Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
62. Rekan Kerja


__ADS_3

"kak Yol, kakak mau kemana?"


"Kakak mau ke rumah sakit Sa, kan kakak pindah tugas jadi di negara ini!" Yolan berhenti sejenak.


"Emangnya kakak udah pulih! Lihat wajah kakak masih tampak pucat." Morisa mendekat dan memeluk lengan Yolan.


"Kakak baik baik saja."


Yolan terseyum memegang tangan Morisa yang menggandeng nya.


"Kakak selalu seperti itu! Jangan hanya peduli tentang kesehatan orang lain kak, ingat kesehatan kakak juga! Jika kakak sakit siapa yang akan mengobati nantinya?"


"Perhatiaan sekali." Senyum yolan.


"Harus dong!" Ucap Morisa cepat.


"Hem, kakak berangkat dulu ya, nanti telat. Padahal orang baru." Ucap Yolan terseyum.


"Baiklah, aku gak bisa larang kakak. Hati hati ya kak." Senyum morisa.


Yolan hanya mengaguk dan berlalu. Di gerbang sana sudah ada taxsi online yang dia pesan.


" Hari ini kau ke kantor?" Tanya Jasson yang melihat Gita sudah sangat rapi.


Gita hanya mengguk setuju sambil berjalan membawakan dasi untuk Jasson.


"Kenapa kau sangat suka bekerja? Kau dimansion saja! jika kau ingin sesuatu katakan saja, kau ingin berapa?" Ucap Jasson sambil memperhatikan Gita.


Gita menatap dan menggeleng.


"Jangan larang aku, Tolong izinkan aku melakukan yang kusukai, lagian ini hal positif bukan? Aku tidak melakukan yang aneh aneh. Aku juga bekerja bukan karena uang." Ucap Gita menarik dasi itu hingga membentuk segitiga.


"Bagaimana jika kau bekerja di perusahaan ku saja! Kenapa malah bekerja di perusahaan kecil seperti itu!"


Gita merapikan kera baju itu.


"Aku sudah nyaman di tempat ku." Gita melepaskan tangganya. Bertanda dia sudah selsai memasang dasi itu.


Gita hendak berlalu namun Jasson dengan cepat menarik pinggang itu.


"Sepertinya kau melupakan sesuatu?"


Gita mengerutkan keningnya, melupakan apa?


Gita menatap dasi itu.


Rapi, tidak ada yang salah, rambut Jasson juga sudah tersisir rapi.


"Melupakan apa?" Tanya Gita.


Jasson mendekatkan wajahnya dan tepat bibir mereka bersentuhan beberapa detik.


"Kau melupakan ini. Lakukan Seperti ini setiap paginya, aku tidak masalah!" Ucap Jasson tersenyum dan berlalu keluar kamar.


Apa? Jadi aku akan melakukan ini setiap paginya? Apa apan dia! Gita menyentuh bibir nya yang merona karena olesan liptin tipis.


"Ah, lupakan!" Gita mengambil tas nya dan juga jas dan tas jasson.


"Eh, ada kakak ipar.." senyum morisa.


Saat melihat gita baru keluar dari life.


Gita tidak peduli dan lanjut berjalan, ngehabisin waktu jika bicara dengan makhluk seperti Morisa pikirnya.


"Heh, kurang ajar bangat, udah enak dibaikin malah jutek!"


"Adik ipar, kakak ingin bekerja jadi gak punya waktu untuk ribut." Ucap Gita berhenti sejenak mencoba tersenyum dan berlalu pergi.


"Dasar Gila!" Morisa hendak mendekat namun dengan cepat Gita berjalan ke halaman depan yang jelas disana ada Jasson yang menunggunya. Morisa hanya bisa berbalik, malas juga jika di semprot Jasson pagi pagi begini.


"Lama sekali!"


"Tadi macet!" Ucap Gita menyerahkan jas dan tas jasson.


"Macet apanya? Emang jalan raya?" Ucap Jasson menaikkan alisnya.


" Disini kan banyak pelayan, dan juga yang lainnya." Senyum Gita mencoba menarik tanggan Jasson untuk menyalim.


" Suamiku, mobil anda udah di depan, kenapa tidak masuk?"


"Kau tidak ingin berangkat bersama ku?"


"Mana mungkin, lagian tempat kita berbeda arah! Aku bersama Pak Tono!" Selaku supir pribadi Gita.


"Terserah mu!" Jasson berbalik dan masuk ke dalam mobil.


Tak lama setelah jasson pergi Gita juga masuk kedalam mobil.


Dret..


Ponsel gita berbunyi.


"Halo Jen?"


"Kamu udah diamana Gi?"


"Lagi OTW Jen."


"Gi, kamu langsung ke perusahaan Y saja, jangan ke kantor lagi okeh! Karena meetengnya dipercepat dan harus ke perusahaan nya langsung."


"Ok, thanks Jen."

__ADS_1


Panggilan terputus.


"Pak, kita ke perusahaan Y ya!"


"Baik nya," ucap supir berbalik arah.


"Wah, besar bangat..."


Gita memandangi gedung yang sangat tinggi dan besar.


Melangkah masuk.


"Nona kartu nama anda!" Ucap satpam yang menjaga pintu masuk.


"Oh." Gita mengambil kartu namanya dari dalam tas.


" Nona ikut dengan saya, teman satu kerja anda sudah ada di ruang meeting." Ucap Satpam yang membaca nama perusahan yang tertera.


Gita hanya mengangguk dan ngikut dari belakang.


Perusahan ini, besar sekali. Bahkan banyak ruangan di dalamnya. Di lapisi kaca bening jadi tampak ramai.


"Nona, anda lurus saja ke depan disanalah ruangannya, saya hanya bisa antar sampai disini." Ucap satpam dan segera berlalu.


"Terimakasih Pak." Ucap Gita dan berjalan sesuai instruksi dari satpam tadi.


Gita menarik pintu itu, terlihat sudah ramai, sepertinya dia belum terlambat kursi utama nya belum terisi.


"Gi!!" Panggil Jeni.


Gita menatap Jeni yang duduk di pinggir meja panjang itu.


Gita hanya melambaikan tangan dan berjalan mendekat.


"Udah rame aja!" Ucap Gita.


"Iya, soalnya ketuanya akan berangkat ke luar negeri siang ini. Jadi di percepat satu jam deh. Tapi masih untung kita gak telat."


"Benar." Ucap Gita yang membuka tas nya dan mengeluarkan laptop dan beberapa map.


"Gi! Panggil pak fendi tuh!" Ucap Jeni menunjukkan Efandi di sebrang.


"Hah?" Gita menatap Jeni, dan menatap ke arah tatapan Jeni.


Efendi mengisyaratkan agar duduk di dekatnya.


"Sono Gi! kamu kan mau presentasi jadi harus dekat dengan Ketua, mana mungkin kamu di pojok sini bareng ama aku!"


"Baiklah." Ucap Gita dan berpindah tempak mengintari meja persegi panjang dan duduk di kursi ketiga di samping Efendi.


"Udah siap kan Brigitta?"


"Udah Pak!" Ucap Gita tersenyum.


"Selamat pagi semua!" Ucapnya nya duduk di kursi utama.


Namun saat menatap pegawai nya, Tatapannya bertemu pada satu sosok.


Mengerutkan keningnya.


Keduanya tampak terkejut satu sama lain.


Kenapa dia disini? Jadi ini? Perusahaannya. Astaga, kenapa bisa. Gita mengalihkan pandangannya. Memperbaiki posisinya menatap depannya.


Brigitta bekerja? tapi kenapa di Surga Group? Pria berbadan tegap dengan sorot mata yang menarik perhatian dia adalah Kevin.


Kevin menatap Asistennya mengisyaratkan agar segera dimulai.


"Baik karena waktu tidak banyak kita akan mulai acaranya. Kami persilahkan perusahan P untuk mulai presentasi lebih dulu." Ucap Asisten itu.


...


2 perusahan sudah selesai presentasi dan kini giliran Gita.


Gita berdiri menatap Kevin sekilas dan berjalan ke arah depan. Menyalakan Laptop nya dan terpanggang materi yang di pancar oleh in fokus. Mulai menerangkan sambil menatap setiap orang di ruangan itu termasuk Kevin.


Presentasi yang memuaskan, waktu yang cepat dan penjelasan yang luar biasa.


"Demikian presentasi saya. Terimakasih." Ucap Gita tersenyum dan mendapatkan oplosan dari orang yang ada disana.


Aku gak nyaka, ternyata Brigitta bisa sehebat ini.


"Baiklah, kami akan mendiskusikan hasilnya. Kalian bisa istirahat sebentar." Ucap sala seorang asisten dan berjalan mendekat ke arah kevin.


Kevin berdiri dan merapikan Jasnya berjalan memasuki satu ruangan dalam ruangan tersebut, dan diikuti oleh kedua temannya.


"Berapa perusahaan yang di ajukan?"


"Ada 5 perusahaan Tuan, namun satu perusahaan terlambat hadir jadi langsung di klasifikasi. Dan yang bisa bekerja sama di perusahan Kita maksimum 2 perusahan harus di terima Tuan."


"Kita ambil satu perusahaan saja.


Ini." Kevin menggeser domumen milik perusahan S tempat Gita bekerja.


"Anda yakin Tuan?" Tannya nya sambil mengerutkan kening.


"Apa ada yang salah?"


"Tidak, tapi perusahan A juga bagus tuan, sebaiknya kita pilih dua perusahaan itu saja."


"Jika aku sudah menentukan, tidak boleh ada yang membantah!"

__ADS_1


"Baik Tuan." Ucapnya tertunduk hormat.


..


" Bagaimana jika kita gak diterima." Ucap salah seorang karyawan di samping gita.


"Pikirkan hal positif saja!" Ucap Gita, namun hatinya juga sedikit tegang, bagaimana jika ia gagal, melihat semua presentasi dari Perusahaan lain sangat luar biasa bagusnya.


Kevin dan kedua temannya keluar dari ruang diskusi.


"Baik, kami sudah diskusikan dan kami hanya akan memilih satu perusahaan saja." Terlihat mukak tegang ya jelas saja diantara 4 perusahan yang terpilih hanya satu? Semakin dek dekan tuh jantung.


"Kami merekrut Surya Group." Ucap Kevin sembari menatap Gita dan juga yang lainnya.


Gita melebarkan mata dan juga mulut.


"Ah, benarkah! Pak kita di terima!" Ucap Gita sedikit memelankan suaranya namun wajah tampak senang sungguh terpancar di wajah cantiknya.


"Kerja bagus Gita!" Ucap Efendi terseyum. Begitu juga teman teman satu Group nya yang sangat bahagia mendengar penuturan itu.


" Buat yang tidak terpilih jangan langsung berkecil hati masih banyak kesempatan di lain waktu, yang perlu di perbaiki silahkan di perbaiki, mungkin masih harus belajar lebih banyak lagi. Dan untuk yang terpilih jangan langsung senang dulu, dan merasa puas. Buktikan dalam kerja dan berusaha untuk mewujudkan ucapan dalam presentasi tadi." Ucap Seorang tangan kanan Kevin.


Semua hanya bisa tersenyum, walau kalah tidak papah masih banyak kesempatan namun sedikit kecewa tapi diurungkan.


"Semoga di lain kesempatan kita bisa bekerja sama. Dan buat yang sudah terpilih selamat, semoga dapat bekerja sama dengan baik ke depannya. " Kevin tersenyum.


Para pegawai yang tidak di terima meninggalkan ruangan itu kecuali Gita dan teman temannya yang lain.


"Terimakasih Tuan kevin, sudah mempercayai kami dan menerima kami menjadi rekan anda." Ucap Efendi sambil menjabat tangan Kevin.


Gita hanya menatap Kevin begitu juga Kevin.


Tersenyum hanya itu saja.


"Untuk kerjasamanya kami akan menghubungi kalian." Ucap tangan kanan Kevin.


Hanya menggaguk dan terseyum.


"Kalau begitu kami Pamit Tuan!" Ucap Efendi dan hendak berlalu.


"Kecuali, dia!" Tunjuk Kevin pada Gita.


"Saya?" Tanya Gita menunjukkan dirinya. Efendi heran begitu juga yang lainnya.


"Aku ingin menanyakan soal presentasi tadi!" Ucap Kevin. Oh, pikir mereka menggaguk.


"Baik Tuan." Ucap Gita sopan.


Kevin ingin sekali tersenyum mendengar itu namun ia tahan untuk tetap datar.


"Baiklah, kami akan kembali duluan Brigitta," ucap Efendi.


"Baik Pak!" Ucap Gita.


Semangat isyarat tangan dari Jeni yang hanya dijawab senyum oleh Gita.


"Ikut aku Bi!" Ucap Kevin setelah anggota Surya Group pergi.


Tiba tiba Kevin berhenti.


"Kalian, bisa kembali ke tempat masing masing, siapkan keperluan untuk keberangkatan nanti!" Ucap Kevin dan berlalu pergi yang diikuti oleh Gita.


Memasuki ruangan Kevin.


"Duduk saja!" Ucap Kevin pada Gita menepuk sofa di sampingnya.


"Kenapa wajahmu tegang sekali Bi?" Ucap Kevin sedikit tertawa.


Gita hanya menggeleng.


" Apa yang akan anda tanyakan Tuan."


Kevin mengerutkan keningnya.


Dan tertawa.


"Bi, kamu sakit?" Memegang kening Gita yang langsung di tepis oleh Gita.


"Jangan pegang pegang, kalau ada yang liat gimana?" Ucap Gita berbisik.


"Astaga! Gita... Santai aja kali! Gak ada orang, lagian ini perusahaan milik aku."


"Tapi anda.." tergantung.


"Gi, benaran deh aku risih bangat kamu bicara formal. Santai aja."


"Anda kan atasan saya."


Kevin mengerutkan wajahnya.


"Bi..." ucapnya datar.


"Ah, baiklah. Tadi aku heran aja, ternyata yang akan jadi atasan ku adalah kamu Vin." Gita duduk di sofa itu. Sebelumnya melihat sekeliling yang sepi. Sedikit lega pikirnya.


To be continued 🌷


🍁 Jangan lupa like and vote ya Beste 🀩🍁


Author punya pertanyaan!!😁😁😁


Gita cocok sama Jasaon, atau sama Kevin nih?

__ADS_1


Balas di kolom komen ya πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


__ADS_2