Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
32. Aku Selalu Ada


__ADS_3

"Mama, Gita disini." Gita mengelus pipi mulus itu.


Monik merasakan gerakan dan membuka matanya perlahan. Senduh, wajah itu tidak bersemangat


" Gi gita.." ucap monik pelan.


"Mama sudah bangun.. Mama Gita disini."


" Jasson.. jas.."


Gita menarik nafas dan menghembusnya.


"Ma, cepat lah sembuh supaya mama bisa lihat jasson. Dia baik baik saja ma, jangan kahwatir. Percaya sama Gita."


"Mama tidak kuat sayang!" Monik mengeluarkan air matanya. Gita dengan cepat menghapus air mata miliknya. Dan memegang pipi Monik.


"Ma, jangan menangis. Mama tenanglah. Mama harus yakin, Jasson baik baik saja.


Mama percaya kan sama Gita? Dia akan segera pulang dan memeluk mama. Jadi mama harus kuat. Supaya saat Jasson pulang dia tidak akan menangis melihat mama terbaring seperti ini. Mama harus kuat oke? Mama tidak boleh bilang gak kuat. Mama itu wanita hebat. Mama bisa melewati ini. Jadi mama harus tetap tersenyum. Dan percaya bahwa Jasson akan segera pulang dan memeluk mama."


Monik tersenyum.


Akhirnya dia bisa tersenyum juga karena perkataan Gita.


Gita memeluk monik dari samping.


"Gita ingin mama selalu ceria. Gita ingin mama selalu tersenyum dan bahagia. Gita tidak suka mama lemah seperti ini."


Uh, hatiku.. kenapa melow sih. Ayah bunda aku jadi memikirkan kalian lagi. Aku merindukan pelukan hangat dari kalian.


Gita mengeratkan pelukannya dan mencium pipi monik lembut.


"Cepat sembuh ya ma. Supaya kita bisa jalan-jalan ke taman belakang, lantai atas dan ke teras saat malam hari."


***


Satu bulan berlalu..


Saat ini Jasson sudah di pindahkan ke mansion dia sekarang di rawat di mansion oleh satu suster dan dokter pribadi Lakeswara. Dan tentunya Gita selalu menemani Jasson.


Dua minggu yang lalu Jasson di pindahkan kesini, karena sama sekali tidak ada perubahan. Jasson tetap saja menutup mata itu. Namun luka luka dan cedera di tubuhnya sudah sembuh tapi, karena ada gangguan/ benturan yang keras di bagian kepala serta gangguan lainnya, membuat Jasson tidak kunjung sadar juga. Dia juga bernafas bantuan ventilator.


Gita menatap lekat wajah jasson.


Di kamar besar itu hanya ada dirinya dan Jasson. Gita selalu disana untuk mengajak Jasson bicara.


" Tuan, apa anda tidak bosan berbaring seperti ini? Tuan bangunlah! Aku merindukan amukan anda. Aku merindukan saat anda menatapku tajam." Gita mengingat semua perlakuan jasson, bukannya membenci tapi malah merindukan, Gita memang aneh!!


"Tuan bangunlah! Apa anda masih ingat saat aku mencium anda?" Gita memegang bibir nya.


Tidak tau kenapa dia membicarakan hal ini.


" Itu adalah ciuman pertama ku. Jadi jangan pernah mengataiku sebagai wanita murahan, bukankah itu hak ku. Aku ini isteri anda tuan! Aku boleh mencium Anda." Gita mengelus pipi Jasson yang mulus.


" Tuan, apa benar, anda tidak pernah berpacaran?" Gita sedikit tersenyum.


" Mungkinkah ciuman ku adalah yang pertama?" Bisik Gita pada telinga Jasson.


" Bibir anda sungguh lembut, apa anda juga merasakan hal yang sama?" Gita memandang bibir jasson. Dari balik masker bening itu.


Dia sudah gila ya? Kenapa Gita bisa mengatakan hal yang tidak nalar seperti ini?


Ah, aku tidak peduli tapi aku harus membanngunkannya bagaimana pun caranya.


" Dulu aku masih ingat Anda bertanya, aku menggapmu sebagai apa, kenapa anda bertanya Tuan? Anda sudah tau, saya ini isteri mu! Jelas Anda adalah suamiku."


Gita mengelus rambut Jasson.


Mengecup kening itu lembut.


" Anda tidak marah kan? Aku ini istri mu." Gita mengelus wajah jasson lembut.

__ADS_1


"Bangunlah Su-amiku...


Aku akan tunjukkan padamu, bagaimana seharusnya sikap seorang isteri. Dan aku bukanlah pelayan!"


Selama ini Gita terus saja mengajak jasson bicara namun Jasson tak kunjung sadar. Walaupun demikian Gita bukanlah perempuan yang dengan mudah menyerah.


Gita berbaring di samping Jasson , sambil meneluk Jasson di atas kasur besar itu.


Sudah lima hari ia melakukan itu. Namun tak ada reaksi dari Jasson.


Sebenarnya bukan kemauan nya untuk memeluk Jasson, tapi dokter Arya menyarankan. Mungkin saja saat berdekatan dengan Gita ada peningkatan. Namun nihil tidak ada reaksi dari Jasson, tapi


karena merasa nyaman, tanpa disuruh Gita akan tidur sendiri di samping Jasson.


"Suamiku.. bangunlah..


Marahi aku, karena berani tidur di ranjang mu. Marahi aku karena tidak sopan memelukmu.. ayo bangun tuan!


Lihat! Aku memegang pipimu, dada mu, tangan mu, ayo bangun, marahi aku Tuan!!" Gita memegangi tubuh Jasson, tanpa sadar meneteskan air matanya. Sebelah tangannya masih setia memeluk tubuh Jasson yang terlentang. Dan wajahnya ia tenggelamkan di bahu Jasson.


" Kau menyayangi mama monik kan?


Ayo bangun.. Lihat mama monik! Kondisinya sekarang tidak baik karena memikirkan mu. Ayo bangun tuan Jasson!!"


Gita sampai tertidur disana sambil memeluk Jasson.


Baru saja Gita tertidur Gita mendengar sesuatu yang aneh. Dia bangun dan langsung duduk membenarkan posisinya.


"Tuan.."


Gita memandangi wajah Jasson yang diam tidak ada perubahan sedikit pun.


Ah mungkin Gita halu jelas jelas Jasson diam dan masih pada posisi yang sama.


" Hem, karena berharap kau bangun, aku selalu memimpikan mu dan berhalusinasi kau sudah sadar." Gita mengelus pipi itu lembut, mencium kening dan membenarkan rambut yang sedikit berantakan.


Gita turun dari kasur itu dan hendak pergi tapi...


Gita segera berbalik dan merasa syok, bahagia, takut, ah tidak tau. Perasaannya tidak tentu saat ini.


"Tuan apa kah itu anda?" Gita segera mendekat dan memandang Jasson. Matanya masih tertutup tapi jari dan mulut itu bergerak.


Jasson melepaskan respirator yang menempel seperti masker itu. Dia mulai membuka matanya perlahan.


"Tuan, kenapa dilepaskan?" Gita seraya menghentikan.


" Tidak nyaman." Ucapnya pelan dan memandang Gita.


" Sebentar tuan, saya akan Panggilkan dokter arya." Gita ingin kabur namun..


"Tidak usah!


Aku tidak papah, kemarilah."


Gita dengan cepat mendekat.


"Kenapa berdiri disitu? Naik ke ats ranjang ku!"


Gita menaikkan kedua alis seraya bertanya kenapa harus naik?


"Kenapa? Bukankah itu sudah biasa untuk mu. Kau bahkan dari sini sebelumnya, iya kan?"


Apa! Biasa? Astaga.. apa dia merasakan keberadaan ku dan saat aku memegangnya? Jangan katakan dia akan membunuhku padaahal kondisinya saja masih lemah!


"Naik!"


Gita dengan cepat membuka sandalnya dan naik ke atas tempat tidur di samping Jasson dia duduk sambil menatap Jasson lekat.


" Ayo! Katakanlah sesuatu, jangan diam saja."


Apa, apa yang harus aku katakan? kenapa aku harus bicara?

__ADS_1


"Kenapa? Bukankah kau ingin melakukan tugas mu sebagai istri? Apa yang ingin kau laukan? Lakukanlah! Saat ini aku tidak ada tenaga memukulmu."


Apa? Jadi dia, tadi? Sudah sadar! Yah ampun. Kenapa bisa aku bicara asal padanya. Omo, apa tadi dia merasakan saat aku memegangi tubuhnya dan menciumnya?


"Kenapa kau diam saja? Apa yang kau pikirkan?"


" Apa tuan mendengarkan semuanya?"


"Tuan? Kamu masih memanggil ku dengan sebutan itu ternyata.."


Jasson menatap Gita.


Kamu? Tumben sekali dia lembut seperti ini. Apa setelah orang koma sadar, sifatnya akan berubah? Tumben sekali dia tidak berteriak kepadaku.


Apa kau Gila gita? Jasson baru saja sadar mana mungkin dia punya kekuatan untuk meneriaki dirimu.


" Maafkan semua perkataan dan tingkahku selama ini Tuan. Aku hanya..."


Belum selsai gita bicara..


"Berbaring lah! Kepalaku sedikit pusing jika melihatmu seperti itu."


Jasson memegangi kepalanya pelan.


"Tuan, anda kenapa? Yang mana yang sakit?" Gita panik dan memegang kepala Jasson.


"Apa kau sepanik itu? Aku baik baik saja, hanya saja panggilanmu membuatnya sakit."


"Jadi saya harus memanggil anda apa?" Gita menarik tangganya dari Kepala Jasson.


"Terserah mu."


Jasson menutup matanya.


" Kenapa? Apa kepala anda begitu sakit?" Tanya Gita yang melihat Jasson diam Menutup mata itu.


"Aku masih mendengarmu!"


" Mas Jasson..


Apa aku bisa memanggil seperti itu?"


" Tidak ada manis manisnya.." ucap Jasson masih dengan menutup mata.


"Suamiku.." Aaa, ini kan yang panggilan ku selalu, saat dia belum sadar. Tapi sekarang kenapa rasanya Canggung sekali?


"Aku tidak dengar, kau ngomong apa?" Jasson masih pada posisi yang sama.


Gita memberanikan diri, membaringkan tubuh itu di samping Jasson.


Jasson membuka mata sekilas karena merasakan pergerakan Gita. Namun saat Gita menyamping dan menatap, dia segera menutup mata itu lagi.


"Suamiku.. Apa kau baik baik saja?" Bisik Gita gemetar di telingga Jasson.


Jasson spontan merasa geli dan membuka matanya.


Gita dengan segera menggeser badannya sedikit menjauh dari Jasson.


Apa? Jangan coba coba kau marah, kau yang menginginkannya! Umpat Gita dalam hati.


....


To be continued


🍁 Jangan lupa like and komen ya Guys 🀩🍁


.


.


.

__ADS_1


Sampai jumpa πŸƒ


__ADS_2