Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
56. Adik Ipar Cemburu?


__ADS_3

"Guys, Aku pulang duluan ya.. Soalnya tiba tiba ada urusan mendadak. Maaf bangat ya Guys.. Aku Gak bisa ikut acara sampai selsai." Gita sedikit menundukkan kepalanya pada Efendi mengisyaratkan ingin pulang duluan.


"Santai Gi! Yang penting udah datang!"Ucap sala seorang wanita


"Ia, Brigita tidak masalah! Hati hati dijalan. Salam untuk tuan Jasaon." ucap Efendi tersenyum.


"Gi, sepertinya suami mu tidak seperti yang kau ceritakan. Tadi aku tidak sengaja memperhatikan nya. Dia terlihat cemburu saat kau berada di atas panggung bersama Efendi. Dan dia sepertinya menyukaimu. Cara nya memperlakukan mu sungguh romantis Gi."


Bisik Jeni yang sedikit menahan kepergian Gita.


" Kau bicara apa Jen?" ucap Gita sedikit tertawa, mana mungkin Jasaon menyukainya pikir Gita.


" Tanyakan saja padanya. Hati hati dijalan ya Gi! jangan sampai karena cemburu dia malah meninggalkan mu di tengah jalan." Bisik Jeni lagi sambil terkekeh."


"Jen.." Ucap Gita mengerutkan keningnya.


"Hati hati di jalan Gi, jika ada pertemuan ajak si tampan lagi ya!" Ucap Seorang wanita yang sudah mabuk di ujung sana.


Gita hanya melototkan matanya dan mencoba mengabaikan nya, sedikit berlari mengejar Jasaon yang sudah tak terlihat.


Dia benar Benar menyebalkan! Ini baru jam 20.40. Sungguh. Gita menatap ponselnya dan terus berjalan menuju parkiran.


Gita membuka pintu mobil. Menatap Jasson yang diam memainkan ponselnya.


"Kenapa anda tiba tiba pergi?" Tanya Gita sambil menutup pintu mobil.


"Berhentilah berucap formal denganku! Aku sungguh risih mendengarkannya!"


Jasson meletakkan ponsel di samping dan menatap Gita.


"Apa kau belum puas menatap laki laki tadi? Oh, apa kau menyukainya? Kau terlihat tidang senang pulang secepat ini?"


"Ha? Kenapa anda.."


"Berhentilah memanggil seformal itu!!"


"Maaf! Kenapa kamu mengatakan itu? Aku tidak menyukainya" Aih, aku sungguh kaku mengatakan ini.


"Tidak menyukai? Kenapa menatap nya sangat dalam? Bahkan kau menghayati lagu sambil menatap nya. Bahkan sedikit pun kau tidak menatap ku? "


"A apa Kau ce Cemburu?" Ucap Gita hati hati. Namun menahan senyum. Sambil mengingat ucapan Janes beberapa menit yang lalu.


"Ce cemburu?" Tanya Jasson mengerutkan keningnya.


Mana mungkin seorang Jasaon cemburu. Itu sungguh lucu. Pikir Jasson.


"Kamu tidak tau arti cemburu suamiku?"


Tanya Gita terseyum.


"Aku tau, tapi aku sama sekali tidak cemburu! Hanya saja.." Jasaon berpikir sebentar. Gita menunggu sambil memainkan alisnya.


"Kau tau kan! Kau sudah menikah jika orang orang berpikir aneh bagaimana? Jika mereka menyebar rumor atau tadi ada yang mengambil vidio. Pasti kau akan di tuduh selingkuh!!"


Gita terseyum sedikit kelepasan. Bisa bisanya Jasaon bicara aneh dengan wajah memerah seperti ini. Sungguh lucu apa lagi alasannya sungguh tak masuk akal. Karena selama di panggung penonton bersikap biasa-biasa saja. Malahan Jasson berlebihan mengangap seperti itu.


"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu!" Jasson mengerutkan keningnya.


"Seperti nya Kamu cemburu suamiku


Tadi saja saat laki laki memandang ku. Kau mogok makan!" Ucap Gita mengejek menahan tawa.


" Berani kau menertawakan ku?" Jasaon menarik pinggang Gita mendekat.

__ADS_1


" selama ini kau makan apa! Sampai sampai kau sudah mulai berani membalas ucapan ku dan mengejekku!" Jasaon mendekat kan wajahnya dan mulai ******* bibir yang merona itu.


Aaaaaahhhh Gita sedikit mendorong dan menghirup udara sebanyak banyaknya. Sungguh tak bisa bernafas karena ulah Jasaon yang tiba tiba merampas ciumannya.


"Dasar bodoh! Kenapa kau menahan nafas?" Jasson merapikan posisi duduknya.


Mengetuk jendela kaca dan segera Lico masuk dan melajukan mobilnya.


"Anda tidak tau tempat!" Ucap Gita melirik.


"Berapa kali aku harus mengatakan jangan panggil formal?"


"Maafkan aku!"


"Ah, sudahlah! Kau selalu meminta maaf! Aku tidak menerima ucapan maaf, kau tau?"


"Jadi?"


"Lakukan saja apapun yang bisa membuat ku memafkan mu! " Jasson menyandarkan punggungnya di kepala kursi empuk mobil itu.


Gita menatap Jasson.


"Aku akui kau memang sungguh tampan." Gita memandangi wajah tampan itu.


"Cihhh bisa bisanya dia pamer tubuh itu tadi!" Gita mengingat teman kerjanya yang memuji muji tubuh jasaon.


Di perjalanan suasana sungguh hening. Gita kembali menatap Jasaon yang sepertinya sudah terlelap sangat damai.


Entahlah Gita Kepengen memegang dada itu. Yang terlihat jelas karena Jasson membuka resleting jaketnya dan menyisahkan baju kaos putih.


Melihat Jasaon yang seperti tertidur. Gita tersenyum seringai.


Menggeser tubuhnya mendekat pada Jasaon. Meletakkan tangannya dengan hati hati menyentuh perut atas itu.


"Dia benar benar tidur?" Gita menggoyangkan tanggannya di depan wajah Jasaon.


" Kasihan pasti dia sangat lelah." Gita terseyum kembali memegang kembali tubuh itu.


"Sepertinya kau yang tidak tau tempat!" Suara itu membuat Gita terkejut dan ingin segera menarik tangganya namun ditahan oleh Jasaon.


Gita menatap Jasson sangat terkejut. Matanya masih terpejam. Gita mencoba menarik tanggannya alhasil tidak bisa.


"Aa, sa saya hanya em, mimijat, aku tau pasti kamu sangat lelah suamiku!" Ucap Gita mencari alasan.


Bukannya dia sudah tidur? kenapa malah bisa bangun? aku memegang sangat pelan!


Sedangkan Lico yang sedari tersenyum senyum melihat tingkah Gita malah kelepasan tertawa kecil yang membuat pandangan gita beralih pada Lico.


"Kau bisa tertawa?" Tanya Gita mengerutkan keningnya. Pertanyaan apa ini?


"Apa maksud mu?" Tanya Jasaon.


"Lico, tidak pernah tersenyum. Ini sungguh keajaiban dia malah tertawa?" Heran Gita.


"Kau saja yang aneh! Tidak mungkin ada orang yang tidak pernah tertawa!"


Gita kembali menatap Jasaon namun masih terpejam.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Gita menatap Lico.


"Bodoh!!" Ucap Jasson. Gita menatap Jasson lagi. Seolah ingin bertanya apa alasannya pada Jasaon.


"Itu karna mu!!" Ucap Jasson tersenyum namun matanya seolah malas ingin terbuka.

__ADS_1


Ah, iya, Gita lupa! Lico kan bisa lihat dari kaca spion! Aaaahhh memalukan. Gita tidak sadar jika Lico melihat tindakan aneh seperti tadi. Gita tersenyum paksa.


Kenapa aku bisa lupa, jika Aku duduk bersama asistennya


Anggap dunia milik berdua ya, Gi?


"Maafkan aku! Aku tidak sengaja!" Ucap Gita mencoba menarik tangan dari sisi dada Jasson yang masih di tahan.


"Sudah ku katakan aku tidak menerima ucapan maaf!"


"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Gita.


"Suamiku, lepaskan tangan ku!" Ucap Gita lagi dengan memelas.


"Bukankah kau yang meletakkannya? Aku hanya membantu mu. Mungkin kau belum puas? " Jasson membuka matanya ingin sekali dia melihat bagaimana ekspresi Gita saat ini. Dan benar saja. Wajah itu bak kepiting rebus. Apa kau sakit? Kenapa pipimu memerah? Tanya Jasson terseyum. Sungguh lucu pikirnya.


Gita dengan kuat menarik tangan itu hingga terlepas. Membenarkan posisi duduknya menatap ke arah samping.


"Lico, lihatlah... Bisa bisanya dia bertindak seperti itu! Kau lihat tadi? Bahkan dia menggodaku, dengan menyentuh tubuhku diam diam." Jasson menatap Gita.


"Jika kau ingin, katakan saja.." Ucap Jasson berbisik mendekat pada Gita.


Gita menggakat bahu geli.


Akhirnya mereka sampai di depan Mansion. Gita turun setelah pelayan membukakan pintu di kedua sisi.


Berjalan di belakang Jasson.


"Sejajarkan langkah mu!" Gita sedikit berlari mensejajarkan langkah nya.


"Gandeng tanganku!" Gita menatap Jasson..


Tidak biasanya bersikap seperti ini. Pikir Gita aneh.


"Apa kau ingin menjadi patung disini? Cepatlah!!"


Dengan cepat Gita merangkul tangan itu.


Berjalan seperti ini membuat pelayan yang lalu layang terheran heran. Bagaimana tidak? Jasson dan Gita tak pernah bersikap seperti ini.


Begitu juga dengan Morisa yang baru keluar dari tempat santai.


Apa mataku tidak salah lihat? Itu kak Jasson? Kapan dia pulang? Bahkan dia menggandeng tangan wanita itu?


Morisa sedikit berlari dan menghambat jalan kedua insan.


"Kakak... Kenapa pulang tidak bilang bilang? Ini lagi kenapa pegang pegangan!" Morisa melepaskan ikatan dari kedua insan.


Gita mengerutkan kening. Padahal tadi pagi morisa sungguh baik padanya tidak hanya itu beberapa minggu ini, morisa sangat baik. Tapi kenapa tiba tiba judes lagi?


Gita menatap Jasson yang diam seolah menunggu Gita. Dia ingin melihat bagaimana berani Gita bersikap pada adeknya saat dia ada disini sekarang. secara selama ini Jasaon hanya melihat melalu i rekaman CCTV.


Gita terseyum.


Dia berpikir Jasaon mengizinkan nya melakukan apapun itu.


"Adik ipar.. kenapa kau marah? Aku mengandeng suamiku, bukan menggandeng pria lain." Gita merangkul kembali lengan Jasson dan mendekatkan posisinya.


"Apa yang salah dengan ini?" Gita tersenyum merasa menang karena Jasaon diam saja.


To be continued 🌷


🍁 Jangan lupa like dan vote ya Beste 🀩🍁

__ADS_1


__ADS_2