
"Jas, jangan lupa malam ini kita ada pertemuan di kota x!" Ucap Janes yang tengah sampai di depan apartemen. Jasson hanya mengangguk dan berjalan masuk yang diikuti oleh Lico.
Penerbangan mereka berjalan dengan mulus hingga sampai di negara C.
"Tuan, saya dapat laporan, bahwa Yudayana Group juga berada di negara ini. Mereka juga berencana ingin memenangkan tender proyek baru di negara ini."
"Apa perusahaan yang sama?"
"Ya, Tuan! Itu perusahaan terbesar di negara ini."
"Berani juga!
Siapkan semua, kita harus bisa memenangkan proyek ini!"
..
"Ma, kenapa mama membelanya? Morisa tidak salah ma, Dia saja yang tidak melihat jalannya!"
"Morisa! Minta maaf sekarang!"
Morisa menatap Gita yang duduk di sofa dengan lilitan perban di kaki.
"Jika kau tidak minta maaf, mama akan beritahu Kakakmu! Biar dia sendiri yang menghukum mu!"
"Tidak! Jangan ma. Baiklah!"
Morisa mendekat.
"Maaf!" Ucap nya sambil melipat tangan di dada.
"Mama tidak pernah mengajarkan mu minta maaf dengan tidak sopan Morisa!"
"Ma! Aku sudah minta maaf kan, apa lagi? Lagian sakit yang di kakinya tidak parah nanti juga akan sembuh sendiri!" Morisa berlalu pergi dan tidak lupa menghentakkan kakinya terlebih dahulu.
Monik mengelus punggung Gita.
"Maafkan moris ya Sayang." Tersenyum
"Gita tidak papa ma, tadi morisa pasti tidak sengaja menyenggol gita hingga gita jatuh!"
"Tidak papah gimana kau jatuh dari tangga setinggi itu. Untung saja ada pelayan yang melihat mu. Kalau tidak bagaimana?"
"Ma, Gita tidak apa apa lagian hanya terkilir saja, bentar lagi pasti sembuh."
"Hem, baiklah jika kau berkata seperti itu. Istirahat yang banyak. Jangan lakukan pekerjaan yang berat dulu!"
Monika pun berlalu dengan dorongan kursi roda oleh pelayan pribadinya.
..
"Harusnya tadi dia mati saja! Kenapa dia selamat sih! Apa yang harus ku lakukan!" Pikir morisa keras merencanakan perbuatan jahat.
"Aku punya rencana!" Senyum morisa merasa menang.
Berjalan turun dari lantai atas menuju kamar Gita.
Tok tok tok.
Setelah mendapat balasan Morisa masuk dengan wajah bersalah.
"Kakak ipar.."
Morisa mendekat ke arah sofa tempat Gita tiduran.
Gita sedikit membenarkan posisinya setengah duduk sambil mengerutkan keningnya.
Apa aku salah dengar? Tadi dia memanggilku dengan sebutan kakak ipar?
"Kakak maafkan aku ya? Aku benar benar tidak sengaja tadi. Tadi aku buru buru pergi karena ada hal mendadak hingga tidak menyadari kakak sudah jatuh kebawah!" Ucap morisa memasang wajah sedih.
Apa dia benar benar tulus? Gita menatap mata itu, mencoba mencari kebohongan namun tidak ada.
"Sebagai permintaan maaf, aku ingin mengajak kakak jalan jalan bagaimana?" Tanya morisa sedikit tersenyum.
Gita semakin binggung dibuatnya. Kenapa bisa sikap Morisa tiba tiba seperti ini?
"Kakak kenapa diam saja. Tolong maafkan aku jika selama ini aku kasar. Aku benar benar menyesal. Maafkan aku ya kak!" Rayu Morisa.
"Apa kau sedang sakit? Atau kepala mu terbentur?" Gita memegang dahi Morisa.
"Tidak kak, aku baik baik saja. Tolong maafkan aku!"
Gita terseyum, "Baiklah aku memafkan mu!"
Morisa terseyum.
"Kita jadi kan kak jalan jalan?"
"Kalau jalan jalan sepertinya tidak bisa. Kau tau kan. Jasaon tidak mengizinkan ku keluar Mansion."
" Itu hal yang mudah, aku akan meminta izin pada kakak Jas. Sekarang yang aku tunggu jawaban mu kak! Apa kakak mau jalan sama aku?"
Gita menggaguk terseyum.
"Tapi, sesudah kaki ini sembuh!" Gita menatap kakinya sedih.
"Maafkan aku ya kak! Tapi tenang saja aku akan membantu merawat kakak!" Morisa terseyum lebar.
"Terimakasih." Balas Gita terseyum.
Anak ini jika baik begini mengingatkan ku pada Jasson. Mereka benar benar mirip saat marah seperti hantu, saat baik seperti ini sangat manis dan lucu.
__ADS_1
"Apa kakak butuh sesuatu?"
Gita berpikir sebentar!
"Ya, aku ingin ke lantai 3 apa kau mau membantu kakak berjalan kesana?"
Morisa menaikkan alisnya mencoba tersenyum.
"Ya, aku bisa "
Morisa membantu Gita berdiri. Memapahnya sampai ke lantai 3.
Morisa mendudukkan Gita di bangku kecil piano.
"Kakak bisa memainkannya?"
"Um, Apa kau bisa bantu bukakan "
"bisa" ucap morisa terseyum.
Morisa membuka piano itu sedikit keberatan lalu tersenyum pada Gita.
"Sudah, silahkan kakak gunakan!" Gita tersenyum.
"Terimakasih adik ipar yang imut." Ucap Gita sedikit memegang pipi gembul morisa.
Morisa terseyum paksa menahan amarah dengan pipi memerah.
"Kakak ayo mainkan, aku ingin dengar!" Ucap Morisa agar Gita melepaskan tanggan Gita dari pipi itu.
"Baiklah.."
Gita mulai mengerakkan jari jari itu hingga terdengar alunan musik yang indah.
Gita sesekali mengikuti iringan musik dengan nyanyiannya.
Uh, aku pikir dia hanya bercanda. Hebat juga dia. Aku saja yang sudah belajar bertahun tahun tidak bisa sehebat ini!
"Morisa!" Panggil Gita yang sudah selsai memainkan musik dia memandangi Morisa yang melamun di sampingnya.
"Uh, kakak sangat hebat!"
"Apa kau juga bisa?"
Morisa terseyum.
"Bisa, tapi aku lagi tidak mood untuk menyentuh nya! Eum, bagaimana jika kita ke balkon saja kak!"
"Baiklah terserah mu!"
"Sejak kecil aku sangat suka tempat ini, dari atas sini aku bisa melihat luasnya lingkungan sekeliling. Sangat menyejukkan mata."
"Benarkah? Sebenarnya kakak juga sangat suka tempat ini, dari pertama kakak masuk Mansion, tempat yang kakak suka ya disini!"
Morisa tidak mengagapi masih fokus memandangi alam di depannya.
"Morisa.."
Hem?
Berbalik menatap Gita.
"Kakak ingin minum bisa kah kau ambilkan?"
Morisa mengerutkan keningnya.
Kalau bukan karena rencanaku, aku tidak akan sudih! disuru suruh seperti ini! Hu, menyebalkan!
Mencoba tersenyum "Sebantar ya kak!" Ucap morisa sambil melangkahkan kakinya keluar.
Gita terseyum. Menatap ponselnya yang tiba tiba berdering.
"Halo Gitta!!" Teriak dari telpon. Gita sedikit menjauhkan nya dari telinga.
"Astaga Jen, kenapa kau berteriak?"
"Kau tau, Pak Efendi hampir di pecat dari perusahaan! "
Apa hubungannya denganku, untuk apa jeni melaporkan hal yang tidak penting?
"Jadi?"tanya Gita santai.
"Astaga ini semua karena mu!"
"Kenapa jadi aku Jen?"
"Semejak kau pergi, pemasukan semakin turun, setiap presentasi akan gagal, tidak ada yang sehebat kau Git! "
"Jadi hubungan nya denganku?"
"Git, kami minta tolong bangat sama kamu. Agar kau bisa kembali bekerja disini. Perusahaan sungguh membutuhkan mu. Jangan sampai pak Efendi di pecat Gi. Kasihan juga aku liatnya!"
"Gimana ya Jen. Aku benar benar tidak bisa! Kau tau kan bagaimana kondisi ku sekarang!"
"Gita aku mohon! Jika pak efendi di pecat bukan hanya dia yang bermasalah namun bawahannya yang bekerja dengan pak Efendi akn kena juga. Tolong Gita! Tolong pikiran dulu. Kuharap kau bisa membantu.
Hubungi aku nanti setelah kau memikirkan nya okeh!"
"Baiklah..
Akan ku pikirkan dulu."
__ADS_1
Sambungan telepon terputus.
"Siapa kak? Kenapa wajah kakak tampak lesu?" Tanya Moris sambil meletakkan jus di meja di depan Gita.
"Tidak," ucap Gita menatap Moris.
"Kakak bisa cerita sama aku, siapa tau aku bisa bantu, iya kan?"
Ucap morisa sembari duduk di kursi di depan Gita.
"Hem, ......"
Gita menceritakan beberapa kepada morisa.
"Saran aku ya kak, sebaiknya kakak Bekerja saja, kasihan juga jika sampai mereka di pecat. Mungkin beberapa diantara mereka adalah tulang punggung keluarga kan kasihan jika jadi pengganguran."
"Tapi kau tau, Jasson tidak mengizinkan ku bekerja!"
"Tenang saja masalah itu serahkan pada Morisa. Aku akan menangani nya!"
Morisa terseyum.
"Apa kau yakin? Apa kau bisa memegang ucapan mu?"
"Ya! Kakak harus yakin. Tenang saja, Kak Jasson tidak akan marah!"
"Terimakasih Morisa." Ucap Gita
Morisa menggangguku.
Entahlah apa yang dipikirkan Morisa tidak ada yang bisa menebaknya.
..
"Terimakasih buat meeting kali ini. Untuk siapa yang terpilih akan di umumkan besok pagi. Karena saat ini waktu sudah sangat larut!" Ucap kepala pembicara tersebut.
"Baik, terimakasih buat Lakeswara Group dan Yudayana Group." Lanjutnya lagi sambil menyalam kedua pihak.
Sedari tadi kevin dan Jasson hanya menatap samil menaruh dendam satu sama lain.
"Kalau begitu saya permisi duluan!" Ucap Jasson berlalu pergi yang diikuti oleh Lico.
Kevin juga pamit tanpa satu katapun hanya menunduk kepala mengisyaratkan agar ikut keluar juga.
"Kenapa kau masih hidup. Kenapa tidak mati saja!" Ucap Kevin mengejek menghentikan langkah Jasson.
"Apa maksud mu? Apa kau ingin membahasnya disini?"
Jasson berbalik dan menaikkan alisnya.
"Jika kau laki dan punya tenaga." Ucap Kevin seraya mengejek
"Aku ingin sekali menghajar mu sekarang, namun sayang sekali. Melihat mu saja aku tidak berselera!" Ucap Jasson datar dan berlalu pergi.
"Bilang saja kau tak berani!" Teriak Kevin mencoba menghentikan Jasson namun jasson tidak peduli dan terus lanjut melangkah bersama sang asisten.
"Tidak masalah, aku bisa menahannya karena aku tau ini kawasan rawan." Kevin memasukkan tangganya ke dalam saku celana dan berjalan santai menuju parkiran.
.
"Siapapun yang terpilih di antara kita nanti saya harap tidak ada perselisihan atau tindakan kecurangan diantara kita!" Ucap Janes sambil menjabat tangan Aditya.
"Saya juga berharap begitu Tuan Janes." Ucapnya terseyum.
Akhirnya mereka keluar dari ruangan itu.
Dan mengambil tujuan masing masing.
"Apa Jasson sudah pulang duluan? Anak itu. Kenapa tidak menunggu di sini!"
Mobil hitam segera berhenti di hadapan Janes.
"Tuan! Silahkan masuk!" Ucap Supir yang baru keluar langsung mengintari mobil membuka pintu belakang.
"Apa Jasson sudah pulang?"
Ucap sembarin mendekat ke arah pintu yang diikuti oleh Alvaro.
"Sudah Tuan!"
Janes masuk dan menutup pintu itu segera.
Tak berapa lama akhirnya mobil itu sampai.
" Varo. Apa kau sudah berikan jadwal peetemuan kita selama beberapa minggu ini kepada Lico?"
"Sudah Tuan!"
"Baiklah kau boleh istirahat!" Janes segera menutup pintu kamarnya.
Merebahkan dirinya yang begitu lelah.
Jasson membuka laptopnya mengecek kamera CCTV yang ada di kamarnya. Dia sangat penasaran apa saja yang dilakukan Gita selama ia tidak ada disana.
mulai membuka rekaman vidio.
melihat kejadian dari pagi sampai hari ini.
tampak wajah jasson berkerut.
Entahlah tiba tiba dia menyambar ponsel yang berada di nakas itu.
__ADS_1
To be continued
π Jangan lupa jejaknya Beste π