Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
61. Perasaan Berubah


__ADS_3

"Apa dia yang membuat mu sampai seperti ini? Apa yang dikatakannya padamu?"


Jasson mengambil sikap serius begitu juga Gita.


"Siapa lagi jika bukan dia!" Teriak Morisa yang sedari tadi diam saja menatap sekeliling.


"Kak Yol, benarkan? Dia yang melukai kakak? Dia yang buat kakak sampai seperti ini kan?"


"Apa kau menyakitinya Jas?" Tanya Yolan pada Jasson. Dia tau betul bagaimana sikap Jasson jika terjadi sesuatu yang menyangkut Lihat saja saat ini Gita sepertinya ketakutan.


Jasson diam saja.


"Lepaskan tanganmu Jas." Yolan menarik tangan Jasson yang masih melekat di kepalanya.


"Kenapa?"


Yolanda mengisyaratkan bahwa Gita sedang cemburu.


"Dia tidak akan cemburu!" Ucap Jasson seraya mengelus lagi.


"Kau harus minta maaf padanya!"


Morisa melototkan matanya. Kenapa Yolan malah mengatakan itu? Sama. Gita dan juga Jasaon terkejut.


"Kak Yol." Morisa mendekat.


"Harusnya dia yang minta maaf pada kakak.


Dia sudah membuat kakak seperti ini!"


"Tidak morisa, Dia tidak melakukan apapun pada ku! Kami hanya saling berkenalan. Tapi entah kenapa tiba tiba aku teringat sesuatu. Bayangan yang buram dan tak jelas. Aku mencoba menjelaskan bayangan itu namun sungguh sulit!"


Yolanda menatap Jasaon dan juga Morisa.


"Malahan seperti nya aku yang tidak sengaja melukainya. Apa kau baik baik saja Brigitta?" Tanya Yolan terseyum.


"Aku tidak apa apa. Hanya luka kecil."


Jasson tak berani menatap Gita. Dia sedikit merasa bersalah, sudah menuduh dan bersikap kasar tadi.


"Jas, apa kau tidak akan minta maaf? Morisa? Apa kau tidak akan meminta maaf sudah menuduhnya yang tidak tidak? Ingat kakak tidak pernah mengajarkan mu menuduh tanpa Bukti loh! "


Morisa menatap Gita. Namun tetap saja. Dia masih kesal. Dia selalu ingin yang menjadi istri Jasson adalah Yolan bukan Gita.


"Mor.."


"Baiklah ini demi kakak! Tapi jangan marah padaku ya kak!" Ucap Morisa dan berjalan pada Gita.


"Maafkan aku kakak ipar!" Ucap Morisa seraya tersenyum palsu.


"Hem, tidak papah aku sudah memaafkan mu!" Halah bilang saja kau ingin membunuhku sekarang! Dasar wanita berkepala dua.


"Kak Yol, sudah! Cepat sembuh ya kak yol. Biar kita bisa jalan jalan." Senyum Morisa dan berlalu pergi.


"Jas, kau?-" Seraya ingin mengatakan Supaya minta maaf juga pada Gita.


"Istirahat lah, kau pasti sudah lelah. Bahkan kau tidak memberitahuku jika kau pulang. Aku kan bisa menjemput mu!"


"Tidak, aku tidak mungkin merepotkan mu!"


"Istirahatlah." Jasaon menarik selimut itu sampai perut.


"Jika kau butuh sesuatu kau bisa meminta ku!"


Yolan hanya tersenyum.


Manis sekali, saat aku sakit dia tidak pernah semanis itu padaku!


Aaah apa sih yang aku pikirkan? Aku tidak cemburu. Ih amit amit.. mana mungkin aku cemburu.


"Ayo, ikut aku! Kenapa malah diam tak bernyawa?" Jasaon menarik Gita yang masih berada dalam diam untuk keluar, berlalu dari ruangan..


Lihatlah dia saja menarik ku kasar seperti ini.


Dasar laki laki kejam! Salah! Suami kejam lebih cocok untuknya.


Ceklek.


Membuka pintu kamar menyuruh Gita duduk di sofa.


"Jangan bergerak! Diam disini." Jasaon beranjak ke arah laci nakas dan mengambil kotak putih dari sana.


"Mana yang terluka?" Tanya Jasaon yang ikut duduk di samping Gita sambil meletakkan Kotak di sisinya.


Gita hanya mengerutkan keningnya.


"Aku tidak papah, hanya luka kecil. Lagian untuk apa kau peduli!" Ucapnya seraya mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


"Berikan tanganmu!! Jangan bicara tidak sopan padaku."


"Aku tidak papah suamiku...


Aku bukan anak kecil, Ini hanya luka kecil, lebih baik kamu mengurus kekasih mu saja!"


Gita seraya menunjuk tanggannya yang sakit dengan sedikit kata kata menyinggung wanita lain.


"Dasar bodoh!!" Jasaon menarik tangan Gita yang sakit.


" Dia itu bukan kekasihku!"


Jasson mengambil beberapa obat.


"Luka kecil seperti ini tidak boleh disepelekan. Jika infeksi bagaimana? Jika Luka ini tambah besar, apa kau mau?"


Jasson seraya membersikan luka itu dengan kapas basa.


Gita hanya menatap.


" Kenapa berlebihan." Ucapnya pelan namun masih bisa ditangkap oleh telinga itu.


"Tidak ada yang berlebihan, kau yang berlebihan."


"Biar aku sendiri, kau urus saja kekasihmu!" Gita mencoba menarik tangganya.

__ADS_1


" Apa kau cemburu?" Mengejek sedikit tersenyum.


Gita menatap.


"Tidak! Untuk apa?"


Jasson menghelah nafas.


Menarik tangan Gita dan menutup luka itu dengan plaster.


"Untuk apa kau terus menyebutnya sebagai kekasih ku? Kau sangat aneh, lihat wajahmu tampak kesal jika membahasnya!"


" Karena aku ini istri mu! Memang ada seorang isteri melihat suaminya bersikap berlebihan pada wanita lain, mana mungkin dia bisa tenang saja?"


Gita membenarkan posisi duduknya tidak menatap Jasson.


"Itu artinya kau cemburu!" Kenapa dia gemas sekali jika cemberut seperti ini.


"Tidak! Aku.." belum sempat Gita berucap namun Jasson sudah lebih dulu memeluknya.


"Ke kenapa kau tiba tiba memelukku?"


Gita sesak dan mencoba untuk melepas.


"Tenanglah, jangan bergerak. Biarkan seperti ini. Hanya sebentar."


Gita mencoba membalas pelukannya.


Entahlah kenapa rasanya sungguh nyaman pikir gita.


Aku bingung dengan sikap mu, kadang bisa berubah kapanpun! Aku terkadang berpikir kau menyukai ku, namun sangat sulit mengatakan itu. Sikapmu terkadang mengatakan kau sangat benci dan tidak menyukai ku sedikit pun.


seperti tadi kau tidak punya hati!


Jasson melepaskan pelukannya.


Berdiri dan berjalan menuju pintu.keluar.


"Apa kau ingin ke kamar kekasihmu?" Tanya Gita yang melihat Jasson tiba tiba melepaskan pelukannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Jasson berbalik.


Berjalan mendekat.


"Sudah ku katakan, Yolanda bukan kekasihku. Aku sudah menganggap nya sebagai saudaraku!"


" Apa kau yakin, hanya menganggapnya sebagai saudara?"


" Jangan merusak moodku! Aku sudah jelaskan padamu!"


"Baiklah, aku percaya!" Ucap Gita yang melihat perubahan wajah Jasson.


Jasson berbalik.


"Aku ingin ke kantor, masih ada beberapa meeting, jadi jangan berpikir aneh." Jasson melanjutkan langkahnya hingga tak terlihat lagi.


Aaaa, kenapa aku merasa seperti ini, kenapa aku malah tidak suka jika melihatnya dekat dengan wanita lain.


Apalagi sikap Jasson tadi sungguh perhatian sekali.


Berjalan ke arah balkon. Menatap Jasson yang entah sejak kapan sudah berada di bawa sana dan hendak memasuki mobil.


Ting. Pesan masuk.


Jeni


Senin jangan lupa kita ada meeteng Brigitta. Siapkan dirimu!


Hari ini hari Sabtu jadi Gita tidak ke kantor karena libur.


^^^Gita^^^


^^^Iya, aku tidak lupa Jen.^^^


Jeni


Besok apa kau ada acara? Atau kegiatan?


^^^Gita^^^


^^^Kenapa?^^^


Jeni


Aku ingin mengajak mu jalan jalan. Kita gak pernah lagi jalan bareng Git!


^^^Gita^^^


^^^Baru gajian nih...^^^


^^^Tapi maaf bangat Jen, kayaknya aku gak bisa deh, aku gak mau nambah masalah!^^^


Jeni


Hem, jadi istri konglomerat gak enak ya Gi.


Jeni paham bangat ketika Gita menceritakan kehidupan nya pada Jeni.


Brigitta hanya tersenyum dan tidak ada niatan membalas lagi.


Ting satu pesan masuk namun dari orang yang berada.


Orang Hutan


Ambil berkas penting yang bermap Biru di atas meja kerjaku, antar kesini secepatnya!


"Sudah memerintah malah tidak sopan!"


Orang Hutan


Waktu mu hanya 15 menit, jika kau terlambat awas saja!


"Gilak!!" Gita berlari menuju ruang kerja Jasson menatap banyak map warna biru.

__ADS_1


Yang mana? Gita memoto beberapa map dan mengirim pada Jasaon.


^^^Gita^^^


^^^Apa kau butuh semua ini atau salah satunya?^^^


^^^Photo^^^


Orang Hutan


Biru dongker!


Photo


Jasson menandai satu photo.


Dengan cepat Gita langsung berlari keluar. Setelah memasuki mobil dia mengecek ponsel siapa tau Jasson mengirim pesan lagi.


Orang Hutan


Kau dimana? Kenapa lama sekali?


Astaga ini masih 5 menit.


mengabaikan pesan Jasson tanpa berniat membalas.


"Pak, naikkan kecepatannya. Ini perintah dari suamiku! Dia sangat membutuhkan ini!" Ucap Gita seraya mengangkat map di tangganya.


Dengan arahan Gita mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


Hingga tiba di depan gedung besar, Gita berlari. Tanpa menuju resepsionis di langsung melewati dan masuk lift.


"Siapa yang lari tidak sopan itu!" Tanya seorang, itu kepala keamanan.


"Kami tidak tahu Tuan."


Merasa khwatir dan segera menelpon seorang.


"Lapor, tuan lico, maaf saya membuat kecerobohan seorang ada yang masuk sembarangan, lari lari dan menuju lantai ruangan Tuan Jasson."


"Jangan membesarkan masalah. Aku yang akan mengurusnya."


Kepala keamanan merasa legah, jika dia membuat kesalahan jangan berharap bisa tenang.


"Tapi kenapa Tuan lico sangat santai? Apa tadi itu teman dekat tuan Jasson?" Untuk apa ketua pelayan itu peduli. Setan tersadar dia segera peegi menuju ruangannya.


Bruk..


Tepat 15 menit Gita mendorong pintu itu.


"Apa kau gila? Kenapa menghantam pintu!"


"Ini, ini yang kau inginkan." Gita menyerahkan map itu. Sepertinya itu sangat penting hingga Jasaon harus menyuruh Gita sendiri yang mengantarkan.


"Kerja bagus. Lico ayo!" Ajak Jasson segera keluar dari ruangan itu.


Pria gila! Bahkan tidak mengucapkan terimakasih? Gita menatap punggung Jasson yang tiba tiba berhenti.


"Kau sudah boleh pulang! Nanti tidak perlu menunggu. Aku akan lembur!" Lanjutnya berjalan yang tadi terhenti.


Uh... Gita menggela nafas panjang. Melangkahkan kakinya keluar dari ruangan yang sangat besar itu.


Dia bahkan tidak menanyakan keadaan ku!


"hahaha kau pasti Gila Gita. Untuk apa kau perlu diperhatikan oleh suami kejam sepertinya!" Gita tertawa Garing sambil berjalan melewati lorong lorong dengan pikiran yang bercampur.


Saat tak fokus berjalan seorang menyenggol lengan Gita dan hampir saja Gita akan terjatuh kebawah. untuk saja orang itu segera menangkap tubuh itu dan spontan karna takut jatuh Gita memegang leher itu.


satu detik dua detik tiga detik tatapan bertemu.


Kenapa dia ada disini?


"Kau tidak apa-apa kan Bi?" tanyanya membenarkan posisi Gita agar berdiri dengan tegap.


"Terimakasih Vin, untung kau menagkap ku. Jika tidak pasti aku akan terluka."


"Kau ngapain disini Bi? kau kerja disini?"


Gita menggeleng.


"Jasson." ucapnya. Kevin mengerti mungkin Gita mengunjungi Jasson pikirnya.


"Kau ngapain disini Vin?"


tanya Gita.


"Kami ada Meeting. dan diadain di Gedung ini."


ucapnya sambil menatap arlojinya.


"Aku akan pergi Bi, meeting akan segera dimulai. Hati hati okeh, jangan sampai kau melamun lagi jika ada yang menabrak mu dan tidak menolong bagaimana?"


hem


Gita mengangukkan kepalanya.


"Jika ada waktu balas pesan ku ya Bi." ucap Jasson sedikit lemas namun ia tutup dengan senyuman indahnya dan sedikit mengacak rambut itu lalu berlalu pergi.


Gita memegang rambutnya dan berbalik menatap punggung Kevin yang semakin lama semakin menjauh.


Kasihan juga sih, aku selalu mengabaikan pesannya. Tapi aku tidak mungkin memberi harapan padamu Vin, lebih baik kau melupakanku.


Gita merapikan rambut dan berbalik untuk pergi pulang.


"kenapa aku seperti ini." Rasanya tidak ada lagi cinta untuk Kevin, apalagi selama ini dia tinggal bersama Jasson, kesehariannya hanya untuk Jasson dan berdiam di mansion.


"Sepertinya aku tidak menyukainya lagi. Tadi saja jantung ku tidak bereaksi." Biasanya jantung Gita akan berdetak tak beraturan jika berada di dekat Kevin, tapi kenapa sekarang rasanya biasa biasa saja? Padahal tadi mereka sangat dekat dan bertatapan.


" Tidak mungkin kan aku menyukai si pria kejam itu!" Gita terus saja berucap sambil melangkahkan kakinya menuju tempat dimana mobil terparkir.


To be continued 🌷


🍁 Jangan lupa like and vote ya Beste 🀩🍁

__ADS_1


Jika sempat nanti aku up lagi yaπŸ™


__ADS_2