentu." Jasson menatap Gita dan merapikan anakan rambut lalu menyelipkannya ke daun telinga.
"Kamu jujur ya, em. Kamu gak lagi nahan amarah kan? Maksudku kamu gak lagi pura pura baik sama aku!"
Jasson yang heran menatap Gita dengan serius sambil menaikkan kedua alisnya merasa binggung.
"Kamu ngomong apa?
Apa kau berpikir aku marah karena pria tadi?" Tanya Jasson sambil mengalihkan pandangannya menatap ke arah panggung.
"Kau tidak marah kan?" tanya Gita mendekat menatap Jasson yang tidak menatap nya.
"Menurutmu bagaimana?" masih memandang panggung.
"Kamu tidak izin dariku, itu artinya kau membuat kesalahan bukan?" Ucapnya namun tak menatap Gita. Entahlah apa maksud Jasson.
"Aku minta maaf sayang. Jangan marah. Aku takut jika kau marah." Gita dengan cepat memeluk Jasson dengan menyandarkan kepalanya di dada Jasson.
Jasson yang menerima perlakuan mendadak dari Gita pun merasa sedikit aneh. Ada rasa senang namun ada sedikit rasa gugup yang menyelimuti.
Jasson melirik ke bawah menatap kepala Gita dan wajah yang menyamping itu.
Padahal aku hanya bercanda kenapa dia setakut ini!
Senyum Jasson. Tidak terpikirkan sebelumnya tindakan ini membuat nya tidak mengeluarkan banyak usaha agar gita jatuh dalam pelukannya.
"Apa kamu bodoh, atau pura pura bodoh, Hu?
Jika aku marah, seharusnya sedari tadi aku sudah menyeretmu pulang dan langsung memakanmu sampai habis." Ia juga sih, tapi sebagai manusia normal Gita juga merasa was was apalagi tadi Gita dan Kevin sangat dekat.
"Jadi kau menipuku? Kenapa kau terlihat marah barusan?"
"Hanya bercanda." Ucap Jasson santai sambil tersenyum.
"ih.. benar benar deh, buat orang gak tenang!"
"Sebenarnya tadi aku memang marah dan berencana membawa mu pulang dengan paksa. Tapi ucapan mu tadi membuat ku merasa tenang dan damai. Apa kamu bisa ulang sekali lagi tentang perasanmu?"
"Maksudmu?" Binggung, jelas saja Gita tidak tau sama sekali maksud dari perkataan tersebut.
"Kamu menolaknya karena apa?"
__ADS_1
Astaga! ah,,, apa tadi dia mendengarkan aku ketika mengatakan mencintainya? ah, bisa bisa dia akan ke geeran..
"Sayang.." panggil Jasson.
"Ha, iya? em. Aku menolaknya karena aku. Jelas saja karena aku adalah Isteri mu. iyah benar karena itu. Sebagai isteri yang baik harus menjaga ikatan yang ada dalam dirinya." Ucap Gita terseyum.
"Yakin, hanya karena itu? Yang lainnya gimana?"
"Yang lainnya? yang mana?"
"Itu, tadi kamu mengatakan nya pada pria tadi. Aku mendengarkan semuanya!"
"Hem, aku-"
"Tolong perhatiannya saudara saudari semuanya. Di malam ini kita akan mendengarkan satu lagu. Yang di persembahkan oleh seseorang yang sangat istimewa. Saya panggilkan Tuan Kevin...
Beri tepuk tangan yang meriah..."
suara dari protokol (MSI) membuyarkan pandangan kedua insan.
Kevin? tumben sekali dia menampilkan sebuah lagu di acara seperti ini. Mudah mudahan saja dia tidak melakukan kesalahan.
Sorak dari para penonton dan tepuk tangan yang sangat meriah.
Jasson menatap Gita saat melihat pandangan Kevin ke arah Gita.
"Jangan menatapnya!"
Jasson mencoba menutup mata Gita dengan menenggelamkan kepalanya di dada Jasson.
"Sayang, ini pertunjukan gratis sangat sayang sekali jika di abaikan. Mubasir. "
memperbaiki posisinya dan kembali pulang ke rumah.
"Aku bisa, bernyanyi di depan Mu. dan itu juga gratis. kau bisa dapatkan 10 atau lebih lagu pun aku bisa berikan untuk mu!"
"Kenapa kamu sangat posesif. Aku hanya ingin menikmati lagunya saja. Lihat aku disini. memandang mu,
"Aku takut, jika setelah mendengar lagu itu. Atau kamu sering ketemu dengannya dibelakang ku. Kamu akan kembali dengannya. Aku tidak mau sayang!"
.
"Aku akan selalu ada di hatimu. Aku tidak akan pergi selama kamu masih bersikap sewajarnya denganku. Tapi jika suatu saat kau marah tidak jelas dan melakukan sesuatu dengan tidak senang."
"Nih, lihatlah. Anggap saja ini untuk yang terakhir.
Gita menatap Jasson dan terseyum. Aku tidak perlu menatapmnya. Karena disini juga ada seorang yang dapat dilihat dengan bebas.
"Kenapa tidak Segera mulai, apa ya g di pikirkan?"
"Sabar sayang, " Mengelus lengan Jasson lembut.
Gita sangat tau pasti kevin saat ini lagi banyam masalah. walaupun sangat terlihat s
dari wajah tampan itu bersinar yang memancarkan kebahagiaan namun tak bisa dipungkiri dia memang sangat tampan.
Kevin duduk dengan mengendong Gitar dan mulai memetik nya.
__ADS_1