
"Wah tampan sekali!"
"Itu? Bukannya Tuan Jasson? Astaga kenapa ada disini?"
"Lihat deh pria itu, kenapa masuk bareng Gita? Astaga apa mungkin Gita seberuntung itu."
"Tampan nya..."
"Dia bukan nya Pengusaha arogan itu ya! Kenapa dia bisa sama Gita?"
"Astaga pria arogan itu bisa bersama wanita juga?"
Baru beberapa langkah Gita dan Jasson memasuki sebuah restauran yang di booking sudah bak pasar saja.
Jelas saja hampir semua yang ada disana mengenal Jasson.
Banyak dalam pikiran kenapa bisa pria yang dikenal anti wanita dan menghadiri acara kecil seperti ini bisa datang bersama seorang Gita?
"Halo semua? Maaf ya, apa aku terlambat?" Sapa Gita.
"Tidak, kami baru saja sampai Gi!" Ucap Jeni mendekat namun tatapannya sesekali melirik laki laki di samping Gita.
"Apa tidak ada tempat lain? Tempat ini sungguh kecil!" Bisik Jasson pada Gita.
Gita melirik.
"Pasti disini aku akan sesak, lihat tempat nya tidak ada Bagus bagusnya." Tatap jasson ke sekeliling.
"Jika anda tidak nyaman! Anda pulang saja. Lagian aku tidak mengajak anda kesini!"
Balas gita dengan bisikan dan berjalan menggandeng tangan Jeni menuju kerumunan rekan kerjanya.
"Kau!" Ucap Jasson. Ingin sekali rasanya Jasson pergi, namun dia tidak bisa meninggalkan Gita di tempat ini. Apalagi melihat banyak Pria juga di tempat itu.
"Brigitta kau sangat cantik menggunakan dress itu!" Ucap Efendi yang ikut hadir juga.
"Terimakasih Pak!" Ucap Gita terseyum formal.
"Bisa bisanya dia bertingkah seperti itu! Lihat laki laki kurang ajar itu! Enak sekali dia menatap puas sampai tak berkedip!"
"Gi, siapa pria yang datang bersamamu?" Tanya seorang wanita yang sedikit cari perhatian dari Jasson sedari tadi.
"Iya, dia siapa? Tampan sekali!"
"Astaga kalian tidak mungkin tak mengenalnya! Dia Tuan Jasson! Pengusaha yang terkenal di negara kita ini. Apa kau tak tau tidak hanya di negara ini tapi di 6 negara! Astaga kau pasti ketinggalan di belakang !"Ucap seorang sambil menggerakkan tangannya.
"Astaga aku sampai tak mengenalnya! Lihat dia terlihat tampan jika dilihat secara langsung!"
"Lihat badan itu! Ah sangat menyejukkan mata!"
Pandangnya tak berkedip melihat Jasson.
ekhem ucap gita menyadarkan beberapa.
bisa bisanya mereka memandangi Jasson seperti itu. lihat Gita tampak sedikit tidak suka akan ucapan para rekan nya.
"Gita. sebenarnya kau siapanya! Bisa bisanya kau tidak menceritakan ini pada kami!"
"Dia? Em.." Jasson berjalan mendekat ke arah kerumunan.
Efendi yang tadinya tidak melihat sekarang kalah terkejutnya.
"Tuan Jasson?" Efendi mendekat dan menundukkan kepalanya.
" Kenapa anda ada disini? Apa sala satu karyawan saya membuat masalah dengan anda?"
Efendi menatap para orang yang ada disana.
Jasson tidak menjawab malahan menatap Gita yang tak jauh dari posisinya.
"Gita? Apa kau membuat masalah dengan Tuan Jasson?" Tanya Efendi yang mengetahui kalau bagi Jasson semua sama wanita laki laki jika berbuat salah mendapatkan hukuman yang sama juga.
Gita mengerutkan keningnya.
Jelas saja Efendi tidak tau, sedari tadi dia tidak melihat sekeliling dan asik dengan ponselnya di belakang sana.
Jasson semakin mendekat pada Gita hingga melingkari tangan di pinggang nya.
"Wow!!" Semua melototkan mata. Sebagian menaruh telapak tangan di mulut. Baper aja. Melihat Jasson yang dikenal tak dekat dengan wanita kini memeluk pinggang Gita dengan mesranya.
"Apa kau tidak ingin memperkenalkanku dengan teman temanmu?" Bisik Jasson yang terlihat Gita sedikit gelisah dengan posisi seperti ini. agak janggal saja, spontan semua berbisik.
"Astaga aku seperti menonton filim sekarang. Aaa mataku segar! Aku pengen juga!"
__ADS_1
"Teman teman, perkenalkan ini.." Gita menggantung ucapannya dan menatap Jasson yang tersenyum padanya. Gita merinding dibuat senyuman itu.
"Suamiku.." Tatap Gita pada rekan kerjanya dan tersenyum kecil.
"What?????" Teriak salah seorang karyawan.
"Apa kau tidak berbohong Gita?" Tanya Efendi sesekali menatap Jasson.
Jasson menatap Efendi tajam. Seketika pandangan terputus dan segera menunduk!
"Astaga Gita beruntung sekali menikahi Jasson!"
"Tapi kenapa Gita malah Bekerja sih? Tanpa bekerja dia juga susah berlinang harta! Ah, Gita menghabiskan tenaga saja."
"Jika aku jadi Gita, aku akan tiap hari perawatan dan diam duduk serta tiduran dengan nyaman."
Tidak, seperti yang kalian katakan sodara. Hidupku tidak sesimpel itu!
Gita masih bisa mendengar bisik bisik dari rekan kerjanya. Sungguh risih.
Dia berharap Jasaon menghilang dari sini sekarang! Agar telinganya tidak panas seperti ini.
"Baiklah, karena semua sudah disini, kita akan mulai acaranya!" Ucap Bram menyudahi bisik bisik yang semakin panas.
Semua mengambil tempat masing masing.
Memulai acara makan bersama.
"Anda tidak makan?" Bisik Gita yang melihat Jasson hanya memainkan ponselnya.
"Tidak berselera!" Ucap Jasson.
"Tolong, jangan membuat teman temanku, merasa tidak enak dan fokus pada anda, Tolong hargai suamiku!" Bisik Gita.
"Apa kau berani memerintah ku!"
"Aku mohon. Jangan membuat keributan disini." Ucap Gita lagi dengan wajah memohon.
Jasaon menatap Gita dan sesekali menatap orang yang sedikit menguping pembicaraan.
Melihat tatapan tajam Jasaon seketika pandangan terputus oleh wanita serta pria yang mencuri pandang.
"Ini makanlah! Sedikit saja! Supaya tidak terlihat janggal!"
"Kau tidak lihat? Sedari tadi pria itu menatap mu! Apa kau tidak risih?"
"Apa hubungannya dengan anda tidak makan?"
"Suapi aku!" Ucap Jasaon mematikan ponselnya dan menatap Gita.
"Apa anda tidak malu?" Bisik Gita lagi.
"Untuk apa? Lakukan saja! Agar mereka berhenti menatap mu! Jika kau tidak mau, kita pulang sekarang!!"
Menghela nafas.
"Baiklah baiklah..."
Gita sedikit memiringkan posisinya, dan mulai menyuapi Jasson.
Ekhemm ekhemm sengaja Efendi dan beberapa yang melihat adegan itu.
Sungguh!!
"Disini ada yang masih jomblo!"
Ucap seorang pria dari ujung sana sambil menyendok makanan kedalam mulutnya.
Tidak tau kenapa pipi Gita memerah karena ucapan beberapa.
"Kau tidak makan?" Tanya Jasaon.
"Bagaimana? Tangan ku hanya ada dua. tidak mungkin kan aku menggunakan tangan kidal? jika pun ia itu sangat Janggal." tatap Gita pada tangganya.
"Kita bisa bagi dua! Makan saja makan ini!" Ucap Jasaon menunjukkan piringnya.
"Maksudnya aku makan bekas anda?"
"Kenapa? Sama saja kan? Jika kau makan berarti aku juga makan bekas mu!"
Aah, aku juga sangat lapar. Terpaksa Gita menyuapkan makanan yang sama pada mulutnya. Ya, sendok bekas Jasson juga.
"Rasanya tambah enak bukan?" Tanya Jasaon terseyum.
__ADS_1
"biasa saja!" Ucap Gita menyuapkan lagi pada Jasaon bekasnya.
"Bagiku tidak? Ada rasa rasa yang aneh!" Ucap Jasson mengerutkan keningnya sambil mengunyah makanan.
"Aneh?" Tanya Gita juga mengunnya makanan di mulutnya.
"Rasanya enak!" Ucap Jasson terseyum.
" Berhentilah bicara suamiku, kau tak lihat, sedari tadi sepertinya mereka risih akan bisikanmu!"
"Maksud mu aku menguatkan suara?" Tanya Jasson dengan suara normal. Hal itu membuat beberapa menatap ke arah Gita dan juga Jasson.
Hiii Senyum Gita ke beberapa rekan kerjanya.
Sangat malu namun ia tahan.
sambil mengisyaratkan maaf dan lanjutkan makannya.
"Kumohon, jangan bicara lagi! " Gita menyuapkan kembali makanan itu hingga habis.....
Kini makanan di atas meja sudah berganti dengan minuman.
Beberapa ada yang minum wine dan minuman bersoda serta minuman beralkohol.
Sedangkan Gita hanya minum jus saja.
"Gi, gak mau?" Tawar Jeni minuman beralkohol.
"Tidak, aku tidak pernah meminumnya!" Ucap Gita. Menolak.
Jasaon dengan santai nya meneguk wine. Sambil menatap pertunjukan di panggung tersebut.
"Apa kau punya bakat?" Tanya Jasaon pada Gita.
"Maksud anda?"
"Apa kau tidak ingin pergi ke panggung itu? Lihatlah sungguh tidak ada yang berguna! "
"Pelankan suara anda jika ada yang mendengar nya bagaimana?"
"Emang Kenyataan! Lihatlah suara nya sungguh buruk!"
Tatap Jasaon malas.
"Ah, bagaimana jika anda saja yang maju kedepan?" Saran Gita. Jika tidak ada yang bagus lebih baik tunjukkan bakat sendiri benar bukan?
Jasaon menatap Gita.
"Ah, maaf." Ucap Gita terseyum mungkin saja dia salah bicara pikir Gita.
" Sepertinya kita akan melihat pertunjukan dari orang kebanggaan Kita. Kita sambut Pak Efendi dan Ibu Gita..." Ucap MSI itu, yang dibalas tepuk tangan dari para orang yang ada disana.
"Aku?" Tunjuk Gita pada diri sendiri.
"Ya, gita sayang..." Ucap Jeni terseyum sedikit menepuk punggung Gita.
Gita menatap Jasson.
Tidak ada wajah kebahagiaan dan kesediaan sungguh datar tak berekspresi.
Kenapa lagi dia?
"Aku akan tunjukkan bakat ku!" Ucap Gita terseyum pada Jasson dan naik ke atas panggung bersama Efendi.
Jasaon mengerutkan kening fokus menatap Gita saat Gita dan Efendi bicara dekat seperti merencanakan yang akan di tampilkan sambil tersenyum satu sama lain.
Akhirnya Gita memegang mik dan Efendi duduk di depan piano. Menaikkan piano itu dan Gita yang menyayikan lagunya.
Berada di posisi ini. Ingatan Gita tiba tiba muncul sosok Kevin. Yang bisanya ada di posisi Efendi saat ini. Dulu mereka sering sekali membawakan acara seperti ini di Restoran dan tempat umum lainnya. hal sederhana seperti itu sungguh membuat mereka bahagia saat masa masa remaja itu.
Di tengah nyanyian, Gita selalu tersenyum ke arah Efendi dan ke arah depan begitu juga dengan Efendi yang tersenyum mengagumi suara Gita dan kecantikannya yang terpancar.
Sedangkan di sisi sana. Seorang pria merasa tidak suka akan pemandangan di depannya. Apa apaan pikirannya. Bisa bisanya Gita sebahagia itu dan malah sangat terlihat mesra dengan laki laki lain. Sekali pun Gita tak pernah menatap nya. Padahal lagu itu bertema tentang cinta. Bisa bisanya Gita malah terus memandangi Efendi.
Ada rasa tidak suka terlihat jelas pada Jasson. Entahlah gita saja tidak pernah sebahagia itu bersamanya.
Akhirnya lagu selsai. tepuk tangan meriah dari penonton.
Gita turun dengan senyuman. Sungguh puas.
Gita duduk kembali di kursinya. namun Jasson malah berdiri.
"Kita pulang sekarang! Aku tunggu di mobil!" Jasaon segera pergi lebih dulu. Dengan wajah datar tak berekspresi. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
__ADS_1
To be continued 🌷
🍁Jangan lupa like and vote ya Beste 🤩🍁