
Janes dengan santainya meneguk secangkir kopi. Meletakkan nya dan meregang kan tanggannya. Mengambil sikap Santai yang terlihat Gagah. Walau di usianya yang tak lagi muda namun wajah itu tetap tampan dan terlihat cool.
"varo, siapkan semua berkas berkas yang kusuruh.
Besok berikan semua pada Jasson."
"Apa Tuan Jasson sudah menyetujui nya Tuan?"
Tanya Alvaro sedikit bahagia karena melihat raut Wajah Janes sedikit berseri.
"Jasson sudah setuju! Namun," Janes berhenti dengan Raut wajah sedikit berubah.
"Kenapa Tuan?" Tanya Alvaro menaikkan kedua alisnya.
"Dia belum bersedia memimpin. Tapi tak masalah, Dia juga harus belajar lebih banyak lagi untuk memimpin perusahaan." ucap Janes kembali tersenyum.
"Saya senang mendengarnya Tuan. kalau begitu saya permisi saya dengan asisten Lico akan bekerja sama menyiapkan berkas berkasnya." Alvaro pamit undur diri.
Berita Kalahnya suruhan Jasson sudah Ia ceritakan, sedikit marah namun semua di tepis. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membalas perbuatan Kevin.
Apalagi sekarang tim nya susah bersiap di balik sana. Tinggal menunggu waktu yang tepat, para lawan akan hangus dalam sekejap mata.
"Morisa.." Panggil Monik yang melihat Morisa sedikit berantakan berjalan melewati ruang santai itu."
"Iya Mama." Berjalan mendekat sedikit merapikan rambut.
"Kamu dari mana sayang? Kenapa berantakan seperti ini?"
"hihi," morisa cengengesan dan duduk di samping Monik.
"Tadi Morisa jalan jalan keluar tapi, tadi di tengah jalan morisa gak sengaja nendang kaleng sampe kalengnya kena pada pala botak!"
Monik tidak mengerti!
"Gini ma, pala botak itu Preman berkepala botak ma. Tadi Aku dikejar sama mereka!"
"jadi kamu? ada masalah? kamu tidak apa apa kan Sa? " Monika memutar mutar badan morisa.
"Ma, kalau Morisa terluka pasti ada yang sakit tapi morisa sehat sehat aja kan ma! Lagian di tengah jalan Morisa hampir di tabrak Mobil." terseyum mengingat.
Pletak
Monik memukul jidat Morisa.
"Apa!! Kamu udah kehilangan kesadaran!!
Mana ada orang yang hampir di tabrak malah senyum senyum."
Morisa mengusap jidatnya.
"Ma, mama belum dengar cerita aku. Tadi tuh ya, yang hampir nabrak moris adalah Pangeran. Mama tau dia sangat sangat Tampan."
Moris tersenyum memerah mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.
"Bukannya sayang nyawa, kamu malah bertindak aneh! Siapa pria yang hampir menabrak mu. mama akan lapor sama papa. Jika kau kenapa napa Gimana?"
" Ma, pria itu super baik. Yang salah itu morisa bukan Pangeran. Morisa yang lari melintas jalan tanpa melihat sekeliling. Tadi aku lari karena Preman botak itu terus mengejar ku!"
"Apa kau di tuntut oleh pria itu? Apa kau diserahkan pada preman itu?"
Morisa memukul jidat sendiri.
"Morisa tidak mungkin bilang dia pria baik jika dia marah, atau menyerahkan ku pada preman itu. Malahan dia minta maaf dan membawaku pergi dari preman itu?"
"Selanjutnya? Dia tidak macam macam sama kamu kan?"
"Tidak ma, dia baik. Aku turun di halte sesuai kemauanku! Dia saja berencana mengantarkan ku sampai Mansion. Tapi aku menolak sesuai ajaran mama. Tidak boleh bawa orang yang tidak dikenal masuk pekarangan Mansion." Ucap Gita seolah mempraktekkan cara Monik Berbicara.
"Kamu ya!" Monik menjewer telinga Morisa.
"Jaga sopan santun mu! Jangan meniru gaya bicara mama. Lagian kata kata itu sudah sangat lama. Kamu masih ingat ternyata!"
"Mana mungkin aku lupa Ma!" Masa SMA dulu Morisa pernah mengajak teman Ke mansion. Banyak orang berteman dengan nya hanya karna apa yang dimiliki Morisa.
Monika yang melihat sikap dan perilaku teman Morisa akhirnya melarang morisa membawa orang ke mansion. Apalagi memamerkan harta miliknya. Sejak itu Morisa pindah sekolah. di sekolah yang baru Morisa berteman dengan orang orang yang benar benar tulus. Bahkan sekolah itu tidak tau Kalau Morisa adalah Anak dari Tuan Janes Lakeswara. Selsai menempuh jenjang SMA Morisa langsung melanjutkan sekolahnya kenegaraan tetangga. Perjuangan dan kerja keras reel dari usaha morisa tanpa menggunakan nama Lakeswara.
..
" Dari mana saja kau?"
Gita yang baru saja keluar kamar mandi dengan handuk di kepala sangat terkejut mendengar Suara dari arah sofa.
Gita membalikkan badannya menatap arah sofa.
__ADS_1
"Kemari!"
Gita berjalan pelan.
"Cepat!"
Gita mempercepat langkahnya.
"Duduk!"
Gita duduk di Samping Jasaon.
Uh, dia sudah seperti apa saja dipertahankan begitu.
"Kenapa kau pergi tanpa izin dariku!"
Astaga kenapa bisa dia tau.
"Kau pikir aku tidak bisa tau apa yang kau lakukan?"
Apa dia tau aku dijual oleh adeknya sendiri? Kenapa dia harus marah marah seperti ini. Harusnya dia menanyakan dan marah pada Morisa.
"Kenapa kau diam saja!"
"Aku hanya mencari udara segar di sekitar, suamiku! Aku tidak melakukan hal yang membuat mu kena masalah!"
Lebih baik aku tidak membuat masalah dulu. Hari ini kau bebas Morisa, karena aku belum yakin Jasson akan percaya padaku.
"Cari udara? Jam berapa sekarang! Pelayan memberi tahuku, kau pergi pagi dan pulang sore hari. Apa saja yang kau lakukan!"
Sungguh dia sangat merepotkan!
"Suamiku aku hanya jalan jalan. Maafkan aku tidak meminta izin darimu!"
Gita menatap Jasson seolah mengatakan percayalah!
"Lebih baik anda mandi! Mungkin anda sudah lelah seharian bekerja!" Gita terseyum, sambil meraih dasi Jasson agar terlepas.
"Apa yang kau lakukan!"
Apa dia pikir yang aneh aneh? Aku hanya melepaskan dasinya saja.
"Hanya melepaskan dasi Suamiku, Agar anda tidak kegerahan!"
"Okeh, sudah."
Gita berdiri.
"Aku akan ambilkan pakaian Ganti untuk anda! Anda boleh mandi, Aku sudah menyiapkan air hangat disana."
Jasson berdiri mendekat pada Gita.
"Kenapa kau banyak bicara hari ini Huh?"
Jasson menarik pinggang Gita dan mendekatkan wajahnya pada Gita.
Gita diam seribu bahasa.
" Bagus! Jangan memerintah ku lagi! Aku tidak suka ada kata perintah yang menuju padaku!"
Jasson berlalu sambil memegang sekilas bibirnya.
Dia!
Uh, dia selalu menciumku mendadak! Aku tidak memerintah nya aku hanya melakukan kewajiban ku sebagai istrinya.
Gita memegang sekilas bibirnya.
Tapi, untung saja dia tidak bertanya lagi soal aku keluar tadi!
Gita berjalan memasuki Ruang pakaian.
Mengambil pakaian dan meletakkan di atas kasur. Gita berjalan menuju meja Rias. Membuka handuk dan mengeringkan rambutnya disana.
Gita berjalan keluar kamar itu. Menuruni anak tangga yang sangat panjang menurut Gita.
Satu langkah lagi dia akan menginjakkan lantai bawah, namun. Tatapan matanya tertuju pada morisa yang sudah melipat tangan di dada.
Apa yang dipikirkan nya? Mengapa dia menatapku seperti itu? Sedikit menelan salivanya.
Morisa berjalan namun yang anehnya dia memegang pisau.
Astaga anak itu! Apa dia akan membunuhku?
__ADS_1
Gita berjalan mundur.
Karena tatapan morisa yang sangat tajam dan hendak berjalan ke arahnya, Gita terbirit birit lari balik ke atas.
"Ha ha ha ha.." Morisa tertawa menatap Gita yang sudah jauh menghilang ke atas.
Morisa melanjutkan memotong buahnya dan memakannya sambil tersenyum.
"Dia takut karena ini?
Astaga lemah sekali. Bahkan dia bisa melawan pria di klub tadi, kenapa dengan pisau kecil dia sangat takut? Lucu sekali. Ha ha Ha."
Morisa berlalu menuju kamar Monika.
Sedangkan Gita segera membuka pintu dan menutup nya dengan kencang. Mengintip dari lubang kecil yang ada di pintu.
"Apa dia me ngejarku! " Nafas Gita patah patah karena lari tadi. Tanpa dia sadari Jasson sedang berada dalam kamar di ujung sana.
"Hei, Apa yang kau lakukan?"
Gita berbalik badan.
"Aaaaah, apa yang anda lakukan!!" Gita berbalik lagi hingga kejedot pintu.
Uh, sakit. Memalukan. Sudah kejedot melihat Jasson yang hanya menggunakan boxer. Aaaa.
"Kemari!!" Perintah Jasaon.
"Apa anda sudah selsai memakai pakaian?"
"Kemarilah!!" Gita berbalik.
"Anda belum.." tunjuk Gita sambil menatap Ke arah boxer itu.
"Jangan sampai aku yang datang kesana!"
Dengan cepat Gita berjalan.
" Apa yang kau lakukan? Siapa yang mengejar mu? "
" Aku tadi mungkin salah lihat!"
Ucap Gita menunduk.
"Apa yang salah lihat?"
"Suamiku, kapan anda memakai pakaian anda, sangat Janggal bicara seperti ini!" Ucap Gita mengalihkan pembicaraan.
Jasson mengerutkan keningnya, kenapa Gita jadi sering bicara seraya memerintah padanya.
Jasson menarik pinggang ramping itu.
Ah, tubuh ini. Kenapa kau menempelkan nya padaku!
Gita seolah menahan menggunakan kedua telapak tangan yang menempel di dada mulus Jasson.
"Kau berani sekarang!"
Apanya yang berani? Dia yang berani memelukku seperti ini, Dia pikir aku apaan?
Gita menatap wajah Jasson yang semakin menunduk dengan cepat Gita memalingkan wajahnya. Namun salah, jasson bukan menginginkan bibir itu namun.
Ah, kenapa dia melakukan ini, sungguh sangat geli, aku ingin berteriak!
Jasson mengecup tengguk Putih mulus itu.
"Apa yang anda lakukan." Ucap Gita masih merasa tidak nyaman hingga Gita tidak bisa menahan ******* yang keluar mulus dari bibir itu. Sedangkan Jasson mengecup bagian kanan dan kiri bergantian.
"Lepaskan tanganmu!" Perintah Jasaon. Sungguh tangan Gita yang melekat di dadanya menggagu kerja Jasson.
"Apa yang anda lakukan!" Gita hendak melepaskan pelukannya dari Jasson.
"Lakukan tugas mu!" Jasson menghempaskan Gita ke kasur itu dan menindihnya pelan.
" Kau sudah banyak mengusikku, dan hari ini aku ingin menerima pertanggungjawaban darimu!"
Apa yang akan dia lakukan? Apa dia akan melakukan itu sekarang? Pertanggungjawaban apa yang dimaksud oleh nya?
..
To be continued
Sampai nanti Beste Jangan lupa tinggalkan jejak nya.
__ADS_1