Pernikahan Tuan Muda Kejam

Pernikahan Tuan Muda Kejam
108. Mungkin kah Cemburu?


__ADS_3

Jasson dengan santai menggendong Gita ala bridal style. Gita juga gak bisa nolak lagi. Dia sudah capek juga kalau harus jalan.


Sampai ke parkiran sungguh tidak akan sanggup lagi dengan keadaan begini.


..


Hari ini Kevin pulang lebih awal karena semua tugas lancar. Tentang mafia juga aman. Dia dan Jasson sudah berdamai saat Jasson meminta agar kontrak kerja gita dengan perusahaan nya dipindahkan ke perusaahan milik Jasson. Tentu dia tidak semudah itu menyerahkan nya ada hal yang benar mutlak yang membuatnya berbesar hati untuk menerima itu.


Awal itu juga yang membuat mereka sekarang tidak bermusuhan tapi tentu tidak juga berteman. Hanya sekedar orang pada umumnya yang hanya saling kenal karena bisnis.


Saat kevin pulang dari kantor ia lebih dulu menghabiskan waktunya bersama teman temannya di basecamp mafianya. Sekitar pukul 18.20 ia beranjak dari sana menuju RS karena sangat malas jika harus pulang balik mansion. Agar sekalian lebih baik dia menjemput calon istri nya itu.


Tanpa basa basi ia segera menuju ruangan Yolan. Namun sebelum ia memasuki ruangan itu ia mendengar suara Yolan di lorong sebelah kanan dan juga langkah kaki yang akan segera menuju ke arah ruangan Yolan.


Entahlah karena apa kevin malah memilih tidak membuka Pintu dan pergi ke arah kiri dan bersembunyi di balik dinding itu. Awalnya dia ingin mengerjai Yolan ternyata. Karena ia seperti berencana ingin mengagetkan nya. Tapi.


Niat awal kevin malah tertunda saat melihat Yolan berjalan dengan dokter laki laki yang tentunya dia adalah dokter muda yang dalam kata dia terlihat tampan. Mereka berjalan dengan sangat akrab yang sesekali mereka tertawa bersama.


Kevin mengerutkan keningnya. Saat melihat yolan dan dokter itu tengah berhenti tepat di pintu ruangan Yolan.


"Tadi jika dokter yolan tidak mengingatkan aku pasti sudah jadi pelaku pembunuh tak sengaja." Ucap dokter muda sambil tertawa.


"Tidak, juga. Sepertinya tadi dokter bengong. Tapi jujur aku sangat kagum pada dokter saat di ruang operasi tadi. Mantap bangat! Cara dokter tadi set set set." Ucap Yolan sambil memperagakan gerakan cepat.


"Itu hebat sekali! Kapan kapan jika dokter ada waktu kasih tips nya dong dok!"


"Tidak juga. Dokter Yolan juga sangat hebat buktinya tadi kesalahan kecil yang berdampak besar itu sangat ah tidak terbayangkan."


"Yaudah kita belajar bersama."


"Ha ha ha, kalau aku fine fine saja. Dan malah senang, bisa dekat dengan dokter cantik." Ucap dokter mudah sedikit cepat dan pelan.


"Apa? dokter ngomong apa?" Tanya Yolan. Karena ia berpikir salah dengar.


" Ah tidak. Kalau begitu aku ke ruangan sebelah. Sekarang kita jadi tetangga." Ucap dokter itu tersenyum.


"Oh ya, ruangan dokter di sebelah?"


"Hem, sekarang kalau dokter ada apa apa, bisa bilang padaku." Ucapnya sambil menepuk bahu Yolan.


"Ah, ya. Aku juga akan masuk." Ucap Yolan agar dia segera bisa membaringkan diri karena rasanya badannya ingin remuk.


.


"Dasar udah ada calon masih dekat sama pria lain, cih." Kevin menyadari dirinya seperti orang yang sedang menguping.


"Ah, gila kenapa tadi aku tidak samperin aja. Ngapain jadi sembunyi sembunyi." Kevin menghela nafas dan setelahnya langsung masuk ke ruangan Yolan tanpa mengetuk pintu.


"Kamu gila ya! Kenapa tidak mengetuk lebih dulu?" Tanya Yolan memalingkan wajahnya ke arah pintu. Saat ini ia sedang berbaring di brenker. Dengan keadaan acak.


"Kenapa? Salah?"


Yolan memposisikan tubuhnya dan segera turun dari brankar dan duduk di sofa.


"Salah lah. Tidak sopan. Lagian ini ruangan pribadi kalau aku sedang ngapa ngapain gimna?" Maksud Yolan menganti pakaian.


"Gimana gimana? Maksud kamu apa? Selingkuh? Berduaan dengan pria?"


"Ha? Dasar pikiran negatif. Kalau aku lagi ganti pakaian gila!"


"Emang kenapa? Salah? Lagian aku calon suamimu!" Ucap Kevin sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan kedua kaki berselonjor di lantai dengan bebas.

__ADS_1


"Masih calon juga!"


"Kenapa? Karena masih calon jadi kamu bebas gitu dekatin pria lain?"


"Kamu aneh deh! Sedari tadi pembahasan nya gak nyambung. Kenapa malah lari ke pria lain. Seperti sedang memojokkan kekasih yang tengah selingkuh. Ada ada aja!" Ucap Yolan menggeleng gelengan kepala sambil membuka pakaian dokternya. Dan meletakkan nya di tangan sofa.


"Emang benar kan? Kamu selingkuh? Kecentilan lagi dekatin pria, alasan aja mau belajar barang. Tau tau paling juga cuman modus."


"Ha? Serius deh. Kamu gak jelas bangat! Kamu sebenarnya bicara siapa? Dan selingkuh? Kecentilan? Maksud kamu apaan?" Yolan mendekat kan posisinya sembari menatap Kevin bertannya tanya. Tak mengerti.


"Jangan pura pura bego." Ucap Kevin sembari menegakkan tubuhnya yang bersandar dan menekukan kakinya.


"Kamu bicara apa?" Tanya Yolan mengerakkan kepalanya.


Apa dia tadi liat aku barang dokter Jos?


Tapi apa yang salah? Kami hanya membicarakan soal pasien dan operasi perasan tadi tidak ada yang membicarakan hal pribadi deh.


"Masih belum ngaku? Jelas jelas aku lihat dengan mata kepala ku sendiri kalian jalan berdua ngobrol gak jelas ketawa berdua kayak orang gila pegang pundak kamu dan diantar sampe ruang pribadi? Kayak apa coba!" Ucapnya menatap Yolan datar.


" Jadi salahnya dimana?"


" Malah nanya? Kalian pacaran?"


" Astaga, vin. Kamu gila ya. Jelas jelas aku mau nikah ngapain juga aku pacaran? Lagian dia sekarang satu tim dengan aku. Tim operasi makanya bisa jalan barengan. Dokter Jos juga dia dokter baru disini. dia pindahan dari luar. Sekarang udah jelas kan?"


Kevin diam saja. Kenapa juga sih harus nanya begituan. Apa manfaat nya? Lagian kalau Yolan dekat sama laki laki lain juga kan bukan masalah juga buat kevin. Tapi kenapa dia ikut kesal saat liat Yolan dekat dengan pria lain. Apalagi tatapan laki laki tadi sepertinya suka sama calon isterinya.


Membuat kevin sedikit geram.


"Kalau udah selsai. Langsung ke parkiran. Aku tunggu disana! Jangan lama. Gerah aku ingin segera bersihkan diri!" Ucap kevin sambil berdiri tanpa menatap Yolan. Dia segera keluar tanpa menatap Yolan sedikit pun.


"Aku kenapa kesal saat liat dia dekat sama laki laki lain? Ah bodoh. Ngapain juga aku peduli. Bisa besar kepala dia!" Batin kevin sembari berjalan kesal merutuki kecerobohannya.


.


"Aneh. Dia kenapa? Kayak orang yang lagi cemburuan. Tapi gak mungkin kan dia cemburu sama aku? Apa Jangan jangan dia suka sama aku?" Ucap Yolan. Sembari menatap pintu yang tertutup.


"Ah, yol. Kamu mikirin apaan sih, aneh. Kamu yang aneh!" Yolanda dengan cepat membereskan barang barang nya. Karena memang dia tidak ada jadwal cek lagi. Sebenarnya dia akan makan di RS tapi gak enak juga buat kevin nunggu lama jadi dia hanya ganti pakaian saja setelah itu langsung keluar dari ruangan. Namun baru saja Yolan keluar dari ruangan ia berpapasan dengan dokter Yosua. Jujur saja dokter Yosua bertambah tampan dengan pakaian biasa. Terlihat lebih muda. Tapi terlihat jelas pandangan Yolan sangat datar tidak ada ekspresi kagum tentang ke tampan itu. Jelas saja. Kata tampan dan pria seperti Yosua sudah banyak ia temukan.


"Dokter Yolan. Mau pulang juga?" Tanya Yosua terseyum.


"Iya dok, ini mau ke depan!"


"Yaudah, barengan aja ke parkiran nya." Ucap Yosua yang hanya di balas anggukan dari Yolan. Saat sudah di depan rumah sakit Yolan berhenti.


"Gak ke parkiran Dok?"


"Aku gak bawa mobil sendiri dok."


"Oh, ya. Ya udah bareng aku aja."


"Tidak dok, aku udah di jemput juga."


"Sama siapa?"


Tin


Belum sempat Yolan bicara mobil yang tidak jauh membunyikan klakson nya. Dan jelas itu mobil kevin. Karena Jelas kevin menatap ke arah Yolan dengan tatapan datarnya.


"Nah itu. Aku duluan ya, dok." Ucap Yolan.

__ADS_1


" Pacar dokter yolan?"


"Bukan."ucap Yolan.


Emang benar bukan pacar tapi calon suami.


Terlihat senyuman dari bibir Yosua.


"Hati hati Dokter Yol."


Yolan hanya mengangguk sambil tersenyum.


Segera Yolan berjalan cepat memasuki mobil itu.


Yosua menatap ke arah mobil lagi sembari menatap Yolan. disana tampak seorang laki laki dengan kacamata Hitamnya terlihat dingin dan datar.


Setelah yolan masuk segera jendela kaca itu tertutup sempurna.


"Kayaknya gak asing?" Pikir Yosua. Dan segera berlalu menuju parkiran khusus tempat dokter.


.


"Vin, gak gelap apa? Udah malam juga ngapain pake kacamata hitam? Perasan tadi gak di pake saat di RS?"


"Kenapa? Terserah ku dong!" Ucap Kevin acuh dan masih fokus menyetir.


Padahal ia juga sih! Pikir kevin. Tapi sudahlah masih keliatan kok.


Tadinya sih biar keren aja. Eh malah lupa.


Yolan menghela nafas.


Lalu sedikit mendongak ke arah kevin dia membuka kacamata hitam itu.


"Aku masih belum mau mati. Udah jangan pake di tengah malam begini."


Gila apa masa pake kacamata hitam?


"Sini, jangan lepas!" Ucap Kevin.


"Gak. Fokus tuh sama jalan. Kalau gak aku buang nih."


Kevin diam aja. Toh dia juga nyaman tanpa kaca mata itu, hanya saja gengsi yang terlalu besar.


"Mau makan dulu atau langsung balik?" Tanya kevin saat sudah hening lagi.


"Pulang aja! Udah gerah juga kan?"


Tidak ada jawaban lagi.


Kevin juga malas bahas dokter muda tadi. Sebenarnya dia ingin omelin yolan tadi kepergok barangan sampai depan RS. Senyum senyum lagi.


Tapi ah sudahlah tidak penting pikir kevin dengan tarikan nafas mencoba dia tidak kenapa napa.


Setelah puluhan menit di jalan akhirnya mereka sampai di mansion.


.


To be continued ๐ŸŒท


Hanya bilang jangan lupa vote dan like๐Ÿ˜Ÿโค๏ธ

__ADS_1


Byebye ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ๐Ÿ•Š๏ธ


__ADS_2