
"Ini untuk balasan karena kau sudah melakukan kesalahan di perbatasan ini. Untuk masalah guruku akan kulanjutkan setelah bertemu dengannya."
Kevin dengan cepat berbalik badan menuju mobilnya. menatap sekeliling yang dipenuhi bayak darah serta makluk yang tak lain pasukan Kriss sudah gugur 70%.
...π±π±π±π±...
"Kak Yol, kenapa rasanya sangat sakit! Aku tidak pernah membayangkan aku akan mengalami hal seperti ini!" Ucap Morisa sembari memeluk Yolan di atas sofa kamar Morisa.
Sedari tadi di perjalanan Morisa hanya bisa menangis dalam pelukan Yolan.
"Sudahlah kau menangis sedari tadi. Apa kau tidak lelah? lihat matamu bengkak! Kau sangat jelek jika menagis seperti ini dek!" Ucap Yolan.
"Apa aku sangat jelek? kenapa Dia tidak tertarik padaku? Kenapa dia berharap pada wanita yang sudah bersuami?"
"Kamu sangat cantik, lagian bukankah tadi kau tidak mendengarnya? Dia bilang dia akan melepaskan wanita itu, dia sepertinya mencoba ikhlas!"
"Tapi diakhir kalimatnya dia berkata 'Jika dia bisa', itu artinya mungkin dia tidak akan pernah bisa kak Yol, kenapa dia harus ngomong seperti itu!"
"Astaga apa kau harus sebucin ini padanya? Jika benar dia tidak mampu melupakan mantannya lebih baik kau cari pria lain!" Yolan tadinya bertannya tanya di pesta kenapa saat bertemu mereka bersamaan Gita kevin dan Morisa dia lupa bahwa Foto yang bergelantung di mobil Kevin adalah wajah Gita?? Dalam perjalan pulang mendengar cerita Morisa mengenai wanita Kevin, barulah Yolan mengingatnya.
Tadi apa yang mereka bicarakan? Kenapa setelah mereka selsai Kevin malah nyanyi di panggung?
Pikir Yolan. Yolan juga tak mau mengatakan pada Morisa jika wanita yang dimaksud kevin adalah Brigitta.
"Mor.." Panggil yolan karena tak mendengar isak tangis morisa lagi. dia menatap kesamping melihat morisa yang sudah terlelap.
"Akhirnya dia tertidur juga. Aku tidak yakin jika dia akan menyukai kevin kalau tau Gita adalah saingannya." Maksudnya Brigitta adalah orang yang dicintai Kevin. Yolan mengelus rambut Morisa, mengambil selimut dari tempat tidur dan memakaikannya pada tubuh Morisa.
"Tapi jika dia memang jodohmu, dia akan datang sendiri padamu, tampa kau harus mengemis cinta seperti ini, jika pun bukan dia, aku percaya ada laki laki yang jauh lebih baik darinya." Setelah mengatakan itu Yolanda pergi dari kamar itu menuju kamarnya.
π¦·π¦·π¦·
Tidak terasa seminggu telah usai.
Hubungan antara Jasson dan Gita juga dalam satu minggu ini sangat baik.
Dilain sisi Gresya juga sudah jauh lebih baik sekarang. Hari ini dia dinyatakan sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
"Dok, apa anak dan suami saya belum datang?" Tanya Gresya pada Yolan yang sedang memeriksa kondisi Gres di temani perawat yang membantu Gresya untuk membuka jarum infus.
"Tuan Aditya sedang keruang farmasi untuk mengambil obat, kalau anak anda sepertinya belum datang Bu." Ucap Yolan tersenyum sembari merapikan pakaian Gresya.
"Apa aku boleh tau siapa dirimu?" Tanya Gresya dengan tatapan sulit diartikan.
"Saya Yolanda Bu, Dokter bedah di rumah sakit ini." Senyum Yolan.
"Aku tau itu, yang kutanya tetang dirimu secara pribadi, Keluarga mu, seperti ibu, ayahmu atau saudara mu?"
Tanya nya lagi sambil tersenyum.
Yolan tersenyum.
"Hem, aku.." Jujur saja Yolan sangat binggung mau bicara apa, dia ingin sekali bicara jujur entah kenapa dia ingin membangi keluh nya pada pasiennya ini, hal yang tak pernah dia ingin lakukan sebelumnya namun melihat perawat yang berdiri di sebrang membuat Yolan mengurung niatnya. Lagian hidupnya sangat privasi, tidak ada orang yang tau siapa dirinya.
" Kamu mirip sekali dengan sahabat ku, Maaf jika aku menayakan soal dirimu sepertinya kamu sangat risih dengan pertanyaanku.
Tadinya aku hanya berpikir kau anak dari sahabat ku, soalnya kalian sangat mirip." Ucapnya terseyum lagi.
" Benarkah? Pantas saja jika merawat anda, terlihat jelas jika Ibu menyukai saya, ternyata aku mirip dengan sahabat Ibu." Ucap Yolan mencoba menarik ke arah dalam supaya berhenti menanyakan soal siapa yolan.
__ADS_1
"Tadinya seperti itu tapi selama beberapa hari aku dirawat oleh mu, aku menemukan jawaban sendiri." Ucap Gresya terseyum lagi.
Ibu ini sangat mudah terseyum, seperti tidak ada masalah dalam hidupnya. Aku merasa sangat teduh menatap wajah damai itu.
Yolan berpikir apa dia pernah melihat Ibu ini sebelumnya atau tidak?
"Hei, apa kamu mendengar ku nak?" Tanya Gres yang melihat Yolan bengong sambil tersenyum.
"Ha, ia tadi ibu bilang menemukan jawaban sendiri maksudnya?"
"Tidak jadi, tadi aku sudah bahas kau tidak mendengarku bicara panjang lebar. Aku tidak suka mengulangi ucapan ku." Ucapnya masih tersenyum.
Mau salah atau benar kenapa dia selalu memberikan senyuman hangat?
"Apa kau sama sekali tidak mengenal ku?" Tanya Gres ketika Yolan hendak ingin pergi.
"Maksud ibu? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya yolan sedikit serius.
"Menurut ku ya, aku sangat mengenalmu. Ada tanda lahir kan di leher bagian belakang mu." Ucap Gresya masih dalam mode santai sambil tersenyum.
Yolan terdiam sesat. Darimana orang ini mengetahui tanda yang sangat jarang dilihat orang. Bahkan Yolan tidak pernah memperhatikan tanda itu. Hanya sesekali jika ia tidak lagi buru buru.
"Ibu tau dari mana aku punya tanda lahir di leher?" Soalnya Yolan selalu menutupi nya mengunakan rambut jika tidak tertutup oleh kera bajunya.
"Saat aku baru sampai di rumah sakit ini kau membersihkan luka ku di saat itu kau tanpa sengaja membelakangi ku dan sangat jelas aku melihat tanda itu disana.."
"Jadi saat itu ibu sadar?"
"Hanya sebentar, sangat sebentar itu adalah pandangan terakhir ku hingga akhirnya semuanya gelap aku bahkan tidak merasakan apapun lagi ketika perawat menyuntikkan cairan pada bagian tubuhku."
"Apa ibu benar benar tau tentang tanda dileherku? Apa Ibu mengenaliku?" Tanya Yolan antusias saat di ruangan itu hanya tersisa dirinya dan Gresya.
"Sahabat Bunda? Bunda? Dimana Bunda?" Tanyanya seketika ada Bayang Bundanya yang selalu tertawa bersamanya. Menyayanginya dan selalau melindunginya.
Yolan menekan kepalanya.
"Biska kau kenapa?"
Panggilan itu membuat Yolan semakin bergeming.
"Biska?? Siapa yang Ibu panggil!!" Teriak Yolan sambil menatap Gresya, tangannya masih setia menekan kepalanya yang semakin berdenyut.
"Biska.." panggil Gres lagi.
"Biska sayang kau kenapa?"
Yolan semakin menariki rambutnya entah lah semakin nama itu disebut semakin sakit yang ia rasa.
"Aku Yolanda, bukan Biska!!" Teriak Yolan menatap Gresya tajam.
Tangganya masih setia menekan kepalanya yang berdenyut.
"Nama lengkapmu Biska Yolanda Yarzar. Dan kamu sering disebut dengan sebutan Biska. Itu dirimu Biska yang imut dan cantik. Apa kau lupa Tante sering mengajakmu jalan jalan? Bermain bersama?"
"Berhenti bicara!! Aku bukan biska!" Yolan berteriak sambil mengeluarkan air mata yang entah kapan sudah terjatuh hingga berlinang.
Ingin sekali rasanya Gresya turun dari brankar dan memeluk Yolan agar tenang namun, apa daya nya. Dia bahkan masih lemas untuk menarik kaki untuk turun.
Yolan tersungkur di lantai.
__ADS_1
"Sakit, tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu! Sangat sakit!" Yolan menahan kepalanya yang bayangan buram dan sangat kabur bertaburan di kepalanya.
"Sayang, kamu Biska, kamu itu-" ucapnya sudah sembari mencoba untuk turun dari brankar.
"Berhenti kataku!!! Namaku Yolan!!" Teriaknya sekencang mungkin hingga pintu ruangan itu terbuka menampakan sosok pria tegap dan sangat cool dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
"Sakit!!" Teriak Yolan sambil menarik rambut nya yang kini sudah berantakan.
"Yolan!!" Teriak Kevin dan segera mendekat ke arah Yolan.
Belum sempat Kevin bertannya Yolan langsung tak sadarkan diri dan terjatuh pada lengan Kevin.
"Dokter yolan..." Panggilnya menepuk nepuk pipi itu.
"Kevin, cepat bawa dia. Dia sangat histeris kesakitan. Bawa dia agar segera di tangani dokter. Mama khwatir dia kenapa napa?"
"Apa yang terjadi ma?"
"Tidak ada waktu menanyakan itu Vin, segera bawa dia!" Dengan ligat Kevin membopong tubuh itu menuju ruangan pemeriksaan. Dengan cepat Dokter yang ada disana memeriksa kondisi Yolan.
Astaga kenapa bisa seperti ini? Kenapa dia sangat terlihat rapuh? Apa yang dia lakukan di kamar mama?
Tidak mungkin kan mamanya mencelakainya karena jelas sekali mamanya masih belum mampu untuk berbuat kasar apalagi sampai memberantaki tubuh Yolan yang terlihat jelas sangat acak acakan.
Dokter yang menangani Yolan keluar ruangan.
"Dokter bagaimana dengan kondisi Dokter Yolan, apa dia baik baik saja?"
"Anda hanya pasien Dokter Yolan bukan? Kami tidak bisa menceritakan apa yang dialaminya. Setiap penyakit pasien adalah privasi. Maaf jika itu mengusik anda, tapi ini adalah tugas kami. Anda tidak perlu khwatir Dokter Yolan akan baik baik saja. Tadi dia sudah siuman sebentar."
"Saya mengerti, em apa saya boleh menjenguknya Dok?"
"Jika boleh saya berpendapat, lebih baik anda bantu saya untuk menghubungi keluarga nya. Dokter Yolan sala satu dokter baru disini, data pribadinya juga tersimpan ketat disini. Tidak ada yang tau siapa dia. Mungkin jika anda tau, Tolong segera hubungi pihak keluarga karena mereka perlu tau tentang ini!"
"Saya akan bantu Dok. Terimakasih." Ucap Kevin ketika Dokter tersebut ingin segera berlalu. Dengan senyum Dokter tersebut akhirnya menghilang dari tatapan Kevin.
"Kemana aku harus mencari kuarganya? Aku saja tidak tau jelas siapa dirinya." Saat Kevin berpikir dia teringat akan pesta yang dilakukan minggu lalu. Yolan terlihat sangat dekat dengan Morisa. Jika diingat Morisa berucap jika Yolan adalah kakaknya.
Kevin tersenyum merogoh kantong celana dan jaketnya, akhirnya kartu nama Morisa ditemukan.
Kevin menatap kartu nama itu, dia tidak nyangka saja kartu ini masih tersimpan di dalam celananya membaca perlahan kartu tersebut. Dan benar sekali sungguh Kevin terkejut tidak ampun.
"Morisa Lakeswara? Jadi dia adalah putri dari Tuan Janes?" Atau anak bunggu Janes. Kenapa sangat kebetulan sekali? Apa dunia sesempit ini, kenapa hal seperti ini harus menyangkut keluarga Lakeswara. Sangat bosan bukan jika kevin selalu berurusan dengan keluarga itu.
Kevin jadi tidak yakin harus menelepon Morisa, dia ingin sekali mengabaikan Yolanda ketika ia tau bahwa Yolan keluarga Lakeswara. Jelas dia tau jika keluarga Lakeswara hanya memiliki dua anak, yaitu Putra dan putri, tapi Yolan? Siapa dia? Apa sepupunya? Atau hanya kerabat dekat saja?
Kevin pikir pikir lagi, dia tidak boleh egois hanya karena berurusan dengan Lakeswara yang nyatanya Kevin tidak berhubungan baik dengan mereka, namun. Akhirnya dengan berat hati dia memulai panggilannya pada Morisa.
...
To be continued π·
Jangan lupa vote ya guys dan hadiah nyaπ
.
.
.
__ADS_1
Sampai jumpa π