
Saat tengah memakan makanannya Kevin kembali lagi memesuki ruangan Yolan yang memang terbuka.
Kenapa lagi dia?
"Ada apa? Apa kau masih lapar?"
Ucapnya sambil mengunyah makanan.
"Mama ku sudah Sadar." Ucapnya tersenyum.
Benarkah? Hal itu membuat Yolan meletakkan sisa makanannya, meneguk air itu dan segera berdiri.
"Ayo!" Ucap Yolan sambil mengusap Bibirnya yang dia rasa sedikit belepotan.
Kevin hanya ikut saja dan sedikit berjalan cepat.
Sesampainya disana Yolan segera memeriksa kondisi Gresya. Memang sangat mustahil sekali, bahkan Yolan tidak percaya setelah mengecek kondisi itu.
"Ibu Gres, sudah jauh lebih baik. Sebagian alat yang menempel akan segera di buka. Yang paling penting jangan terlalu lama untuk di ajak bicara dulu. Lebih baik ibu Gres banyak istirahat." Yolan tau betul, melihat Gres belum sadar saja Kevin bicara panjang lebar apalagi sudah sadar? Itu akan mengangu pasien.
"Baiklah, terimakasih untuk semuanya." Ucap Kevin sambil menatap Gresya yang memandangi Yolanda.
Yolan mendekat ke arah wajah Gresya.
"Bu, apa ibu mendengar saya?" Ucap Yolan memastikan.
Mengaguk.
"Ibu, jangan takut ya, kondisi ibu sudah jauh lebih baik." Senyum Yolan.
"Terimakasih." Ucapnya pelan.
Mendengar suara itu yolan memanggut menandakan pasiennya sudah lebih baik.
"Kalau begitu saya permisi." Ucap Yolan tersenyum memasukkan tangan ke dalam saku dan berlalu.
"Mama baik baik saja kan?"
Tanya Kevin yang antusias memegang tangan Gresya.
"Mama baik sayang." Ucap Gresya lemah dan terseyum.
"Kenapa mama bisa seperti ini? Apa mama-"
Ucapan Kevin terputus.
"Vin, kau tidak mendengar ucapan Dokter tadi? Mama butuh banyak istirahat."
Ucapnya memegang bahu Kevin.
"Iya, maafkan kevin. Mama istirahatlah."
Kevin mengelus tangann itu dan tersenyum.
Gresya terseyum.
"Vin, mama.."
"Mama butuh sesuatu?"
Dengan cepat kevin bertannya.
"Mama mau cerita."
Kevin menggeleng.
"Jangan sekarang ma, mama istirahatlah!"
Bukannya malah istirahat pasien yang masih lemah ini udah mau cerita aja, tidak mungkin mereka tega membiarkan Gresya bicara dengan suara lemah itu.
Setelah bicara dengan papanya dan menemani Gres hingga tertidur Kevin beranjak keluar.
"Pa, Kevin sudah tenang sekarang. Melihat mama terseyum dan bicara tadi hati kevin sudah baikan."
"Papa juga, sekarang lebih baik kau pulanglah. Bersihkan dirimu dan makan, jika mama tadi tau apa yang kau lakukan selama dia sakit, pasti mama akan sedih Vin."
Jelas saja Gresya memang selalu memperhatikan Kevin dari segi pakaian makanan sampai siapa saja orang yang dekat dengan Kevin.
"Aku tau, Kevin juga ingin pulang sebentar." Ucapnya terseyum.
Saat ini kevin sudah berada di parkiran rumah sakit. Tak sengaja ia melihat sosok yang Familiar berjalan ke luar gerbang.
Awalnya Kevin tidak perduli namun setelah ia semakin melajukan mobilnya mendekat ke arah gerbang dia tidak bisa mengabaikan begitu saja.
Tin!!
Agap saja suara klakson mobil.
__ADS_1
Mobil Kevin berhenti tepat di depan wanita yang asik memegang ponsel sambil celegak celingukan.
Menurunkan kaca mobil, "Ayo naik lah! Aku akan mengantar mu!" Ucapnya menatap Yolanda dari dalam mobil.
Mana mungkin dia meninggalkan orang yang sudah menyelamatkan Mamanya, sebatas hutang budi itu wajar.
"Terimakasih tapi itu tidak perlu, aku akan memesan taksi online."
"Masuklah! Jika kau menunggu itu membutuhkan waktu yang lama. Kota ini padat dan macet. Ayo naik."
Iya juga sih lagian yolan sedang buru buru untuk pulang. Dia ingin sekali cepat rebahan di atas kasur. Namun dia sangat enggan untuk naik.
"Jika kau tidak mau, ya sudah aku akan pergi." Ucap Kevin hendak menutup kaca namun dengan cepat Yolan berlari membuka pintu dan masuk.
Kevin sampai melongok dibuatnya.
"Santai saja kali, kenapa buru buru bangat, seperti orang kesurupan." cengenges kevin.
Yolana hanya menggeleng.
"Kemana?" Tanya Kevin seolah menanyakan alamat Yolan.
"Halte xx."
"Aku menanyakan alamat rumah bukan halte."
"Rumah ku dekat dari sana."
Baiklah Kevin mengerti dia berpikir bahwa Yolan orang nya tertutup jadikan saja sebuah privasi. Kevin mulai melajukan mobilnya.
"Kau tidak lagi mengikuti ku kan?" Tanya Yolan berperang sangka soalnya dia sangat tau Kalau Kevin tidak akan pernah keluar dari rumah sakit.
"Kenapa kau bisacara seperti itu?"
"Aneh saja, kau kan selalu lengket dengan Ibu gres, sampai sampai tidak memperdulikan diri sendiri."
Kevin diam saja membuat yolan menatap ke arah Kevin.
"Maaf jika aku terkesan tidak sopan." Ucapnya membenarkan tatapannya.
"Tidak masalah. Itu pertanyaan biasa. Aku Sangat menyayangi mamaku lebih dari apa pun. Aku tidak ingin kehilangannya."
"Jadi sekarang kau ingin kemana?" Tanya Yolan mengalihkan pembicaraan.
"Tempat kediaman ku. Mama ku orangnya sangat kompeten, jika dia melihat ku acakan dia akan marah!" Kevin tersenyum mengingat tingkah mamanya itu.
"Kau beruntung memilikinya." Ucap Yolan sedikit Sadu.
Ucap itu membuat kevin menatap sekilas yolan yang seperti terkesan sedih.
"Kau baik baik saja?" Tanyanya.
"Uh, iya aku hanya teringat sesuatu." Ucapnya terseyum. Tak mau mengorek lebih dalam Kevin hanya menganguk.
Tiba mereka di depan halte.
"Terimakasih." Ucap Yolan terseyum dan hendak keluar.
"Aku yang berterimakasih. Trimakasih Yolan." Ucapnya.
Yolan berbalik tak jadi membuka pintu.
"Kau tau namaku?"
"Ya, aku melihat tag name mu." Saat di rumah sakit, ketika Yolan menggunakan pakaian dokternya.
Yolan tersenyum, benar juga kenapa dia tidak sadar.
"Dulu kita tidak sempat berkenalan, kau masih ingat kejadian silam kan?"
"Masih, mana mungkin aku lupa kau menyelamatkan nyawaku tanpa peduli kau juga dalam bahaya."
Kevin menyerahkan tangganya.
"Kevin." Ucapnya terseyum seolah berkenalan.
"Aku sudah tau." Ucap Yolan. Jelas saja dia mendengar dari Aditya saat memanggil nama kevin.
Kevin menatap tangganya dan menggoyangkan kepalanya.
"Ah, baiklah. Yolanda." Ucapnya tersenyum menerima jabat tangan itu.
"Hati hati di jalan. " Ucap yolan sebelum akhirnya pintu itu tertutup.
Kevin hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Yolan.
Yolanda mulai berjalan di atas trotoar. Andai saja dia juga memiliki ibu, dia akan senang, pasti ada yang memperdulikannya. Menanyakan dia sedang apa, apa sudah makan apa kau baik baki saja. Menghela nafas terus berjalan hingga tiba di depan gerbang yang sangat tinggi dan lebar.
__ADS_1
"Ini bukan milikku aku hanya menumpang. Aku seperti tidak berguna. Tinggal menumpang, tempat bekerja juga karena Jasson. Kenapa keluarga nya sangat baik padaku. Kenapa dulu mereka tidak mengabaikan ku saja."
Pelayan itu membuka gerbang Yolan masuk tanpa suara serasa mengabaikan Pelayan itu.
Sangat berbeda dari biasanya. Yolan akan selalu ceria dan bicara santai pada para penjaga disana namun kali ini yolan berjalan serasa tidak ada satu pun seorang disana.
"Hari yang acak." Ucap Yolan segera menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Tempat yang sedari tadi ia nantikan.
Sangking lelahnya dia malah ketiduran dengan kaki bergelantung.
..
"Maafkan aku sayang. Tadi itu hanya sebentar. Lagian aku lebih dulu memperhatikan mu sepulang tadi bukan? Aku menyiapkan Permandian, menyiapkan pakaianmu bahkan tadi aku memakainya, aku juga menyuapi mu makan di bawah. Dan itu aku memberikan minuman kesukaan mu." Ucap Gita menunjuk teh hijau di atas meja Jasson.
Jasson menatap Gita.
Benar sih pikir jasson, sedari tadi Gita memang memperhatikan nya dengan manis. Tapi melihat Gita mengabaikan ucapannya tadi dan malah berfokus pada Ponsel membuatnya tidak suka akan tindakan itu.
"Tetap saja, kau melupakan sesuatu."
Gita berpikir sejenak.
Apa ucapan tadi pagi? Uh, aku sudah mencoba bersikap tadi agar dia lupa dan terfokus pada kerjanya. Kenapa dia ingat sih.
"Aku tidak melupakannya. Aku hanya menunggu mu." Uh, kenapa mulut ku tidak bisa di konfirmasi sih. Aku tadi bukan mau berucap kan itu kenapa malah yang keluar tidak sesuai sih.
"Benarkah? Pantas saja kau mengenakan gaun tidur ini dan memamerkan tubuh mu tadi."
"Bukannya aku sudah biasa menggunakan gaun tidur? Untuk apa aku pamer. Ini gaun sudah lama ada di almari." Mondel gaun itu juga tertutup apanya yang di pamerkan?
"Bukan, tadi kau menggodaku dengan duduk asal menghadap meja kerjaku!"
"Menggoda? Aku tidak mengodamu." Ucap Gita memang merasa tidak melakukan sesuatu.
Jasson menarik pinggang ramping itu.
"Kau menunggu ku bukan? Bagaimana jika kita lakukan sekarang?" Darah gita tersendir hingga bulu kuduk itu berdiri mendengar ucapan Jasson yang sangat menggoda.
Jasson menaikkan dagu gita. Mencium bibir itu lembut. Gita membiarkan Jasson melakukan itu dia membuka mulut agar Jasson lebih leluasa bermain disana.
Jujur sejujurnya Gita sangat pasrah kali ini. Dia benar benar yakin jika jasson sudah berubah. ******* bibir itu sambil menuntun Gita mengarah ke ranjang sambil mencium Bibir itu.
Jasson yang mulai aktif dan merasa panas menarik tali gaun gita hingga gaun itu terlepas dengan mudahnya. menanggalkan pakaian satu persatu membaringkan tubuh gita dengan lembut ke atas kasur itu. Gita merasakan sensasi yang berbeda saat ini. Tidak tau kenapa sepertinya menjalankan tugas isteri dengan tulus.
Gita mengalungkan tangannya di leher Jasson.
Gita sedikit menarik selimut agar Meraka berada dalam selimut itu. Jasson masih asik dengan tengguk itu. Menciumnya hingga meninggalkan tanda disana.
"Pelan pelan,"ucap Gita saat melihat Jasson beralih pada Intinya..
Jasaon mengecup kening Gita.
"Jika kau tidak tahan dan merasakan sakit katakan saja." Ucapnya tersenyum. Gita hanya menganguk.
Gita meremas sepry menahan sakit saat jasaon memulainya.
Menahan suara ingin mengatakan sakit, agar jasson tidak kecewa. Jasson yang melihat Gita segera menggambil ahli bibir itu.
Melepaskan ******* bibirnya.
" Keluarkan saja. Aku suka mendengar des*hn mu."
Malam itu menjadi malam terindah untuk kedua insan. Entahlah berapa kali mereka mengulangi nya. Suara desah keduanya mengisi ruangan besar itu. Untuk pertama kalinya mereka melakukannya hingga pada puncaknya. Hingga merasa puas.
Jasson mengecup kening Gita
"Maafkan aku jika menyakiti mu."
Jasaon mengusap keringat di kening gita. Menatap wajah Gita yang sangat terlihat lelah sudah terlelap dalam mimpinya. Terimakasih sudah memberikan sesuatu yang berharga dan mau menerima ku. Maafkan atas semua sikap ku selama ini.
"Aku berjanji tidak akan membuat mu menangis lagi."
Kembali mengecup kening itu.
Kini terlihat jam sudah pagi dini hari. Sepertinya kedua insang sudah merasa lelah berpelukan dengan mesranya di atas ranjang yang ditutupi oleh selimut putih tebal.
To be continued 🌷
🍁 Jangan Lupa Vote dan hadiahnya🙏🍁
.
.
.
Sampai jumpa besok lagi ya Beste 🥰
__ADS_1