
" Apa kau akan memakannya?" Jasson mengulangi pertanyaannya. Kini ia menatap Lico tajam.
"Ya Tuan, Ini pemberian nona mana mungkin saya membuangnya." Ucap Lico sedikit berpikir.
"Letakkan di meja sana. Jangan berani menyentuhnya!" Jasson menunjuk meja sofa yang tidak jauh dari tempat itu. Segera Jasson berjalan ke arah Jendela kaca ruangan itu.
"Apa Anda akan memakannya tuan?" Ucap Lico menggerakkan badannya melihat Jasson berjalan.
"Apa aku perlu menjawab pertanyaan itu?" Sedikit meninggikan suaranya. Lico menggeleng gelengankan kepalanya.
Sedangkan Jasson menatap Wanita yang baru masuk ke dalam mobil. Benar itu adalah Gita, ada senyuman yang tak terlihat di wajah Jasson.
Lico memperhatikan semua itu. Mencoba mencerna apa yang sudah terjadi.
Apa mungkin Tuan Jasson mulai menyukai Nyonya Brigitta?
Ah, hanya membawa bekal makan siang saja aku dimarahi. Apalagi jika aku melakukan hal lainnya. Pasti dia akan sangat marah. Gita menyandarkan punggung itu di kursi mobil. Matanya terus menatap mobil yang lalu lalang dari Kaca kinclong di sampingnya.
Apa yang harus aku lakukan agar meluluhkan hatinya? Gita mencoba berpikir dan tring dia punya ide.
"Ah, aku lupa
handphone ku kan rusak. Bagaimana caraku melihat dari google?"
Gita menepuk keningnya.
"Mungkin aku minta bantuan mama saja." Ucap Gita sambil tersenyum.
Kini mobil itu berhenti bukan karena sudah sampai mansion tapi karena lampu merah.
Gita masih fokus pada tatapan ke arah samping. Dan tiba tiba...
"Pria masker??" ucap Gita yang melihat pria bermasker dengan satu temannya yang tengah berdiri di depan Kafe di seberang sana.
Itu sangat jelas, pria itu benar benar pria yang menolong Gita.
Baru saja pria itu akan membuka masker namun mobil yang dinaiki Gita sudah melaju. Gita mencoba menatap ke belakang tapi sayang wajahnya tidak terlihat karena membelakangi.
"Ah, sial hampir saja aku melihat bagaimana wajahnya, tapi lampu itu langsung berubah. Lampu hijau sialan!" Gerutu Gita menatap kesal pada jalanan di depan matanya.
.
"Aku akan tetap disini, aku tidak akan pergi kemana mana."
"Apa Bos tidak akan mengembangkan bisnis di negara tetangga? Lagian semua masalah di negara ini sudah diamankan."
"Bukan karena itu. Tapi aku akan menjalankan Bisnis di negara ini. Aku merindukan semua masa masa ku di negara ini. Aku tidak peduli siapa yang melarang aku akan tetap di sini."
"Bos, Jika anda sudah disini apa saya bisa pulang ke negara kelahiran saya? Saya juga merindukan keluarga saya disana."
"Hem, tentu saja. Lagian tidak ada hal yang kalian lakukan untuk saat ini. Semua sudah aman. Dan sekalian sampaikan pada yang lainnya mereka bisa bersantai untuk beberapa waktu baik ini."
"Baik Bos, terimakasih banyak."
__ADS_1
"Santai saja. Tapi kalian harus ingat jangan pernah melupakan apa yang seharusnya kewajiban kalian. Tanpa kelompok kita juga harus bisa sendiri membantu sesama."
"Baik bos terimakasih untuk semuanya."
Kedua pria bermasker itu akhirnya pergi dengan menggunakan mobil masing-masing.
..
"Ma, Aku ingin meminta bantuan mama." Ucap Gita pada monik.
Saat ini mereka berada di ruang baca. Semakin hari Kesehatan Monika semakin membaik. Sangat jauh dari kondisi sebelum sebelumnya.
"Katakan saja, mama akan membantu jika mama mampu."
"Seperti ini ma." Gita berjalan mendekat, meletakkan buku yang dia pegang tadi ke atas meja didekatnya.
"Mama jangan marah ya!" Ucap Gita yang sudah berjongkok di hadapan Monik.
"Mama tidak akan marah, katakan saja!"
Monik terseyum.
"Gita mau nanya, apa dulu Mama sama Papa menikah karena cinta?" Ucap Gita sedikit takut.
"Em, Papa sama mama menikah karena saling mencintai." Ucap monik terseyum.
"Wah..Mama pasti sangat bahagia. Dan sangat beruntung karena mama menikah dengan orang yang mama cintai."
"Maksud mama?" Gita binggung akan gelengan kepala monik.
" Kami memang saling mencintai mama beruntung bisa menikah dengan orang yang mencintai mama sepenuh hati. Tapi mertua mama tidak menyukai mama, bahkan keduanya. Dulu mama tidak pernah merasakan kasih sayang Sidiki pun dari mertua mama. Setiap Janes ke kantor mama selalu saja di siksa ibu mertua. Dan lebih parah saat Janes ada pekerjaan di luar negeri Meraka lebih leluasa menyakiti mama."
"Apa tanggapan Papa Janes ma. Apa papa diam saja?"
"Saat itu papa tidak tahu. Karena jika di depan Janes mereka selalu baik padaku. Mama juga tidak berani menceritakan semua yang mama rasakan karena mama diancam. Oleh mertua mama."
"Sampai kapan itu berakhir ma?" Ucap Gita serius.
"Sampai Jasson berumur 11 tahun."
Gita tercengang dan tak percaya.
"Apa mama serius? Selama itu?" Heran Gita.
"Maaf ma bukan bermaksud." Ucap Gita saat melihat monik seperti mengingat masa lalunya.
"Tidak apa apa. Tadi kamu mau di bantu apa Gita?"
Gita menghelah nafas padahal dia masih ingin mendengarkan cerita monik. Kenapa dia bisa di benci dan karena apa mertua monik bisa akhirnya menerima monik.
Mungkin mama tidak mau membahas itu sekarang. Gita lagi lagi menghela nafas.
"Kenapa sayang?" Ucap monik memegang tangan itu.
__ADS_1
"Ma, Apa mama punya tips untuk menaklukkan hati Jasson? Jujur saja ma, aku tidak tau apa yang ada dalam pikirannya."
"Apa mama harus ikut di dalam ini?" Ucap Monik sedikit tersenyum.
" Tolong bantu Gita, Ma. Bagaiman bisa aku menepati janji sama mama jika aku tidak melakukan apa apa."
"Mama punya." Gita dengan cepat menatap Monika.
"Mudah saja, Lakukan hal hal sederhana tapi itu menyentuh tubuh Jasson, sala satu contoh memijatnya jika dia terlihat kelelahan. Atau kau bisa menciumnya sebelum tidur atau setelah bangun tidur."
"Apa? Itu tidak akan mungkin.." Gita sedikit terkekeh garing, Wajahnya jelas terlihat pucat.
"Kenapa tidak mungkin." Bahkan hal semacam itu sudah sangat sering dilakukan oleh pasangan Bukan? Tapi kenapa Brigitta mengatakan tidak mungkin?
Sudah tertulis di peraturan bahwa aku tidak boleh menyentuhnya. Ah, Gita bisa saja membatin seperti itu. Apa dia lupa, tadi pagi dia mencium tangan Jasson?
"Gita kenapa Diam sayang? Kenapa kau berkata tidak mungkin?"
"Karena Aku tidak pernah melakukan hal itu ma!" Ucap Gita menunduk.
"Kalau kamu sudah biasa melakukannya mana mungkin mama memberi saran ini." Monik mengangkat dagu Gita agar tidak menunduk.
"Tapi, mencium sebelum tidur, sepertinya sangat janggal ma!"
"Apanya yang janggal, bahkan lebih dari itu kamu juga bisa lakukan. Tapi mama tau bagaimana kondisi mu sekarang jadi mama mulai menyarankan hal sederhana dulu."
Sederhana? Ya ampun.
"Gita antar mama ke kamar, mama ingin istirahat!"
Gita segera mengantar Monik ke kamarnya.
Setelah monik bersandar di kasur..
"Gita. Sekarang kamu isteri Jasson. Mama yakin Jasson tidak akan melakukan hal yang mengancam nyawa bila kau menciumnya?" Monik terkekeh atas ucapannya, karena sedari tadi sangat jelas wajah Gita yang tidak dalam kondisi baik.
" Mama tau bagaimana sifatnya." tambah monik lagi.
Ma, berhentilah memujinya. Mama tidak lihat sendiri bagaimana aku menghadapi sifatnya setiap hari itu yang membuatku sulit bernafas.
Gita segera pergi dari sana. Berjalan malas dengan wajah kusut seperti pakaian yang tidak pernah disetrika.
Monik hanya bisa menggeleng melihat menantunya itu. Pernikahan yang ia jalani berbanding terbalik dengan pernikahan anaknya.
"Mama yakin, suatu saat Jasson akan mencintai mu. Dan sangat mencintai mu. Mungkin saat ini Jasson masih belum melirik mu, tapi mama yakin kamu pasti bisa meluluhkan hatinya untuk menatap mu."
...
To be continued.
🍁 Vote dan beri hadiah Beste🤩 🍁
Sampai Jumpa🍃
__ADS_1