
Aku memukul jidat. Ponsel ada disana bagaimana bisa dia seceroboh ini.
...ποΈποΈποΈ...
Pak, bisakah aku meminjam ponselmu? Sebentar saja!" Ucap ku pada supir yang masih fokus menyetir mengikuti mobil di depan.
" Baterai nya Lowbat Nya. Tadi tidak sempat mencas." Karena pagi buta aku sudah menyuruhnya untuk menghantarkan ku ke kontrakan. Ya alhasil Baterei ponselnya kosong.
"Apa tidak ada powerbank?"
"Tidak ada Nya."
Astaga aku semakin mengila. Aku semakin takut karena ini semakin jauh dari kota. Tempatnya juga sepi hanya dihiasi pohon tinggi tegap di pinggiran jalan.
Aku melihat sebuah rumah di ujung sana.
Aku yakin mereka akan kesana jadi aku menyuruh supir berhenti agar tidak ketahuan apalagi pohon yang rindang akan menutupi mobil yang hitam ini.
Aku menatap aksi mereka yang dengan kasar mebopong morisa aku menutup mulut.
Astaga keterlakuan sekali siapa mereka. Wajah nya tidak terlihat karena penutup wajah.
"Astaga Nyonya. Ini penculikan mah. Kita harus lapor polisi bila begini!"
Aku menepuk jidat.
"Pak, sedari tadi aku bicara bapak tidak dengar? Aku bahkan meminjam ponsel. Tujuannya untuk apa selain menghubungi suamiku atau pun polisi."
"Benarkah Nya? Maaf saya salah!
Tapi siapa wanita itu Nya? Apa dia teman nyonya?"
Astaga apa supir ini buta, apa dia tidak melihat morisa yang di bopong kasar tadi memasuki rumah kayu itu?
"Sudahlah pak, nanti juga tau sendiri. Sekarang bapak tunggu disini dan jangan kemana mana jangan berpindah tempat. Tetap di balik sini. Lihat interaksi saja. Aku akan masuk!"
"Nyonya, apa aku tidak ikut saja?"
"Tidak. Jangan kemana mana!"
Aku tau supir itu tidak berani membiarkan ku sendiri tapi karena gertak dariku akhirnya dia diam saja dan aku pergi dengan sangat hati-hati.
Aku menatap sekeliling mencari posisi senyaman mungkin.
Aku menatap dari sudut rumah yang jelas disana ada jendela kaca yang terbuka.
Baru saja aku ingin memanjat sambil memanggil morisa yang tengah asik menyeat nyeat tali itu menggunakn pecahan guci.
Dia menagis walau suaranya tidak jelas karena bekapan pada mulutnya.
Brakkk...
Pintu itu terbuka dengan kasar.
__ADS_1
Kaki yang tadinya aku naikkan aku turunkan kembali. Aku menatap hati hati aksi preman itu.
Melihat morisa yang di tampar semakin membuatku kaget.
Astaga sejahat apapun morisa dia tetap adik iparku. Aku menyayangi nya apapun yang telah ia lakukan padaku. Aku tau dia anak yang baik dia hanya salah pengertian tentangku. Yang membuat dia sangat marah dan benci padaku.
Toh tidak ada guna juga jika menyimpan dendam dan membenci seseorang. Walaupun aku hanya manusia biasa tapi kepercayaan dan imanku tebilang besar. Jika aku mengampuni sesama manusia maka bapaku yang disurga juga akan mengampuniku. Dan sebaliknya akan terjadi.
Terlebih Aku juga sudah lebih dulu menyayangi morisa saat dulu aku bertemu ketika kecelakan tragis yang menimpahku.
Dalam hati dan pikiran ku aku sudah terus berdoa dan berharap pada yang diatas.
Aku semakin geram saat mereka memperlakukan kasar morisa. Mereka mengikat morisa di kursi yang tertempel pada tiang besar.
Setalah duduk disan morisa lebih mudah kujangkau. Dia tidak sengaja menatap ke arah ku saat dengan kasar pria itu ingin menyentuh pipinya.
Dia seperti terkejut melihat ku. Aku seolah berbicara padanya untuk menenangkan.
Tapi dia merasa aku begitu bodoh karena menghampiri nya. Dari tatapannya yang sembab itu dia juga merasa legah akan adanya aku tapi dia juga takut. Dia seolah berkata padaku untuk mencari bantuan.
Setelah tatapanku dan dirinya terputus disitu pula mereka keluar ketika seorang dari ambang pintu memerintah.
Aku nunduk sebentar dan berjongkok.
Menekan kepala agar berpikir bagaimana cara membebaskan morisa.
Aku kembali berdiri dan menatap kedalam ruangan ternyata seorang pria tengah berjongkok di hadapan morisa.
Terlihat jelas raut wajah morisa serta tubuhnya merasa khwatir dan lebih parah dari preman sebelumnya. Aku yakin bahwa laki laki yang tengah membelakangi ku saat ini adalah bos dan orang dibalik semua ini.
Mendapati tiga pria yang menatap ku tajam.
Aku bisa bela diri. Aku yakin dengan bekal ini aku bisa menghajar preman ini.
Mereka merasa aku lemah dan mencoba mempermainkan diriku. Tapi dengan segit aku memulai pertarungan dan perkelahian terjadi. Aku hanya bisa mengandalhakn tenaga melalui otak yang bekerja bagaimana cara agar membuat mereka semua tumbang..
Tak sesekaki juga tangan besar mereka mengenai pipi serta bibirku. Tetesan dara mungkin mengelair aku merasakan pedihnya tapi aku abaikan. Mereka sempat mendorongku ke sudut ruangan dan alhasil keningku yang jadi makanan sudut tiang yang menyebalkan itu.
Dengan emosi dan kekuatan penuh aku keluarkan semua tenaga ku. Dan aku sangat berterima kasih akhirnya mereka semua terhempas tergeletak disana.
Aku yang sedikit oleng mencari tempat pembekapan Morisa. Jika di analisis dari ku mengintip tadi. Akan menuju ke arah kiri. Aku berlarian di rumah ini sangat besar. Dan morisa di bekap di ujung dan paling sudut ruangan ini.
Terus berlari mencari cari letak ruangan Morisa hingga akhirnya suara tangisan dan hitungan terdengar.
Aku menatap nanar ruangan dengan pintu terbuka lebar. Jelas aku melihat Morisa menutup mata. Aku tak lagi menatap pria yang berjarak dua meter dari arah morisa wajahnya tak terlihat dari arah ini karena pantulan sinar matahari. Hitungan itu semakin terdengar aku secepat kilat berlari masuk berteriak nama morisa dan memegang kedua bahu morisa.
Ucapan angka serta suara tembakan itu bersamaan saat ada benda yang telat menancap pada punggungku. Tiba tiba keseimbangan ku ambruk aku bertahan pada tubuh morisa.
Aku tersenyum. Morisa ternyata selamat.
Dia menatapku takut. Seolah mengatakan apa aku gila? Atau Kau sangat bodoh.tapi benar mungkin aku bodoh!
"Ka, ka ,a, kakak Ipar. Kak Gita." Ucap Morisa gemetar.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Mulai menangis.
Dan menatap ku khawatir. Baru kali ini morisa menatap khawatir padaku. Aku mersa sikecil yang takut dan mengkhawatirkan ku tahun tahun yang lalu kembali. Aku menatap Morisa.
"Bodoh! Pertanyaanmu sangat bodoh!" Aku mencoba tersenyum padahal punggung kanannya sudah tertancap peluru. Sedikit berdiri mencabut picau yang menancap.
Membuka ikatan Morisa dengan susah payah menahan sakit.
"Morisa, cepat lari sekarang. Tinggalkan tempat ini."
"Ah? Kakak gila? Mana mungkin a-"
morisa menatap ku dengan berbinar merasa bersalah dan sangat cemas dan khawatir dia memeluk ku. Setelah tangan itu terlepas dari ikatan.
"Kakak, kita akan pergi bersama."
Menatap Wajah ku yang penuh memar.
"Morisa dengarkan aku. Pergi sekarang!" Ucapku melepaskan pelukannya.
Dia mengeleng.. dan air itu terus mengalir dari matanya.
Setelah aku membujuknya akhirnya dia pergi sambil menatap ku tak rela.
Aku tersenyum. Sedangkan pria itu sembari ingin menyentuh bahuku tapi dengan feeling yang kurasa aku tau itu akan terjadi dengan sigap aku menarik tangan itu dan memblintirnya. Dan yah melihat wajah pria di hadapanku aku merasa syokk.
"Kriss..." Ucapku lirih pertahananku ambruk. Peluru yang tertancap rasanya mematikan saraf ku.
Aku lemas gepalan tanganku melemah dia memangil namku bergetar aku tau dia juga syok akan diriku.
"Ke kenapa kau mela kukannya Kris?" Tanya ku melemah menatap dengan mata sipit.
"A aku ti tidak sengaja. Ke kenapa kau tiba tiba datang?"
" Kau benar benar jahat Kris!"
"Gi..." Kris memeluk ku dalam dekapannya.
"Maafkan aku. Kau harus bertahan."
Dengan cepat Kris membopong ku dengan bulir air mata. Dia meletakkan ku ke dalam mobilnya dan disaat bersamaan aku benar tidak merasakan apa apa lagi.
Flash Off. Gita POV END.
To be continued π·
Huh, kasihan Brigitta π
Jangan lupa dukung Laura ya Guys π€©
dengan menekan tombol like dan Satu kalimat di kolom komentar π
Sekian dulu untuk hari ini.
__ADS_1
Besok Author balik lagi ya Beste kuπβ€οΈ
Bye Byeπ