
Janes berdiri disana menatap Jasson dari kaca kecil pintu ICU.
Gita baru sampai disana berjalan pelan seperti tidak ada tenaga.
Dia menjatuhkan bokongnya di kursi dekat ruang ICU.
" Pa.. kenapa dengan Jasson, kenapa dia bisa seperti itu?"
Jasson berbalik dan menatap Gita yang duduk lemas disana. Janes mendekat dan duduk disamping Gita.
"Menangis lah jika ingin menangis. Jangan menahannya. Tidak peduli jika orang mengatai cengeng. Tapi setelah menangis kau akan merasa sedikit lega."
Janes mengusap rambut Gita gemetar. Jujur dia saat ini takut kehilangan putranya.
"Pa, boleh gita jujur? Sebenarnya gita sangat takut dan rasanya Gita ingin menangis tapi.. Gita tidak mau berpikir negatif pa.. jika gita menangis yang terlintas hanyalah hal hal negatif.. Gita tidak mau! Gita tidak akan menangis jangan sampai aku memikirkan hal buruk dan gita percaya Jasson akan selamat dia baik baik saja." Gita menatap langit langit rumah sakit, dia menahan air mata yang ingin terjatuh.
"Kamu berbeda, saat seorang menangis untuk melegakan perasaan kamu malah menahan untuk melegakan perasaan mu!"
Janes menghapus sisa air matanya itu.
Gita sangat ingat, dulu sebelum kepergian Ayah Bunda nya dia terus menagis di ruangannya. Segala pikiran buruk terlintas di pikirannya.. Dia berpikir bagaiman jika orang tua nya tiada dan meninggalkan nya sendiri dan banyak hal lainnya, dia berpikir sangat jauh..
Sampai tiba semua yang dipikirkannya itu terjadi dalam hidupnya. Dia lupa saat seorang pernah mengatakan padanya.
" Kamu bisa bersedih tapi kamu tak perlu memikirkan hal negatif dengan terus menangis, cobalah untuk berpikir positif dan tersenyum lah. Jangan menangis hanya untuk memikirkan hal buruk tapi menangis lah untuk memikirkan kebaikannya. Agar kamu bisa tersenyum saat mengingat wajahnya, dan hal positif akan muncul dengan sendirinya."
Mengingat ucapan itu, tiba tiba terlintas di pikiran gita sosok Kevin entahlah rasanya di sangat egois sekarang. Bisa bisanya dia berpikir ingin bertemu dengan Kevin disaat seperti ini, dia ingin memeluknya, dia ingin mencurahkan isi hatinya, sangat sedih ia rasakan. Kenapa bisa?
Vin, apa kau baik baik saja? Kenapa kau tiba tiba muncul dalam pikiranku? Kenapa kau membuat ku tambah khwatir?
Gita menutup mata masih dalam posisi menatap langit langit sambil memegang kepalanya.
Aku percaya bahwa Jasson akan baik baik saja. Walaupun sifatnya sangat kejam, tapi akhir akhir ini dia sudah lumayan berubah, dan aku yakin dia pasti bisa bertahan di dalam sana.
Gita menatap pintu ICU yang terbuka.
Dengan cepat Janes mendekat dan diikuti oleh Gita.
"Bagaimana dengan kondisi putra saya, apa dia sudah sadar. Berapa lama dia akan koma? Dia baik baik saja kan? dia akan segera sadar?"
" Putra anda masih dalam masa koma, Kami tidak tahu kapan Tuan Jasson akan segera sadar. benturan di kepalanya sangat keras hingga syaraf melemah.
__ADS_1
Berdoalah Tuan, untuk keselamatan putra Anda. Jika saya boleh jujur, hidup putra anda tinggal ada mujizat, kami sebagai tenaga medis sudah mencoba melakukan yang terbaik. Selebihnya hanya yang di atas yang tau."
" Apa maksud anda! Jangan bicara sembarangan!! Apa kalian tidak bisa bekerja dengan baik!!"
" Tuan pelankan suara anda ini rumah sakit. "
"Saya tidak peduli!! Lakukan yang terbaik untuk menyembuhkan putraku! Kau tau kan siapa saya? Saya Bisa menghancurkan rumah sakit ini!!"
" Pa, tenang lah, Jasson akan baik baik saja, kita banyak bedoa ya Pa. Tenangkan hati Papa. Marah tidak akan menyelesaikan masalah Pa!" Gita memegang lengan Janes dan bicara lembut.
" Gita.. maafkan papa.
Tapi Jasson.."
"Pa jangan pikirkan hal negatifnya. Papa harus yakin jika jasson akan selamat dan baik baik saja. Papa tenanglah."
" Tuan kami akan berusaha. Permisi!" Dokter itu pun segera berlalu.
Janes menangis dia tidak bisa menahan walaupun Gita terus memberikan cerita positif tentang Jasson.
" Pa, lihat Gita..
Gita tidak menangis..
Jasson mulai berhenti dan memegang kepala Gita.
"Terimakasih sudah mengingatkan Papa, papa ingin ibadah sebentar!"
Gita menggaguk dan kembali duduk.
Dia menatap Pintu ruang ICU itu terbuka. Seorang suster keluar dari sana.
"Sus.." gita sedikit berlari mendekat.
"Apa saya boleh masuk?"
" Boleh nona. Kami sangat menganjurkan agar nona mengacak bicara, mungkin saja saat mendengarkan nona, pasien bisa merasakannya. Hem, tapi anda harus sabar pasien ini sangat parah, saya tidak tau cara ini berhasil untuk anda. Silahkan masuk nona, Tapi anda harus menggunakan masker dan juga mantel. Ada dirung ini!" Suster membuka pintu tepat di sampingnya.
"Terimakasih sus atas semua infonya, saya akan mencoba."
"Sama sama."
__ADS_1
wah susternya ramah sekali.
Gita memasuki ruangan itu melihat Jasson terbaring lemah, kaki, tangan, leher, kening semua diperbam.
Terlihat wajah Jasson lebam bekas pukulan sudut bibir bengkak membiru.
Gita menduduki kursi di dekat brankar besar itu. Menatap jasson dengan sangat lekat.
dia mencoba memegang pipih itu tapi tangan itu melayang di udara. Dia takut, mungkin rasa nya sangat sakit.
"Lihatlah, Anda begitu jelek Tuan."
ucap Gita bergetar tapi mencoba tegar dan bersikap biasa dan tenang.
"Wajah anda tidak mulus lagi. Saya masih ingat saat pertama kali bertemu dengan Anda. Anda terlihat sangat Tampan dan gagah sekali. Jujur saja saya terpanah." Gita tersenyum mengingat hal itu. Dia kembali menatap Jasson. Hari ini ia akan mengungkapkan unek uneknya pada tubuh yang tak sadar ini.
"Saya berpikir, pasti banyak wanita menyukai anda, dan mungkin setelah menikahi anda saya akan punya banyak musuh." Gita menatap kembali wajah jasson dengan sedikit mendekat.
"Tapi itu semua hanya ada pada imajinasi ku. hahaha." sungguh hidupku sangat menyedihkan. Gita seraya mencoba tertawa padahal menatap Jasson saat ini membuat air mata itu ingin lolos. namun tetap ia tahan.
"Tapi, entahlah setelah anda melakukan hal hal yang keji anda terlihat jelek seperti orang hutan, aku berpikir lagi, pasti tidak ada wanita yang menyukai anda hingga anda di jodohkan dengan saya. Kenapa anda tidak punya hati Tuan." Gita mengelus tangan yang di perban itu pelan.
"Tapi saya juga kasian dengan anda. Tidak ada wanita yang menyukai, hingga menikah denganku dengan terpaksa. Hem Tuan, tuan, aku masih ingat kau terus memakiku setiap hari. Seharusnya kau Bersyukur akhirnya ada yang menikah denganmu." Astaga Gita Jika Jasson saat ini bangun kau pasti akan dilempar ke kutub Utara dan dimakan binatang buas disana.
" Andai saja anda baik bersikap lembut, pasti saat ini aku sudah membuka hati untuk anda. Tapi jika itu terjadi yang pasti saat ini aku tidak akan disini. Mungkin aku akan menjadi penggemar berat mu." Gita sedikit tersenyum.
"Uh, saya sudah lelah bicara sendiri! Tapi yang jelas saya sudah mengungkapkan apa yang kurasakan pada Anda. Walaupun anda sangat benci dan kejam padaku, aku tidak akan pernah benci pada Anda. Karena benci dan dendam itu bukanlah sikap yang pantas, itu hanya bisa melukai dan menyakiti orang lain. Dan saya tidak akan pernah mencoba hal seperti itu, cukup hanya merasakannya saja. Jangan sampai melakukannya.
Dan tindaka seperti ini sangat langkah, aku hanya bisa mengatakan ini saat anda tidak sadar. Jika Anda sadar, ha, yang pasti aku sudah pergi ke alam yang berbeda." Gita berdiri dari duduknya.
" Saya harap anda bisa melewati situasi ini. Dan saya harap anda bisa merasakan kehadiran saya."
...
To be continued.
π Vote dan beri hadiah Beste π
.
.
__ADS_1
.
Sampai jumpa π