Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
12. Memperhatikan


__ADS_3

Aku tidak tahan lagi. Kenapa dia tidak menceraikan ku saja. Apa dia tidak bosan? Apa dia belum puas juga menganiayaku?


Pernikahan yang sama sekali tidak berkembang ke arah positif. Dan malah berkembang ke arah negatif.


Tidak ada kebahagiaan dan kehangatan.


Sudah dua bulan Brigitta terkurung di dalam ruangan besar itu kesehariannya tidak lebih dari seorang pelayan. Dan semua itu tidak diketahui oleh Janes sang mertua laki laki.


Jelas saja, setelah kepulangan Janes dulu, Janes lebih sibuk dengan pekerjaannya sekarang. Pergi pagi dan pulang malam namun ia masih bisa menyempatkan waktunya untuk melihat istrinya sedangkan yang lainnya sudah ia serahkan pada ketua pelayan di mansion besar itu.


Dia percaya bahwa suasana mansion nya baik baik saja. Saat dia pulang dari kantor Mansion sangat aman dan damai damai saja tidak ada hal yang mencurigakan. Saat Janes bertanya pada asisten pribadinya di mansion itu dia berkata bahwa semua baik baik saja.


Ya jelas baik baik saja, Jasson tidak pernah melakukan tindakan berlebihan di depan pelayan kepada Gita.


"Uh, lelah sekali.." Kata kata ini sudah tidak jarang lagi sekarang, bahkan tiap hari Gita mengucapkan kalimat ini.


"Nyonyaa, istirahatlah dulu. Biar saya yang melanjutkan membersihkan ini!" Pelayan itu mengambil ahli tongkat pell yang dipegag oleh gita.


"Tidak perlu Bi. Jika Tuan Jasson tahu maka pekerjaanku akan bertambah." Gita merebut kembali tongkat pell itu.


"Tapi nyonya. Lihatlah ruangan ini sangat besar mana mungkin nona tidak lelah. Sudah 3 jam nona berada disini sendirian. Istirahat nona!" Gudang itu memang besar 3 jam sebelumnya sangat berantakan dan penuh debu. Tapi sekarang gudang itu sudah rapi dan bersih.


"Bi. Lebih baik Bibi lanjutkan tugas Bibi. Ini juga akan selsai. Sangat tanggung jika Bibi membantu sekarang." Karena Gita hanya tinggal mengepel lantai saja. Gita selalu saja mencari alasan agar tidak perlu dibantu.


Padahal mulai dari awal pelayan itu sudah menawarkan bantuan berkali kali tapi Gita tetap menolak.


" Tuan Jadwal kerja anda untuk besok free. Tidak ada pertemuan/meeting."


"Apa besok ada acara?"


" Besok ada acara pernikahan sala satu rekan kerja Tuan.


Apa Anda akan menghadiri acara itu?"


" Hum, siapakan saja semua."


"Apa Nyonya muda akan ikut tuan?"


" Apa kau gila? Untuk apa dia ikut!!"


" Tapi tuan acara pernikahan ini dilakukan berpasangan. Dihadiri oleh pengusaha ternama. Dan beberapa tamu yang diundang adalah orang orang yang menghadiri acara pernikahan Tuan saat Anda menikah."


Sangat Janggal bukan, kalau jasson datang sendiri jelas jelas dia sudah memiliki isteri.


" Tuan apa anda akan datang sendiri?"


" Bukankah kamu bilang acara dihadiri bersama pasangan? Jadi maksud mu aku bagaimana!"


Lico tau bahwa Jasson akan terpaksa menerimanya. Namun kan Lico hanya bertannya ulang supaya ia langsung mendengarkan kalimat dari mulut Jasson.


"Baik Tuan. Saya akan mengurus semua kebutuhan Nyonya."


"Tidak perlu! Biar aku saja."


Apa yang akan direncanakan Tuan Jasson.


"Sekarang keluar lah!"


Lico membungkuk dan langsung pergi.


"Ma.. Gita membawa makanan untuk mama..."


Gita meletakkan makanan itu di atas nakas.


Dan membantu Monik bersandar di kepala kasur.


"Apa kamu yang masak Gita?" Masakan itu rasanya berbeda dari biasanya


"Apa tidak enak ma? Maafkan Gita, Gita akan menggantinya." Gita hendak berdiri dengan wajah bersalah.


"Tidak, tidak. Jangan diganti rasanya enak sayang."


"Benarkah? Tapi kenapa wajah mama aneh saat memakannya?"


"Mama hanya merasa berbeda saja tadi. Masakan mu enak juga. Kamu belajar memasak dimana?" Gita menyuapi monik lagi.


"Hem, Gita belajar dari Orangtua Gita ma." Ucapnya menahan getaran sambil tersenyum.


" Pasti mama kamu orang yang hebat," ujar monik sambil mengunyah makanan.


"Iya, Bunda wanita luar biasa. Dia bisa melakukan semuanya." Teringat bayangan Bunda Gita yang selalu ceria dan bahagia.


Dia wanita karir namun ia tidak pernah membiarkan anaknya kekurangan kasih sayang. Bukankah Dia Orangtua yang luar biasa? Sangat banyak diluar sana orangtua karir yang membiarkan anaknya tumbuh kekurangan kasih sayang. Hanya untuk memfokuskan diri pada dunia kerja. Tapi jangan pernah samakan itu dengan Bunda Gita.


"Bunda? Mama pikir kamu memangilnya dengan sebutan mama." Gita hanya tersenyum paksa, tampak jelas raut wajah Gita yang sedih.


"Maaf sayang. Mama membuat mu teringat pada bunda mu." Monik tersadar, dari raut wajah Gita, dia baru ingat bahwa orangtua Gita sudah duluan pergi menghadap yang maha kuasa.


Monik mengelus wajah Gita lembut.


"Tidak papah ma. Gita tidak apa-apa. Ma lanjut lagi. aaaa." Gita memasukkan satu suapan lagi di mulut Monik dan tersenyum.

__ADS_1


Di negara lain pria tampan tengah berdiri sambil menyeruput secangkir kopi menatap indahnya lampu lampu kota dari atas balkon


"Siapkan penerbangan ku untuk besok. Pastikan semua rencana kita berjalan lancar!"


"Baik Tuan."


Saat ini Gita tengah berjongkok di lantai membukakan sepatu Jasson.


Tidak ada kata yang keluar dari mulut jasson.


Tumben sekali biasanya ia akan mencekam pipi itu kuat dan terkadang menarik rambut itu kasar.


Gita berdiri dan menyimpan sepatu itu. Pandangan Jasson masih terus mengikuti kemana arah Gita melangkah.


"Hei kemarilah!"


Setelah Gita menyimpan sepatu itu dengan cepat ia berlari.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"


Jasson menatap Gita dari atas sampai bawah. Ini kali pertamanya menatap Gita se detail itu.


"Kenapa kamu jelek sekali?"


Jasson berdeciss sambil mengeleng gelengankan kepalanya.


"Berlutut lah!!" Dengan segara Gita berlutut di depan kaki Jasson sambil tertunduk.


"Lihat aku! " Jasson mencekram pipi itu kuat menatap setiap bagian wajah itu.


Jasson berdeciss sambil memutar mutar wajah itu ke kanan kiri ke atas bawah.


"Benar benar buruk!" Kulit itu tampak kasar dan kering. Benar saja kata kata jasson sebelum menikah, semua sudah terwujud. Kulit yang dulunya lembut dan bercahaya kini tidak terurus dan tidak terrawat baik.


"Bahkan rambut ini sangat jelek." Jasson menarik ikatan pada rambut yang digulung itu dengan kasar. Seketika rambut itu tergerai bebas rambut gelombang tapi sangat lembut dan wangi. Jujur saja saat rambut gita terurai kecantikan nya bertambah.


"Benar benar jelek. Siapa yang mau pada orang jelek seperti mu? Ah, pasti kau sudah beruntung dan merasa hebat bisa menikah dengan pria tampan seperti ku."


Bagaimana mungkin beruntung? Apa jasson lupa menikah dengannya sama saja hidup dengan penuh kesialan?


" Hei, kenapa. Apa kata kata ku salah? Kenapa dengan wajah ini, huh." Jasson mengencangkan cekramannya.


"Jawab bodoh apa kau tidak suka menikah dengan ku?" Jasson menghempaskan wajah itu.


"A-ku senang Tuan." Jawab gita bergetar.


"Apa? Aku tidak dengar, apa kau senang dan merasa beruntung akan pernikahan ini?"


"Benarkah. Kau beruntung?" Jasson mulai mengelus rambut itu dan kini elusan itu berubah menjadi tarikan yang kuat.


"Kau senang kan. Aku melakukan hal ini setiap hari. Kau bahagia kan? Dasar Bodoh!!!" Jasson mendorong tubuh itu dan berlalu memasuki kamar mandi.


Sakit. Gita memegang kepalanya merasakan denyutan bekas tarikan jasson.


Dia benar-benar menjadi wanita penurut. Sebenarnya dia ingin sekali meneriaki wajah jasson dan meminta cerai karena kebenarannya dia tidak bahagia apalagi itu yang dikatan jasson 'Beruntung'. Beruntung dari mamanya coba!


Gita berjalan memasuki ruangan pakaian lalu mengambil pakaian jasson dan meletakkan nya di kasur besar itu.


Gita hendak keluar dari kamar itu namun matanya langsung tertuju pada cermin besar yang ada di ruangan rias itu.


"Apa aku sangat jelek?" Gita memegang pipinya.


"Aauww, sakit sekali." Dia benar benar kejam tiap hari ia mencekram pipi ku.


Terlihat jelas Pipi gita memerah.


Jelas saja pipi ku kasar. Aku tidak pernah merawatnya lagi.


Padahal sangat banyak sabun kecantikan di kamar mandi dan juga barang barang perawatan kulit, body dan face di meja rias. Namun sedikit pun gita tidak menyentuh nya. Masalah nya cuman 1, Waktu. Dia tidak punya waktu untuk semua itu.


Jika aku sangat jelek dimatanya. Kenapa tidak mencari pengganti saja. Bukankah di luar sana banyak wanita cantik yang aduhai?


Gita terus saja berdiri disana menatapi setiap lekuk tubuhnya serta setiap sisi wajahnya.


Sungguh jauh dari kata sempurna.


Gita tersadar bahwa jasson berada di kamar mandi dengan cepat ia ingin segera terbang sebelum jasson keluar. Namun baru satu langkah keluar dari ruangan rias itu jasson keluar dari kamar mandi menggunakan handuk melilit di pinggang.


Gita mencoba tenang dan tidak memperdulikan Jasson melangkah pelan sambil menundukkan wajahnya.


Mati aku. Jika sampai ia marah aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi.


"Hei, apa kau nyari mati?" Gita berhenti dan masih membelakangi Jasson sambil tertunduk.


"Ngapain ada disini!! Apa kau ingin melihat ku berganti pakaian?"


Jasson berjalan mendekat ke arah Gita.


Jangan tanyakan lagi jantung gita sudah berdetak cepat saat mendengar lakah itu mendekat. Dalam hatinya ia sudah berdoa supaya selamat dari masalah kali ini.


"Maaf kan sayaTuan maaf kan saya. Saya tidak sengaja. Maaf kan saya. Kumohon maafkan saya." Gita membalikkan badannya sambil tertunduk dan terus mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


Jasson menarik bibir nya sedikit ke atas dan itu sangat sangat singkat. Baru kali ini jasson terseyum melihat Gita ketakutan seperti itu.


"Hei, gadis bodoh. Tatap mataku!" Jasson meraih dagu itu.


"Apa sesenang itu dirimu diperlakukan seperti ini? Kenapa kau selalu membuat masalah pada dirimu sendiri Huh?"


"Tuan maafkan saya tolong maafkan saya."


Sambil mengatupkan kedua tangan menatap jasson.


"Keluar lah! Jika tidak aku akan segara memukul mu!" Tanpa menunggu lagi Gita berlari gelagapan, keluar dari kamar itu.


"Wanita gila!"


Aaah, dia selalu membuat ku kena serangan jantung. Astaga kenapa wajah dan suaranya menyeramkan sekali.


Padahal sudah tiap hari Gita mendengar dan melihat wajah seram itu. Namun tetap saja dia takut setengah mati.


Gita menuruni tangga itu, tangganya masih sedikit bergetar dan kaki itu seolah tak berdaya menuruni setiap anak tangga.


Dia berjalan munuju kamar monik.


Monik bersandar di kepala kasur sambil membaca buku.


Tok tok tok


"Masuk!"


Gita segera masuk dan menutup pintu itu.


"Eh, Gita kemari sayang!"


"Mama baca apa?"


" Cerita Lansia hehe."


" Mama udah makan? "


"Baru saja selsai sayang." Monik meletakkan buku itu di atas nakas di sampingnya.


"Ada apa Gita? Kenapa wajah mu terlihat pucat?"


"Pucat?" Ah, ini pasti gara gara kejadian tadi.


"Mungkin karena gak liat mama. Kan kalao liat mama wajah gita jadi berseri-seri,"ucap gita sambil tersenyum memegang kedua pipinya.


"Kamu sudah seperti papa saja. Bahkan kamu baru saja dari kamar mama Gita."


"Ha ha ha.


Ma, apa Gita boleh bertannya?"


"Tentu dong sayang!"


"Apa Gita sangat jelek ma?"


"Kenapa kamu bertannya seperti itu?"


"Mama, Gita lagi bertannya, kenapa mama bertannya balik sih!" Gerutu Gita kesal.


"Kamu cantik sayang. Emang ada orang yang bilang kamu jelek? Semua yang natap kamu pasti bilang kamu cantik, benar kan?"


"Entahlah ma, aku sangat jarang mendengar orang mengatakan aku cantik. Bahkan orang jarang memperhatikan bentuk wajahku." Jelas saja jarang. Gita kan tinggal di mansion emang siapa yang tiap harinya mengatakan ia cantik? Pelayan? Mana mungkin, pelayan saja selalu nunduk jika berhadapan dengannya.


"Yang terpenting bagi mama kamu sangat cantik dan baik." Monik membentangkan tangannya. Gita segera menerima dan memeluk Monik lembut.


Selama menjaga Monik Gita semakin dekat dan akrab. Bahkan Gita sudah mulai banyak bicara saat bersama Monik. Tidak ada lagi rasa janggal diantara keduanya.


Seperti biasa Gita bangun dan segera membersihkan dirinya. Menyiapkan air untuk jasson mandi. lalu segera ia keluar dan menuruni anak tangga.


"Pagi Nyonya." Sapa seorang pelayan saat hendak melewati Gita.


"Pagi.." Gita tersenyum dan melanjutkan perjalanan menuju dapur.


Sampai di sana para pelayan sudah mengambil tugas masing masing. Sangat sibuk.


"Ah, seperti nya tidak ada tugas lagi untuk ku di dapur ini."


Gita berjalan ke arah taman belakang. Melihat banyak dedaunan di sekitar pohon yang ada di taman itu.


Dengan cepat ia mengambil sapu lidi dan menyapunya hingga bersih.


Gita kembali ke kamar mengetuk pintu tapi tak ada jawaban. Mungkin saja lagi mandi.


Gita membuka sedikit pintu untuk memastikan.


Astaga dia masih tidur?


....


To be continued

__ADS_1


🍁 Jangan lupa like and komen ya guys 🍁


__ADS_2