
Brukk....
"Astaga." Gita membersihkan bajunya yang kena tumpahan jus jeruk.
"Maaf, aku tidak sengaja!" Ucapnya yang menabrak.
Gita menatap orang itu.
Dia? Bukannya?
Tatap Gita bertannya tanya.
"Kamu.." tunjuk Yolan pada Gita.
Dia kan wanita dalam foto tadi, Kenapa ada disini?
"Anda ngapain kembali lagi?"
"Kembali?" Tanya nya bingung sebab dia tidak ingat bahwa Yolan sudah pernah bertemu atau tidak dengan wanita di depannya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Dia tidak ingat lagi? Tapi kenapa seolah pernah melihat ku?
"Mungkin aku salah lihat, anda siapa?" Tanya Gita lagi mengikuti tindakan lawan bicaranya.
"Perkenalkan saya Yolanda saya.." ucapan tergantung saat gita.
"Ha ha aku tau. Tidak perlu mengatakan nya. Kenalkan saya Brigitta isteri Jasson!" Ucap Gita sedikit pamer. Dia tidak ingin perempuan lain merebut suaminya.
"Oh, jadi kamu isterinya Jasson. Cantik."
Dia istri, tapi jadi kekasih orang lain? Atau laki laki tadi adalah kakaknya? tapi kenapa laki laki itu harus senyum seperti bucin tadi?
Gita hanya tersenyum menerima pujian.
"Kamu bisa memanggilku Gita..." Ucapnya seolah agar lebih akrab. Yolan sedikit bertingkah aneh.
"Sepertinya anda lebih tua dari saya, aku akan memanggil anda, Kakak agar lebih sopan." ucap gita terseyum.
lebih baik bersikap baik, daripada bersikap jahat, Gita tidak tau apa yang akan terjadi, baik saja banyak orang yang membalas dengan kejahatan, apalagi bersikap jahat pasti akan lebih parah. Gita lebih menyukai bersikap baik saja. sepertinya orang di hadapannya jauh lebih baik dari pada Morisa itu lah pikiran Gita
Yolan yang tambah aneh, Memegang kepalanya.
Tiba tiba yolan merasa sedikit pusing, kepalanya berdenyut.
"Ics hu, sa sakit!" Tariknya pada rambut. Mencoba menahan denyutan. Bayang bayang halus nampak pada pikiran nya.
"Ka kamu kenapa?" Tanya Gita khawatir. Dia mencoba mencegah Yolan menarik rambut.
"Tenangkan diri anda!"
"Aah, ishch " bruk..
Tidak sengaja Gita terdorong..
"Aaauuuh," Apa dia marah karena aku mengatakan diri ku istri Jasson? atau karena dia tidak terima aku memanggilnya dengan sebutan kakak?
Gita memegang sudut siku yang terbentur.
Mencoba berdiri.
Dan memegang Yolan.
"Tenangkan diri anda! Jangan seperti ini! Maafkan aku jika aku berbuat kesalahan!"
Tiba tiba saja Yolan jatuh pingsan.
"Hello!! Bangun... Jangan membuat ku kahwatir." Gita sangat cemas sekarang merasa bersalah padahal dia tidak tau salah dimana.
"Tolong tolong!!" Teriak Gita agar pelayan segera datang.
Dengan cepat Yolan diangkat menuju kamar tamu.
"Cepat ambilkan minyak C" minyak yang biasa di gunakan untuk menyadarkan seorang.
"Ini Nyonya."
Pelayan itu menyerahkan namun belum sempat Gita mengoleskan.....
"Astaga, kenapa bisa seperti ini!!! Apa yang kau lakukan pada kakakku!!" Teriak Morisa dari Aambang pintu sambil berlari mendekat ke arah kasur.
"Apa yang kau lakukan! Kau gila ya!" Morisa merampas minyak itu dari tangan Gita dan duduk di pinggiran kasur.
__ADS_1
"Kakak bangunlah." Morisa membiarkan minyak itu di hirup dan sesekali mengelus rambut Yolan.
Gita hanya bisa mematung dia sangat khawatir, jika terjadi hal berbahaya bagaimana? Pikirnya melanda.
Yolan tak kunjung sadar. Gita hendak beranjak pergi namun Morisa dengan cepat menarik tangan itu.
"Kurang ajar!" Plaakk, Morisa menampar pipi Gita.
"Beraninya kau membuat Kak Yolan seperti ini!"
"Apa yang kau lakukan?" Plak.. Gita membalas pukulan itu. Jelas saja dia tidak terima tuduhan seperti ini sungguh kurang ajar.
"Aku tidak melakukan apa apa padanya, dia tiba tiba merasa sakit di kepala dan tiba tiba pingsan. Lihat!" Gita menunjukkan siku tangganya. Morisa masih memegang pipinya. Ingin sekali dia menampar lagi namun Gita segera mencegahnya.
"Aku yang terluka karenanya! Aku sudah mencoba untuk membantu!"
"Omong kosong! Katakan saja, kau iri dengannya. Mana mungkin kak yolan tiba tiba seperti ini. Pelayan bilang kau dan kak yolan yang berada di ruang utama, tidak ada yang lain. Mana mungkin tanpa sebab kak yolan bisa pingsan. Sebelum kak yolan seperti ini dia baru saja dari kamar mama, dia sangat sehat, tanpa ada kesakitan!"
"Kalau kau tidak percaya tunggu sampai dia sadar! Kau akan tau kebenarannya!" Gita segera pergi dari kamar itu.
Kenapa aku merasa tidak nyaman? Kenapa ada rasa khawatir saat meninggalkan kamar itu? Tanpa sadar Gita meneteskan air mata dan berlalu pergi.
Wanita gila! Awas saja, jika kak Jasson tau, kau akan di usir dari sini!
Seringai Morisa sambil menatap wajah teduh Yolanda.
Nama itu sama... Tapi itu sudah lama sekali aku bahkan tidak mengingat bagaimana Bentuk wajahnya.
..
"Tuan, laporan yang saya dapat. Pertarungan nya seri. Semua tak ada yang tersisa, semua mendapat luka. Kevin juga sangat lemah kekuatan Alex dan dia sama besarnya. Seperti nya mereka satu pimpinan Tuan."
"Bodoh! Kenapa tidak mati saja!" Jasson menggepalkan tangan di dagu.
Tok tok tok.
Pintu berbuka setelah mendapatkan izin.
"Tuan, ini berita terbaru dari mansion." Tunjuk salah seorang asisten menunjukkan rekaman video pada Jasson.
"Yolan? Kenapa dia tidak memberitahuku jika dia kembali." Lanjut Vidio.
Terlihat Yolan dan Gita berkenalan satu sama lain namun saat Gita bicara Yolan tiba tiba kesakitan dan saat itu juga Gita terhempas. Yolan semakin kesakitan hingga pingsan. Terlihat wajah panik Gita hingga berlanjut saat yolan diangkut memasuki kamar.
"Apa yang mereka bicarakan? Kenapa yolan sampai seperti itu?" Jasson berdiri dan segera keluar Dari ruangannya yang diikuti oleh Lico dan asisten pribadi.
"Tapi, tuan meetengnya?"
"Tidak penting, Jika yolan kenapa napa bagaimana?" Lico segera berlari lebih dulu untuk menyiapkan mobil.
Dengan kecepatan mobil itu tiba di mansion.
Karena tidak mendapat pemberitahuan tidak ada pelayan yang berbaris menyambut hanya ada penjaga pintu yang menunduk hormat.
Ceklek pintu kamar terbuka.
"Kak Jas...
Lihatlah kak yolan pingsan,,,, sedari tadi dia tidak kunjung sadar!"
Morisa sedikit mengeluarkan air matanya.
Terlihat juga disana ada dokter Arya.
"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Jasson pada Arya.
Namun belum lagi Arya bicara.
"Ini semua karena Istrimu kak! Dia yang membuat Kak Yolan seperti ini! Dia juga menampar ku!" Tunjuk Morisa pada pipi yang memerah.
Jasson mengerutkan keningnya.
Mecoba mencari kebohongan tapi tak ada. Namun sangat sulit untuk percaya pada kata kata itu.
"Sepertinya tadi dia mencoba mengingat sesuatu di masa lalunya! Karena dia memaksa hingga otak tak menerima kerja sampai dia jatuh pingsan!" Ucap Arya.
"Mengingat masa lalu? Tapi dia hanya bertemu dengan Brigitta!"
"Aku menyimpulkan sepertinya ada kata kata dari Nona Brigitta yang membuatnya jadi seperti ini!"
"Kan, apa aku bilang! Pasti dia berkata yang jelek jelek kak, lihat sampai sekarang kak Yolan tidak sadar!"
Jasson segera pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Morisa terseyum. Mampus! Sebentar lagi kau akan di usir!
Jasson membuka pintu menatap Gita dari kejauhan yang berada di balik pintu kaca balkon.
Berjalan cepat.
"Apa yang kau lakukan padanya? Kenapa sampai tidak sadarkan diri?"
Gita berbalik dan langsung terheran.
Menatap pergelangan tangan masih menunjukkan pukul 14.30.
"Kau sudah pulang?" Tanya Gita.
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Jawab aku!" Tanya Jasaon datar.
"Aku tidak melakukan apapun padanya, kami hanya berkenalan namun dia tiba tiba merasa sakit di kepala."
"Apa yang kau katakan padanya?"
"Aku hanya mengatakan siapa diriku padanya!" Ucap Gita merasa jika itu kesalahan dan tertunduk.
"Apa yang kau katakan!"
"Aku hanya bilang jika aku ini istri mu, itu saja!"
Jasaon mengerutkan keningnya sungguh jawaban yang tidak memuaskan.
"Dia memperkenalkan dirinya padaku, dia mengatakan namanya Yolanda.
Aku balas saja namaku dan statusku! Aku tau tadi dia pasti ingin mengatakan kamu kekasihnya namun aku langsung menghentikan nya dengan mengatakan siapa diriku!"
"Aku tidak menanyakan itu! yang kutanyakan apa yang kalian bahas? Lagian kenapa kau beranggapan dia kekasihku?"
"Kami tidak membahas apa apa! Hanya perkenalan saja!"
"Tidak mungkin seorang bisa tiba tiba pingsan tanpa sebab! Jujurlah sebelum aku berbuat kasar padamu!"
"Kenapa kau tidak mempercayaiku? Sudah kukatakan aku tidak melakukan apapun, kami hanya berkenalan saja."
"Kenapa kau pura pura lugu? Apa yang kau lakukan padanya!!!"
Jasson seraya membentak.
Terasa nyeri namun Gita tahan.
"Katakan yang sebenarnya!!" Jasson mencekram pipi itu.
"Sa sakit! Tolong lepaskan!" Gita mencoba melepaskan tangan Jasson namun sangat rapat menekan pipi itu.
"Aku tidak akan lepaskan sebelum kau mengaku!"
"Aku sudah jujur, aku tidak melakukan apapun!"
"Jujur katamu? Jika sampai di kenapa napa bagaimana! Kau akan...."
Tok to tok tok
Ketukan pintu menghentikan ucapan Jasson.
"Masuk!!"
"Permisi Tuan, maaf menggagu, Nona Yolanda sudah sadar!"
"Jika sampai kau ada di balik ini, awas kau!"
Jasson menatap sinis dan berjalan keluar kamar dengan cepat Gita juga ikut. Dia juga ingin tau apa yang dikatakan Yolanda nanti.
"Yol, Bagaimana keadaanmu? Dimana yang sakit?" Tanya Jasson yang sedikit menunduk memegang tangan yolan.
"Aku baik baik saja!" Ucapnya menatap Gita.
Gita yang di tatap sontak terkejut!
Apa dia akan seperti Morisa? Yang suka membalikkan fakta?
"Jas, sepertinya kau tidak perlu seperti ini! Isteri mu akan salah paham!" Ucapnya saat Jasson mengelus rambut Yolan dengan lembut..
Gita membulatkan begitu juga dengan Jasson yang mengerutkan kening tidak mengerti.
Dih, siapa juga yang cemburu! Gita mengalihkan pandangan ke arah lain saat Jasson menatapnya.
"Apa dia yang membuat mu sampai seperti ini? Apa yang dikatakannya padamu?"
__ADS_1
To be continued π·
π Jangan lupa like and vote ya Beste π€©π